Taksi

Saya kehilangan HP yang di dalam sarung HPnya terdapat dua kartu ATM, sebuah SIM A, dan beberapa kartu lainnya. Sejak dulu saya memang tidak punya (dan anti) dompet, jadi semua kartu dan pengenal ada dalam sarung HP tersebut. Jadi, sekalinya hilang ya memang jadi agak kelabakan. Tapi ya sudahlah, toh itu tetap tidak mengubah prinsip saya untuk tidak mempunyai dompet.

Kembali ke cerita kehilangan tadi, awal kejadiannya adalah pada saat mengoperasikan sebuah layanan peta di HP di dalam sebuah taksi menuju Pasar Senen. Nah pas lagi pegang HP, Dhican tiba – tiba minta duduknya dipangku, dan secara tidak sengaja HP yang saya letakkan di atas paha saya pun jatuh di bawah jok kursi belakang taksi E yang saya tumpangi. Karena untuk mengambilnya saya terhalang tubuh Dhican,akhirnya saya berpikir untuk mengambilnya nanti saya pas mau turun. Tapi kembali,penyakit pikun saya datang tidak di saat yang tepat, pas turun saya lupa mengambil kembali HP yang jatuh di bawah jok belakang kursi taksi itu, dan baru sadar setelah beberapa menit kemudian, di saat si taksi sudah tidak lagi ada di tempat.

Mungkin saya termasuk orang yang lambat dalam bereaksi, karena baru menelepon pihak call centernya taksi E tadi setelah dua minggu dari kejadian, atau sepulang dari liburan. Tapi saya acung jempol dan salut dengan reaksi cepat pihak taksi E ini, karena sehari setelah saya telepon, mereka langsung menelepon balik mengabarkan tentang perkembangan kasus ini, bahwa nama supir,nomor polisi, dan nomor taksinya sudah ditemukan, tinggal menunggu perkembangan berikutnya.

Hari berikutnya kembali mereka mengabarkan bahwa semua kartu dan sarung HP ada dan siap untuk dikembalikan. Sarung HP ? Ya, hanya sarungnya, karena HPnya tidak ada. Menurut pengakuan si supir, dia hanya menemukan sarung HP beserta kartu-kartunya, tetapi sudah dalam keadaan terbuka dan tidak ada HPnya, itupun ditemukannya di TKP (pasar senen), dan di bawah mobil (bukan di bawah jok belakang ).

Ada kejonggolan eh kejanggalan disini. Pertama,saya yakin betul bahwa jatuhnya di dalam taksi E, bukan di luar taksi. Kedua, jika memang supirnya menemukan di TKP, kenapa tidak langsung dikembalikan ke saya ? karena toh saya masih ada di situ (sambil bawa barang bawaan seabreg plus tiga anak kecil). Ketiga, agak aneh kalau misalnya kita berandai-andai bahwa HP itu jatuh di luar mobil, dan si pengambilnya hanya mencopot HP dari sarungnya kemudian membiarkan sarungnya plus sejumlah kartu ATM dan SIM A tergeletak begitu saja. Kenapa tidak dibawa sekalian saja satu sarung HP beserta isinya, bukankah itu lebih praktis ?

Tapi ya sudahlah, toh kejadian ini awalnya memang kesalahan saya, dan saya tidak punya bukti kuat untuk menunjuk hidung siapa yang mengambil keuntungan dengan kejadian ini. Malamnya, semua kartu beserta sarung HPnya diantar langsung oleh si supir taksi E ke rumah saya. Overall, saya cukup puas dengan reaksi cepat yang dilakukan oleh pihak Taksi E ini dalam menanggapi keluhan atau pelaporan barang tertinggal. Bayangkan, hanya dalam dua hari sejak melapor, barang yang tertinggal bisa kembali (walaupun tidak lengkap), “hebat” bukan ?

Advertisements

(Mungkin) Tetangga Kiri

Seorang wanita tua warga keturunan. Mungkin memang mempunyai kelainan sosial sejak dulu, mungkin juga tidak. Sejak kematian ibunya yang sudah sangat renta, wanita yang tidak bersuami dan tidak beranak ini tinggal sendirian di rumah kontrakan yang diklaim sebagai miliknya itu.

Usianya mungkin 60 tahunan, mungkin kurang, mungkin juga lebih. Raut mukanya banyak kerut yang mungkin memang menandakan usia tuanya, atau mungkin karena banyaknya pikiran yang memenuhi kepalanya. Semua serba sebuah” kemungkinan” dan tidak terkonfirmasi karena wanita ini memang menolak saat kami ajak bersosialisasi.

Sering saat malam dia terbangun, kemudian terlihat terlibat pembicaraan dengan nada tinggi, entah dengan siapa. Atau tiba-tiba memukul-mukul tembok dengan palu entah sedang memasang sesuatu atau entah apa, yang jelas itu sungguh mengganggu karena dilakukan pada jam dua pagi. Terkadang menyetel musik mandarin keras – keras dengan lagu yang itu – itu saja, dan sekali lagi, ini dilakukannya diwaktu orang sedang terlelap tidur, jam dimana bahkan pocong dan malingpun mungkin merasa terusik.

Saat keluarganya tiba, kami selaku tetangga terdekatnya mendatanginya. Bukan untuk mengadu maupun protes, tapi kami niatkan mengunjungi untuk memberitahukan kepada keluarga tersebut agar lebih sering mendatangi, menemani, maupun mengajaknya berkomunikasi agar si wanita tidak merasa kesepian, dan setidaknya mengurangi kadar stressing yang menyerangnya.

Mungkin ini kabar gembira, atau mungkin juga suatu saat nanti kami akan merasa kehilangan, tapi keluarga itu memberi jawaban bahwa wanita ini akan dipindahkan di sebuah rumah kontrakan yang lain yang letaknya relatif tidak jauh dari sanak familynya. Kami bersimpati, dan bergembira untuk dia. Dan mungkin juga bergembira untuk kami sendiri.

(Mungkin) Tetangga Kanan

Mungkin mereka orang kaya. Mungkin juga kaya tapi nanggung. Rumahnya tingkat, punya tiga mobil, sayang garasinya hanya muat dua mobil. Satu mobil lagi diparkir di tanah fasum yang sudah dimatikan, dipavingblock, dan dibuatkan kanopi di atasnya. Mungkin ini sudah seijin para tetangganya, mungkin juga belum. Dan kami bersimpati atas pemahamannya tentang hak milik.

Mobil ketiga itu dipakai oleh anak pertamanya yang baru saja lulus SMU. Anak ini meninggal sekitar seminggu yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal saat menaiki motor ninjanya. Para tetangga kemudian menghibur keluarganya, memandikan jenasahnya, mengkafani, menyolati, menguburkan, dan membacakan doa-doa selama tujuh malam.

Dan mobilnya masih tiga.

Media

Saya hadir saat di sebuah ceramah yang juga diliput oleh media, Gus-e berkata :

“Pakai Jilbab itu tidak wajib. Yang diwajibkan oleh Quran itu menutup aurat. Aurat laki-laki ada batasannya, aurat wanita juga ada batasannya. Mau nutupnya pakai kerudung, mau pake jilbab, mau pake sarung, mau pake kardus, mau pake daun, mau pake karung goni, mau pake karung gandum segitiga biru, atau pake logam biar kayak transformer, itu terserah. Yang penting BENTUK auratnya tidak keliatan !”

Sehari kemudian, koran harian “RAKYAT NJEPLAK” pun mengulas ceramah itu dengan judul dan nukilan yang bombastis yang membuat saya dan Gus-e tertawa ngakak saat membacanya.

“GUS-E : Pakai Jilbab itu tidak wajib !”

Ina Mencari Cinta

Nama panggilannya Ina. Sejak usia belasan, gadis itu sudah menjadi idola para jejaka yang ada di kampung itu. Berwajah cantik, bentuk tubuh ideal, ramah, dan tahu benar bagaimana beretika membawa diri. Status ayahnya, Pak Maja yang kaya raya makin melengkapi keberuntungan takdir hidupnya. Wajar jika tidak hanya lelaki yang menyukainya, para wanita pun akan sangat menyayangi dan merasa nyaman saat bersama Ina. Tidak sedikit yang bahkan merasa bangga saat orang melihat dirinya sedang berjalan bersama Ina

Ina sekarang sudah tumbuh dewasa. Namanya makin moncer tidak hanya di kampungnya saja, tetapi bahkan se-Kecamatan. Banyak lelaki yang menyukainya karena Ina juga punya banyak alasan untuk disukai. Lelaki penggila nafsu akan tergoda melihat kecantikannya, lelaki pemuja harta akan menghijau matanya melihat harta keluarganya, lelaki religius akan terpana melihat kesholehan tindak tanduknya, lelaki penggemar pangkat akan terpesona dengan keahliannya, lelaki pengejar ilmu akan tertarik dengan kepintarannya. Ina mempunyai dunia yang nyaris sempurna.

Tapi Pak Maja adalah bukan orang seperti kebanyakan.  Tidak seperti kebanyakan orang kaya di daerah itu yang gemar mengoleksi mobil, mengoleksi rumah, atau bahkan mengoleksi wanita. Harta Pak Maja sebagain besar diwujudkan dalam bentuk perikanan, perkebunan, persawahan, dan hasil alam lainnya.

Pak Maja adalah seorang hartawan yang dermawan dan arif dalam pemikiran. Sudah banyak pemuda dari berbagai daerah yang datang untuk melamar Ina, dia tolak secara halus, setelah para pelamar tersebut gagal dalam memenuhi standar fit and proper test yang Pak Maja ciptakan. Fit and proper test itu sendiri sebenarnya hanya dalam bentuk wawancara. Tapi dengan sekali wawancara tersebut, Pak Maja sudah bisa mengetahui seberapa serius dan pada tingkatan mana para pelamar itu bisa diandalkan untuk menjadi calon menantunya. Ina sebagai anak yang taat pada orang tuanya, percaya dan menyerahkan sepenuhnya proses seleksi calon suami itu kepada ayahnya yang arif.

Singkat kata, setelah Rizal dan Surya yang konglomerat, Rama yang musikus, dan Ranto yang aparat, semuanya tereliminasi, kini Pak Maja tinggal menyisakan dua kandidat calon suami Ina. Dua orang itu adalah Bowo dan Joko yang sama – sama mempunyai latar belakang sebagai pengusaha.

Keduanya kini terlihat duduk kaku di depan Pak Maja, Ina, dan keluarganya. Bowo terlihat lebih bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang bercampur aduk dibalik setelan baju safari dan celana berwarna putih. Garis wajahnya yang keras dan badannya yang tegap nampak jelas cukup menolongnya. Sedangkan Joko yang hari itu memakai setelan kotak-kotak terlihat grogi dan agak kaku kendati tidak dipungkiri dia punya keistimewaan memiliki wajah yang lugu yang mudah menarik simpati orang.

Setelah berbasa basi ala timur, Pak Maja tidak mau bertele- tele. Dia langsung memberikan waktu kepada kedua calon menantunya itu untuk memaparkan apa yang akan dia lakukan jika Ina dikemudian hari resmi menjadi istrinya. Bowo yang mendapat giliran pertama berdehem dan menarik nafas guna menekan rasa yang membuncah di dalam hatinya serta memanfaatkan waktu itu untuk mendapatkan titik ketenangan sebelum kemudian mulai menata suaranya agar terdengar berwibawa dengan harapan dapat mempengaruhi lawan bicaranya.

“Begini Pak Maja, Joko, dik Ina, serta para hadirin sekalian. Saya punya konsep untuk membahagiakan dik Ina lahir batin. Saya akan selalu menafkahinya, selalu membiayai kelanjutan pendidikannya, memenuhi kebutuhan kesehatannya, mendukungnya usahanya,  melindunginya, dan lebih menyejahterakannya. Dan ini saya lakukan dengan setulus hati, bukan untuk pencitraan saja” Kata Bowo dengan semangat sambil melirik tajam ke Joko pesaingnya.

Pak Maja terlihat manggut – manggut, dan kemudian berpaling ke Joko, sang kontestan selanjutnya. “Silahkan mas Joko, bagaimana visi misi mu ?” tanya Pak Maja sambil tersenyum. Dalam tradisi masyarakat Jawa, panggilan “Mas” yang dilakukan oleh orang tua, itu dianggap sebagai penghormatan.

“Terima kasih Pak Maja, Bowo, dik Ina, dan hadirin sekalian. Saya punya konsep yang tidak banyak berbeda dengan konsep yang sudah disampaikan oleh Bowo tadi. Saya hanya akan menambahkan bahwa agar konsep tadi tidak hanya di awang-awang, saya akan lebih sering meluangkan waktu bersama dik Ina, supaya saya bisa lebih cepat mengenal dan lebih cepat beradaptasi dengan dik Ina. Bahasa gaulnya, saya akan lebih sering blusukan ke hati dik Ina, memahaminya dan kemudian menawarkan solusi – solusi atas permasalahan – permasalahan yang dihadapi dik Ina. Dan saya akan melakukannya tanpa harus melanggar HAM ! Demikian, pak Maja. Terima kasih.” Joko mengakhiri pemaparannya dengan muka lugu yang bercampur tegang.

Pak Maja kembali manggut – manggut. Dan terlihat dia mulai berpikir, membiarkan ruangan menjadi hening. Waktu menjadi terasa seperti berhenti. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Pak Maja berdehem dan berdiri. Matanya mengedar memandang satu persatu para hadirin yang ada di ruangan itu, dan kemudian Pak Maja mengambil nafas berat.

“Mas Bowo, Mas Joko, Ina, serta hadirin sekalian yang sangat saya sayangi. Seperti kita tahu bersama, mas Bowo dan Mas Joko ini adalah dua orang yang sudah berhasil melewati tahap – tahap seleksi yang saya dan Ina lakukan, dan kami anggap layak untuk masuk “final”. Walaupun jujur saja, saya pribadi masih merasa belum cukup mengenal secara utuh siapa Mas Bowo siapa Mas Joko, siapa sebenarnya Mas Bowo, siapa “sebenarnya” Mas Joko, Apa agenda Mas Bowo, dan apa agenda Mas Joko, siapa pihak-pihak dibelakang Mas Bowo dan siapa pihak-pihak dibelakang Mas Joko.”

“Karena belum mengenalnya kami terhadap beberapa hal mengenai Mas Bowo ataupun Mas Joko, maka sepertinya saya kok masih merasa belum sreg kalau Anda berdua ini pada saat menyampaikan visi misi, lebih sering mengungkap semua pos – pos biaya tapi sama sekali tidak menyinggung pos penerimaan”

“Membahagiakan, menafkahi, membiayai pendidikan, memenuhi kesehatan, mendukung usaha, melindungi, itu semua kan pos – pos biaya, pos – pos pengeluaran. Lha Anda berdua itu dapet duit dari mana, itu kan juga harus dijelaskan. Anda dapet rejeki dari mana itu kan juga harus diumumkan. Mana sanggup Anda berdua membiayai semua yang dijanjikan tadi kalau tidak ada pendapatan”

“Ibarat bicara produksi, Anda berdua ini hanya membicarakan produk jadi, tanpa menjelaskan apa bahan bakunya, menjelaskan output tanpa menggambarkan apa inputnya”

“Ibarat kita membicarakan sebuah negara, Anda berdua bicara tentang program mensejahterakan masyarakat, pendidikan gratis, kesehatan gratis, memajukan ekonomi, meningkatkan kualitas hankam, tapi lupa mengulas tentang pajak selaku pos pendapatan yang membiayai lebih dari 70% APBN. “

70% LEBIH PENDANAAN NEGARA DIBIAYAI OLEH PAJAK lho mas-mas. Dan ini nggak main-main. Pajk terganggu, program kalian akan jadi program abal-abal. Anda lupa membahas bagaimana cara ekstensifikasi dan intensifikasi pajak, bagaimana menumbuhkan kesadaran membayar pajak pada masyarakat, bagaimana memperbaiki sistem perpajakan yang transparan dan akuntabel, bagaimana meningkatkan kualitas aparat pajak, bagaimana menerapkan reward and punishment yang membangun kinerja, bagaimana menaikkan tax ratio, dan bagaimana melindungi entitas pajak dari politisasi, kriminalisasi, dan intervensi pihak lain”

 “Itu yang pertama. Nah yang ke dua, Cinta itu tentang ikhlas. Dan ikhlas itu tentang siapa yang menerima dan bukan tentang siapa yang memberi. Kalau anda berdua cinta sama Ina, maka tidak ada lagi bahasan tentang kalian, tetapi yang ada adalah bahasan tentang Ina.”

“Artinya, bagi salah satu dari Anda yang tidak terpilih oleh kami, tidak boleh kecewa. Harus legowo. Harus menerima, bahwa Ina akan lebih bahagia jika tidak dengan Anda. Ina akan berjaya jika bukan dengan Anda. Dan Anda harus mendukungnya, karena sekali lagi, ini tentang Ina bukan tentang Anda”

“Sebaliknya, bagi yang terpilih sebagai pasangan Ina, Anda harus punya komitmen. Komitmen tentang bagaimana membawa Ina menjadi Ina yang lebih baik dari Ina yang sekarang. Komitmen atas semua visi – misi yang sudah dijanjikan. Komitmen bukan tentang kekuasaan Anda, tapi tentang kebahagiaan Ina. Komitmen bahwa Bowo tidak ada, Joko tidak ada, yang ada hanya Ina.”

“Itu saja dulu, nah silahkan Anda berdua pulang kembali, dan silahkan datang lagi dengan membawa konsep yang lebih lengkap. Insya Alloh tanggal 9 Juli nanti kami akan tentukan siapa diantara Mas Bowo atau Mas Joko yang akan kami pilih untuk mendampingi Ina”

Konsinyering Buku Berkah 3 – Berbagi Ilmu tentang Tulisan Investigasi

Ini adalah kali ke tiga saya mendapatkan keberuntungan untuk mengikuti pelatihan menulis dengan gratis. Diselengggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP), acara ini mengambil lokasi di Hotel Salak The Heritage Bogor, dan berlangsung selama tiga hari dari hari Senin (12/5) sampai hari Rabu (14/5). Acara ini merupakan bentuk apresiasi bagi para pegawai yang memberikan kontribusi tulisannya dalam sebuah buku dengan tema penggalian potensi pajak.

Pada pelatihan pertama yang diselenggarakan di Hotel Twin Plaza beberapa tahun lalu, kami mendapatkan banyak ilmu dasar -dasar kepenulisan dari beberapa nara sumber yang didatangkan dari Republika dan Forum Lingkar Pena. Sedangkan pada pelatihan kedua di hotel Le Grande, kami mendapatkan tambahan ilmu dari pasangan suami istri Isa Alamsyah – Asma Nadia, serta ilmu menulis artikel serta kolom yang baik dari Ibu Laela S Chudori dari Tempo.

Nah di pelatihan ke tiga ini, sepertinya kmi diberikan tema tentang bagaimana membuat tulisan dengan mengolah data dan membuat ulasan investigasi. Kami mendapatkan kesempatan untuk bertemu Adi Wahyudi dari Katadata yang mewakili Meta Darmasaputra, yang berbagi cerita dan pengalaman tentang bagaimana mereka membuat sebuah ulasan yang berkelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian seorang narasumber dari Tempo juga membagi pengetahuannya tentang isi sebuah media massa, baik itu dari sisi struktur organisasi dan pembagian kewenangannya sampai prosesnya sebuah tulisan dari diterima redaksi hingga siap tayang untuk dikonsumsi masyarakat. Dari internal DJP sendiri, ada Candra Budi yang membagikan kiat-kiatnya dalam membuat tulisan agar bisa dimuat di mdia masa.

resize_IMG_3171 Resize_IMG_3175 Resize_IMG_3179 Resize_IMG_3305

Acara pelatihan kali ini memang terkesan lebih “seadanya” jika dibandingkan dengan dua pelatihan sebelumnya. Bagi saya itu bukan sebuah masalah besar. Karena hal terbesar yang menjadi motivasi saya setiap memberikan kontribusi tulisan ke DJP adalah ilmu pelatihan menulis itu sendiri, kesempatan untuk berbagi pengalaman melalui tulisan, serta kesempatan bisa bertemu dengan teman – teman baru satu profesi dari berbagai daerah di Indonesia.

IMG_3360

Pilkada

Satu calon walikota Tangerang yang maju adalah seorang yang saat ini masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Tangerang. Satu orang lagi adalah seorang yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil walikota Tangerang. Dan satu lagi calon walikota adalah seorang yang ternyata adik kandung dari Walikota Tangerang yang menjabat sekarang.

Ketiganya – mungkin karena ada keterikatan dengan pemerintahan yang sekarang sedang berjalan- mengusung visi yang sejenis : melanjutkan pembangunan dan pemerintahan kota Tangerang yang sudah cukup baik. Lalu kenapa kalian harus bertiga maju dengan bendera dan massa masing-masing, sementara kalian mempunyai tujuan yang sama ?

IHT

Saya punya pendapat bahwa kebutuhan seorang pegawai atas peningkatan kemampuan bekerjanya dengan pelatihan maupun penambahan pengetahuan melalui In House Training (IHT), tidak terbatas pada ilmu yang berhubungan langsung dengan pekerjaaan yang dilakukannya. Saya pernah mengajukan usul ke bagian umum di kantor saya agar mengadakan IHT tentang “bagaimana memilih makanan dengan gizi dan komposisi yang tepat untuk para pegawai yang lebih banyak duduk dalam bekerja di sehari-harinya”, atau mungkin IHT tentang “pemanfaatan sampah kantor untuk daur ulang dankiat melestarikan lingkungan hidup sekitar rumah”, atau bisa juga IHT tentang “parenting yang baik dan benar”

Saya yakin, para pegawai masih membutuhkan pengetahuan tentang makanan yang baik yang harus mereka konsumsi demi untuk menjaga kondisi kebugaran badan mereka agar bisa bekerja dengan baik. Saya juga percaya, dalam setiap pegawai ada jiwa yang punya keinginan yang sama untuk menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan. Dan saya juga meyakini bahwa para pegawai membutuhkan pengetahuan tentang parenting yang mungkin nantinya dapat diaplikasikan di rumah untuk membentuk sebuah keluarga dengan anak-anak yang ideal, sehingga rumah tangganya tenang dan dia bisa bekerja juga dengan hati yang tenang.

Tapi usulan itu berhenti saat dibilang bahwa tidak ada alokasi dana untuk itu.

we ARe happy(land) family

Semua berawal dari adanya keinginan untuk mencari waktu luang bersama sesama rekan satu profesi kerja, agar bisa menambah saling kenal,akrab, dan kompak. Demi lebih mengenanya acara, keluarga dari masing – masing pegawai pun boleh dibawa.

Setelah melalui beberapa kali rapat,kami pun sepakat membuat acara one day trip di Happyland Cibalung Bogor. Acara ini kami setting lain dari acara – acara berbau kantor sebelumnya. Jika di acara – acara kantor, pegawai atau orang tua selalu berperan sebagai subjek dan anak – anak sebagai pelengkap, maka di acara ini anak – anak kami jadikan tokoh utamanya.

Sesuai kesepakatan, Sabtu jam 6 pagi (4/2) kami berkumpul di Versailles BSD, kemudian secara konvoi menuju Rest Area Cibubur untuk bertemu beberapa teman lain yang sudah menunggu di sana.


Setelah menunggu hingga jm 8 lebih, akhirnya rombongan terkumpul lengkap dan langsung menuju TKP. Beruntung pintul tol Ciawi jam segitu belum macet, jadi kami melanjutkan perjalanan mengambil arah Sukabumi, dan berbelok ke kanan tepat di Pasar Caringin.

Perjalanan lancar. Jalan rusak naik turun berhasil kami lewati dengan baik, trmasuk saya yang masih “newbie” dalam hal supir menyupir. Sesampai di lokasi, kami istirahat sejenak, menerima welcome drink, dan membiarkan anak – anak langsung menikmati beberpa fasilitas mainan yang ada.

Event Organizer yang kami minta bantuan untuk mengatur jalannya acara, menentukan bahwa acara pertama adalah membajak sawah. Di acara ini, anak – anak diberi kesempatan naikdi alat pembajak yang ditarik oleh dua ekor kerbau.

Berikutnya acara menanam padi. Anak- anak diberikan penjelasan tentang lama masa tanam padi dari menanam hingga panen yang menghabiskan waktu sampai 115 hari, serta asal mula nama tandur yng berarti tanam mundur.

Acara berikutnya adalah menangkap bebek. Acara ini sebenarnya disetting untuk ibu – ibu. Tetapi karena tidak banyak yang mau turun ke “medan laga”, akhirnya lagi – lagi anak-anaklah yang menikmati acara ini.

Berikutnya adalah menangkap ikan, disini anak – anak punya kesempatan untuk menangkap ikan sekalian membersihkan tubuh dari kotor akibat berkubang di sawah beberapa waktu sebelumnya. Terakhir, kami menikmati mendayung rakit mengelilingi sebuah kolam kecil bersama keluarga masing – masing.

Acara diakhiri dengan makan siang bersama, dan berfoto bersama.

Sebagian besar peserta, setelah menikmati Happyland, kemudia menuju Warso Farm, untuk sekedar mencicipi durian hasil kebun Pak Warso.

Suara Bening Eneng

Gadis kecil penjual koran itu menghampiri pengendara motor yang baru saja memanggilnya. Jam sembilan malam waktu itu, dan gerimis kecil masih saja turun. Si gadis kecil menyebutkan nama sebuah surat kabar saat si pengendara motor menanyakannya.
“Berapa dik ?”
“dua ribu ” suara beningnya tidak terlupakan
Lelaki pengendara motor itu mengeluarkan 20 ribuan
“nggak ada kembaliannya”
“ambil saja” jawab si lelaki cepat, seperti sudah menebak apa yang akan diucapkan oleh si penjual koran.

Lelaki itu kemudian berlalu dengan benak penuh kalimat duga dan pengandaian. Tentu saja bukan memikirkan uang yang sudah diberikannya yang senilai dengan 10 buah koran. Suara gadis kecil itu terdengar begitu bening dan jujur. Saat dia bilang tidak punya uang kembalian, apakah itu berarti bahwa dia belum punya uang 18.000 hingga jam 9 malam ini ? Ah, gadis kecil, besok aku harus “menangkapmu”, tekad si lelaki.

——–

Gadis kecil penjual koran terkejut kecil saat mendapatkan wajah yang baru aja muncul dari kaca mobil yang baru saja dibuka itu. Sekilas Deja Vu, karena wajah itu adalah wajah yang sama dengan wajah malam lalu, dan percakapan berikutnya juga mirip degan percakapan malam lalu.
“Nggak ada kembalian”
Si lelaki tersenyum, sambil matanya melirik ke angka lampu lalu lintas yang menunjukkan 80an detik lagi.
“Namamu siapa dik ?
“Eneng”
“Masih sekolah ?”
“Iya”
“Orang tuamu di mana ?”
“Di rumah, sakit kusta”

Di Tangerang ini, memang banyak orang yang menderia penyakit kusta. Sebagian diantaranya menjalani perawatan intensif di RS Kusta Sitanala. Sebagian lagi ada yang duduk – duduk tersebar di berbagai lampu merah sekedar mengharap belas kasihan. Sudah tidak terhitung media masa yang memberitakan bahwa banyak diantara pengemis ini sebenarnya punya kemampuan harta dan tenaga, tetapi mereka tetap lebih memilih mengemis karena pendapatan dari hasil mengemis jauh lebih menjanjikan dbandingkan pekerjaan mereka lainnya. Mereka “merias diri” semenderita mungkin, menyewa anak untuk menambah rasa kasihan, hingga membuat luka buatan pada beberapa bagian tubuhnya.

Sebenarnya kendati suara si anak begitu bening, lelaki itu tidak bisa menjamin bahwa yang dia dengar itu adalah sebuah kejujuran. Saat si anak mengaku tidak mempunyai uang kembalian, saat si anak mengaku orang tuaya sakit, dan semua yang didengarnya.

Merasa tidak ingin rugi dengan uang yang dikeluarkannya, lelaki itu kemudian memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menyampaikan “misi”nya kepada Eneng, si gadis kecil penjual koran.
“Kembaliannya ambil saja, Neng. Buat nambah biaya sekolah, atau biaya berobat orang tua kamu, atau buat apa sajalah. Tapi tolong ingat satu hal Neng, apapun agama kamu, apapun kondisi kamu, usahakan jangan mengemis. Tetaplah bekerja, tetaplah belajar, tetaplah berbuat.”

“Neng, aku pernah mengenal seorang wanita tua renta bertubuh kurus kecil, masih gigih mendorong gerobak dan berkeliling menjadi pemulung. Aku juga pernah menyaksikan seorang lelaki tua di terik panas matahari, berjalan sendirian memikul kerupuk dengan satu tangan, karena tangan satunya memegang tongkat untuk membantu matanya yang buta. Maaf ya, orang -orang yang seperti ini yang menurutku lebih layak mendapatkan belas kasihan, sumbangan, dan limpahan rizki dari Alloh, bukan mereka – mereka yang menadahkan tangan di lampu merah itu.”

Masih sembilan detik. Sambil memasukkan gigi satu, si lelaki menyambung “Dan uang kembalian itu, itu bentuk rizki Alloh buat kamu yang sekecil ini, semalam ini, gerimis, masih mau bekerja menjual koran. Aku hanya perantara rizki NYA ”

Eneng tertegun, memandang mobil itu berlalu sambil masih memegang uang kertas seharga 25 buah koran itu.