DeBe Dhican

Ini pengalaman Dhican selama berinteraksi dengan penyakit Demam Berdarah (DB)

Jumat (29/7/2016 tengah hari). Dhican mengalami demam, dan tetap mengikuti kegiatan sholat berjamaah di sekolahnya. Sampai sore, panas tubuh tidak kunjung turun, dan malam itu pun dilewatkan Dhican dengan tidur yang sama sekali tidak nyenyak. Keluhan demam, pusing, mendominasi sepanjang malam.

Sabtu (30/7/2016). pagi dan siang dilewatkan dengan hanya berbaring di depan televisi. Suhu badan tidak sepanas malam tadi, tetapi tetap cukup tinggi (38.5), dan mulai mengeluhkan kaki pegal. Kami pun memberikan obat penurun panas, dan mulai menduga-duga bahwa Dhican mungkin kena DB. Disarankan agar jangan memberikan penurun panas dengan komposisi yang mengandung ibuprofen, karena ini akan berkontradiksi dengan DBnya.

Minggu (31/8/2016) Setelah semalaman kembali demam dan susah tidur, suhu badan kembali naik turun. Sampai saat ini kami hanya memberikan obat penurun panas dan berencana melakukan pemeriksaan beserta cek darah ke dokter di hari Seninnya, dengan pertimbangan sudah memenuhi tiga hari demam jadi hasil peemriksaannya pun kami harapkan bisa lebih akurat. Tentu kami tetap memperhatikan kestabilan stamina Dhican. Kendati sempat menyentuh angka 40.5 derajat celcius tapi Dhican terlihat stabil, tidak kejang, dan tetap kami paksa untuk mau minum air sebanyak-banyaknya.

Senin (1/8/2016). Pagi langsung kami bawa ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan dan cek darah. Hasil cek darah menunjukkan kondisi masih bagus yaitu Platelet (trombosit) masih 153.000 (masih ada di range normal, yaitu 150.000-400.000). Tetapi karena kondisi Leucosit (3,0) dibawah standar range yang seharusnya (5,0 – 10,0) dan dengan mempertimbangkan hasil -hasil lainnya, dokter menyarankan agar Dhican dirawat inap. Kami kemudian berdiskusi dengan si dokter agar jika memungkinkan, kami tetap bisa merawat Dhican di rumah, tidak perlu rawat inap. Dokter pun kemudian menjelaskan sejumlah hal-hal yang harus kami lakukan (memberikan banyak minum cairan apa saja terutama sari buah, melakukan cek darah setiap hari sampai hari ke tujuh) dan hal – hal yang harus kami waspadai ( telapak tangan anyep/dingin, muntah, bab hitam, terlihat lesu di masa-masa tapal kuda, dan adanya tanda-anda pendarahan).

Selasa (2/8/2016). Semalam Dhican masih saja tetap tidak bisa tidur, suhu badan naik turun, dan keluhan pusing, pegal kami tetap mewarnai. Sore harinya kami cek darah lagi, Platelet (trombosit) kembali turun, kali ini ke angka 110.000. Khawatir dengan kondisinya, saya dan istri pun berdiskusi (lebih tepatnya berdebat) tentang penanganan kondisi Dhican, apakah tetap dirawat di rumah atau kali ini menyerah untuk dirawatinapkan agar lebih terpantau kondisinya. Kami pun berkonsultasi dengan dokter lain yang kami anggap bisa memberikan pendapat dengan lebih netral. Hasilnya, dokter tersebut menyatakan bahwa trombosit seperti itu masih cukup aman dan tetap bisa dilanjutkan dengan perawatan di rumah saja, yang penting posisi hematokrit masih di level yang normal (saat itu  hematokrit menunjukkan angka 37 dari range normal 33-45), si anak tidak muntah-muntah (dikhawatirkan bisa menyebabkan dehidrasi), dan tetap dijaga agar selalu banyak minum. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perawatan di rumah.

20160802_194628

Rabu (3/8/2016). Baru semalam Dhican akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Suhu badannya turun mendekati normal. Tapi kami tahu, bahwa Dhican sedang memasuki fase tapal kuda, fase paling berbahaya yang suka menipu, dimana seolah-olah kondisi penderita DB dianggap sudah sembuh, tapi ternyata belum. Fase ini ada yang berpendapat mulai hari ke 5 s.d. hari ke 6, ada yang bilang hari ke 4 s.d. hari ke 6, ada juga yang berpendapat dari hari ke 4 sampai hari ke 7. Porsi minum Dhican tetap kami perhatikan. Keluhan kali ini berganti, bukan lagi pusing atau pegal, tetapi terasa gatal di kedua telapak kaki. Hari ini kami tidak melakukan cek darah, karena masih ada trauma di hati Dhican yang memang agak paranoid dengan jarum suntik. Kasian juga, melihatnya harus menderita selama ini, terutama di waktu-waktu malamnya yang selalu susah tidur.

Kamis (4/8/2016). Semalam kembali Dhican susah tidur. Keluhan gatal di telapak kakinye membuat Dhican susah tidur. Hari ini kami kembali membawanya untuk dilakukan pengecekan darah. Trombosit kembali turun, kali ini ke angka 95.000, dan ini sudah kami perkirakan sebelumnya. Tapi melihat kondisi tubuh Dhican yang mulai terlihat makin segar dan aura lebih cerah, kami optimis angka 95.000 tadi bukan lagi angka penurunan, tetapi mungkin sudah menjadi angka titik balik ke atas , mengingat kami terakhir memeriksakan darahnya adalah Selasa sore (selisih 43 jam).

20160804_164943

Jumat (5/8/2016). Dhican terlihat stabil, asupan angkak (tersedia dalam bentuk kapsul, atau ekstrak teh, atau sirup yang dicampur dengan sari kurma dan madu) yang selama ini kami berikan ternyata memberika hasil yang bagus. Kami pun sepakat untuk memeriksakan darah terakhir besok saja, di hari Sabtu, di hari ke-8nya untuk memastikan semua baik – baik saja.

Sabtu (6/8/2016). Dhican tes darah terakhir, dan semua terlihat normal, termasuk trombositnya yang sudah ada di angka 305.000. Hari itu Dhican sudah mulai terlibat permainan dengan teman – teman di lingkungan sekitar rumahnya, kendati terlihat belum segar betul, tapi kami percaya Dhican sudah melewati masa-masa terberat dari sakitnya.

20160806_162155

Hal – hal yang dapat kami ambil pelajaran :

  • Demam berdarah, terutama untuk anak-anak, tidak harus dirawat di rumah sakit, sepanjang kita tahu dan fokus dalam penanganannya, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan cairan tubuh di penderita
  • Selalu konsultasikan dengan dokter setiap perkembangan hasil pemeriksaan darah, sukur2 bisa ketemu dokter yang netral dan jujur dalam memberikan pendapatnya.
  • Jika tidak bisa melakukan keduanya, amannya sih memang harus dirawatinapkan di rumah sakit, agar bisa terpantau dengan konsisten dan lebih cepat penanganannya apabila tiba-tiba terjadi perkembangan ke arah yang tidak diinginkan.

 

 

Sembalun Lawang dan Edensor

Letak wilayah Sembalun Lawang itu memang unik, semacam tersembunyi diantara lingkaran sejumlah bukit yang berjajar sedemikian rupa dengan Gunung Rinjani sebagai pemimpinnya. Menyusuri jalan menuju Sembalun itu seolah sedang mengikuti jalan menuju sisi dunia yang berbeda.

Sebagai contoh gambaran, misalkan kita dari Mataram dan akan menuju Sembalun, maka salah satu jalurnya adalah kita akan melewati sejumlah daerah seperti Cakranegara, Selong, Masbagik, Aikmel, yang kesemuanya itu adalah kota kecil dengan penduduk cukup padat dan ramai kendaraan. Begitu kita mengambil jalur dari Aikmel menuju Sembalun, maka kita akan melewati jalur dimana disisi kiri dan kanan kita adalah hutan yang cukup lebat, dengan jalan aspal kecil, penuh kesunyian. Dan itu berlangsung hingga beberapa kilometer ke depan, hingga kemudian kita tiba di sebuah tanjakan yang sangat tinggi, dan begitu kita sampai di puncak tanjakan itu kita akan dihadapkan pada pemandangan seperti ini :

20151015_165224

Ya, ada kemiripan antara Sembalun ini dengan Edensornya Andre Hirata. Jika Edensor itu adalah sebuah desa kecil di Inggris yang dilihat gambarnya oleh Andrea saat dia masih kecil, dan kemudian berangan-angan ingin mendatanginya, maka Sembalun ini adalah sebuah daerah yang begitu ingin dikunjungi oleh Bunda begitu melihat foto-foto saat saya melakukan perjalanan trekking Rinjani tahun 2006 lalu.

20151015_165528

Dua – duanya sama-sama impian seseorang gegara melihat sebuah foto atau gambar. Dua-duanya sama-sama sebuah desa kecil yang terpencil atau jauh dari keramaian. Coba silahkan googling menu gambar Edensor dan Sembalun Lawang, maka Anda akan mendapatkan gambar sesama desa kecil yang hijau dan tenang.

Menuruni lereng gunung menyusuri lembah menuju Desa Sembalun, kita akan menemukan banyak kebun strawberry, ladang cabe, dan sejumlah tanaman sayuran. Sejumlah penginapan dan masjid  berdiri di kiri kanan jalanan kecil itu. Menurut beberapa orang penduduk asli Lombok, memang masyarakat Lombok ini (tidak terkecuali penduduk Sembalun) senang sekali membangun masjid. Wajar jika Lombok juga mendapat julukan sebagai Pulau Seribu Masjid.

20151015_175947

Pola hidup masyarakat, bentuk bangunan, dan alam di Sembalun ini mengingatkan saya akan daerah Ternate dan Tidore (Maluku Utara) yang dulu pernah saya tinggali selama 1,5 tahunan. Penduduknya rata-rata ramah terhadap pengunjung atau orang asing. Saat sholat berjamaah, semua memakai peci. Tidak ada yang tidak memakai tutup kepala. Gotong royong masih sangat kental di desa ini, terlihat saat bagaimana masyarakat (tidak terkecuali para ibu-ibunya) bersama – sama membangun masjid. Sama dengan orang Tidore yang dengan sukarela akan membantu tetangganya yang sedang membangun rumah tanpa harus diminta.

Bentuk atap bangunan antara Sembalun dan Ternate juga mirip. Biasanya berupa seng atau papan asbes yang dipaku ke kayu atapnya. Atap seperti ini biasanya dipilih untuk daerah -daerah yang berangin kencang. Ternate banyak angin kencang dari laut, sedangkan Sembalun angin kencang dari gunung.

Alamnya juga serupa, banyak angin, iklim dingin pegunungan (Ternate juga merupakan daerah di lereng gunung, yaitu Gunung Gamalama), dengan intensitas cahaya matahari yang menyengat. Suara gema tahrim dari kaset yang dilantunkan dari masjid-masjidnya Sembalun Lawang sebelum adzan dimulai, adalah hal yang biasa ditemukan juga di Ternate.

Sembalun adalah keindahan landscape. Jajaran tak beraturan Bukit Anak Dara, Bukit Nanggi, Bukit Selong, Bukit Telaga, Bukit Pergasingan, dan Gunung Rinjani menjadikan Sembalun terlihat indah dilihat dari sudut manapun.

20151016_060047_001

20151016_071038

20151016_080437

20151017_081638

Sembalun adalah kenangan. Nostalgia pertemuan kembali antara saya dan Pak Askar yang mem-porter-i kami waktu mendaki Rinjani tahun 2006 lalu. Beliau sekarang sudah tua dan tidak lagi menjadi porter, dan memilih membuka usaha warung kecil-kecilan sambil menggarap sawah.

20151016_142706

Sembalun adalah keindahan, yang kemudian akan melenakan anda untuk mengucapkan kata “Aku akan kembali lagi” sebelum meninggalkannya pergi.

20151016_180954

20151017_074332

20151017_075137

Mentari Pagi, Rinjani, dan ….. Sapi !

Ini cerita tentang penentuan siapa yang lebih kuat antara saya atau sapi !

Awal Oktober ini saya beserta keluarga menyempatkan untuk mendatangi Desa Sembalun Lawang. Ini semua berawal dari ketertarikan bunda saat melihat foto-foto yang pernah diambil waktu saya pertama kali mendatangi desa ini tahun 2006. Skedul dibuat, biaya terkumpul, jadilah kami sekeluarga berangkat ke Sembalun Lawang

Rencana awal, kami berempat akan mencoba mendaki Bukit Pergasingan bersama-sama. Tetapi sepertinya Bunda, Ale dan Dhican terlihat kecapaian setelah beberapa hari sebelumnya langlang keliling Bali, Trawangan, dan Mataram. Akhirnya saya berangkat sendiri dengan ditemani seorang guide bernama Henry.

Jumat (16/10/2015) pagi dini hari sekitar jam 03.30 kami memulai perjalanan. Sekitar 500 meter kami berdua berjalan menyusuri jalanan kampung, menembus kabut, dengan lolongan anjing liar di setiap sudut tikungan. Anjing- anjing ini memang liar hidup di sekitar Sembalun Lawang, dan populasinya makin lama makin banyak. Mereka hidup dan berkeliaran dari Plawangan Rinjani hingga kampung-kampung.

Sebuah bangunan tangga dari semen cor dengan puluhan anak tangga menyambut awal pendakian kami. Kami menaikinya dengan perlahan dengan masing-masing mengandalkan sorotan senter sebagai penunjuk jalannya.

Medan berikutnya berganti dengan bebatuan dengan tingkat kemiringan hingga 60 derajat. Mungkin karena sudah lama tidak naik gunung dan jarang berolah raga, dalam 20 menit pendakian saya sudah langsung meminta berhenti. Jantung berdebar kencang dan keras sekali, keringat pun menetes dalam dingin udara pagi. Terdengar keras nafas saya memburu, dan memaksa saya untuk duduk lebih lama.

Mungkin lebih dari 10 menit waktu yang saya perlukan untuk istirahat. Saya minum seteguk air lagi dan memberi isyarat ke Henry untuk kembali melanjutkan perjalanan. Dan seperti yang sudah-sudah, setiap naik gunung, 15-30 menit pertama itu adalah perjalanan yang paling berat. Setelah itu, kaki dan tubuh serasa mulai bisa menyesuaikan untuk bisa diajak mendaki. Saya hanya sekali mengambil istirahat tadi, dan terus mendaki bersama Henry. Tiba di punggungan barat, suara – suara tahrim dari banyak musholla dan masjid yang ada di Sembalun mulai terdengan bersahut – sahutan. Pertanda sebentar lagi shubuh.

Dan benar saja, tak lama kemudian adzan shubuh pun mulai terdengar dari satu, dua, tiga, dan akhirnya saling bersahutan dari masjid dan mushola di Sembalun. Di punggungan ini angin terasa kencang sekali. Untung saya mengambil waktu naik di bulan oktober, dimana cuaca saat itu tidak sedingin di bulan Juli atau Agustus.

Sebuah tempat yang cukup landai berhasil saya temukan, dan saya memutuskan untuk melaksanakan sholat shubuh disitu. Henry sama minta untuk mengawasi karena di saat yang bersamaan terdengar suara beberapa anjing liar yang berlari mendekat. Saya jadi teringat saat tahun 2006 lalu ke Rinjani, dan sholat saya di kawasan pinggir Danau Segara Anak diawasi oleh seekor babi hutan.

Selesai sholat, Henry meminta saya untuk bergegas agar bisa menyaksikan proses keluarnya matahari dari ufuk timur. Semburat cahaya sudah mulai memendar di langit pagi. Rinjani yang beberapa menit lalu masih berupa benda hitam besar menakutkan, sekarang mulai menyecap cahaya. Jalanan yang saya lalui pun mulai tampak, kendati sesekali saya tetap harus menggunakan senter sebagai penerang.

20151016_053448

Dan lho…..apa ini ? Ternyata sepanjang jalan setapak di punggungan ini kami banyak sekali menemukan kotoran sapi yang sudah mengering.

What ?! Sapi-sapi itu mendaki sampai disini ?!

Dengan membawa tubuhnya yang berat itu ?!

Ah saya tentu saja tidak mau terima jika harus kalah sama sapi dalam mendaki bukit ini. Kembali saya mempercepat kaki menyusul Henry yang sudah dua puluhan meter di depan. Lamat terdengar percakapan dan sesekali teriakan dari arah atas. Rupanya malam ini ada juga yang membuat camp di Bukit Pergasingan ini. Ah itu dia mereka.

20151016_052821

Saya mendekati mereka dan kami saling menyapa. Ada tiga orang saat itu, dua lelaki dan satu wanita. Rupanya mereka dari Malaysia. Dan saya menduga nama mereka Ipin, Upin, dan Kak Ros. Hahaha…

Saya pikir di tempat camp orang-orang Malaysia inilah puncaknya Bukit Pergasingan. Ternyata Henry masih mengajak untuk mendaki lebih tinggi lagi dengan menerobos semak-semak belukar untuk mendapatkan puncak tertinggi dan spot terbaik dalam menikmati sunrise.

Saat di camp tadi, saya sempat geleng – geleng kepala saat masih saja menemukan “jejak” para sapi itu di sekitaran. Gila memang stamina sapi – sapi itu. Dan saya menghibur diri dengan membatin “Ah, sapi kan walaupun badannya berat, kakinya kan ada empat, wajar jika mereka lebih kuat dari manusia” Haha.

Senyum tersungging. Selama jalan naik dari camp menuju puncak dengan melewati jalur semak-semak, saya tidak menemukan “jejak” sapi itu. mati kau sapi ! Tak bakalan kau mampu mendaki sampai setinggi ini, batin saya sambil mengatur nafas yang mulai terengah-engah tidak beraturan.

Upin Ipin dan Kak Ros tadi ternyata ikut bersama kami berdua. Jadilah kami berlima berjalan menerobos jalur semak menuju tempat yang dimaksud Henry.

Dan wow…..sampailah kita di puncak. tepatnya ada di punggungan timur Bukit Pergasingan. Dari atas ini, selain masih bisa menatap pemandangan Bukit Anak Dara, Bukit Telaga, Bukit Selong, dan Bukit Nanggi, kami ternyata mendapat spot menikmati sunrise yang lebih luas. Bahkan ada bonus karena kami juga bisa melihat laut dan Pulau Sumbawa. Wow !!

20151016_055408

20151016_060035

Saya dan para Malay tadi langsung saling bergantian memotret dengan latar belakang sunrise, sedangkan Henry memilih untuk segera mencari tempat terlindung dari angin dan menyalakan kompor untuk membuat kopi.

20151016_054515

20151016_055100_001

20151016_055213

20151016_055810

20151016_055749_001

20151016_063524

Puas mengambil foto dan menikmati pemandangan, saya menghampiri Henry yang sudah menggelar matras dan menyiapkan segelas kecil kopi panas. Ahhh, nikmatnya ngopi disini, ditemani sunrise, ditemani view pegunungan, ditemani udara dingin Pergasingan, ditemani budak-budak Malaysia, ditemani angin segar dan bisik daun pepohonan, ditemani……..tahi sapi !!

Arrrrgghh..bahkan di puncaknya sekalipun, saya masih menemukan beberapa kotoran sapi yang mengering itu. Arrrrgghh..saya marah sama sapi – sapi itu ! Saya terhina karena mereka dengan mudahnya bisa naik sampai sini sedangkan saya harus ngos-ngosan, keringetan, dengkul bergetar, dan pegal-pegal untuk mencapai puncak pergasingan ini. Sapiiii !!

Tiga puluh menitan kami berlima di spot itu, dan kemudian memutuskan untuk turun. Ipin, Upin dan Kak Ros, turun menuju camp, sedangkan saya dan Henry langsung turun pulang sambil mencari tempat yang agak landai untuk membuat sarapan pagi. Di camp tadi ternyata ada dua tenda yang berisi selain Ipin, Upin, Kak Ros, ternyata masih ada satu orang Malaysia lagi dan dua orang porter.

20151016_065024

Saya dan Henry menemukan tempat beberapa puluh meter di bawah camp, yang cukup nyaman untuk membuat sarapan. Nyaman disini artinya terlindung dari angin, datar, dan bisa menikmati makanan sambil memandang Rinjani tanpa penghalang. Menikmati landscape yang luar biasa dengan menu Desa Sembalun, sawah dan perkebunan, beserta sejumlah bukit yang mengelilinginya.

20151016_074825

20151016_074535

20151016_074026

20151016_071115

20151016_065744

Perjalanan turun pun berlanjut. Jalur turun terlnyata lebih sulit karena cukup curam, dan tentu saja menguras tenaga kaki karena harus banyak menahan beban tubuh dan tas saat menapak ke bawah. Dan kami harus melewati sisa-sisa tanaman yang terbakar yang menyisakan ranting-rantingnya yang cukup tajam.

20151016_080205

Saya sebenarnya sudah mulai melupakan masalah persapian tadi, sebelum kemudian langkah kami terhenti begitu melihat para sapi itu menghadang di kejauhan. Oh astaga, sepagi ini mereka sudah berhasil mencapai punggungan barat bukit ini !

20151016_075000

Sapi – sapi itu berlari turun kembali begitu melihat kami berdua. Saya tertawa puas penuh kemenangan. Akhirnya, saya bisa melegitimasi diri bahwa saya menang atas sapi – sapi itu !

Eh, tapi sebentar….. jika mereka turun, dan saya sudah tidak ada disitu, akankah mereka akan naik lagi ke bukit ini ? Ke puncak bukit yang harus saya tempuh dengan jalan kaki mendaki dua jam nonstop ?

Ya ! Mereka pasti akan tetap menaikinya kembali, demi mendapatkan makana rumput yang masih hijau yang tinggal tersisa di bukit-bukit. Mereka naik, kemudian turun, dan kemudian naik lagi dalam hitungan sesaat ! Dan sampai disitu saya akhirnya merasa dikalahkan, sebelum kemudian meneriakkan kembali pendapat dan legitimasi kemenangan saya tadi : ” Sapi kan punya empat kaki !”

Haddeeeeeuuuuhhhh……

20151016_085056

Taksi

Saya kehilangan HP yang di dalam sarung HPnya terdapat dua kartu ATM, sebuah SIM A, dan beberapa kartu lainnya. Sejak dulu saya memang tidak punya (dan anti) dompet, jadi semua kartu dan pengenal ada dalam sarung HP tersebut. Jadi, sekalinya hilang ya memang jadi agak kelabakan. Tapi ya sudahlah, toh itu tetap tidak mengubah prinsip saya untuk tidak mempunyai dompet.

Kembali ke cerita kehilangan tadi, awal kejadiannya adalah pada saat mengoperasikan sebuah layanan peta di HP di dalam sebuah taksi menuju Pasar Senen. Nah pas lagi pegang HP, Dhican tiba – tiba minta duduknya dipangku, dan secara tidak sengaja HP yang saya letakkan di atas paha saya pun jatuh di bawah jok kursi belakang taksi E yang saya tumpangi. Karena untuk mengambilnya saya terhalang tubuh Dhican,akhirnya saya berpikir untuk mengambilnya nanti saya pas mau turun. Tapi kembali,penyakit pikun saya datang tidak di saat yang tepat, pas turun saya lupa mengambil kembali HP yang jatuh di bawah jok belakang kursi taksi itu, dan baru sadar setelah beberapa menit kemudian, di saat si taksi sudah tidak lagi ada di tempat.

Mungkin saya termasuk orang yang lambat dalam bereaksi, karena baru menelepon pihak call centernya taksi E tadi setelah dua minggu dari kejadian, atau sepulang dari liburan. Tapi saya acung jempol dan salut dengan reaksi cepat pihak taksi E ini, karena sehari setelah saya telepon, mereka langsung menelepon balik mengabarkan tentang perkembangan kasus ini, bahwa nama supir,nomor polisi, dan nomor taksinya sudah ditemukan, tinggal menunggu perkembangan berikutnya.

Hari berikutnya kembali mereka mengabarkan bahwa semua kartu dan sarung HP ada dan siap untuk dikembalikan. Sarung HP ? Ya, hanya sarungnya, karena HPnya tidak ada. Menurut pengakuan si supir, dia hanya menemukan sarung HP beserta kartu-kartunya, tetapi sudah dalam keadaan terbuka dan tidak ada HPnya, itupun ditemukannya di TKP (pasar senen), dan di bawah mobil (bukan di bawah jok belakang ).

Ada kejonggolan eh kejanggalan disini. Pertama,saya yakin betul bahwa jatuhnya di dalam taksi E, bukan di luar taksi. Kedua, jika memang supirnya menemukan di TKP, kenapa tidak langsung dikembalikan ke saya ? karena toh saya masih ada di situ (sambil bawa barang bawaan seabreg plus tiga anak kecil). Ketiga, agak aneh kalau misalnya kita berandai-andai bahwa HP itu jatuh di luar mobil, dan si pengambilnya hanya mencopot HP dari sarungnya kemudian membiarkan sarungnya plus sejumlah kartu ATM dan SIM A tergeletak begitu saja. Kenapa tidak dibawa sekalian saja satu sarung HP beserta isinya, bukankah itu lebih praktis ?

Tapi ya sudahlah, toh kejadian ini awalnya memang kesalahan saya, dan saya tidak punya bukti kuat untuk menunjuk hidung siapa yang mengambil keuntungan dengan kejadian ini. Malamnya, semua kartu beserta sarung HPnya diantar langsung oleh si supir taksi E ke rumah saya. Overall, saya cukup puas dengan reaksi cepat yang dilakukan oleh pihak Taksi E ini dalam menanggapi keluhan atau pelaporan barang tertinggal. Bayangkan, hanya dalam dua hari sejak melapor, barang yang tertinggal bisa kembali (walaupun tidak lengkap), “hebat” bukan ?

Night Train

Anda yang mengambil program studi Ekonomi pada saat kuliah boleh berbangga, karena sampai sekarang baru Prodi Ekonomi yang sudah mempunyai kereta api. Lihat saja, dimana -mana di Indonesia ini adanya kereta api kelas ekonomi, tidak ada kelas mesin, kelas arsitektur, kelas elektro, kelas sipil, dan kelas-kelas lainnya. Hahaha

Naik kereta api untuk perjalanan panjang dari Malang ke Jakarta adalah pengalaman yang baru bagi kami. Alhamdulillah, kendati kelasnya ekonomi, anak-anak tidak banyak protes dan bahkan terlihat menikmati. Untungnya dulu saya pernah naik kereta api dari Jakarta ke Semarang, sehingga sedikit banyak sudah mengenal seluk beluk kereta tentang bagaimana memilih tempat duduk yang nyaman, bagaimana menggunakan toilet, serta bagaimana mengatur sholat di dalam kereta.

???????????????????????

Di kereta ekonomi, disewakan bantal dan selimut. Jumlah bantal sangat terbatas, jadi ada baiknya jika ada petugas kereta menawarkan penyewaan bantal, anda langsung saja memesannya. Sedangkan selimut sepertinya kurang begitu diminati oleh para penumpang, tapi jika anda khawatir kedinginan silahkan pesan saja karena harganya juga tidak mahal kok. Bantal sekali sewa sampai tempat tujuan dihargai Rp. 5000,- Sedangkan selimut, saya tidak tahu harganya, tapi ya kurang lebih berkisar antara Rp. 3000,- sampai Rp. 5000,- .

Ada pengalaman baru bagi kami, yaitu saat istri tiba- tiba punya ide untuk mengajak anak-anak ke kafetaria atau dapurnya kereta. Kamipun ke gerbong dapur itu yang letaknya di belakang gerbong empat, kemudian memesan beberapa makanan dan minuman, dan memakannya disitu.

??????????????????????? ???????????????????????

Alhamdulillah, di dalam kereta juga kami adakan pembelajaran tentang sholat di kendaraan untuk anak -anak.

???????????????????????

BATU (Tidak Cukup) dalam Sehari

Tuntas menikmati Bromo, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Batu di wilayah Kabupaten Malang. Oki sepertinya salah mengambil keputusan dalam menentukan jalan menuju Batu, sehingga kami memutar dan memakan waktu yang lebih lama. Sore sekitar jam 16.00 kami baru sampai di lokasi tempat menginap kami yaitu di Batu Green Village yang lokasinya tepat didepan Jatim Park 2. Sebenarnya Batu Green Village ini adalah sebuah komplek perumahan, tetapi beberapa rumah oleh pemiliknya disewakan untuk para wisatawan yang sengaja mendatangi wilayah Batu ini.

???????????????????????

Rumah yang kami tempati ini mempunyai tiga kamar tidur, satu kamar mandi dengan fasilitas air hangat, dapur, dan ruang tamu yang dilengkapi dua sofa bed. Kapasitasnya untuk 8 orang dewasa, dengan harga sewa per malam sekitar Rp. 700.000,- per hari di hari biasa, dan Rp. 1.400.000,- per hari di hari libur atau high season.

Karena kami tidak cukup banyak mengumpulkan informasi, serta karena terbatasnya waktu yang kami miliki, kami pun gagal menjelajahi semua objek wisata menarik di Kota Batu ini. Objek wisata yang masuk dalam list kami yang akan dikunjungi adalah Jatim Park 1, Jatim Park 2, Eco Green Park, Museum Angkutan, dan Batu Night Spectaculer (BNS). Yang kemudian terjadi adalah, kami seharian terperangkap di Eco Green Park, dan malamnya sebagian dari kami menikmati BNS.

???????????????????????

Eco Green Park menjadi pilihan kami karena tema yang diusung oleh objek wisata ini adalah bermain sambil belajar. Objek yang ada di dalamnya umumnya didominasi oleh puluhan jenis satwa burung, serangga, dan unggas.

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

Beberapa stand yang menyediakan pembelajaran adalah stand pembuatan gas dari kotoran sapi, proses penanaman strawberry, serta pemanfaatan air yang diolah menggerakkan turbin untuk menghasilkan energi listrik.

Sedangkan arena bermain terdiri dari permainan musik dari air, outbound wahana air beserta kolam renangnya, dan permainan perang perahu air. Disamping itu juga ada wahana lainnya yang mempelajari tentang seni dan budaya, seperti sajian show gamelan bali, rupa-rupa candi di Indonesia, demontrasi gempa dan angin ribut, cinema 4D, dan lain – lain. Butuh seharian penuh agar anda bisa menikmati seluruh wahana yang ada di Eco Green Park ini.

?????????????????????????????????????????????? ?????????????????????????????????????????????? ??????????????????????? ???????????????????????

Setelah menyempatkan pulang ke rumah (dengan jalan kaki, karena jaraknya memang sangat dekat dari penginapan) dan istirahat, malamnya kami ke BNS. Menurut saya, BNS tidak sespektakuler berita atau iklannya. Objek wisata malam ini tidak lebih dari sejenis pasar malam di daerah Jabotabek atau semacam tempat-tempat bermain di mall-mall, tetapi menyajikan sejumlah permainan yang lebih banyak dan mempunyai andalan pencahayaan di lampion-lampionnya.

Letak Eco Green Park berdekatan dengan Jatim Park 2, bahkan antara kedua objek wisata ini ada tiket terusannya. Jadi, sebaiknya sediakan seharian penuh dan pintarlah membagi waktu untuk menikmati dua objek wisata ini sekaligus. Jika punya waktu lebih, hari berikutnya anda bisa mengunjungi Jatim park 1 dan Museum Angkutan.

??????????????????????? ???????????????????????

Kamis (25/12) jam 9 pagi walaupaun masih ingin menikmati liburan dan bermalas-malasan di sejuknya udara kota Batu, kami sudah harus check out meninggalkan penginapan menuju stasiun kereta Kota Baru di Malang.

Bromo : Calo, Kenangan, dan Keanggunan Abadi

Ini cerita tentang sebuah perjalanan yang secara tidak sengaja menyeret kami masuk dan terjebak dalam dunia percaloan. Diawali dengan sebuah kesepakatan dengan supir yang bernama Tikno yang mengantarkan kami dari Bandara Juanda ke Ampel Surabaya kemarin, akhirnya disetujui bahwa Tikno siap mengantar kami dari Surabaya menuju Bromo, menginap semalam, dan mengantar kami lagi menuju Batu.

Harga yang disepakati adalah Rp.1.500.000,- net, itu sudah termasuk ongkos sewa mobil, tol, bahan bakar, parkir, berikut inap dan makan sopir ditanggung sopir itu sendiri. Setelah membandingkan harga, jika dihitung dengan kondisi kami yang berjumlah anggota keluarga banyak, kami berpikir bahwa harga itu cukup bersaing.

FYI, kami terdiri dari 6 orang dewasa, 4 anak kecil, dan seabreg barang bawaan bak orang pindahan. Jadi, awalnya kami merencanakan untuk menyewa dua buah mobil. Dengan asumsi satu mobil per hari sewanya 300 ribu, dua hari 600 ribu, maka dua mobil dua hari sekitar Rp. 1.200.000,- dan itu belum termasuk biaya buat dua orang supir untuk dua hari. Akhirnya kami terima tawaran Tikno.

Dan yang kemudian terjadi adalah, di hari yang dijanjikan (Senin, 22/12), Tikno mengabarkan bahwa dia tidak bisa menyetir dan mengirim orang lain untuk mengantar kami dengan mobil yang berkapasitas lebih besar (Avansa putih diganti Grandmax). Awalnya kami tidak menganggap hal itu sebagai masalah sepanjang perjanjian yang sudah disepakati tidak diubah. Tapi ternyata Oki, supir yang dikirim oleh Tikno diberikan penjelasan yang berbeda. Akhirnya setelah clear permasalahan segitiga informasi ini, kami start dari Ampel Surabaya menuju Bromo sekitar jam 10.15 menit.

Sempat beberapa kali mampir untuk mengisi bahan bakar, makan siang, dan belanja makanan dan minuman ringan, akhirnya kami sampai di Bromo sekitar jam 16.00. Waktu itu kami sudah dihitung tiket high season,sehingga masing-masing satu orang (dewasa) kena charge Rp. 30.000,- dan mobil kena charge Rp. 11.000,-. Biasanya di loket pembayaran masuk ke kawasan wisata Bromo ini akan ada banyak orang yang menawarkan jasa penginapan maupun jasa tumpangan mobil hartop menuju dua atau empat lokasi yang berbeda.

Untuk penginapan, sebaiknya pesan dari jauh – jauh hari, agar kita punya banyak pilihan dan bisa menentukan dimana akan menginap. Atau kalau memang saat sampai di Bromo belum memesan penginapan, sebaiknya datangi langsung saja penginapan yang dituju dan kemudian tanya harganya langsung, jangan menerima tawaran dari orang-orang lain yang kebanyakan ternyata adalah calo. Tentu saja kita akan kena charge lebih tinggi untuk sebuah penginapan jika melalui calo tersebut.(Tips 1)

Demikian halnya dengan penawaran tumpangan mobil hartop. Anda kami sarankan sudah mengantungi nomor telepon salah satu pemilik hartop tersebut. Jika anda memesan lewat orang – orang yang berlalu lalang di sekitar penginapan maupun di sekitar lokasi wisata, maka anda akan dikenakan biaya Rp. 550.000 untuk satu buah Hartop yang mengantar anda dari penginapan ke Pananjakan, kemudian ke Padang pasir (tempat berhenti bagi yang mau naik ke Gunung Bromo), dan kemudian balik lagi ke penginapan. Atau Rp. 850.000,- untuk mengantar anda ke dari penginapan ke Pananjakan, Bromo, Bukit Teletubbies, dan Padang Savana. Tapi jika anda memesan langsung ke pemilik Hartop, anda cukup dikenakan Rp. 450.000,- untuk biaya antar dari Penginapan ke Pananjakan dan ke Gunung bromo (padang pasir). Lebih murah Rp. 100.000,- lumayan khan….(Tips 2)

Bagi saya Bromo adalah tempat yang penuh kenangan,tempat pertama kali mengenal istri saya. Saya sudah empat kali ke Bromo dengan menginap di empat penginapan yang berbeda. Berdasarkan pengalaman selama saya berkeliling Bromo, Hotel Cemara Indah dan Hotel Lava View Lodge adalah yang paling saya rekomendasikan, karena kedua tempat tersebut mempunyai view langsung ke Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru.

 Kembali ke cerita awal. Edisi kali ini kami menginap di Hotel Lava View Lodge. Setelah menurunkan barang – barang dari mobil, kami pun mulai menempati kamar masing – masing, kami pun dipersilahkan menikmati welcome drink berupa teh dan kopi panas. Minuman itu cocok untuk dipadukan dengan bakso yang dijual oleh beberapa penjual di sekitar lokasi hotel, plus sambil menikmati dinginnya udara dan view pegunungan yang awesome !

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

Oh ya, disinilah saya mendapat cerita dari Oki si supir bahwa ternyata dari harga Rp. 1.500.000,- sewa mobil yang kami bayarkan, menurut pengakuannya si Oki ini hanya mendapatkan Rp. 750.000,-. Jika langsung menghubungi Oki, kami cukup membayar Rp. 1.000.000,- saja untuk sewa mobil, bahan bakar, tol, dan parkir. Oke, walaupun sejak awal kenal sampai sekarang saya kurang bisa mempercayai Oki, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan poin pertama bahwa si Tikno yang mengirim Oki ini adalah calo, dan kedua bahwa biaya sewa mobil bisa ditekan andai kita kenal langsung dengan pemilik mobil rentalan. Jadi, jika anda berminat ke Bromo dari Juanda Surabaya, segera cari nomer telpon pemilik mobil rentalan langsung, jangan melalui calo. (Tips 3)

Kabut datang dengan cepat, menandakan gelap sebentar lagi berkuasa. Kami pun segera beristirahat, tidur, sambil menunggu dibangunkan oleh pemilik Hartop.

Sebelum berangkat menuju Pananjakan, sebaiknya anda berwudhu di penginapan dahulu, mengingat biasanya di Pananjakan akan penuh dengan para wisatawan dengan tempat wudhu dan sholat yang sangat terbatas. Jaga wudhu hingga waktu Shubuh menjelang, dan syukur-syukur anda membawa matras sekalian untuk menghindari antrian sholat di mushola di Pananjakan yang ukurannya sangat kecil. (Tips 4)

Sekitar jam 3 pagi kami berangkat dari penginapan menuju Pananjakan. Jalan dari penginapan turun menuju padang pasir sekarang sudah diaspal bagus tidak seperti dulu. Jalanan di padang pasir pun sudah diatur. Jarak pandang terbatas ke depan karena tertutup kabut bagi sopir Hartop bukanlah masalah besar. Sekitar setengah jam perjalanan kami terpaksa berhenti jauh dari view point pananjakan karena saking banyaknya Hartop yang sudah parkir di pinggir kiri kanan jalan, ditambah dengan motor ojek yang makin menambah crowded jalanan.

Motor ojek ini dulu belum ada. Mungkin mulai ada sejak jumlah Hartop makin banyak sehingga parkirnya harus berderet hinga makin jauh dari view point pananjakan sehingga para tukang ojek dadakan ini menangkap adanya peluang mengantarkan para penumpang hartop yang tidak beruntung mendapatkan parkir yang jauh dari view point. So, tips berikutnya, berangkatlah sepagi mungkin dari penginapan agar mendapatkan parkir yang paling dekat dengan view point pananjakan (Tips 5). Tapi jika anda terpaksa mendapatkan parkir hartop yang jauh dari view point pananjakan, jangan langsung naik ojek. Biasanya para tukang ojek ini menawarkan harga Rp. 50.000,- untuk mengantar anda sampai view point pananjakan. Nah anda cobalah jual mahal terus berjalan dan seolah tidak butuh ojek (pura-puralah kuat berjalan walaupun itu berat hahahaha), kemudian setelah sekian meter berjalan cobalah bernegosiasi harga.Para tukang ojek ini jumlahnya banyak, jadi sesama mereka ini saling bersaing. And then, terbukti trik saya ini berhasil, kami hanya dikenakan biaya Rp.10.000,- per orang (bukan per motor ya) untuk diantar ke view point Pananjakan (Tips 6).

Dan here it is. Sampailah kami di Pananjakan. Tempat terbaik untuk menikmati pemandangan Gunung Batok, Gunung Bromo, Gunung Semeru, Pegunungan Tengger, hingga lautan pasir dan selimut kabutnya, serta jika beruntung anda akan mendapatkan sunrise yang bagus. Jika anda ingin mendapatkan view yang agak leluasa, cobalah berjalan terus hingga ke ujung pemancar, disitu jumlah pengunjung atau wisatawan tidak sebanyak di tempat lainnya.

??????????????????????? ???????????????????????

?????????????????????????????????????????????? ??????????????????????? ???????????????????????

Setelah puas menikmati pemandangan dan suasana Pananjakan, kami menyempatkan untuk sekedar minum teh dan makan gorengan untuk menghangatkan tubuh dan sekaligus mengisi perut. Untuk souvenir berupa kaos atau t-shirt, sebaiknya jangan beli disini karena harga disini lebih mahal dibanding jika anda beli di bawah, di lautan pasir (Tips 7).

Perjalanan turun dari Pananjakan ke Padang pasir memang tidak semacet pada saat naiknya, karena kami memang sengaja memilih waktu agak sedikit siang untuk turun. Hartop sekarang hanya boleh mengantar pengunjung sampai di padang pasir, beberapa puluh meter dari Pura (tempat beribadah umat Hindu Tengger). Dari sini akan banyak orang yang menawarkan jasa mengantar dengan kuda hingga tangga Gunung Bromo pulang pergi, dengan harga Rp. 125.000,- per kuda. Artinya, anda akan diantar hingga mendekati tangga Gunung Bromo, kemudian ditunggu sampai selesai, dan diantar kembali ke tempat Hartop anda.

??????????????????????? ???????????????????????

Saran saya, tolak dulu tawaran naik kuda ini, kemudian mulailah anda berjalan menuju arah tangga Gunung Bromo. Untuk beberapa puluh meter ke depan medannya relatif landai kok, jadi bisa ditempuh dengan jalan santai. Pada saat anda jalan, para pemberi jasa kuda ini biasanya akan mengikuti anda terus sambil menawarkan harga sekali antar maupun bolak-balik yang makin lama harganya akan makin turun.

Ambillah harga sekali jalan (bukan bolak balik), kami disini bisa mendapatkan harga Rp.40.000 untuk sekali jalan. Nah nanti, jika selesai menikmati suasana puncak dan kawah Bromo, silahan mencari kuda lagi untuk mengantar perjalanan anda kembali ke hartop. Untuk perjalanan pulang ini kami bahkan dapat menawar hingga harga Rp. 25.000,-. Seperti tadi juga, berjalanlah beberapa puluh meter ke depan dan pura-pura tidak butuh tumpangan kuda. Jadi, total kami hanya membayar Rp. 65.000,- untuk pulang pergi naik kuda. Bandingkan dengan harga awal tadi yang seharga Rp. 125.000,-, bukankah kita bisa saving hinggaRp. 60.000,- ? Tentu jika ingin lebih hemat lagi, anda cukup mengikuti apa yang saya lakukan, menempuh jalan dari lokasi parkir hartop hingga puncak bromo dengan berjalan kaki. (Tips 8).

???????????????????????

???????????????????????

Dan kami pun mengambil sejumlah foto di lokasi ini dengan kalap. Soalnya indahnya itu lho cuy….

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

Salut buat Ale, Dhican, Sisi, tiga anak kecil yang pantang menyerah menaiki 250 anak tangga menuju puncak Gunung Bromo. Setelah puas, kami pun kembali menuju hartop. Disini kami sudah diserbu oleh para penjual kaos dan souvenir. Kaos dijual cukup murah yaitu Rp. 50.000,- untuk tiga buah kaos atau Rp.100.000,- untuk 6 buah kaos. Jauh lebih murah dibanding harga kaos yang ditawarkan di Pananjakan tadi (Tips 9).

Kemudian kami kembali ke penginapan di Hotel Lava View Lodge. Oh ya, jangan lupa untuk mengatur waktu anda ya, karena biasanya waktu sarapan pagi dibatasi hanya sampai jam 09.00 atau hingga jam 10.00 saja, dan check out jam 11.00. So, jangan sampai anda melewatkan breakfast anda dan terlambat untuk check out.

Tepat jam 11.00 kami pun selesai membereskan semua peralatan dan kembali ke mobilnya Oki yang siap mengantarkan kami menuju Kota Batu, Malang.

Eh iya, ada baiknya jika anda meluangkan waktu lebih dari sehari di kawasan Wisata Bromo ini, karena disamping anda akan lebih terpuaskan, juga ada beberapa objek lain di sekitar Bromo ini. Yang paling bagus adalah air terjun Madakaripura yang indah sekali dan sayang untuk dilewatkan.

Surabaya – Madura : Pacar Ketinggalan Kereta

Apa sikap anda jika dalam sehari mengalami terjebak dalam kemacetan berjam-jam, kemudian ketinggalan kereta luar kota yang berakibat tiket ratusan ribu jadi hangus, kemudian kehilangan HP plus lengkap dengan dua buah kartu ATM, SIM, dan kartu-kartu lainnya ? Saya benar mengalaminya hari Sabtu (20/12) lalu. Terjebak dalam kemacetan arus kendaraan Tangerang – Pasar Senen, kemudian HP berikut sejumlah kartu ATM, SIM, dan sejumlah kartu lainnya ketinggalan di Taxi Express yang ternyata supir taxinya tidak mau mengembalikannya (oke, ini salah saya bukan salah pak supir), kemudian ketinggalan kereta ke Surabaya, kemudian tiket hangus dan saya harus pulang dengan kelelahan.

Saya memilih tidak berlama meratapi, kemudian membiarkannya karena mempercayai saya sedang menjalani skenario yang menarik, sambil berjanji untuk melakukan evaluasi dan mengambil hikmahnya nanti. And show must go on, rencana untuk silaturrrahim ke omnya istri yang di Surabaya (Omnya yang tinggal di Surabaya, istri mah tetap tinggal serumah sama saya. Omnya istri ini maksudnya omnya dari istri, adik dari bapaknya istri yang tinggal di Surabaya. Yang di Surabaya itu adik dari bapaknya istri saya, bukan bapaknya istri saya, bukan pula istri saya. Jadi kesimpulannya yang tinggal di Surabaya itu omnya dari istri saya yang masih tinggal serumah sama saya. Saya sendiri juga tinggal serumah dengan istri saya yang omnya di Surabaya tadi. Jadi, saya bukan di Surabaya, istri juga bukan di Surabaya, tapi om alias adik dari bapak istri saya yang di Surabaya.) harus tetap dilaksanakan, mengingat om ini satu-satunya saudara dari bapak mertua yang belum pernah kami kunjungi rumahnya. Jadilah Minggu pagi kami berangkat dari Soeta menuju Juanda. Acung jempol buat Citylink yang on time dalam pemberangkatannya.

Keluar dari bandara Juanda, kami kemudian membuat pembicaraan dengan seorang supir angkutan plat hitam bermobil Avansa putih untuk mengantar kami menuju daerah Ampel dengan harga yang disepakati Rp. 150.000,-. Rumah omnya istri ini memang terletak di dalam komplek perumahan militer Angkatan Laut, di daerah Ampel Surabaya.

Sambutan dari tuan rumah kami terima, dan setelah sarapa, mandi dan istirahat sejenak, tuan rumah mengajak kami berjalan-jalan mengunjungi jembatan Suramadu, lokasi pembuatan kapal di PT PAL, serta mengelilingi komplek angkatan laut di sekitar patung besar Jalesveva Jayamahe.

Tujuan pertama kami adalah Jembatan Suramadu. Jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dengan Pulau Madura ini memang dari dulu ingin sekali kami kunjungi, dan sungguh menyenangkan karena kini kami berhasil melintasinya, plus bonus menapakkan kaki di Pulau Madura, Pulau ke tiga belas yang berhasil saya tinggalkan jejak kaki. Namanya orang jauh, walaupun sudah ada larangan untuk berhenti di atas jembatan, tetap saja kami berhenti dan mengambil beberapa sesi foto untuk kenangan.

IMG_2543

IMG_2566

Tidak berlama di Pulau Madura, kami pun kembali ke Kota Surabaya menuju lokasi pembuatan kapal di PT PAL. Kami dibuat takjub dengan pemandangan kapal-kapal besar, pipa-pipa besar, serta berbagai peralatan yang berhubungan dengan pembuatan sebuah kapal. Menurut penjelasan om, PT PAL ini disamping membuat dan memperbaiki kapal, juga memproduksi pipa rig untuk pengeborang minyak lepas pantai.

Kemudian kami mengitari daerah sekitar pangkalan kapal perang angkatan laut, mengambil beberapa foto di dekat kapal selam dan sejumlah kapal cepat, dan diakhiri dengan masuk ke dalam museum.

IMG_2576

???????????????????????

IMG_2587

???????????????????????

Eh, museum ini masih baru lho. Masih kecil dan baru berisi beberapa contoh peluru, misil, dan beberapa benda yang berhubungan dengan angkatan laut. Menurut saya, museum ini lebih menonjolkan tentang pembahasan sejarah angkatan laut yang dimulai sejak jaman Mahapatih Gajahmada jaman Majapahit, yang mampu menyatukan Nusantara, kemudian terus bercerita hingga ke jaman sekarang. Semua ulasan dibuat runut dan detail dipajang di tembok museum. Saya antusias membacanya dari awal hingga akhir.

IMG_2646

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

Satu lagi, museum ini juga dilengkapi theatre tempat pengunjung bisa menikmati film dokumenter angkatan laut Indonesia. Kami makin merasa spesial begitu penjaga museum mau memutarkan dua buah film dokumenter khusus untuk keluarga kami. Bangga juga melihat kemampuan dan kekuatan Angkatan Laut Indonesia beserta dengan armada perangnya.

???????????????????????

IMG_2617

Setelah puas dengan museum, kami melanjutkan perjalanan menuju Patung Jalesveva Jayamahe. Sayang sekali, waktu itu hujan turun super deras dan permukaan air laut mulai naik. Hal ini membuat kami tidak bisa mendekati patung dan terpaksa memutar balik mobil pulang kembali menuju rumah om.

Petualangan di Surabaya tidak berhenti disitu. Malamnya, saudara sepupu mengantar kami keliling Kota Surabaya, melintasi Tunjungan Plaza, tempat kejadian 10 November, monumen kapal selam, serta membeli sejumlah oleh – oleh di Pasar Genteng. Setelah dua hari lebih kami menginap dan membahas masalah keluarga di Surabaya, Senin pagi harinya, acara ditutup dengan pamitan dan menyempatkan membeli sambal Bu Rudy sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan wisata Bromo.

 ???????????????????????

 

Batam

DUA BELAS !

Itu kata pertama yang ingin saya ucapkan begitu menginjak tanah di pulau ini. Lupa sudah rencana bertukar-tukaran nomer telepon dengan mbak-mbak pramugari yang ramah tadi. Setelah lahir dan besar di Jawa, kemudian menjelajah ke Pulau Bali, Sulawesi, Buton, Ternate, Halmahera, Tidore, Bunaken, Kalimantan, Lombok, dan Untung Jawa, kini saya berhasil menapak di pulau BATAM ! Ini adalah pulau yang ke dua belas yang berhasil saya tinggali jejak langkah (pipis juga, pup juga).

10469920_10203354933339640_53536206978030186_n

Dua setengah hari di Batam, tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk menjelajah sisi lain dan sudut-sudut kota Batam, karena memang tujuan utama kami adalah mengejar dan mengerjakan data transaksi di Free Trade Zone, dengan harapan berakhir pada amannya penerimaan negara dan adanya kontribusi yang berarti bagi APBN (tsaaaahhhh…)

1920143_10203333930214575_3374103988659593352_n

Setelah selesai berkutat dengan pekerjaan selama dua hari full, akhirnya kami sempatkan untuk berkeliling sekitar Bukit Senyum, Nagoya hill, Nagoya, Harbour, dan sekitarnya. Mencari beberapa cindera mata, parfum, coklat, dan baju. Sayang, rencana untuk mengunjungi jembatan Barelang gagal karena kami khawatir terjebak demo buruh yang kebetulan dijadwalkan akan berlangsung hari itu.

10641062_10203319891703621_8528280423738768866_n

Batam dalam dua hari. Kota yang sibuk, tanpa identitas, kota para urban, sehingga saat kami tanya pada orang Batam sendiri tentang makanan atau budaya atau barang apa saja yang khas dari kota ini, dia sendiri bingung tidak menemukan jawaban.

1503394_10203354933299639_4161568439286352989_n

Batam dalam dua hari. Kota kecil yang terlelap di jam 9 malam, tetapi menyisakan sejumlah kehidupan di puluhan klub malam yang bertebaran yang baru mulai membuka kehidupannya di jam 8 malam hingga pagi. Kota dengan sejumlah list barang (yang katanya) murah karena masuk dari negara lain tanpa pajak tanpa cukai.

Batam dalam dua hari. Sebuah kota tanpa Alfamart dan tanpa Indomaret.

10378268_10203328835767217_2863234049385437736_n

* Sebagian photo dibuat oleh Arief Hartono (Ais)

Menapak Camping Ground Lereng Salak

Saya sering menggunakan kegiatan naik gunung sebagai sarana untuk memberikan hak bagi tubuh dan jiwa atas refresh, menarik diri dari keramaian, dan menciptakan jarak dari suatu keadaan. Dengan itu, saya menjadi punya waktu untuk menikmati alam, menemukan cara pandang baru atas suatu masalah, menemukan kembali gairah hidup, dan bahkan menemukan rasa rindu dan cinta pada keluarga yang mana hal itu mungkin tidak akan saya rasakan saat saya berada di dekat orang tua, istri, dan anak-anak.

Mungkin itu juga yang kemudian mendasari kantor tempat saya bekerja untuk mengadakan acara outing bersama satu kantor ke suatu tempat yang jauh dari keramaian, dengan tujuan untuk merefresh para pegawainya yang selama ini terjebak dalam tekanan rutinitas yang cenderung membosankan.

FILE145

Kami memilih mengadakan acara camping di Batu Tapak, Cidahu Sukabumi. Ini sebuah keputusan yang berani, mengingat selama ini acara kantor identik dengan hotel dan penginapan dengan bangunan permanen. Sedangkan saat kita membicarakan kata “camping”, maka yang terbayang pertama kali adalah dingin, hutan, tidak nyaman, tidur beralas tanah, ular, liar, males masak makanan, dan seterusnya dan seterusnya.

Nah Batu Tapak ini menjadi lokasi yang cocok bagi sebuah corporate, instansi, maupun sebuah kelompok yang ingin mengenal bagaimana sih rasanya camping, tanpa harus kawatir atas hadirnya sejumlah ketidaknyamanan tadi. Untuk paket VIP, Batu Tapak menyediakan sejumlah tenda yang dilengkapi dengan kasur, bantal, selimut, air panas dalam termos, air mineral, sejumlah sachet minuman teh dan kopi, serta free breakfast.

03_5 03_6

Perjalanan dari kantor ke lokasi relatif lancar. Sampai di lokasi sekitar jam tiga sore, kemudian langsung disambut welcome drink berupa satu gelas dingin asam Jawa. Peserta camp kemudian dipersilahkan untuk menuju camp  masing – masing sesuai dengan pembagian camp dari panitia. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sejumlah permainan untuk menghangatkan suasana hingga petang.

Malamnya, acara dilanjutkan dengan makan, malam keakraban, dan rapat pembinaan. Walaupun judulnya outing, sebenarnya rapat inilah yang menjadi acara utamanya. Sengaja dibarengkan dengan acara outing, supaya pegawai mempunyai kenyamanan dalam berpikir, mengemukakan pendapat dan ide, serta berdiskusi antar lini jenjang birokrasi. Beruntung kami punya CEO semacam Pak Ihsan ini yang humble dan mau mendengarkan semua keluhan, pendapat, maupun ide para pegawai di jajarannya.

Acara rapat berlangsung serius tapi santai, dan berakhir menjelang jam 11 malam. Kemudian dilanjutkan dengan acara api unggun dengan menampilkan sejumlah performance dari beberapa rekan yang ditunjuk secara spontan. Pisang goreng, jagung rebus, singkong goreng, sate ayam, dan kambing guling menjadi korbannya.

02

Pagi hari, udara segar tersedia, sebuah kenikmatan yang mahal kita dapatkan di perkotaan. Kualitas udara dan pemandangan di sekitar lokasi camping menjadi bonus tersendiri dari acara kali ini.

Ini view dari belakang lokasi

03_1

Dan ini view dari resto atau bagian depan  lokasi

03_3

03_4

03_2

Saatnya rutinitas ritual pagi. Khusus untuk acara-acara seperti ini, saya memang selalu mandi tanpa menggunakan sabun, karena biasanya tempat – tempat seperti ini akan mengalirkan air bekas mandi ke arah sungai terdekat. Dan kita semua tahu, sungai di bagian hulu adalah air dengan kualitas terbaik. Sungguh sayang jika harus mencemarinya. Dan ternyata, ada beberapa rekan kantor yang lebih hebat dari saya dalam mencintai alam dengan memilih tidak mandi, baik sore kemarin maupun pagi ini. Memang antara cinta alam dan males mandi itu bedanya tipis. Hahahaha…

Setelah ritual pagi, acara dilanjutkan dengan senam bersama. Acara berlangsung menarik, karena Mas Chawank -seorang penggiat pecinta alam yang ditunjuk oleh EO Batu tapak sebagai instruktur senam- sukses memimpin dengan suasana yang fun. Kredit poin juga pantas diberikan kepada beberapa rekan kantor yang menciptakan “senam pinguin” dengan gerakan-gerakannya yang lucu.

04

Setelah sarapan pagi, acara dilanjutkan dengan trekking ke air terjun Undak Dua. Lokasinya sekitar 40 menitan dari lokasi camping jika ditempuh dengan jalan kaki. Medan jalanan berupa jalan setapak dengan variasi melewati sungai, kebun, pematang sawah, dan hutan pinus.

05_1 05_2 06 ??????????????????????????????? 08

Air terjun Undak Dua itu sendiri adalah sebuah air terjun yang tidak begitu tinggi dan cukup menarik untuk dikunjungi. Para peserta trekking kemudian menikmati suasana dengan mandi, bermain air, dan (mungkin juga) pipis di tempat. Hahaahaha….

09_1 10 11 11_1

Setelah dirasa puas menikmati suasana sekitar air terjun, kemudian peserta trekking kembali ke camp untuk makan siang, berkemas, dan kembali ke Tangerang.

Eh temans, lain kali, kalo ada acara trekking beginian, jangan lupa sambil mungutin sampah yang ada di jalan setapaknya ya. Bagaimanapun juga, anak cucu dan generasi penerus kita punya hak atas udara, air, dan tanah yang baik.

13

Salam lestari ! Hokya- hokya !

* Freddy, Nanda, Mas Yudi, Pak edi, Candra, dan Wisnu, thx atas sumbangan foto-fotonya, dan sekalian mohon ijin buat share dimari 😀