Investasi Rp. 20.000,00 / Minggu

Bagi saya, takaran sukses adalah apabila saya mendapatkan lebih dari apa yang saya perkirakan akan saya capai berdasarkan effort yang sudah saya lakukan. Dan jika itu parameternya, maka saya boleh bilang bahwa saat ini saya sudah dan sedang sukses. Ini bukan tentang kepuasan, ini lebih tentang rasa syukur.

Bentuk kesuksesan yang saya maksud disini adalah Iman yang terjaga, keluarga yang sehat dan menyejukkan, para guru yang soleh, pekerjaan yang cukup baik, teman – teman yang melimpah, dan rizki yang insya Alloh bermanfaat. Dan jika anda bertanya berapa modal untuk mencapai kesuksesan itu ? Salah satunya, cukup dengan modal sekitar Rp. 20.000,00 per minggu.

Teknisnya begini, saya mengalokasikan Rp. 20.000,00 itu untuk menelepon dan bersilaturrahim kepada orang tua yang kebetulan berpisah jarak yang cukup jauh. Rasa bersalah karena belum mampu menemani dan membaktikan diri mengisi hari-hari usia tua kedua orang tua sayalah yang membuat saya mencoba untuk menebusnya dengan menghubingi kedua orang tua minimal seminggu sekali.

Secara akuntansi, anggaran menelepon itu bisa diakui dengan dua cara, diperlakukan sebagai biaya atau diperlakukan sebagai investasi. Dan saya, seiring dengan perkembangan komunikasi kami,  memilih mengakuinya sebagai investasi. Kenapa ? Karena dalam setiap akhir sesi telepon, saya selalu mendapatkan limpahan curahan doa-doa yang luar biasa dari kedua orang tua saya. Dan saya merasa sangat kaya setelah itu.

Makanya jika sekarang saya emmpunyai kekayaan – kekayaan berupa Iman yang terjaga, keluarga yang sehat dan menyejukkan, para guru yang soleh, pekerjaan yang cukup baik, teman – teman yang melimpah, dan rizki yang insya Alloh bermanfaat tadi, jelas itu karena Alloh Maha Berkehendak dan Maha Pemurah, dan bisa jadi doa-doa orang tua tadi sebagai pelantarnya.

Jadi, anda ingin sukses, telepon ibu anda sekarang juga, dan mintalah doanya ! Segera anda akan menemukan perbedaan hidup yang menyenangkan

Advertisements

Belajar dan Berkolaborasi

Hari ini saya sedang memulai membiasakan bagi Ale untuk selalu mencatat peristiwa – peristiwa spesialnya dalam bentuk catatan. Mengingat kemampuan baca tulisnya belum begitu lancar, di sesi pertama saya tidak mengharuskan Ale untuk langsung bisa menulis atau mengetikkan ceritanya.

Sesi pertama ini tugas Ale adalah mengingat memori peristiwa perjalanan liburan seminggu yang lalu, kemudian menceritakannya secara urut berdasarkan urutan waktu, pagi, siang, malam, dan hari. Kemudian saya bertugas mengetik kata-kata itu dengan seminimal mungkin mencampuri urusan kosa kata dan kesempurnaan kalimat.

So. inilah dia karya pertama kolaborasi kami….teeeerrreeeeettttt¬†¬† ….!!!

BERLIBUR DI ASEP STROBERI.

Dari rumah kita langsung berangkat masuk tol. Di tol ada kecelakaan bis nabrak mobil polisi dan mobil box. Jadi macet panjang.

Aku ke tempat nikahan teman bunda dulu, hujan deras. Habis itu ke BIP (Bandung Indah Plaza). Terus masuk tol lagi, tol Cileunyi.

Keluar tol hujan deras dan banjir, macet panjang. Banjirnya dalem. Terus kita udah sampai di Asep Stroberi. Terus istirahat, kan macet, banjir, sampai jam 9 malam. Tidur.

Ada gunung, terus ada rumah kecil, sawah, udaranya sejuk, dingin, jalannya licin karena habis hujan. Ada sungai, kincir air, tanaman stroberi.

Paginya main gerabah, terus maen bikin perahu terbuat dari itu, dari daun bambu dilipat jadi tiga. Terus maen kuda tiga kali.

Aku bikin gerabah lampu aladin teko, adek bikin vas bunga.

Senang, karena seru naik kudanya. Kudanya bandel namanya Barokah, yang aku naikin kudanya namanya Bagja.

Makan siang sama mi rebus, udah. Habis itu pulang. Di Rest Area 97 hujan deras. Habis itu ayah isi bensin. Udah itu doang.