SDM

Hey, jangan percaya jika ada yang bilang Sumber Daya Manusia Indonesia itu kualitasnya rendah !!

Setidaknya, mata kita mulai terbuka bahwa tidak sedikit putra bangsa baik yang masih setia memegang kewarganegaraannya (WNI) maupun yang sudah melepasnya dan memilih menjadi warga negara asing, yang mampu berkiprah sukses di negeri orang.

Sejak dulu, kita mengenal Pak Burhanuddin Jusuf Habibie yang sukses di jerman dan kemudian ditarik ke Indonesia untuk menjabat Menteri Riset dan Teknologi.

Kemudian kita juga mengenal Ken Kawan Sutanto (halo…nama saya Kholid Sutanto lho …kami satu marga !!!). Professor yang meraih 4 gelar doktor di empat bidang yang berbeda ini masih memegang kewarganegaraannya (WNI). Beliau sukses di bidang akademisi, dan menjadi seorang dosen yang sangat disegani di jepang. Salah satu temuannya yang terkenal adalah apa yang dia namakan sebagai “Soetanto Effect”. Sampai saat ini, setidaknya ada 31 temuan yang sudah beliau patenkan.

Kemudian ada Sehat Sutardja, yang sukses mendirikan Marvell Technology Group. Marvell tercatat sebagai one of the best managed company in America dan menjadi kampium di semi-conductor company top ten list. Semuanya bergengsi karena yang memilihnya adalah majalah Forbes, majalah referensi utama ekonomi dunia.

Ada lagi, namanya Professor Nelson Tansu. Pria kelahiran Medan 20 Oktober 1977 ini adalah peraih gelar Professor termuda di Amerika Serikat.

Ada juga Johny Setiawan ( penemu planet dan bintang muda), Prof. Doktor. Khoirul Anwar (pemegang dua paten penting tentang telekomunikasi dan perombak pakem efisiensi telepon seluler), Muhammad Arif Budiman (ahli genetika di Orion Genomic, Saint Loius Missouri AS), Yanuar Nugroho (lulusan ITB yangterpilih jadi dosen terbaik di Inggris pada tahun 2009), Sri Mulyani (salah satu direktur World Bank), dan masih banyak lagi.

Lima hari yang lalu, ada sebuah kabar dari kakak saya yang tinggal di Seattle yang membuat saya bangga. Ponakan saya (anak pertama dari kakak ), Irfan Hanif Wisanggeni, menerima penghargaan dari Presiden Barrack Obama sebagai seorang pelajar berprestasi bagus.

Disana, pemerintahnya sudah terbiasa menghargai para pemikir, para pelajar, sejak usia dini

Dengan miris saya akan mengatakan bahwa salah satu syarat mudah yang menjadikan mereka sukses adalah : jangan berkarir di Indonesia !! Anda dan kita tahu, selama politikus berkualitas (moral) rendah masih menjadi panglima penentu kebijakan di semua bidang, maka jangan harap akan ada kegemilangan disana.

Sebelum terlambat, mari kita mulai untuk lebih menghargai putra-putri terbaik negeri ini. Berikan mereka kesempatan untuk menyumbangkan pemikiran terbaiknya guna memperbaiki bangsa ini dan menempatkan negeri ini pada posisi yang lebih layak

Advertisements

sad song

Waktu terasa berhenti

rodanya sarat tak beranjak

saat kamu tidak hadir diantara kami

dengan dirimu yang sebenar-benarnya

ingin aku mengejar matahari

untuk mendorongnya lebih cepat melewati malam

dan merogohkan tanganku ke kolong cakrawala

untuk menariknya bergegas

 

semua itu aku lakukan demi kamu

demi kamu melewati episode sedih itu dengan tidak berlama

 

Dhican, menarilah segera

Karena kami masih ada menunggu

dengan euforia dalam setiap detik episode barumu

24.06.2011

Mayapada Hospital Tangerang