Makna Sebuah Titipan – WS Rendra

sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Allah

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

 

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

 

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan

bahwa itu adalah derita.

 

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

 

kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,

dan bukan kekasih.

 

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Advertisements

Wara’ : Salak, Telur, dan Sandal

Anda tentu setuju : di saat banyak orang tua memakaikan sepatu pada anaknya cukup dengan langsung memegang kaki si anak kemudian memasukkannya ke dalam sepatu, maka saat ada orang tua yang membersihkan dahulu dalamnya sepatu untuk memastikan tidak ada kerikil atau tanah yang tertinggal di dalamnya, kemudian membersihkan telapak kaki si anak, baru setelah itu memakaikan sepatunya; saya akan memberikan nilai plus pada orang yang kedua ini.

Anda tentu juga setuju jika saya menaruh respek pada seorang tua yang memastikan bahwa jalanan di depannya tidak ada batu atau benda berbahaya lainnya, saat berdua bersama anaknya menunggu angkutan kota datang melintas. Itu juga berlaku untuk seorang supir yang memberi kesempatan jalan kepada seorang penyeberang jalan sambil menyalakan lampu hazardnya memberikan tanda agar kendaraan di belakangnya berhati-hati dan ikut memberikan jalan kepada si penyeberang jalan. Atau pada seseorang yang segera mematikan mesin motornya saat tiba di lingkungan Masjid saat menghadiri sholat fardhu lima waktu berjamaah.

Tidak ada aturan tertulis atas semua itu. Ini tentang moral, tentang etika, bukan aturan. Ini tentang kualitas kasih sayang bukan kuantitas. Ini tentang bagaimana memberi nilai lebih bukan pembiasaan hal biasa. Ini tentang bagaimana menghargai lebih pada seseorang atau pihak yang anda sayangi.

Kita tahu buah salak tumbuhnya di bawah, tepat di atas tanah, diantara gerumbulan duri-duri dan pupuk kandang yang mengelilinginya. Mengupasnya, dengan sedikit basah diantara kulit dan buahnya adalah hal yang wajar. Tetapi mensucikannya dengan air, buah salak yang sudah terkupas tadi, untuk memastikan buah tersebut terbebas dari najis, adalah sesuatu yang mempunyai nilai lebih.

Kita juga tahu bahwa telur ayam keluar dari pantat ayam, sebuah tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran ayam. Telur itu umumnya bercampur dengan kotoran tentu saja. Pada saat peternak menjualnya, umumnya hanya cukup mengelap telur tadi ala kadarnya. Makanya sering kita jumpai, sebagian telur yang terjual di pasaran masih terlekati oleh kotoran itu, walaupun kering. Jadi, mencuci dan mensucikan telur tersebut sebelum memecahkannya untuk dimasak jelas sesuatu yang mempunyai nilai lebih.

Sebuah keluarga membiasakan memakai sandal bersih di dalam rumah. Sandal atau alas kaki itu dipakai khusus pada saat anggota keluarga di rumah akan menunaikan sholat. Jadi, setelah mengambil wudhu dari kamar mandi, langsung memakai sandal itu hingga dilepas saat akan menginjak sajadah. Ini dimaksudkan untuk menghindarkan kaki dari menginjak najis yang ada di lantai yang dilewatinya. Najis bisa dari mana saja. Bisa dari kotoran cicak, bekas telapak kaki anak kecil yang bersuci kurang sempurna setelah pipis di kamar mandi, bekas kaki kucing yang berlari dari luar rumah dan masuk ke dalam, atau mungkin bekas basah kaki kecoa yang baru muncul dari comberan masuk ke rumah melalui lubang-lubang kecil yang ada.

Ini bukan was was, ini juga bukan tentang hal yang berlebihan, tetapi bagaimana bersikap hati-hati, bagaimana bersikap wara’, bagaimana memberi nilai lebih pada suatu hal. Sama seperti Imam Ghazali yang menganjurkan memijit dan mengurut (maaf) kemaluan dari ujung dua biji hingga ke pucuk dzakar setelah kencing, untuk memastikan tuntasnya semua air kencing keluar tanpa ada lagi tersisa di dalamnya.

Karena Kanjeng Nabi sudah dari dulu memperingatkan kita akan bahayanya orang yang tidak memperhatikan kesucian badan, pakaian dan tempatnya saat beribadah.

Sehari Bertemu Dua Orang Hebat

Satu orang luar biasa saya temui pagi ini, sekitar jam 08.05-an saat kami sekeluarga baru saja berangkat mengantarkan Ale ke tempat sunatan. Seorang nenek tua renta dengan badan kurus kering dan jalan membungkuk mendorong gerobak yang berisi barang-barang hasil memulungnya. Gerobaknya masih lumayan kosong saat itu. Tetapi kekaguman saya terhadap nenek itu jauh dari kosong. Bagaimana tidak kagum ? Disaat orang-orang seusianya yang ada di sisi makmur sedang enak menonton televisi atau bercengkrama dengan anak cucunya melewati waktu akhir minggu, dan orang-orang seusianya di sisi yang tidak beruntung sedang duduk bermalasan di trotoar jalan sambil menadahkan tangan, beliau masih dengan gigih mencari sendiri jalan rizkinya.

Satu orang hebat berikutnya saya temui saat kami pulang dari tempat sunatan dan sedang berhenti sebentar untuk membeli sebuah gift untuk teman Ale yang berulang tahun hari ini. Orang itu mulanya menabrak bagian belakang mobil saya, dan kemudian kembali menabrak spion mobil saya. Tentu saja saya tidak marah, karena beliau ini ternyata orang buta, dengan satu tangan memegang tongkat untuk menuntun arah, dan satu tangannya memegang kayu penuh dengan sejumlah kerupuk yang disungginya di atas kepala. Disaat teman-teman senasibnya dengan gampang meraih rupiah dari hasil berjalan dari satu toko ke toko yang lain dan dari rumah satu ke rumah yang lain sambil menjual iba, bapak satu ini justru memilih untuk lebih menghargai diri sendirinya dengan menjual kerupuk.

Dan lihat, dititik mana saya berdiri saat ini ? Seorang dengan kehidupan yang sangat alhamdulillah, tetapi masih saja tidak sabar saat menghadapi kemacetan di mobil ber-AC berkawankan musik jazz, masih menggerutu saat komputer di tempat bekerja lambat loadingnya, dan masih bermuka masam saat pelayan terlambat menghidangkan menu pesanannya.

Saya malu !

Ada yang senasib dengan saya ?

Mari saya ajak untuk malu secara berjamaah.

Hujan

Seorang bapak terlihat tergesa menyeret gerobak besar yang mengangkut barang-barang hasil memulungnya seharian. Dia bergegas berkejaran beradu cepat dengan rintik hujan yang mulai membesar. Dibelakangnya, sang istri terlihat berlari mencoba mengimbangi langkah cepat suaminya, sambil menggendong anaknya dan mencoba melindungi si anak sedapatnya dengan satu telapak tangan yang ditutupkan di atas kepala si anak.

Mereka kemudian berteduh di sebuah bangunan yang menjadi penyangga gapura besar yang melintang di atas dua jalur jalan di depan sebuah komplek kantor pemerintahan. Ibu dan anak langsung masuk ke bangunan tersebut, mencoba menghindari air hujan yng terbawa angin. Sementara si bapak berdiri di sebelah luar bangunan sambil mengedarkan pandang ke atas berkeliling, seolah sedang menebak berapa lama hujan akan berlangsung.

Sekitar lima belas menitan keluarga itu berteduh, ketika tiba – tiba seorang berseragam CS (Cleaning Service), memakai helm di kepalanya sebagai pelindung hujan, dan berwajah lugu, tiba – tiba mendatangi mereka dan memberikan sejumlah uang yang mungkin setara dengan penghasilan empat atau lima hari mereka. CS itu tidak banyak mengucapkan kata, dan kemudian berlalu.

CS berlari menembus hujan, lelaki pemulung dan keluarganya ternganga heran dengan rejeki yang tidak diduganya. Sementara itu, di lantai 3 sebuah kantor yang letaknya tidak jauh dari gapura itu, seseorang dari balik kaca jendela terlihat tersenyum melihat kejadian itu dengan rasa syukur di dada karena dilibatkan Tuhan dalam skenario indahNYA.

Hujan makin deras berkolaborasi dengan angin, malam menggelap, dan bapak, ibu, beserta anak itu mungkin sedang terdiam dalam syukur.

MAHA KUASA

Kejadian yang pernah saya tulis DISINI mengajarkan dan membalikkan persepsi saya atas dua hal

Pertama, makin mempertegas dan menyadarkan diri bahwa jika Alloh berkehendak, maka tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Penjelasannya begini. Saya sudah mulai membina dan membangun sebuah keluarga bahagia sejak tahun 2003 dan sampai sekarang, 8 tahun lebih, alhamdulillah tidak banyak mengalami guncangan berarti. Kami sekeluarga hidup dengan nyaman, bahagia, sejahtera, penuh kerahmatan, atau bahasa damainya sakinah mawaddah warohmah.

Andaikan saja, dalam kejadian yang saya tulis DISINI tadi kemudian Alloh menakdirkan lain, mohon maaf, misalnya korban akhirnya meninggal, maka mungkin saja saya sekarang sudah masuk ke dalam penjara tanpa kesalahan yang saya lakukan. Anak dan istri terguncang psikologisnya, dan bukan tidak mungkin kami menjadi keluarga yang berantakan tidak lagi seperti dulu. Alloh bisa mengubah kondisi keluarga kami yang kami bangun dengan hati-hati sejak tahun 2003, hanya dalam hitungan detik. SUBHANALLOH

Kedua. Dalam tulisan yang saya posting DISINI, saya menyebutkan bahwa sebelum berkendara kami sudah membaca doa, berhati-hati, dan mengendarai kendaraan sesuai dengan aturan yang ada. Artinya, saya sudah menempuh syarat2 rule dan ritual yang seharusnya menjamin keselamatan saya.

Selama ini saya selalu beranggapan bahwa jika kita membaca doa dan berhati-hati, maka Alloh pasti akan menjaga keselamatan kita. Ternyata saya tidak sadar sudah riya, mengagung-agungkan “effort” saya dalam berdoa dan berhati-hati.

Dengan kejadian ini, seolah Alloh berkata : “effortmu itu tidak ada artinya dibanding kekuasaanKU. Semua yang terjadi di dunia ini adalah karena kuasaKU, bukan karena effortmu, manusia !” SUBHANALLOH.

Hidup

Tadinya saya berpikir, bahwa kuliah adalah hal yang paling saya pentingkan untuk saat ini.

Tapi kemudian berubah, karena toh kuliah merupakan salah satu bagian dari kepentingan karier saya sebagai PNS. Jadi, saya pikir pekerjaan lebih penting dari kuliah.

Itu pun berubah lagi, karena kemudian saya merasa apalah artinya pekerjaan jika anak istri tidak bahagia. Jadi, saya berpendapat bahwa fokus hidup saya hanya untuk anak istri. Saya kuliah hanya untuk anak istri, saya bekerja hanya untuk anak istri. Semua demi kebahagiaan keluarga.

Terakhir, saya tersadarkan bahwa ternyata hal yang paling saya anggap penting,anak istri saya, semuanya hanya titipan. Karena hidup harusnya sesuai dengan kalimat : ” Innas sholaati, wanusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN.

(Jangan) Beri Saya Alasan !!

Bagi saya dan keluarga, bulan November ini adalah bulan penuh pembiayaan.
– Biaya rutin bulanan, pelunasan hutang rata2 mengambil 35% dari penghasilan kami
– Biaya kuliah harus lunas, kalo gak mau dilarang ikut UTS
– Biaya pajak mobil
– Biaya pajak motor
– Biaya service berkala motor tiap 4000 KM
– Biaya sekolah, chatering dan jemputannya Ale
– Biaya terapi dan les Ale
– Biaya – biaya lain yang besarannya cukup signifikan

Tetapi, sungguh, atas akan terjadinya biaya – biaya di atas, saya tetap tidak bisa menjadikan itu semua sebagai alasan bahwa saya harus “melewatkan” hari Qurban tanpa melakukan apapun.

Kenapa ?
Karena saya sudah diberikan kesehatan
Karena orang tua saya sudah diberikan kesehatan dan ketenangan ibadah
Karena istri saya sudah diberikan kesehatan
Karena Ale sudah diberikan kesehatan
Karena Dhican sudah diberikan kesehatan
Karena kami sudah diberikan keluarga yang menyenangkan
Karena kami sudah diberikan banyak kesempatan untuk berlibur sepanjang tahun
Karena kami sudah diberikan rumah yang damai
Karena kami sudah diberikan mobil yang nyaman
Karena kami sudah diberikan rizki yang layak
Karena kami masih mengenal orang – orang Sholih
Karena kami sudah mendapatkan teman – teman yang baik
Karena kami sudah mendapatkan ketetapan Iman ihsan yang insya Alloh semoga selalu terjaga
Karena kami masih bebas menghirup udara
karena kami mendapatkan air yang melimpah
Karena kami masih bisa menikmati sinar mentari di setiap kami membuka mata di pagi hari

Karena bahkan jika semua air lautan dijadikan tinta, maka nikmat Tuhan pun tidak akan pernah selesai tertuliskan..

Sungguh nikmat Alloh yang diberikan kepada kami sepanjang tahun, juga kepada kita semua, tidak bisa dihitung oleh jari, lidah, pikiran, bahkan hati kami. Lalu, adakah alasan bagi saya untuk tidak berkurban Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000,00 untuk seekor kambing atau Rp 12.000.000,00 untuk seekor Sapi ? Sementara itu kami sadar, bahwa qurban ini adalah ibadah yang mempunyai nilai vertikal (quroba, mendekat kepada Alloh) dan horizontal (berbagi daging/rizki kepada sesama) sekaligus. Jadi, wallohi, bukan bermaksud riya, saya benar – benar mati kutu, tidak bisa menemukan alasan untuk menghindar dari kegiatan berkurban dengan ikhlas ini 🙂

Duduklah

Mungkin resepsi pernikahan (Walimatul ‘Ursy) teman istri yang saya hadiri saat itu, bukan yang terbaik yang pernah saya ketahui. Tetapi ada sebuah pemandangan berbeda di acara kali ini.

Disaat standing party menjadi pemandangan yang biasa dalam acara – acara sejenis, disaat tuan rumah hanya menyediakan kursi dan meja dalam jumlah yang terbatas, para tamu biasanya akan mengambil posisi makan dan minum sambil berdiri. Nah beberapa orang (sepertinya mereka satu keluarga) yang terdiri dari beberapa bapak, ibu, dan anak – anak ini, yang kebetulan kerabat dari si pengantin, datang dari Banten, mereka memilih lesehan di gedung tempat acara tersebut dilangsungkan.

Kendati tidak ada karpet, dan disekitarnya orang asik berdiri bahkan berseliweran, keluarga ini tetap menerapkan Sunnah Rosul untuk menikmati makan dan minum dengan posisi duduk. Mereka tidak memperdulikan pandangan aneh dari para tamu yang lain. Saya yakin anda semua sudah tahu tentang pentingnya makan dan minum sambil duduk karena kajian kesehatan tentang itu dan bahaya bagi yang tidak melakukannya sudah banyak bisa kita dapatkan di berbagai media cetak dan elektronik.

Sebuah keluarga yang luar biasa, semoga bisa menginspirasi.

3 Pertanyaan

Senang rasanya tiap melakukan pendakian sebuah gunung selalu menemukan teman – teman baru, dan bertemu kembali dengan sobat – sobat lama, kemudian saling berbagi cerita, dan saling berbagi tawa.

Di pendakian terakhir, saya bertemu seorang sohib, dan iseng melemparkan sebuah kalimat

“sobat, apakah kamu pernah mempunyai sebuah pertanyaan liar yang mungkin sampai sekarang masih belum terjawab ?”

“Ya, !” Jawab teman tadi

“Jika putaran atau rotasi bumi dibalik, tanpa menimbulkan efek rusak, dapatkah kita memutar ulang waktu, kembali ke masa lalu ?”

Wow, itu pertanyaan yang bagus, karena rotasi bumi jelas berhubungan langsung dengan perjalanan waktu. Tetapi untuk hal ini Allah jelas – jelas sudah menjawabnya, bahwa jika rotasi bumi dibalik, itu akan menjadikan matahari terbit dari sebelah barat, dan itu jelas – jelas suatu tanda kiamat kubra, kiamat besar, dimana bumi dan seisinya akan hancur. Artinya, jelas tidak mungkin membalikkan rotasi atau sekedar menghentikan rotasi, tanpa menimbulkan kerusakan.

Kami melanjutkan diskusi santai sambil terlentang menatap atap tenda. Kemudian saya mengungkapkan, bahwa saya sendiri (pernah) mempunyai dua pertanyaan yang cukup menggoda.

Pertama, tentang Lailatul Qadr, adakah lailatul qadr itu datangnya bersamaan di seluruh muka bumi ini ? Karena logikanya di saat satu daerah di bumi ini sedang mengalami malam, tentu daerah lainnya sedang mengalami siang. Atau mungkin di daerah yang siang itu dinamakan Siang Qadr, bukan Malam Qadr ?.

Kedua , tentang penggunaan bulan sebagai penghitung hari, bulan dan tahun, atau penanggalan (qamariah). Islam selama ini menggunakan bulan sebagai penanggalannya, penunjuk, pergantian, dan penghitungan waktu. Tetapi kenapa untuk masalah waktu sholat, menggunakan pedoman matahari ? Bukankah waktu sholat itu bagian dari hari, dan hari bagian dari bulan, dan bulan bagian dari tahun, dan keseluruhannya tercakup dalam perhitungan penanggalan ?

Dua pertanyaan itu, bukan dalam rangka menyangsikan kebenaran, tetapi lebih pada mencari hakikat atau esensi “kenapa sesuatu bisa begitu“. Alhamdulillah Allah Yang Maha Mengetahui, membimbing saya untuk mengetahui jawabannya. So, bagaiaman dengan anda, adakah pertanyaan menarik yang sampai sekarang masih bersemayam di benak anda ?