Bakmi Jawa Pak Marto, Tongkrongan Orang – Orang yang Sabar

Nama warung tenda pinggir jalan raya cipondoh dan tepat di depan klinik Banjar Medika itu adalah “Bakmi Jawa Pak Marto“. Penjualnya hanya terdiri dari dua orang, seorang lelaki (kemungkinan besar dia lah yang bernama pak marto itu) yang bertugas memasak menu yang disodorkan oleh “asistennya”, dan seorang wanita berkerudung (saya yakin bukan dia yang bernama pak mart..hehehe..) yang bertugas mencatat menu pesanan, sekaligus meracik bahan masakan dan sekaligus menghidangkan serta mengurusi pembayaran.

 

Ini tempat untuk manusia – manusia yang bersabar. Artinya, jika anda datang sekitar jam 7 hingga jam 9 malam, sungguh akan sangat beruntung andai anda kurang dari tigapuluh menit bisa menikmati masakan pak marto. Itu semua terjadi karena pertama, tukang masaknya hanya satu. Kedua, alat yang digunakan adalah tungku berbahan bakar arang yang membuatnya jelas tidak secepat kompor gas. Diperlukan sekitar 10 menit untuk memasak satu menu masakan. Jadi, jika anda datang kesitu urutan ke 9, anda layak bersabar selama 90 menit sebelum menyantap hidangan yang anda pesan.

 

Kenapa saya menyukai tempat ini sebagai tempat favorit makan malam saat saya “ngidam” pengen nasi goreng enak atau saat perut saya dalam kondisi “nanggung” sehingga tidak selera menyantap masakan istri/mertua, atau saat migrain menyerang sehingga saya hanya bisa tiduran sepanjang pulang kerja hingga jam 10-an ?

 

Jawabannya, pertama, karena saya datang kesitu selalu di atas jam 10 malam, jadi tentu saja saya tidak perlu mengantri lama langsung dapat makanan enak. Kedua, menurut saya nasi goreng disini adalah nasi goreng terenak di Tangerang dibanding nasi goreng lain yang dijual di tempat lain yang pernah saya cicipi. Ketiga, harganya terjangkau dan pas dengan apa yang kita dapat, rata-rata satu porsi makanan dihargai Rp.9.000,0 dan minumannya rata-rata Rp.3.000,00 (tidak perlu alasan satu atau dua, alasan ke tiga ini saja sudah cukup untuk menjadikan ini favorit karena saya tentu sangat mengenal betul isi kantung celana jeans saya). Keempat, letaknya hanya sekitar satu kilo dari rumah, jadi bisa ditempuh naik motor hanya 5 menit.

 

Kelima, naik haji bagi orang yang mampu….eh bukan….kalo saya pas tidak beruntung dan terpaksa mengantri, di sebelahnya persis ada warnet, jadi saya bisa update status, update blog, mengikuti perkembangan beritanya ariel, nyicil membaca dan menghapus mail2 yang selalu datang bejibun setiap harinya, donlot foto-fotonya aura kasih, dan membuka situs2 kaporit yang ada di benak saya (biasanya tak jauh2 dari situsnya santri2 tradisional, webnya para pecinta alam, dan forum2 penggemar kungfuboy).

 

Keenam, biasanya saya akan menemukan suasana khas yang hanya ada di malam hari saja, seperti becak – becak beserta pedagang sayur yang mulai berangkat “berjuang” menuju pasar induk, para pemulung yang berhati baja yang masih (atau baru?) mencoba mengais asa, bencong – bencong sexy yang mewarnai malam dengan warna semu, para pengusaha kecil pembuka warung tenda di tepi jalanan, atau juga pembicaraan supir – supir kendaraan besar yang parkir di sebelah warung jamu dan warung tegal.  Kadang mereka begitu inspiring dan menjadi perantara Alloh untuk membuka mata hati kita untuk selalu bersyukur, berendah hati, dan introspeksi. Ketujuh, disini menyediakan menu teh poci, ini bukan merk, tapi teh yang dihidangkan dalam sebuah poci kecil dari tanah liat, dalam keadaan panas.

 

 

Lebih unik lagi karena gula yang digunakan sebagai pemanis bukanlah gula pasir atau sirup, tetapi gula batu. Biasanya kita akan disediakan dua bongkah kecil gula batu untuk memberi rasa manis teh poci itu. Saya kadang suka berandai – andai dengan seolah – olah saya sedang melakukan upacara minum teh versi sendiri.

 

Ritualnya begini, pertama, bongkah gula batu yang paling kecil akan saya masukkan cangkir kecil, kemudian dituangi teh panas dari poci dengan cara pelan jangan sampai tertumpah setetespun, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi volume air teh yang ada dipoci sebelum kemudian saya memasukkan bongkah gula batu kedua ke dalam poci. Kemudian, teh dalam cangkir saya aduk hingga terasa manisnya pas, dan gula batu yang masih tersisa saya pindahkan ke dalam poci. Jadi, dijamin gula batunya akan habis digunakan dan tehnya pun tidak meninggalkan sedikitpun rasa pahit.

 

Entah sugesti atau bukan, bagi saya teh poci panas ini termasuk salah satu penawar migrain paling efektif selain tidur. Sayang, saya belum bisa mengajak anak – anak menikmati masakan disini. Paling juga cuma istri yang bisa diajak menikmati berdua sepulang kerja, itupun kami harus memesan dulu, kemudian kami pulang ke rumah untuk sholat maghrib, dan barulah menjelang isya kami datang lagi saat porsi itu sudah siap untuk dimakan.

 

Yang jelas, masakan disini cukup mengobati rasa kangen saya terhadap masakan jawa, khususnya Magelang. Maklum, konon pak marto sendiri adalah orang asli Magelang.  🙂

Advertisements

Dua Milis

Akun mail saya di yahoo sekarang ini dipenuhi oleh mail – mail dari dua grup milis yang saya ikuti : milis para pecinta buku dan milis para pendaki gunung. Keduanya menyenangkan dan banyak menambah pengetahuan. Dengan catatan, saya harus rajin meng-update akses ke milisnya setiap hari untuk menghindari tumpukan unread mail yang mungkin terjadi.

Bersama milis para pecinta buku, saya jadi tahu banyak tentang buku – buku bagus, buku – buku baru, buku-buku yang sedang dicari, serta berbagai sinopsis atau ulasan tentang isi sebuah buku. Jika beruntung, saya bahkan bisa mendapatkan diskon saat membeli buku via internet (online).

Nah kalo bersama milis pendaki gunung, saya jadi banyak tahu tentang info terbaru seputar pendakian – pendakian di berbagai gunung di belahan bumi pertiwi ini. Infonya bisa berupa macam – macam : tentang berbagai jalur yang bisa ditempuh dalam mendaki suatu gunung, tentang harga – harga peralatan naik gunung, tentang perubahan aturan administratif dalam suatu taman nasional, tentang jadwal mendaki bersama, dan sebagainya.

Tapi ada pembeda dari dua milis ini. Yaitu dalam dialog interaktif yang terjadi dalam milis. Suatu saat, ada anggota baru dalam milis dan melemparkan salam kenal. Di milis pecinta buku, sambutannya tidak begitu hangat, harus menunggu dua atau tiga hari baru ada yang menjawab, itupun tidak banyak. Paling hanya lima hingga delapan orang saja. Nah di milis pendaki gunung, sambutannya jauh lebih hangat. Begitu ada satu orang baru datang dan melemparkan kata salam kenal, langsung disambut oleh puluhan anggota milis dengan hangat, akrab, dan ramai.

Begitu juga saat satu orang milis pecinta buku menanyakan suatu informasi, tentang isi cerita sebuah buku misalnya, atau tanya referensi buku yang patut dibeli. Jawaban yang mengiringinya tidak begitu banyak dan (sekali lagi) perlu waktu yang lumayan lama untuk menunggu jawaban – jawaban itu datang.

Bandingkan dengan milis pendaki gunung, begitu satu orang bertanya tentang jalur pendakian suatu gunung, atau satu orang mengusulkan pelaksanaan suatu even, atau satu orang mengajak naik sebuah gunung bersama, maka antusias jawaban pun mengalir dengan deras dan mungkin karena sebagian besar sudah saling akrab jadi sesekali disertai candaan – candaan menarik khas pendaki.

Jujur dalam hal ini saya lebih menyukai milis para pendaki. Dan kalau hal ini kemudian kita bawa ke kehidupan atau peristiwa sehari – hari, rasanya saya jadi ingin selalu lebih sering berinteraksi dengan orang – orang gunung itu.

Di kantor saya (dan saya yakin hal ini bisa terjadi di kantor manapun), seorang pegawai bisa saja tidak saling bertegur sapa dengan pegawai lainnya awalaupun keduanya bekerja di gedung yang sama. Mungkin karena belum saling mengenal, mungkin karena beda seksi, mungkin karena pekerjaannya tidak begitu saling berkaitan. Sehingga saat keduanya terjebak dalam satu lift, keduanya hanya berdiaman sambil sesekali memandang angka penunjuk jumlah lantai, atau paling banter hanya saling tersenyum tipis kemudian melanjutkan diamnya.

Nah hal ini dapat dikatakan tidak mungkin terjadi di alam pegunungan. Saat kita melakukan pendakian sebuah gunung, saat kita bertemu dengan pendaki lain yang sama sekali belum kita kenal siapa namanya, dari mana asalnya, apa agamanya, apa status sosialnya, semua seolah bukan menjadi masalah atau halangan untuk saling tersenyum dan saling sapa. Tidak jarang bahkan saling menyemangati atau saling mencandai.

Dan saya begitu merindukan suasana keakraban itu terjadi juga di dunia perkantoran, di dunia pekerjaan saya, di lingkungan sosial tempat saya tinggal, di mall- mall, di pusat – pusat keramaian, di fasilitas – fasilitas umum, dan dimanapun kita semua berada.

*) dua gambar di atas diambil belum seijin dari pemiliknya, hanya berdasarkan googling saja. Mohon maaf jika tidak berkenan