Mari Nge-Teh

Hujan masih sesekali mewarnai hari – hari di kota Industri ini. Dingin udara yang dibawanya, terutama di malam hari, cukup untuk memaksa tangan merapatkan selimut yang membungkus tubuh. Jika beruntung, istri akan membuatkan teh panas untuk menemani saya yang sampai sekarang masih bermasalah dengan hal yang bernama : tidur dini ( Maklum, mantan vampire ).

Saya punya dua perspektif dalam memandang cara saya menikmati tegukan demi tegukan teh yang saya minum.  Pertama, saya meminum teh panas itu untuk menghangatkan tubuh dan melawan hawa dingin yang diciptakan oleh sang hujan. Saya berusaha menciptakan suasana ” anti hujan” ditengah ketertekanan fisik jasmani saya terhadap hawa dingin sang hujan. Artinya, saya menikmati tehnya, tapi saya tidak menyukai hujannya.

Kedua, saya meneguk teh di tengah suasana hujan dingin, justru untuk mendapatkan citarasa terbaik dari teh tersebut, mendapatkan puncak titik kepuasan, bahwa teh panas paling enak jika dinikmati dalam kondisi suasana yang berhawa dingin seperti ini.  Saya menikmati teh dan hujan bersama – sama. Artinya, saya menyukai teh dan menyukai hawa dingin ciptaan sang hujan.

Sepertinya, cara pandang kedua ini lah yang sedang saya coba untuk bawa dan aplikasikan dalam kehidupan berumah tangga maupun dalam menjalani rutinitas pekerjaan sehari – hari. Saat tekanan berbagai pekerjaan dengan tanggal jatuh tempo yang hampir bersamaan datang bertubi – tubi, rasanya saya harus berusaha untuk menikmati setiap ketukan jari di atas tuts keyboard komputer, mensyukuri setiap pandangan mata yang merunut angka demi angka, dan menghiasi setiap print hasil pekerjaan dengn senyuman.

Saya menikmati tekanan itu.

cup-of-tea

** sore yang kembali mengingatkan saya , bahwa saya pernah punya keinginan untuk sekali saja merasakan bagaimana upacara minum teh yang sesuai dengan kebudayaan jepang kuno itu….

Advertisements

Qurrota A’yun

Wanita ini sungguh menyenangkan. Senyum dan setiap gerakan kecilnya selalu memberi arti istimewa di hati. Saya yakin, Tuhan dan para malaikat masih mempunyai peran besar disini sehingga gerak apapun yang dia lakukan selalu mendatangkan kesejukan, hal yang akan berbeda jika gerak itu dilakukan oleh bukan dirinya dan bukan oleh manusia seusianya.

DHIYA ULHAQ AZKIYA namanya. Anak ke dua saya, dari istri pertama ( zwiiinngggggg….tiba2 sebuah piring tau2 sudah terbang dari dapur , tempat istri biasa beraktivitas  !!) . Sebuah nama yang disetujui istri dari sekian nama yang saya ajukan ke dia ( Nama lain yang juga saya suka tapi ditolak sama istri : Bening Tasbih Semesta ). Setiap anggota tubuh mungilnya selalu memunculkan ketakjuban.

living-hand-in-hand

Setiap di rumah, saya seperti tidak mau kalah untuk ikut berpartisipasi mengganti popok, mensucikan tubuhnya, hingga membopong untuk membuatnya tidur. Kegiatan terakhir ini yang paling saya suka, Saya biasa melakukannya dengan mendendangkan sholawatan, bacaan tasbih, atau puji2an yang saya hapal dari pelaguan surau – surau di desa. Seperti ada rasa puas tersendiri kalo saya berhasil menidurkannya dalam pelukan dan gendongan.

Dan hari ini, untuk kesekian kalinya saya senang untuk mengakui, bahwa saya jatuh cinta padanya, pada wanita itu, pada wanita yang juga dicintai oleh istri saya. Wanita itu DHIYA ULHAQ AZKIYA namanya.