Dewa Penolong

Sebuah lemparan jarak dekat memberikan hasil dua angka untuk tim saya. Tetapi bersamaan dengan bola itu masuk ke keranjang, saya dengan tidak terkontrol terjatuh dari melompat dengan tangan kiri duluan menyentuh lantai. Tangan kiri langsung sakit, bengkok, tidak dapat diluruskan, dan tidak dapat digerakkan. Untung peristiwa itu terjadi di Magelang di masa SMA, sehingga hari berikutnya bisa langsung dibawa ke mbah Tahrir, seorang kakek tua, ulama ahli pijat, yang berhasil mengembalikan cedera tangan saya kembali sehat seperti semula

Lagi – lagi cedera mendera, dan kali ini pun berhubungan juga dengan dunia olahraga basket. Tiga hari sebelum laga semifinal Porseni di kampus, saya melakukan latihan tanpa pemanasan dulu. Alhasil, bagian pinggang kena cedera, dan badan sakit sekali untuk membungkuk.

Pas latihan terakhir, sehari sebelum pertandingan, saya hanya bisa duduk melihat rekan – rekan yang lain berlatih. Tiba – tiba datang seorang lelaki di sebelah tempat duduk saya dan menyapa ramah menanyakan kenapa saya tidak ikut bermain, kemudian kami berdua terlibat pembicaraan, yang diakhiri dengan tawaran si lelaki untuk memijit saya selepas menyaksikan teman – teman berlatih. Singkatnya, lelaki bernama Saimun itu berhasil mengobati cedera pinggang saya, menolak saat saya ingin membayarnya, dan esoknya pun saya sukses ikut turun bersama teman – teman berjibaku di semifinal kejuaraan basket se kampus.

Tiga tahun lalu, cedera datang mengenai kaki saya saat mendaki sebuah gunung di Jawa Barat. Karena tidak sempat mencari tukang pijat, saya hanya mengobati cedera itu dengan rendaman air hangat dan mengolesi counterpain dengan sedikit memijitnya. Selang dua minggu, rasa sakit itu mulai menghilang. Tapi pada setiap pendakian berikutnya, rasa nyeri itu masih sering muncul dan menghantui. Terakhir, awal Mei lalu saat saya mendaki Gede, kaki saya kembali terkilir di bagian yang sama. Sampai sekarang rasa itu masih ada kendati sudah saya coba obati sendiri. Sepertinya saya membutuhkan Dewa penolong ke tiga seperti Mbah Tahrir atau mas Saimun.

Ada yang punya kenalan tukang pijat yang handal ? yang manis, cantik, berbadan aura kasih, dan enak mijatnya ya…..

foot feet

Advertisements

Bukan Manusia Biasa

Gus-e, makhluk yang sudah sekian lama tidak saya temui tiba-tiba datang tak diundang pergi tak diantar, nongol di depan pintu rumah saya dan langsung njeplak :

” Sungguh tidak sepantasnya kita menganggap kanjeng nabi itu hanya manusia biasa dan kita kemudian menyamakannya dengan manusia lain. Sekarang coba pikir, manusia mana yang pernah didatangi langsung setiap saat oleh malaikat jibril untuk perantaraan wahyu2 Gusti Alloh. Manusia mana yang mau menolak saat Alloh menawarkan sebuah gunung untuk diubah menjadi emas jika memang kanjeng Nabi menginginkan. Manusia mana yang selalu teringat keselamatan umatnya hingga beliau sendiri sudah mendekati wafat. Manusia mana yang bahkan Alloh dan para malaikat sendiri selalu bersalawat kepadanya.”

” Soal kekhawatiran tentang pengagungan Muhammad menyaingi pengagungan terhadapTuhan, aku rasa semua manusia terbodoh pun tahu batasan batasannya. Pengagungan kepada Muhammad lebih pada penghargaan, penghormatan , untuk membedakan dia dengan manusia bodo macam kita berdua ini ”

“Soal Beliau yang melarang para shohabat untuk mengistimewakan Beliau dalam segala hal, termasuk dalam panggilan, angap saja itu refleksi sikap super rendah hati Beliau”

Dan secepat datangnya, tanpa menunggu saya berkomentar, bahkan tanpa menunggu reaksi kaget saya hilang atas kedatangan orang sudrun ini, tau – tau dia sudah langsung nggeloyor pergi lagi entah mau kemana

————————————————

Bicara tentang sholawat, saya jadi teringat perkataan sohib saya yang hapal ayat – ayat quran dari bermimpi saat tidur. Dia bilang, amalan sholawat itu berbeda dengan amalan – amalan yang lain. Saat kita beramal, kemudian takabur dan menyombongkan atas amalan itu, nilai amalan yang kita lakukan akan berkurang atau bahkan hilang. Sedangkan sholawat tidak, biarpun kita menyombong2kan ke orang lain bahwa kita rajin bersholawat, sholawat itu akan tetap diterima Alloh, dan tidak berkurang kualitasnya karena kesombongan itu.

Masih tentang Sholawat, Ale si beruang qutub ternyata sangat terinspirasi dan merekam semua apa yang saya lakukan saat menidurkan dia waktu dia masih kecil, dan saat menidurkan Dhiya-adiknya- saat ibunya sedang sibuk. Ya, saya gemar mendendangkan sholawat saat menidurkan anak – anak.

Saat ini, sekeras apapun tangis Dhiya, serewel apapun si Lady Strawberry itu, begitu Ale berlari mendekati tempat tidurnya kemudian mendendangkan Sholawat, si kecil Dhiya akan terdiam, tersenyum, dan kemudian tidak menangis lagi.

toyatuwoh tayamuwoh, ala toha wocuyiyyah

toyatuwoh tayamuwoh,ala yasin habibinga

tawatalna bibismiyah wabilhadi wocuyiyyah

wakulli mujahidiliyyah min ahlilbadri ya awoh

twolittleangels

Hening Tasbih Semesta

Tidak berlebihan, saya melakukan perjalanan ini hanya dengan dua tujuan : Mengisi paru – paru saya dengan udara bersih sebanyak – banyaknya, dan kembali mendengarkan Tasbih alam dalam keheningan Akbar yang sudah hampir tiga tahunan tidak lagi saya dengarkan.

Tujuan pertama 98 % tercapai. Sungguh menyedihkan karena 2% penyebab kegagalan ini adalah asap rokok dari rekan seperjalanan, yang baru saya kenal. Bahkan di tempat yang sesungguhnya kita bisa menikmati kebebasan dari ribuan jenis oktan polusi udara, melupakan kerusakan bumi, dan kesibukan pembodohan yang bernama kemajuan ekonomi, ternyata kita tetap saja tidak bisa lari sepenuhnya dari asap rokok. Saya merindukan 3 rekan seperjalanan saya dulu yang tidak merokok.

Tujuan kedua tercapai 90%. Mungkin karena saya kurang pandai mencari waktu menyendiri diantara rerimbunan keheningan pepohonan, hembusan angin, selubung kabut dan bebatuan, yang semuanya bertasbih. Saya merindukan mendengarkan keheningan mereka. Mungkin juga karena terlalu banyaknya manusia yang melakukan pendakian di hari yang sama, sehinga saya tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk menikmati keheningan itu.

Oke, lupakan segala statemen yang menyatakan bahwa naik gunung adalah aktivitas yang berbahaya karena bagi saya naik motor di belantaranya lalu lintas kota Tangerang justru lebih menakutkan dan lebih memberikan ancaman. Lupakan juga pendapat bahwa naik gunung dekat dengan rasa sakit, karena polusi asap kendaraan dan industri yang terhirup setiap detiknya di suasana kota bagi saya jauh lebih memberikan rasa sakit yang permanen. Lihat saya, sudah 12 hari tidak migrain, dan ini luar biasa !!

gede11

Saya sedang tidak dalam kondisi mencari pelegitimasian diri atas apa yang saya lakukan. Karena dengan kesungguhan, saya akan berkata kepada anda semua bahwa saya menemukan banyak sekali manfaat dan perbaikan dari apa yang saya lakukan ini, naik gunung.

Dalam diam dan hening ditemani dingin malam, saya bisa kembali merenungkan dan merindukan sosok Ranting kecil yang sudah menemani saya selama hampir 6 tahun ini. Sosok yang dulu begitu ingin saya berikan berbagai persembahan kebanggaan, namun atas kesalahan sendiri, saya terbias dari fokus itu. Saya merenungkannya, ya saya mencintainya, masih seperti dulu.

Sosok Beruang Qutub kemudian muncul, anak yang selama ini ternyata baru saya sadari, hanya sebagai objek kesenangan dan kerinduan bagi saya. Dan saya melupakan bahwa dia adalah amanat. Masa depannya adalah segalanya. Saya terkoreksi dan seperti mendapat energi baru untuk mempertaruhkan segalanya untuk masa depan Sang Beruang.

Lady Strawberry yang masih lemah tapi punya sorot mata yang menantang. Dara kecil 3 bulan yang jelas begitu mengingatkan saya akan tanggung jawab besar menanti ke depan. Mengingatkan saya untuk selalu berserah diri dan banyak berdoa atas waktu yang akan dijalaninya di dunia, dan semoga tetap ter-ridhoi hingga akhirat.

Kemudian, saya paling menyukai menjadi kecil saat merebahkan diri di tanah lapang itu dan memandangkan mata  ke bentangan kubah dunia yang  bernama langit. Sambil melafalkan dalam hati beberapa ayat Qur an tentang alam yang saya tahu, hingga perlahan muncul sebuah perasaan yang tidak terkatakan yang memenuhi rongga dada.

gede20

Alhamdulillah atas sekali lagi ijin NYA, sehingga  saya bisa melakukan sebuah perjalanan lagi, berinteraksi dengan alam lagi, menghilangkan dahaga terhadap kesempatan menghirup udara bersih sepuas – puasnya.

view puncak

*) Mohon maaf buat rekan – rekan seperjalanan. Di pendakian kemarin, saya sedang ingin menjadi orang yang berbeda, selfish, tidak peduli, jauh berbeda dengan pendakian – pendakian sebelumnya.

**) Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di ujung barat suryakencana untuk menikmati sunset. Sekian kali ke Surya Kencana, saya hanya beredar dari sisi timur hingga sisi tengah,  sisi jalan menuju puncak.

***) pic dibikin oleh rekan seperjalanan, eko subiyanto dan memed

****) Hening Tasbih Semesta adalah sebuah nama yang awalnya akan saya berikan pada anak saya yang ke dua.

*****) sengaja saya posting tanggal 12 Mei, bertepatan dengan hari meninggalnya Rob Hall dan rombongan, serta Scott Fischer dan rombongan di Everest dalam sebuah ekspedisi pendakian Everest, 12 Mei 1996.

Rizki

Ratih Sang dan Inneke Koesherawati dengan berani mengubah haluan hidupnya dengan mengenakan jilbab. Padahal saat mereka melakukan itu, dapat dikatakan sedang dalam puncak kesuksesannya. Banyak pihak yang meyakini keduanya akan mendapatkan permasalahan tertentu, setidaknya turun pamor, dan berakibat pada penurunan penghasilan.

Yang terjadi adalah Ratih Sang sukses di dunia barunya sebagai perancang mode busana – busana muslimah, sedangkan Inneke kebanjiran job untuk berperan di berbagai sinetron televisi. Tidak ada pengurangan rizki atas hijrah mereka, bisa jadi malah bertambah.

Gigi, band pop Indonesia, sukses memiliki pangsa penggemar tersendiri setelah album pertamanya membawa corak warna yang khas, dengan balutan kepiawaian para personilnya dalam meramu lagu. Keputusan mereka untuk berganti alur membawakan lagu religi awalnya banyak menuai pertanyaan dan kekhawatiran akan masa depan band ini, terutama dari segi disukai atau tidaknya lagu – lagu mereka. Dan andai tidak disukai, tentu akan bermuara pada menurunnya pendapatan yang akan mereka terima.

Yang terjadi kemudian ? Gigi mampu memberi warna baru dalam membawakan lagu – lagu religi tanpa kehilangan identitas musik mereka. Sukses, diterima masyarakat. Penghasilan tidak berkurang, malah bisa jadi bertambah, karena mereka sesekali mendapat order untuk manggung di berbagai kegiatan yang bernuansa keagamaan, hal yang sebelumnya hampir tidak pernah mereka dapatkan.

Dua orang tua saya, berbekal pengetahuan dagang seadanya dan keramahan ala Jawa, pada suatu masa mampu menguasai bisnis penjualan minyak di daerah Magelang selatan. Saat usaha tersebut berjalan, mereka berdua mendapatkan penghasilan yang sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan keempat anaknya. Saat sebuah praktik monopoli oleh orang dekat penguasa meruntuhkan bisnis minyak tersebut, Alhamdulillah Alloh ternyata tetap tidak mengurangi jumlah rizki yang diterima kedua orang tua saya tadi.

Rizki tambahan datang dari anak – anaknya yang sudah mulai bekerja, perlahan menata hidup, dan bisa mengirimkan uang sekedarnya untuk kedua orang tuanya. Tidak berkurang rizki seseorang dengan campur tangan orang lain, tanpa izin dari Alloh Ta’ala. Bahkan andai mau kita renungkan lebih lanjut, ada nilai tambah dari rizki orang tua saya tadi, yaitu nilai pahala bakti anak – anak pada kedua orang tuanya, nilai doa – doa dan ridho orang tua pada anak – anaknya, nilai bangga orang tua pada anak – anaknya. Nilai tambah yang tidak bisa diukur dengan rupiah.

Saat istri saya menyatakan keinginannya suatu saat untuk berhenti bekerja dan fokus dalam urusan mendidik anak, saya dengan tidak ragu – ragu memberikan persetujuan dan dukungan penuh. Kendati saat ini sebagian besar penghasilan kami berdua masih tersedot untuk melunasi hutang – hutang dan pembersihan harta, saya tidak sedikitpun mempunyai kekhawatiran akan kehilangan atau mengalami penurunan jumlah penghasilan. Saya tahu benar pekerjaan ibu rumah tangga itu jauh lebih berat dibanding pekerjaan yang sedang istri lakukan di tempat kerjanya sekarang. Jadi, saya percaya Alloh akan memberikan reward yang lebih atas usaha yang lebih.

Setidaknya, kedua anak saya akan mendapatkan tambahan kualitas pendidikan yang insya Alloh semoga memadai, sehingga mampu mendapatkan masa depan yang lebih baik dari kedua orang tuanya. Jika dipatokkan dengan usia Kanjeng Nabi, mungkin usia saya dan istri hanya tersisa 30 tahunan ke depan. Tetapi kedua anak kami, tanpa berniata mendahului takdir, andai dihitung dengan usia Kanjeng Nabi, mereka berdua masih mempunyai masa depan selama 55 tahunan. Masa depan mereka itulah yang precious bagi kami.

Memang terlalu sederhana untuk memaknai rizki hanya dari pendapatan yang berupa materi semata, dan terlalu simpel membuat ukuran rizki hanya dari sebatas reward dari usaha atau bekerja saja. Kesehatan, kebahagiaan, dan sejumlah kondisi lainnya dapat juga disebut rizki yang bahkan mungkin tidak bisa dinilai dengan ukuran rupiah. Bisa saja nanti setelah istri saya jadi keluar dari pekerjaannya, penghasilan kami menurun, tetapi kami deiberikan kesehatan yang luar biasa, dihindarkan dari biaya – biaya yang tidak terduga, dan seterusnya – dan seterusnya.

Percayalah, Alloh adalah seindah – indahnya pengatur skenario rizki dan kehidupan. Dan hanya kepada NYA kami titip pasrahkan masa depan anak – anak kami.