2 Tahun Dhican, si Lady Strawberry

Ada kejutan pagi ini. Saat Dhiya Cantik (Dhican) baru saja sampai di rumah eyangnya, Dhican mendapatkan ada sebuah sepeda kecil beroda tiga berwarna perak. Wowww…sepeda siapa itu ?

 

Ternyata itu sepeda Dhican, dibelikan oleh eyang putri dan tante Wulan, sebagai hadiah ulang tahun Dhican yang kebetulan jatuh esok hari, 25 Januari.

Kendati masih agak kaku dalam menggoes, kini Dhican dan Ale bisa bermain bersama.

Med Milad ya Dhican. Terimakasih sudah memberikan dua tahun penuh, hari – hari yang amazing melihatmu, menyaksikanmu, dan menemanimu berkembang dan tumbuh menjadi anak yang selalu membuat kami bertasbih.

Advertisements

ABAS (I love This Game)

Saya termasuk terlambat mengenal dan menyukai jenis olah raga yang satu ini, menjadi ABAS (Anak Basket), yaitu saat menjelang akhir – akhir masa sekolah di SMA. Itu terjadi setelah saya melihat rekan – rekan satu sekolah yang begitu bagus dan kompak dalam bermain di lapangan, plus dampak dari begitu hebatnya pemberitaan tentang kompetisi NBA (National Basketball Association) waktu itu.

 

Bintang idola saya di NBA waktu itu adalah David Robinson (San Antonio Spurs) dan John Stockton (Utah Jazz). Michael Jordan mungkin masih jadi yang terbaik jaman itu (dan mungkin sepanjang jaman, mengalahkan Kareem Abdul Jabar, Wilt Chamberlaine, Dr J, Magic Johnson, maupun bintang basket masa sekarang, Kobe Bryan).

 

Kembali ke cerita awal. Baru setelah masuk ke bangku kuliah, saya mulai sering meluangkan waktu untuk bermain bersama. Baik itu di lapangan komplek dekat kost, maupun di gedung olah raga kampus tempat saya kuliah. Untuk menutupi postur tubuh yang kurang mendukung untuk ukuran pemain basket, saya berlatih memperkuat otot kaki dan akurasi tembakan, sehingga saya mempunyai lompatan yang cukup tinggi dan gampang menemukan sudut titik ideal untuk melepaskan tembakan. Hasilnya, tidak buruk, saya masuk dalam “Timnas”nya jurusan akuntansi angkatan saya.

 

Cerita tentang kejayaan dan kesenangan dalam bermain basket mengalami jeda sejak saya lulus kuliah dan kemudian mulai bekerja. Mungkin bisa dihitung dengan jari tangan, jumlah hari dalam setahun saya memegang bola basket dan memainkannya dalam sebuah pertandingan.

 

Nah, seminggu yang lalu, saya menemukan teman yang juga menyukai bermain basket, yang juga sudah lama “off” dari permainan ini. Kami berdua kemudian meluangkan waktu tiap pagi sebelum masuk kantor, untuk melakukan olah raga bersama. Lumayan bikin rindu terobati, dan cinta pada olah raga ini datang kembali.

 

Kini, kami berdua, ditambah beberapa teman kantor yang sesekali nimbrung, sedang mencoba untuk rutin seminggu dua kali memainkan permainan bola merah temuan James Naischmith ini. Kendati sempat bermasalah di awal – awal (badan pegal-pegal, kaki kram, dan tembakan 90% gagal, bahkan sekedar lay up pun lebih sering gagal), tapi rasanya perlahan saya mulai menemukan sentuhan “magic” saya pada bola basket.

Selamat datang cinta lama yang bersemi kembali….

Citarik Rafting 2011

Saya tidak bisa menghindari untuk membanding-bandingkan antara pengalaman rafting saya yang pertama, yang ke dua, dan dengan yang ketiga ini. Dan bagi saya, pengalaman rafting di sungai Citarik ini, bukan yang terbaik (pengalamannya lho ya, bukan penyedia jasanya, dan bukan Sungai Citariknya).

Berawal dari ajakan teman sekantor untuk rafting di Citarik, saya pun mengiyakan dan mulai menyusun skedul jalan – jalan bareng keluarga. Skenario awalnya adalah saya dan istri ikut rafting, sedangkan si beruang qutub dan lady strawberry ikut ke lokasi rafting dan lanjut menginap di Pelabuhan Ratu buat bermain sepuasnya dengan laut.

Sabtu pagi (8/1/2011) kami, rombongan 4 mobil, berangkat dari BSD menuju Citarik melalui tol Bintaro, lanjut tol Jagorawi, dan menuju arah Cibadak. Petualangan dimulai begitu dari Cibadak berbelok ke kanan menuju Cikidang, karena jalannya yang melintasi bukit dan berkelok-kelok, dengan sejumlah tikungan yang tajam. Ale si beruang qutub terkapar karena tidak kuat menahan rasa muntah.

Sampai di lokasi sekitar pukul 10, dan langsung persiapan, briefing sejenak, dan segera diangkut menuju starting point dengan mobil bak dengan medan jalanan berbatu dan menanjak. O la la…. Oh ya, kali ini kami memakai jasa Arus Liar untuk kegiatan rafting ini. Saya membandingkannya dengan Cherokee rafting di Sungai Cicatih yang menyediakan makan sebelum berafting, di Arus Liar Citarik ini tidak ada makan dulu, adanya hanya welcome drink. Di Sungai Elo Magelang malah tidak ada sama sekali welcome drink maupun makan apapun.

Kami, 18 peserta, dibagi dalam 4 perahu. Dan setelah mendapatkan instruksi standar tentang rafting, kami pun langsung memulai petualangan. Debit air saat itu memang sedang kecil, jadi perahu kami sering emnyangkut di batu, dan beberapa jeram terkenal yang pernah saya baca di internet dan juga media lainnya, hari itu tidak terlihat “kesangarannya”.

Sekitar satu jam perjalanan, setengah perjalanan, kami istirahat. Di tempat itu kami hanya disediakan air putih saja. Maaf jika saya membandingkan dengan Cherokee rafting di sungai Cicatih yang menyediakan air teh hangat dan sejumlah cemilan. Sedangkan di sungai Elo Magelang, di tempat istirahat kami tidak mendapatkan apa – apa. Mungkin karena waktu di Sungai Elo, saya datangnya dadakan tanpa konfirmasi dulu, dan langsung minta rafting.

Setidaknya, kami dihibur oleh dua anak lucu yang bergaya seru setiap sebuah kamera berusaha untuk mengabadikannya

Perjalanan sesi 2 dimulai

Perjalanan di lanjut, dan memang sepanjang perjalanan, bagi saya, tidak ada jeram yang menantang. Semuanya datar standar. Mungkin karena debit airnya yang sedang kurang ideal, jadi saya gagal merasakan jeram grade 3 nya sungai ini. Mungkin yang istimewa adalah, jika dulu saat mengarungi sungai Cicatih saya satu perahu dengan seorang wanita, kali ini di Citarik, saya juga satu perahu dengan wanita itu, yang sudah menjadi istri saya¬† ūüôā

Di finish point, kami mendapatkan hidangan berupa kelapa muda (yang ternyata begitu di tangan saya, berubah jadi kelapa tua), dan kami kembali diangkut menuju homebase arus liar untuk bilas, ganti pakaian, dan menikmati hidangan makan besar. Sekedar membandingkan, waktu di Cherokee rafting Cicatih, disamping mendapatkan kelapa muda, dan makan besar, kami juga bisa menikmati jasa pijat gratis. Satu lagi, tempat bilasnya ada di finish point, jadi kami tidak tersiksa oleh rasa dingin ( bisa bilas dulu sebelum menikmati kelapa muda, pijat gratis dan makan besar). Di Elo Rafting Magelang, kami mendapatkan makan besar standar.

Kesimpulan, dari ketiga pengalaman saya mengikuti rafting ( Sungai Cicatih, Sungai Elo, dan Sungai Citarik), soal medan sungainya, sepanjang debit airnya normal, Citarik dan arus liarnya adalah yang terbaik. Tetapi dari segi pelayanan, service, dan fasilitas yang di dapat, Cherooke Rafting di sungai Cicatih adalah yang terbaik.

 

Apapun itu, bagi saya, yang terpenting adalah kebersamaan yang tercipta dengan rekan – rekan satu kantor dalam perjalanan kali ini. Thx so much buat semua rekan – rekan, smoga kita semua masih diberi kesempatan untuk mencoba kebersamaan ini di waktu yang lain.

 

*Pelabuhan Ratu*

Selesai rafting, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan ratu. Ini adalah kali ke dua bagi saya dan istri mengunjungi objek wisata pantai selatan tersebut. Kalau dulu kami menginap di hotel Cleopatra, kali ini kami mencoba hotel dan bungalownya Bunga Ayu.

Bungalow yang kami sewa mempunyai dua kamar. Satu kamar bisa diisi 5 orang (satu bed besar buat berdua, dan tiga single bed), dan satu kamar lagi bisa diisi dua orang ( dengan satu bed besaruntuk dua orang).

Wisata di Pelabuhan Ratu memang terkenal sepi, jadi harga penginapan pun tergolong miring jika dibanding dengan objek wisata di tempat lain. Tetapi disamping harganya miring, fasilitas pun juga terkesan seadanya. Di bungalow yang kami sewa ini tidak ada sabun, pasta, sampo dan sikat gigi sesuai standar. Jadi, harus siap2 bawa sendiri.

Ada keuntungan kami memakai bungalow ini, karena kami punya akses langsung menuju pantai. Viewnya pun  lumayan, menghadap ke dermaga nelayan dan mercusuar di sebelah timur.

Apapun itu, bagi saya, yang penting ini bisa membuat si kecil Beruang Qutub dan Lady Strawberry bahagia, puas bermain dengan pasir dan pantainya.

Positif !!

Seorang teman dari Sulawesi, awalnya hanya mengirimi sebuah mail kepada 3 orang rekannya (termasuk saya), dan kemudian berempat saling berinteraksi membicarakan tentang segala hal , termasuk tentang buku. Maklum, kami berempat, mulai tertarik untuk saling berinteraksi karena mempunyai kesamaan, sama – sama suka membaca dan menulis dan berkebun.

 

Milis kemudian berkembang pesat, masing Рmasing dari kami membawa satu demi satu teman yang lain masuk bergabung ke dalam milis, hingga anggotanya sampai belasan orang. Dan tahukah anda, teman yang memulai membuat milis itu kemudian menemukan jodohnya, teman sejatinya, pasangan hidupnya, di milis ini.

 

Sebuah hal positif kecil yang dilakukan oleh teman saya tadi telah dibawa oleh garis takdir, mengantarkannya ke hal positif yang besar : menemukan pasangan hidupnya !

 

Bu Muslimah, mungkin tidak pernah terpikir sedikitpun untuk berangan Рangan muluk ingin mengubah dunia. Dia hanya menjalani kegiatan sehari Рharinya untuk mengajar anak Рanak kampung Gantong yang miskin Рmiskin itu, di sebuah pelosok daerah dan pulau tidak terkenal yang bernama Belitong. Sungguh hal yang kecil dan tidak dianggap. Tapi ingat, ini hal positif.

 

Garis takdir kemudian membawa energi positif bu Muslimah untuk menjadikan salah seorang muridnya, Andis, untuk menuliskan kisah masa kecilnya dan perjuangannya dalam sebuah buku yang  indah yang mampu mempesona negeri ini. Laskar Pelangi.

 

Buku itu melambungkan nama Andis, atau yang lebih dikenal sebagai Andrea Hirata. Efek berlanjut pada Mira  dan Riri yang kecipratan sukses karena mampu memfilmkan buku ini dengan baik. Penerbit buku dan pengusaha bioskop kebanjiran untung. Belum lagi terhitung sejumlah guru yang begitu terinspirasi oleh Bu Muslimah, sejumlah mahasiswa yang begitu malu dan membangunkannya dari kemalasan melihat kegigihan tokoh Lintang (yang diduga fiktif, hanya bentuk imajiner sosok pribadi lain dari Andis), wisata pulau Belitong menjadi menggeliat karena begitu antusiasnya para backpacker dan para pelancong memasukkan tempat ini dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi. Dan ibu Muslimah sendiri, kemudian mendapatkan penghargaan langsung dari presiden atas dedikasinya pada dunia pendidikan.

 

Mengajar sejumlah anak – anak miskin dengan tulus, sebuah hal positif kecil, bisa menimpulkan efek yang luar biasa yang mungkin tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh pelakunya itu sendiri.

 

Teman, berbuat positif itu artinya membagikan sejumlah energi positif kita pada kehidupan. Efeknya saya andaikan seperti saat kita melempar sebuah kerikil di tengah kolam. Kerikil itu akan tenggelam dengan menciptakan sebuah kecipak dan gelombang yang berdiameter kecil. Tapi diameter itu terus dan terus berkembang menjadi gelombang yang berdiameter makin membesar dn mempunyai daya jangkau yang lebih jauh, bahkan bukantidak mungkin gelombang itu akan sampai ke pinggiran kolam.

 

Membagi energi positif itu seperti MLM. Saat kita melakukan hal positif kepada orang lain, orang itu akan melakukan hal sama pada orang yang lainnya, demikian seterusnya yang akhirnya akan memberikan efek yang paling besar pada kita sendiri.

 

Jadi, mari positifkan dirimu !!

(tidak berlaku buat istri saya, tolong jangan positif dulu, Dhiya masih terlalu kecil, dan Saya belum siap menjadi tersangka menghamili anak mertua untuk yang ke tiga kalinya !!)