Nyam nyam nyaman….

Dari teman saya menemukan sebuah program instan untuk memanipulasi photo, namanya photoshine. So simple, cukup dengan klak klik sana sini, foto langsung jadi dan lumayan menarik buat dipasang di dekstop.

ini juga

ini lagi

dan juga yang satu ini

dan program ini sepertinya mewakili kondisi saya saat ini, yang hanya berbicara tentang kemudahan, dan menyukai hal – hal yang bersifat mudah dan instan. Seorang PNS dengan take home pay yang alhamdulillah, punya istri baik, anak-anak yang luar biasa, rumah dekat dengan kantor, dan cukup punya waktu buat beribadah. Saya sekarang ada di comfort zone.

Sebuah wilayah kenyamanan yang membuat saya agak malas berpikir dan malas menulis,  tidak berkeinginan mengubah hari, terjebak dalam berpuas diri, bermalas – malasan, seperti beruang yang sudah menumpuk stok makanan berlebih di kandangnya di musim dingin, dan yang mengkhawatirkan…..comfot zone membuat saya jadi gendut !!

Saya tahu saya terjebak, dan saya tahu saya harus keluar, tapi tidak tahu bagaimana dan dari mana harus memulainya. Yang pasti, saya harus keluar tenda, mulai mendaki lagi, dan menemukan comfor zone lainnya di tingkat yang lebih tinggi untuk mendirikan tenda dan tinggal disitu sambil menikmati pemandangan yang tentunya jauh lebih indah dari comfort zone sebelumnya.

Nutri, postingan ini terinspirasi dari postinganmu. Matur nuwun….

Advertisements

Hirata dan Pearl Jam

Tahukah anda, sebentar lagi Andrea Hirata akan menerbitkan dwilogi berjudul PADANG BULAN dan CINTA DI DALAM GELAS ? Dan tahukah anda, kedua buku ini masih tetap menceritakan seorang Ikal yang diambil dari sempalan mozaik tetralogi laskar pelangi ?

Mengetahui dan sedikit membaca resensi pendahuluannya, saya jadi mengibaratkan Andrea Hirata ini seperti Pearl Jam. Tentu saja Pearl Jam tidak mengenal Hirata, dan Hirata juga saya yakin lebih dekat dengan Rhoma Irama dibanding Ed Vedder. Tapi kemunculan karyanyalah yang saya pandang mirip, walaupun boleh jadi Pearl Jam lebih baik dimata saya.

Saat pertama mendengarkan album perdanya, TEN, saya terkejut, dan langsung menyukai semua lagu yang ada di album tersebut. Mereka menawarkan lagu yang variatif, lirik yang menggelitik, dan musik yang pintar. Kemudian, masuk ke album ke dua, VERSUS, warna album pertama masih terlihat terbawa, tapi ada beberapa lagu yang tidak sehebat BLACK, JEREMY, RELEASE ME, maupun ONCE, di album pertama.

NO CODE, album ke tiganya, membuat saya beranggapan bahwa Pearl Jam sudah habis. untung album berikutnya VITALOGY banyak memuat lagu2 smart, tetapi terus terang masih belum begitu bisa diterima telinga. Baru begitu masuk album YIELD, kemudian BINAURAL, dan seterusnya, saya menemukan kembalikenyamanan. Kendati tetap saja : “tidak ada yang sehebat album TEN”

Nah, demikian juga dengan Andrea hirata. Saat pertama kalinya saya membaca LASKAR PELANGI, saya langsung berteriak “wow, karya ini bagus”. Kemudian saat melanjutkan ke SANG PEMIMPI, dahi saya sudah mulai berkerut sambil bertanya dalam hati : “ kok tidak semenarik buku pertama ? Dan beruntung Andrea punya bahan untuk menceritakan “suasana lain” dengan dunia eropanya di EDENSOR, sehingga saya lebih menyukai membaca buku ke tiga disbanding buku ke dua.

Tapi saya benar – benar harus berusaha keras untuk menamatkan MARYAMAH KARPOV, karena Andrea banyak menghabiskan kata – kata hanya untuk menceritakan sebuah hal kecil. Motivasi saya menghabiskan MARYAMAH KARPOV pun cukup menyedihkan, “ agar bisa mengatakan bahwa karya ini tidak bagus, tidak afdol dan terkesan asbun rasanya andai saya berkata MARYAMAH KARPOV jelek, tetapi saya sendiri belum menamatkannya”.

Saya jelas kalah hebat dengan hirata dalam memainkan kata, dan menuliskan banyak cerita. Tapi bolehlah saya menyarankan kepada Hirata agar jangan terlalu memaksakan diri untuk sesegera mungkin menerbitkan sebuah buku, karena Andrea harus mempertimbangkan efek jenuh pembaca terhadap tokoh dan setting cerita yang itu – itu saja. Mungkin Andrea akan lebih harum namanya saat berhenti berbicara tentang Ikal di MARYAMAH KARPOV atau bahkan di EDENSOR, dan kemudian mencoba menulis hal lain, atau setting yang lain.

Farewell, Tunas Robbani

Horee….Ale sudah menyelesaikan pendidikannya di TK B Tunas Robbani. Senang rasanya karena sebentar lagi insya Alloh Ale akan masuk SD, mendapatkan sekolah baru, teman baru, pengalaman baru, suasana baru. Senang karena selama setahun menempuh pendidikan di Tunas Robbani, Ale banyak mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mengalami banyak perkembangan yang menyenangkan.

Tetapi ada sisi sedihnya juga karena harus berpisah dengan para bunda guru yang telah dengan sabar menemani Ale belajar, mau direpotkan saat Ale punya kemauan, dan banyak bersabar saat Ale susah diatur. Saya dan istri sadar benar akan jasa besar para bunda guru ini dalam mendampingi Ale, mengisi kekurangan yang kami miliki karena keterbatasan waktu untuk mendampingi Ale dalam ber-Tolabul ‘ilmi

Perpisahan antara para bunda guru dengan para murid dan orang tuanya dilakukan di Tanah Tingal Tangerang, dilakukan dengan acara outbond bersama. Maksudnya, semua orang tua dikumpulkan dan melakukan outbond bersama bunda2 guru, sedangkan anak – anak melakukan outbond bersama para pembimbing dari Tanah Tingal.

Karena ingin mengabadikan semua kegiatan yang Ale lakukan, akhirnya saya terpaksa melakukan kucing-kucingan untuk sesekali keluar dari kegiatan outbond bersama orang tua, kemudian bergabung dengan anak – anak. Hasilnya, sungguh Ale melakukan hal yang melebihi ekspektasi saya sebelumnya.

Saat melakukan kegiatan lemuncur dalam permainan flyingfox misalnya, Ale dengan nyamannya menaiki tangga setinggi sekitar sepuluh meter itu sebelum kemudian meluncur dengan tali dan sukses mendarat di bawah tanpa terlihat tenag yang berlebihan.

Ale juga terlihat antusias saat diajari cara menanam pohon dengan media plastik dan sekam.

Dan dia juga menikmati masa – masa naik tangga jaring kendati perlengkapan yang menempel di badannya begitu kebesaran sehingga menyulitkan gerakannya.

dilanjutkan sesi meniti jembatan tali, saya tadinya mengkawatirkan dia akan takut atau bahkan gugup di tengah jalan. Tapi nyatanya, Ale malah menikmatinya dengan sesekali tertawa di tengahnya.

Terakhir, sebelum istirahat, Ale menaiki kano (yang ayahnya belum pernah melakukannya). Awalnya agak gugup karena badannya tenggelam di pelampung yang (lagi-lagi) terlalu besar bagi ukuran tubuhnya.

Terimakasih kepada para bunda guru yang telah banyak memberikan ilmu dan menemani Ale selama satu tahun.

Juga atas apresiasinya terhadap apa yang sudah Ale lakukan

Tapi…. kami ternyata menemukan sesuatu yang berbau skandal !!

ini juga

ini lagi

duuhh

(insya Alloh) kita akan jumpa lagi saat Ale sudah di SD ya teman – teman !!