Sehari Bertemu Dua Orang Hebat

Satu orang luar biasa saya temui pagi ini, sekitar jam 08.05-an saat kami sekeluarga baru saja berangkat mengantarkan Ale ke tempat sunatan. Seorang nenek tua renta dengan badan kurus kering dan jalan membungkuk mendorong gerobak yang berisi barang-barang hasil memulungnya. Gerobaknya masih lumayan kosong saat itu. Tetapi kekaguman saya terhadap nenek itu jauh dari kosong. Bagaimana tidak kagum ? Disaat orang-orang seusianya yang ada di sisi makmur sedang enak menonton televisi atau bercengkrama dengan anak cucunya melewati waktu akhir minggu, dan orang-orang seusianya di sisi yang tidak beruntung sedang duduk bermalasan di trotoar jalan sambil menadahkan tangan, beliau masih dengan gigih mencari sendiri jalan rizkinya.

Satu orang hebat berikutnya saya temui saat kami pulang dari tempat sunatan dan sedang berhenti sebentar untuk membeli sebuah gift untuk teman Ale yang berulang tahun hari ini. Orang itu mulanya menabrak bagian belakang mobil saya, dan kemudian kembali menabrak spion mobil saya. Tentu saja saya tidak marah, karena beliau ini ternyata orang buta, dengan satu tangan memegang tongkat untuk menuntun arah, dan satu tangannya memegang kayu penuh dengan sejumlah kerupuk yang disungginya di atas kepala. Disaat teman-teman senasibnya dengan gampang meraih rupiah dari hasil berjalan dari satu toko ke toko yang lain dan dari rumah satu ke rumah yang lain sambil menjual iba, bapak satu ini justru memilih untuk lebih menghargai diri sendirinya dengan menjual kerupuk.

Dan lihat, dititik mana saya berdiri saat ini ? Seorang dengan kehidupan yang sangat alhamdulillah, tetapi masih saja tidak sabar saat menghadapi kemacetan di mobil ber-AC berkawankan musik jazz, masih menggerutu saat komputer di tempat bekerja lambat loadingnya, dan masih bermuka masam saat pelayan terlambat menghidangkan menu pesanannya.

Saya malu !

Ada yang senasib dengan saya ?

Mari saya ajak untuk malu secara berjamaah.

Advertisements

Cibodas – Camping Pertama Bersama Keluarga

Camping bersama satu keluarga dengan mengikutsertakan anak-anak adalah sebuah keinginan yang sudah lama kami pendam. Selama ini saya dan istri selalu menolak ajakan camping dari beberapa pihak karena memepertimbangkan usia si kecil Dhican yang menurut kami belum siap untuk diajak mengikuti kegiatan outdoor.

Nah begitu awal Juni ini mendapat tawaran yang sama, dan mengingat Dhican mulai menanjak usianya, maka kami memutuskan untuk mengiyakan ajakan itu. Camping dilakukan di area perkemahan Cibodas, di lereng Gunung Gede – Pangrango. Peserta kegiatan ini sebagian besar terdiri dari para keluarga yang anaknya disekolahkan di Sekolah AlamTangerang (SAT).

???????????????????????????????

Karena ini merupakan camping pertama saya yang mengikutsertakan anak-anak, maka sejak awal saya berusaha mempersiapkan semuanya sebaik mungkin agar anak-anak bisa mengikuti kegiatan outdoor ini dengan enjoy. Atas dasar pertimbangan itu, akhirnya kami membeli sebuah kasur udara berikut pompanya, sebuah tambahan sleeping bag, beberapa kaus tangan dan kaus kaki, beberapa alat penerangan, dan juga kompor+gas baru. Tenda untuk sementara sewa dulu, mengingat budget yang tersedia agak menipis.

Sabtu pagi sekitar jam 07.00 kami berangkat dari Tangerang menuju Cibodas, dan tentu saja kami menjadi korban sistem buka tutup jalur ke arah puncak. Pelajaran pertama : ” jika mau jalan ke arah Puncak, berangkat paling siang jam 6 pagi. Selepas itu, jangan harap mendapatkan perjalanan yang nyaman”.

Singkat cerita, sekitar jam 11.00 kami sampai di lokasi dan langsung mengurus sedikit administrasi,menunggu tenda didirikan, dan mulai menata barang-barang di dalam tenda sedemikian rupa agar tidak terkesan sempit dan anak-anak nyaman di dalamnya. Sempat kecewa dengan cara pendirian tendanya yang ternyata salah, yang mengakibatkan bentuk tenda tidak simetris, tapi akhirnya tidak menyampaikan kekecewaan itu mengingat kami hanya satu malam saja disini, barang-barang sudah terlanjur dimasukin, dan anak -anak sepertinya sudah cukup senang dengan kondisi “rumah baru”nya. Pelajaran kedua :” Jangan langsung percaya bahwa pihak pengelola bisa mendirikan tenda dengan benar. Kalau perlu bantu mereka, atau minimal doakan mereka, agar bisa mendirikan tenda dengan baik, agar diberikan kesehatan, agar dimudahkan rejekinya, diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya, di……..(lho?)”.

???????????????????????????????

Siang hari yang sedianya ada acara saling mengenal antar para peserta camping, terpaksa dibatalkan karena hujan turun membasahi area perkemahan. Tidak begitu deras, tapi cukup menambah hawa dingin di sekitarnya. Bagi saya, ini cukup menguntungkan karena anak-anak terbantu untuk beraklimatisasi dengan udara dingin, dan semoga malamnya mereka tidak bermasalah dengan hal itu.

???????????????????????????????

Ale dan Dhican tidak berapa lama sudah langsung terlibat permainan bersama teman-teman kecil yang lain. Mereka bersama -sama bermain di aliran air jernih yang mengalir tidak jauh dari lokasi camping. Aliran itu cukup aman, karena tidak begitu lebar, cukup dangkal, dan arusnya tidak terlalu kencang. Sementara itu bunda sedang belajar menggunakan peralatan masak barunya : sebuah kompor kecil dan tabung gas kecil, yang bagi dia merupakan hal yang cukup asing. Sedangkan saya ? hohohoho…saya sedang berolah raga, mengatur nafas dengan teratur sambil memejamkan mata, mengosongkan pikiran, atau orang-orang sih lebih mengenalnya dengan kata : TIDUR.

Malam datang, kabut dan hujan tipis turun. Beberapa buah games yang dilakukan untuk menghangatkan suasana ternyata tidak cukup untuk mengusir hawa dingin. Api unggun pun dinyalakan. Anak – anak terlihat senang berinteraksi dengan api unggun sambil sesekali menyorongkan jagung ke dalamnya. Mereka menikmati malam dan api unggunnya.

???????????????????????????????

Tapi itu tidak lama, begitu api padam, anak-anak yang sedari siang sudah kecapaian bermain, mulai memasuki tenda masing-masing untuk mencari kehangatan dan beristirahat. Dhican sudah tertidur sejak awal, dengan tanpa memakai jaket dan menolak diselubungi selimut. Bunda yang memang punya alergi terhadap udara dingin terlihat begitu tersiksa. Beruntung kami punya kaus kaki, sarung tangan, dan sleeping bag yang cukup membantu mengurangi rasa dingin. Saya memilih untuk tidak memakai sleeping bag, sama seperti anak-anak, menikmati gigitan hawa dingin yang sudah cukup lama saya rindukan.

???????????????????????????????

Pagi semuwah. Salut buat Ale yang mau dibangunkan pagi-pagi untuk menegakkan shoat Shubuh berjamaah, kendati dia menolak untuk mengambil air wudhu. Hahaha..ya udah lah..masih latihan ini. Dan sholat subuh pun kami lakukan diikuti dengan sedikit kuliah shubuh yang disampaikan oleh ownernya Sekolah Alam Tangerang.

Begitu matahari menampakkan sinarnya, kami semua memulai aktivitasnya masing-masing. Ale sudah melipir-melipir bersama teman-temannya menuju sungai kecil, Bunda memasak dan membuat kopi panas, sedangkan saya dan Dhican memilih berjalan kaki mengitari area untuk melihat ada apa saja di sekitar tempat camping ini. Selain menyediakan area camping, ternyata disini juga terdapat sekitar 10 buah kamar mandi, warung kecil (tidak disarankan beli air disini, harga satu botol ukuran 1,5 liternya dihargai Rp 10.000,-, bandingkan dengan air ukuran galon yang hanya Rp.12.000an), danau tempat bermain perahu, flying fox, objek rumah hutan, jembatan hewan purba, perosotan anak, dan ada satu lagi lokasi yang belum sempat kami datangi, yaitu air terjun. Letaknya sekitar 500 meter dari lokasi camping.

???????????????????????????????

Dan ternyata disamping menyediakan lokasi camping, tempat ini juga menyewakan bangunan-bangunan berupa beberapa buah wisma berisi dua atau tiga kamar dengan tarif satu hari satu malam berkisar di harga 800-900 ribuan.

Acara siang itu adalah acara bebas, Beberapa keluarga bahkan sudah mulai mengemasi barangnya dan bersiap untuk pulang. Saya dan keluarga menunggu hingga waktu Dhuhur tiba, kemudian menunaikan sholat dulu sebelum melakukan perjalanan pulang. Dan sekali lagi,kami terjebak sistem buka tutup jalur Puncak. Kami salah jadwal. Berangkat dari Cibodas jam satu siang, dan terpaksa harus menunggu di tengah kemacetan hingga jam empat sore. Pelajaran ke tiga : “Cari tahu jadwal buka tutup di jalur puncak”.

Perjalanan tersendat dan diselingi hujan mewarnai jalur pulang menuju Tangerang. Sampai rumah jam 11 malam, ada rasa letih karena kecapaian, ada rasa senang karena cukup terobati kerinduan terhadap alam pegunungannya, dan merasa lega melihat anak-anak sepertinya menikmati acara Sabtu Minggu ini.

???????????????????????????????

???????????????????????????????