Mengalah Sampai Akhir Hidup

Terlahir dari sebuah keluarga besar, sebagai anak ke dua, beliau memutuskan untuk mengalah, tidak melanjutkan sekolah, dan memilih untuk bekerja, memberi kesempatan kepada adik – adiknya untuk meneruskan pendidikan. Sebuah pengorbanan yang tidak sia – sia, karena beberapa adiknya akhirnya menjadi orang yang berkecukupan dalam pendidikan dan berkecukupan dengan materi.

Sementara itu, beliau merelakan dirinya terperangkap dalam kesederhanaan hidup, menerima garis takdir dengan tidak banyak mengeluh. Sikap mengalah yang selalu diceritakan ulang dan berulang oleh orang tuanya dan sejumlah teman dekatnya saat kemarin mereka semua berdatangan mengucapkan bela sungkawa.

Ya, beliau, yang sering mengalah menghabiskan makanan tersisa karena tidak mau ada makanan yang mubadzir terbuang percuma, beliau yang selalu mengalah dan tertawa saat dijadikan sasaran kenakalan cucunya, beliau yang selalu tidak pernah mau meminta kepada anak – anaknya kendati tidak mempunyai kekayaaan sepeserpun sisa pensiunnya, kini telah mendahului kami semua.

Seorang mertua yang sangat menghormati dan menghargai menantunya ini bahkan memilih untuk tidak mau dibawa ke rumah sakit berobat menjelang akhir hidupnya hanya karena tidak ingin menjadi beban tanggungan dan merepotkan anak – anaknya.

Sebuah pilihan untuk mengalah sampai mati yang menjadi teladan dalam semayaman hati kami anak – anaknya. Semoga diberi kelapangan dan penerang kubur, diampuni semua dosa, dan dapat berkumpul kembali bersama di jannah NYA.

kakung dan ragunan

Allohummaghfirlahu

Warhamhu

wa’afiihi

wa’fu ‘anhu


Allohummabdilhu daaron khoiron min daarihi

Wa zaujan khoiron min zaujihi

Wa ahlan khoiron min ahlihii


Allohumma akrim nuzulahu

Wawassi’ madkholahu


Allohumma laa tahrimna ajrohu

Walaa taftinna ba’dahu

Waghfirlanaa walahu

Advertisements