Pagi yang Sempurna

Kamu tahu, puluhan gunung telah aku daki. Dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, hingga Sulawesi Utara dan bahkan Ternate dan Tidore. Kepada alam aku menemukan jawaban. Pagi yang sempurna adalah saat semburat lembayung merah fajar bersatu dengan ungu, sisa hitam, memadu menjadi sebuah lukisan agung di kanvas biru langit, bisa aku nikmati dari puncak ketinggian tanpa penghalang, ditemani dengan tegukan secangkir kopi hangat buatan teman seperjalanan.

Kamu juga tahu, puluhan ‘ulama dan guru pernah aku datangi. Dari Pandeglang, Bintaro, Ciseeng, tempuran, salaman, muntilan, hingga kalumpang, tanah tinggi, maliaro, bahkan soa siu. Dari mereka aku belajar dan mendapatkan tafsir. Pagi yang sempurna adalah, saat aku mampu menegakkan tahajud, wirid, dzikir, bertaqorrub hingga shubuh menjelang, dan disempurnakan dengan syahdu dhuha membarengi prosesi bertukarnya malaikat malam dengan malaikat pagi, bintang dengan matahari.

Tetapi sungguh kamu juga harus tahu. Bagiku, pagi yang sempurna adalah saat aku terbangun, membuka mata dari tidur, dan kamu masih ada di sisiku , menjadi istriku, memenuhi hari – hari ku bersama beruang kecil dan putri strawberry kita.

Kyai Langgeng

6 tahun kisah RajaWali dan Ranting Kecil

16 Agustus 2003 – 16 Agustus 2009

Advertisements

Ayah

Engkau, yang mengasah empat anak panah dengan ilmu, mengecatnya dengan kejujuran, dan merendam mata panahnya dengan cairan jiwa cinta terhadap alam, sehingga engkau kini bangga akan ketangguhan keempat anak panahmu.

Engkau yang merentangkan busur kesabaran, dan kemudian melesatkan keempat anak panahmu, melesat menembus selimut waktu dengan sesekali melenguh bergesekan dengan arah mata angin yang berbalik. Pada kedalaman hatimu aku tahu engkau mempunyai harapan tersendiri terhadap keempat anak panahmu. Kendati begitu, engkau selalu berkata : ” Lepas, bebaslah nak, bebaskan dirimu, dan melesatlah kemanapun engkau suka, lalui jalan manapun yang engkau mau, untuk menuju cahaya !”

Engkau , yang kini mulai merapuh bersama zaman. Memutih seiring datang dan berjalannya abad perak. Kini selalu duduk dan berdoa, dengan sesekali tersenyum saat kembali membentangkan kenangan dan mendapatkan kabar tentang keempat anak panahmu.

Apa kabarmu hari ini ?

Semoga limpahan Rahmat keberkahan, nikmat iman, serta ketentraman selalu menyertaimu beserta busur panahmu. Busur panah yang menjadi satu-satunya pendamping setia. Seperti halnya rahmat keberkahan, nikmat iman, dan ketenteraman yang selalu engkau doakan untuk keempat anak panahmu. Amiiin…

Lihatlah kami, anak – anak panahmu, hari ini. Kami semua sedang menuju cahaya seperti pintamu.

Walk to Remember

teruntuk

63 tahun sang pemanah

14 Agustus 1946 – 14 Agustus 2009

Wednesday with Morrie

Pertama kali datang ke kantor, orang ini langsung membuat kuliah singkat dan membahas tentang penyebab naiknya harga tanah dan bangunan di Indonesia jika dibandingkan dengan Jepang, berlanjut hingga bahasan tentang sholat berjamaah.

SS namanya. Seorang dokter spesialis bedah sarat pengalaman yang dimasa tuanya ini, usia di atas 70 tahun, lebih banyak melakukan kegiatan sosial bergabung dengan yayasan Tsu Chi Indonesia. Setiap datang ke kantor ini kami berdua selalu terlibat dalam diskusi menyenangkan tentang pajak, ekonomi, kedokteran, hingga nilai – nilai kehidupan. Beberapa kali diantaranya sang dokter pernah membawa istri dan anak wanitanya untuk diperkenalkan ke saya.

Setiap pertemuan dengannya, yang kemudian berlanjut ke diskusi ringan,  saya selalu teringat dengan bukunya Mitch Albom yang berjudul Tuesday With Morrie. Buku yang saya dapatkan gratis dari Peewee -atasan saya dulu- ini bercerita tentang seorang profesor atau dosen bernama Morrie yang sudah divonis tidak mempunyai waktu lama untuk hidup. Dan Morrie lebih memilih untuk menikmati hidup yang tersisa dengan melakukan serangkaian catatan – catatan perjalanan menuju kematiannya.

Nah sang Dokter ini juga mirip seperti itu, dia begitu senang mencari tahu dan memberi tahu tentang apa makna hidup dan bagaimana mengaplikasikan nilai – nilai kehidupan diantara sesama manusia. Akhir – akhir ini beliau lebih sering terlibat serius dalam aksi sosial pengobatan gratis keliling Indonesia, dari Aceh, batam, sumatera, jawa, kalimantan, hingga makassar.

Kembali aroma Morrie itu makin terasa saat hari ini, Rabu, sang Dokter mendatangi saya lagi dan mengajak berdiskusi kembali, memberikan kuliah interaktif kembali. Kali ini dia menceritakan tentang teman – teman seangkatannya yang satu demi satu mulai meninggalkannya menghadap Sang Pencipta. Menurutnya, rahasia kenapa dia masih sehat dan lebih baik dibanding teman – temannya, adalah karena dia masih tetap ingin bekerja dan terus mencari kegiatan untuk mengisi hidupnya, agar otak tetap tidak berhenti bekerja. Kemudian bahasan menyambung ke bahasan tentang otak.

Otak manusia, menurutnya, maksimal baru bisa dimanfaatkan baru 1% dari total kemampuan yang seharusnya, yang sudah disediakan oleh Sang Pencipta Otak. Bahkan Einstein, maskot kejeniusan tertinggi manusia, diperkirakan baru memanfaatkan otaknya antara 1.5 hingga 2% dari kemampuan maksimalnya sebuah otak. Yang membatasi pengembangan dan pemaksimalan sebuah otak itu adalah waktu. Waktu yang hanya tersedia 24 jam sehari, 365 hari setahun, dan dibatasi oleh kematian. Waktu membuat manusia tidak mampu mengembangkan secara maksimal kemampuan otaknya. Kemudian bahasan meloncat ke definisi perbuatan baik

Apa itu perbuatan baik ? batasan minimal perbuatan baik setidaknya ada tiga :

1. perbuatanyang tidak merugikan dan tidak menyakitkan diri sendiri

2. perbuatan yang tidak merugikan dan tidak menyakiti orang lain dan makhluk lain

3. perbuatan yang tidak merugikan dan tidak menyakiti lingkungan.

kemudian bahasan selanjutnya tentang slogan work hard , play hard.

Sang dokter mengubah slogan itu menjadi tink hard, work smart, enjoy. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan rasa senang. Rasa senang dibagi menjadi tiga,

1. Rasa senang dengan hal negatif. contoh : menggunakan narkoba untuk kesenangan

2. Rasa senang dengan hal positif, contoh : senang mendapatkan pujian

3. Rasa senang karena senang dengan begitu saja, senang karena Tuhan menciptakan kesempatan.

Kemudian sang dokter kembali ke permasalahan tentang usia, dimana dalam hal ini dia selalu berusaha untuk terus dan terus aktif dalam berbagai kegiatan yang melibatkan otaknya untuk terus bekerja. Dia meyakini, kontrol tubuh manusia ini seluruhnya dilakukan oleh otak. Jadi, jika tidak ingin sakit, menderita, atau mati muda, berilah otak anda kesempatan untuk terus dan terus bekerja. Sampai kemudian pada sebuah kesempatan interaktif, saya bertanya pada sang dokter.

” Apakah Anda takut dengan kematian ?”

Sang dokter terkejut mendapatkan pertanyaan tidak terduga itu, jelas terlihat dari roman mukanya yang sudah mengeriput. Tiga detik kemudian baru beliau menjawab :

” bukan masalah takut atau tidak takut akan mati, young man. Mati itu adalah hal yang pasti. Kita semua sudah ada di waiting list untuk itu. Saya pikir ini adalah masalah siap atau tidak siapkah kita mati. Ini ranahnya sudah berbeda. Mati itu sudah memasuki ranah kepercayaan “

kemudian sang dokter membalikkan pertanyaan tersebut ” Kalo pak beruang sendiri bagaimana, kenapa tiba – tiba muncul pertanyaan seperti itu ?  Sekarang usia pak beruang ini berapa sih  ?”

” tiga puluh dua “

” sudah siap mati ?”

” rasa penasaran saya terhadap kematian dan kejadian sesudahnya melebihi pertimbangan saya tentang siap atau tidak siap saya menghadapi kematian itu sendiri “

Untuk kedua kalinya Sang Dokter tertegun.

bridge

Hubungan antara menantu dan mertua sepertinya akan selalu menjadi kisah klasik takberkesudahan. Dari kisah hubungan indah antara Rasululloh dengan Sayyidina Ali Karromallohu wajha hingga kisah kecewanya Prabu Salya terhadap Duryudana. Dari cerita Ratu Elisabeth dengan Lady Diana, hingga cerita picisan sinetron mertua kaya bermenantu orang miskin.

Seperti halnya saat sang menantu memilih suami/istri ( anak mertua ), tentu perlu waktu bagi kedua belah pihak untuk mempertemukan dua pribadi yang berbeda, menyelaraskan ritme, hingga terbentuk suatu kesepahaman bersama. Dalam hal hubungan istri dan ibu, saya menjadi pihak yang mengenalkan, mempertemukan dan  menyelaraskan keduanya. Menjadi jembatan antara dua pangkal yang tadinya berdiri sama kukuh.

Beruntung saya karena mendapatkan istri dan ibu di warna yang hampir mirip, semacam merah dan pink, hijau dan hijau muda, atau ungu dengan biru. Istri dan ibu adalah jenis kutub magnet yang berbeda ( ingat, kutub magnet yang sama menurut hukum fisika akan saling tolak menolak, sedangkan kutub magnet yang sama justru akan saling tarik menarik mendekat ). Jadi, saya cukup menjadi jembatan penerjemah pribadi istri kepada ibu, dan pribadi ibu kepada istri.

Contoh kecil, ibu adalah orang Jawa asli yang dalam setiap masakannya selalu menyertakan unsur rasa manis. Saya yang sudah terbiasa sedari kecil merasakan lezat masakannya tentu tidak mempunyai masalah terhadap hal itu. Sedangkan istri yang sudah sedari kecil terbiasa citarasa tanpa rasa manis, lebih menyukai rasa gurih, tentu harus beradaptasi dengan cita rasa masakan. Dengan sedikit pengantar dan penjelasan ke ibu, serta pengertian ke istri, keduanya bisa dipertemukan dengan indah. Saat saya dan istri pulang ke Magelang, ibu dengan senang hati membuatkan masakan tanpa rasa manis, atau tetap manis tapi dengan kadar yang berkurang.

Contoh lain,  istri yang besar di lingkungan Jakarta, saat diajak pulang ke Magelang, tentu ingin sekali mengenal lebih jauh suasana Magelang sekitarnya, dari mulai tempat wisata alamnya, wisata budayanya, hingga wisata kulinernya. Jadi, saat pulang kampung yang hanya paling lama seminggu dalam setahun itu, istri ingin memanfaatkan waktu yang sangat sedikit itu untuk mengetahui semua tentang Magelang

Di sisi lain, orang tua saya, jelas sangat kangen terhadap anaknya yang hanya bisa ditemui langsung selama 7 hari dalam setahun. Tentu orang tua mempunyai harapan dan keinginan untuk lebih banyak bertatap muka melepas kangen serta berbagi cerita dan pengalaman. Anak yang dibesarkannya bertahun – tahun dengan susah payah, yang kini hanya bisa ditemuinya 7 hari dari 365 hari, ah..ingin sekali orang tua ikut merasakan kebahagiaaan, cerita, berbagi rasa, dan kebanggaan yang telah dicapai anak – anaknya.

So, peran saya di masalah ini adalah sebagai jembatan yang menyetujui keinginan istri untuk jalan – jalan seputar Magelang  tapi cukup dua atau tiga hari dari satu minggu itu. Sisanya, waktu kami habiskan di rumah untuk memberi kesempatan orang tua membuatkan masakan kesukaan kami, mencurahkan kembali kasih sayangnya, dan kami imbangi dengan berbagi cerita dan pengalaman. Hasilnya ? Alhamdulillah sejauh ini baik – baik saja. Istri sangat memahami keinginan orang tua saya, sebaliknya orang tua pun mau memaklumi keinginan istri.

Tentang unggah ungguh tradisi kesopanan Jawa, serta sejumlah gegar budaya antara dua individu itu  satu demi satu saya COBA pertemukan dengan indah, dengan saya berperan sebagai jembatan disitu. Dan, buah akhir paling indah yang dirasakan oleh saya sebagai jembatan adalah, bahwa saya merasa beruntung memiliki keduanya, ibu dan istri.

Home Sweet Home

rumah magelang

Dunia Wayang

Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang rajin menyempatkan diri membaca blog saya saat ini. Tapi jika kepada mereka – mereka diberikan pertanyaan : ” berapa banyak tokoh dunia pewayangan yang anda kenal ?” bisa jadi sebagian besar dari mereka tidak dapat menyebutkan lebih dari 10.

Sejak kecil, ayah saya memang sering membelikan anak – anaknya buku bacaan, termasuk buku komik. Diantara komik – komik yang saya sukai, adalah komik wayang bikinan R.A. Kosasih. Dari buku – buku itulah saya mengenal satu demi satu tokoh wayang dari jaman Wayang Purwa,  Arjuna Sasrabahu, Ramayana, Mahabarata, Baratayudha, hingga masa pasca perang Baratayuda dan kekuasaan Prabu Parikesit.

Dari ratusan tokoh wayang itu, saya menyukai Bisma Dewabarata. Tokoh yang demi menebus kesalahannya, rela untuk melepaskan kesempatan menjadi raja Hastina dan tidak menikah sepanjang hidupnya. Seorang resi sakti yang tidak tertandingi kesaktiannya dan selalu menempatkan rasa adil di atas segalanya. Hingga saat orang yang disakitinya datang menantangnya, Bisma Dewabrata rela untuk mengalah dan tidak melawan, hingga ajal menjemputnya.

Ada juga yang bernama Wisanggeni. Seorang pemuda yang tidak tahu tatakrama, berandalan, sakti luar biasa. Tetapi dibalik kenakalannya, dia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Sang Pencipta. Mungkin dalam bahasa Islamnya, wisanggeni ini mampu menyatu dalam ” Sajatining manunggal kawulo ing Gusti “. Raganya menyatu dengan raga Sang Pencipta. Dengan kemampuannya itu, dia sendirian mengobrak – abrik Swargaloka menyadarkan kekeliruan para dewa yang tidak berbuat adil atas diri dan keluarganya.

Kemudian ada Puntadewa atau Yudistira. Ini adalah Pandawa Pertama, saudara tertua dari pandawa lima. Sejak kecil Yudistira ini dikenal sebagai orang yang punya sopan santun tinggi, kalem, dan tidak pernah bohong satu kalipun. Sehinnga orang akan selalu percaya apa yang dikatakannya. Sekali – kalinya dia bohong adalah saat terpaksa menipu Resi Dorna di pertempuran Baratayudha sehingga sang Resi kehilangan semangat dan kalah.

Itu tiga tokoh terbaik yang saya sukai dari dunia pewayangan. Tokoh – tokoh lainnya tentu masih banyak seperti Bima atau Werkudara yang mempunyai 3 anak di 3 alam ( Antareja bisa jalan di bawah tanah, Gatotkaca bisa terbang, dan Antasena yang menguasai lautan ), Sri Kresna yang jelmaan dari dewa Wisnu, Gatotkaca sendiri, Hanoman, dan lain – lain.

So, adakah anda kenal mereka dan siapa tokoh favorit anda ?