we ARe happy(land) family

Semua berawal dari adanya keinginan untuk mencari waktu luang bersama sesama rekan satu profesi kerja, agar bisa menambah saling kenal,akrab, dan kompak. Demi lebih mengenanya acara, keluarga dari masing – masing pegawai pun boleh dibawa.

Setelah melalui beberapa kali rapat,kami pun sepakat membuat acara one day trip di Happyland Cibalung Bogor. Acara ini kami setting lain dari acara – acara berbau kantor sebelumnya. Jika di acara – acara kantor, pegawai atau orang tua selalu berperan sebagai subjek dan anak – anak sebagai pelengkap, maka di acara ini anak – anak kami jadikan tokoh utamanya.

Sesuai kesepakatan, Sabtu jam 6 pagi (4/2) kami berkumpul di Versailles BSD, kemudian secara konvoi menuju Rest Area Cibubur untuk bertemu beberapa teman lain yang sudah menunggu di sana.


Setelah menunggu hingga jm 8 lebih, akhirnya rombongan terkumpul lengkap dan langsung menuju TKP. Beruntung pintul tol Ciawi jam segitu belum macet, jadi kami melanjutkan perjalanan mengambil arah Sukabumi, dan berbelok ke kanan tepat di Pasar Caringin.

Perjalanan lancar. Jalan rusak naik turun berhasil kami lewati dengan baik, trmasuk saya yang masih “newbie” dalam hal supir menyupir. Sesampai di lokasi, kami istirahat sejenak, menerima welcome drink, dan membiarkan anak – anak langsung menikmati beberpa fasilitas mainan yang ada.

Event Organizer yang kami minta bantuan untuk mengatur jalannya acara, menentukan bahwa acara pertama adalah membajak sawah. Di acara ini, anak – anak diberi kesempatan naikdi alat pembajak yang ditarik oleh dua ekor kerbau.

Berikutnya acara menanam padi. Anak- anak diberikan penjelasan tentang lama masa tanam padi dari menanam hingga panen yang menghabiskan waktu sampai 115 hari, serta asal mula nama tandur yng berarti tanam mundur.

Acara berikutnya adalah menangkap bebek. Acara ini sebenarnya disetting untuk ibu – ibu. Tetapi karena tidak banyak yang mau turun ke “medan laga”, akhirnya lagi – lagi anak-anaklah yang menikmati acara ini.

Berikutnya adalah menangkap ikan, disini anak – anak punya kesempatan untuk menangkap ikan sekalian membersihkan tubuh dari kotor akibat berkubang di sawah beberapa waktu sebelumnya. Terakhir, kami menikmati mendayung rakit mengelilingi sebuah kolam kecil bersama keluarga masing – masing.

Acara diakhiri dengan makan siang bersama, dan berfoto bersama.

Sebagian besar peserta, setelah menikmati Happyland, kemudia menuju Warso Farm, untuk sekedar mencicipi durian hasil kebun Pak Warso.

Advertisements

Suara Bening Eneng

Gadis kecil penjual koran itu menghampiri pengendara motor yang baru saja memanggilnya. Jam sembilan malam waktu itu, dan gerimis kecil masih saja turun. Si gadis kecil menyebutkan nama sebuah surat kabar saat si pengendara motor menanyakannya.
“Berapa dik ?”
“dua ribu ” suara beningnya tidak terlupakan
Lelaki pengendara motor itu mengeluarkan 20 ribuan
“nggak ada kembaliannya”
“ambil saja” jawab si lelaki cepat, seperti sudah menebak apa yang akan diucapkan oleh si penjual koran.

Lelaki itu kemudian berlalu dengan benak penuh kalimat duga dan pengandaian. Tentu saja bukan memikirkan uang yang sudah diberikannya yang senilai dengan 10 buah koran. Suara gadis kecil itu terdengar begitu bening dan jujur. Saat dia bilang tidak punya uang kembalian, apakah itu berarti bahwa dia belum punya uang 18.000 hingga jam 9 malam ini ? Ah, gadis kecil, besok aku harus “menangkapmu”, tekad si lelaki.

——–

Gadis kecil penjual koran terkejut kecil saat mendapatkan wajah yang baru aja muncul dari kaca mobil yang baru saja dibuka itu. Sekilas Deja Vu, karena wajah itu adalah wajah yang sama dengan wajah malam lalu, dan percakapan berikutnya juga mirip degan percakapan malam lalu.
“Nggak ada kembalian”
Si lelaki tersenyum, sambil matanya melirik ke angka lampu lalu lintas yang menunjukkan 80an detik lagi.
“Namamu siapa dik ?
“Eneng”
“Masih sekolah ?”
“Iya”
“Orang tuamu di mana ?”
“Di rumah, sakit kusta”

Di Tangerang ini, memang banyak orang yang menderia penyakit kusta. Sebagian diantaranya menjalani perawatan intensif di RS Kusta Sitanala. Sebagian lagi ada yang duduk – duduk tersebar di berbagai lampu merah sekedar mengharap belas kasihan. Sudah tidak terhitung media masa yang memberitakan bahwa banyak diantara pengemis ini sebenarnya punya kemampuan harta dan tenaga, tetapi mereka tetap lebih memilih mengemis karena pendapatan dari hasil mengemis jauh lebih menjanjikan dbandingkan pekerjaan mereka lainnya. Mereka “merias diri” semenderita mungkin, menyewa anak untuk menambah rasa kasihan, hingga membuat luka buatan pada beberapa bagian tubuhnya.

Sebenarnya kendati suara si anak begitu bening, lelaki itu tidak bisa menjamin bahwa yang dia dengar itu adalah sebuah kejujuran. Saat si anak mengaku tidak mempunyai uang kembalian, saat si anak mengaku orang tuaya sakit, dan semua yang didengarnya.

Merasa tidak ingin rugi dengan uang yang dikeluarkannya, lelaki itu kemudian memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menyampaikan “misi”nya kepada Eneng, si gadis kecil penjual koran.
“Kembaliannya ambil saja, Neng. Buat nambah biaya sekolah, atau biaya berobat orang tua kamu, atau buat apa sajalah. Tapi tolong ingat satu hal Neng, apapun agama kamu, apapun kondisi kamu, usahakan jangan mengemis. Tetaplah bekerja, tetaplah belajar, tetaplah berbuat.”

“Neng, aku pernah mengenal seorang wanita tua renta bertubuh kurus kecil, masih gigih mendorong gerobak dan berkeliling menjadi pemulung. Aku juga pernah menyaksikan seorang lelaki tua di terik panas matahari, berjalan sendirian memikul kerupuk dengan satu tangan, karena tangan satunya memegang tongkat untuk membantu matanya yang buta. Maaf ya, orang -orang yang seperti ini yang menurutku lebih layak mendapatkan belas kasihan, sumbangan, dan limpahan rizki dari Alloh, bukan mereka – mereka yang menadahkan tangan di lampu merah itu.”

Masih sembilan detik. Sambil memasukkan gigi satu, si lelaki menyambung “Dan uang kembalian itu, itu bentuk rizki Alloh buat kamu yang sekecil ini, semalam ini, gerimis, masih mau bekerja menjual koran. Aku hanya perantara rizki NYA ”

Eneng tertegun, memandang mobil itu berlalu sambil masih memegang uang kertas seharga 25 buah koran itu.

Hidup

Tadinya saya berpikir, bahwa kuliah adalah hal yang paling saya pentingkan untuk saat ini.

Tapi kemudian berubah, karena toh kuliah merupakan salah satu bagian dari kepentingan karier saya sebagai PNS. Jadi, saya pikir pekerjaan lebih penting dari kuliah.

Itu pun berubah lagi, karena kemudian saya merasa apalah artinya pekerjaan jika anak istri tidak bahagia. Jadi, saya berpendapat bahwa fokus hidup saya hanya untuk anak istri. Saya kuliah hanya untuk anak istri, saya bekerja hanya untuk anak istri. Semua demi kebahagiaan keluarga.

Terakhir, saya tersadarkan bahwa ternyata hal yang paling saya anggap penting,anak istri saya, semuanya hanya titipan. Karena hidup harusnya sesuai dengan kalimat : ” Innas sholaati, wanusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN.