Hirata dan Pearl Jam

Tahukah anda, sebentar lagi Andrea Hirata akan menerbitkan dwilogi berjudul PADANG BULAN dan CINTA DI DALAM GELAS ? Dan tahukah anda, kedua buku ini masih tetap menceritakan seorang Ikal yang diambil dari sempalan mozaik tetralogi laskar pelangi ?

Mengetahui dan sedikit membaca resensi pendahuluannya, saya jadi mengibaratkan Andrea Hirata ini seperti Pearl Jam. Tentu saja Pearl Jam tidak mengenal Hirata, dan Hirata juga saya yakin lebih dekat dengan Rhoma Irama dibanding Ed Vedder. Tapi kemunculan karyanyalah yang saya pandang mirip, walaupun boleh jadi Pearl Jam lebih baik dimata saya.

Saat pertama mendengarkan album perdanya, TEN, saya terkejut, dan langsung menyukai semua lagu yang ada di album tersebut. Mereka menawarkan lagu yang variatif, lirik yang menggelitik, dan musik yang pintar. Kemudian, masuk ke album ke dua, VERSUS, warna album pertama masih terlihat terbawa, tapi ada beberapa lagu yang tidak sehebat BLACK, JEREMY, RELEASE ME, maupun ONCE, di album pertama.

NO CODE, album ke tiganya, membuat saya beranggapan bahwa Pearl Jam sudah habis. untung album berikutnya VITALOGY banyak memuat lagu2 smart, tetapi terus terang masih belum begitu bisa diterima telinga. Baru begitu masuk album YIELD, kemudian BINAURAL, dan seterusnya, saya menemukan kembalikenyamanan. Kendati tetap saja : “tidak ada yang sehebat album TEN”

Nah, demikian juga dengan Andrea hirata. Saat pertama kalinya saya membaca LASKAR PELANGI, saya langsung berteriak “wow, karya ini bagus”. Kemudian saat melanjutkan ke SANG PEMIMPI, dahi saya sudah mulai berkerut sambil bertanya dalam hati : “ kok tidak semenarik buku pertama ? Dan beruntung Andrea punya bahan untuk menceritakan “suasana lain” dengan dunia eropanya di EDENSOR, sehingga saya lebih menyukai membaca buku ke tiga disbanding buku ke dua.

Tapi saya benar – benar harus berusaha keras untuk menamatkan MARYAMAH KARPOV, karena Andrea banyak menghabiskan kata – kata hanya untuk menceritakan sebuah hal kecil. Motivasi saya menghabiskan MARYAMAH KARPOV pun cukup menyedihkan, “ agar bisa mengatakan bahwa karya ini tidak bagus, tidak afdol dan terkesan asbun rasanya andai saya berkata MARYAMAH KARPOV jelek, tetapi saya sendiri belum menamatkannya”.

Saya jelas kalah hebat dengan hirata dalam memainkan kata, dan menuliskan banyak cerita. Tapi bolehlah saya menyarankan kepada Hirata agar jangan terlalu memaksakan diri untuk sesegera mungkin menerbitkan sebuah buku, karena Andrea harus mempertimbangkan efek jenuh pembaca terhadap tokoh dan setting cerita yang itu – itu saja. Mungkin Andrea akan lebih harum namanya saat berhenti berbicara tentang Ikal di MARYAMAH KARPOV atau bahkan di EDENSOR, dan kemudian mencoba menulis hal lain, atau setting yang lain.

5 thoughts on “Hirata dan Pearl Jam

  1. pinjemin dulu ke bundanya rozan jeng, kyknya dia nggak trauma dgn maryamahnya🙂

    kami, milis sendaljepiter menunggu rekomen saja dari jeng nutri dan jeng sendja (yg konon sudah beli juga)

    soal pearl jam,lagu black juga “miris” :
    I know someday you’ll have a beautiful life, I know you’ll be a star
    In somebody else’s sky, but why, why, why
    Can’t it be, can’t it be mine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s