Menapak Camping Ground Lereng Salak

Saya sering menggunakan kegiatan naik gunung sebagai sarana untuk memberikan hak bagi tubuh dan jiwa atas refresh, menarik diri dari keramaian, dan menciptakan jarak dari suatu keadaan. Dengan itu, saya menjadi punya waktu untuk menikmati alam, menemukan cara pandang baru atas suatu masalah, menemukan kembali gairah hidup, dan bahkan menemukan rasa rindu dan cinta pada keluarga yang mana hal itu mungkin tidak akan saya rasakan saat saya berada di dekat orang tua, istri, dan anak-anak.

Mungkin itu juga yang kemudian mendasari kantor tempat saya bekerja untuk mengadakan acara outing bersama satu kantor ke suatu tempat yang jauh dari keramaian, dengan tujuan untuk merefresh para pegawainya yang selama ini terjebak dalam tekanan rutinitas yang cenderung membosankan.

FILE145

Kami memilih mengadakan acara camping di Batu Tapak, Cidahu Sukabumi. Ini sebuah keputusan yang berani, mengingat selama ini acara kantor identik dengan hotel dan penginapan dengan bangunan permanen. Sedangkan saat kita membicarakan kata “camping”, maka yang terbayang pertama kali adalah dingin, hutan, tidak nyaman, tidur beralas tanah, ular, liar, males masak makanan, dan seterusnya dan seterusnya.

Nah Batu Tapak ini menjadi lokasi yang cocok bagi sebuah corporate, instansi, maupun sebuah kelompok yang ingin mengenal bagaimana sih rasanya camping, tanpa harus kawatir atas hadirnya sejumlah ketidaknyamanan tadi. Untuk paket VIP, Batu Tapak menyediakan sejumlah tenda yang dilengkapi dengan kasur, bantal, selimut, air panas dalam termos, air mineral, sejumlah sachet minuman teh dan kopi, serta free breakfast.

03_5 03_6

Perjalanan dari kantor ke lokasi relatif lancar. Sampai di lokasi sekitar jam tiga sore, kemudian langsung disambut welcome drink berupa satu gelas dingin asam Jawa. Peserta camp kemudian dipersilahkan untuk menuju camp  masing – masing sesuai dengan pembagian camp dari panitia. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sejumlah permainan untuk menghangatkan suasana hingga petang.

Malamnya, acara dilanjutkan dengan makan, malam keakraban, dan rapat pembinaan. Walaupun judulnya outing, sebenarnya rapat inilah yang menjadi acara utamanya. Sengaja dibarengkan dengan acara outing, supaya pegawai mempunyai kenyamanan dalam berpikir, mengemukakan pendapat dan ide, serta berdiskusi antar lini jenjang birokrasi. Beruntung kami punya CEO semacam Pak Ihsan ini yang humble dan mau mendengarkan semua keluhan, pendapat, maupun ide para pegawai di jajarannya.

Acara rapat berlangsung serius tapi santai, dan berakhir menjelang jam 11 malam. Kemudian dilanjutkan dengan acara api unggun dengan menampilkan sejumlah performance dari beberapa rekan yang ditunjuk secara spontan. Pisang goreng, jagung rebus, singkong goreng, sate ayam, dan kambing guling menjadi korbannya.

02

Pagi hari, udara segar tersedia, sebuah kenikmatan yang mahal kita dapatkan di perkotaan. Kualitas udara dan pemandangan di sekitar lokasi camping menjadi bonus tersendiri dari acara kali ini.

Ini view dari belakang lokasi

03_1

Dan ini view dari resto atau bagian depan  lokasi

03_3

03_4

03_2

Saatnya rutinitas ritual pagi. Khusus untuk acara-acara seperti ini, saya memang selalu mandi tanpa menggunakan sabun, karena biasanya tempat – tempat seperti ini akan mengalirkan air bekas mandi ke arah sungai terdekat. Dan kita semua tahu, sungai di bagian hulu adalah air dengan kualitas terbaik. Sungguh sayang jika harus mencemarinya. Dan ternyata, ada beberapa rekan kantor yang lebih hebat dari saya dalam mencintai alam dengan memilih tidak mandi, baik sore kemarin maupun pagi ini. Memang antara cinta alam dan males mandi itu bedanya tipis. Hahahaha…

Setelah ritual pagi, acara dilanjutkan dengan senam bersama. Acara berlangsung menarik, karena Mas Chawank -seorang penggiat pecinta alam yang ditunjuk oleh EO Batu tapak sebagai instruktur senam- sukses memimpin dengan suasana yang fun. Kredit poin juga pantas diberikan kepada beberapa rekan kantor yang menciptakan “senam pinguin” dengan gerakan-gerakannya yang lucu.

04

Setelah sarapan pagi, acara dilanjutkan dengan trekking ke air terjun Undak Dua. Lokasinya sekitar 40 menitan dari lokasi camping jika ditempuh dengan jalan kaki. Medan jalanan berupa jalan setapak dengan variasi melewati sungai, kebun, pematang sawah, dan hutan pinus.

05_1 05_2 06 ??????????????????????????????? 08

Air terjun Undak Dua itu sendiri adalah sebuah air terjun yang tidak begitu tinggi dan cukup menarik untuk dikunjungi. Para peserta trekking kemudian menikmati suasana dengan mandi, bermain air, dan (mungkin juga) pipis di tempat. Hahaahaha….

09_1 10 11 11_1

Setelah dirasa puas menikmati suasana sekitar air terjun, kemudian peserta trekking kembali ke camp untuk makan siang, berkemas, dan kembali ke Tangerang.

Eh temans, lain kali, kalo ada acara trekking beginian, jangan lupa sambil mungutin sampah yang ada di jalan setapaknya ya. Bagaimanapun juga, anak cucu dan generasi penerus kita punya hak atas udara, air, dan tanah yang baik.

13

Salam lestari ! Hokya- hokya !

* Freddy, Nanda, Mas Yudi, Pak edi, Candra, dan Wisnu, thx atas sumbangan foto-fotonya, dan sekalian mohon ijin buat share dimari  😀

Advertisements

(Mungkin) Tetangga Kiri

Seorang wanita tua warga keturunan. Mungkin memang mempunyai kelainan sosial sejak dulu, mungkin juga tidak. Sejak kematian ibunya yang sudah sangat renta, wanita yang tidak bersuami dan tidak beranak ini tinggal sendirian di rumah kontrakan yang diklaim sebagai miliknya itu.

Usianya mungkin 60 tahunan, mungkin kurang, mungkin juga lebih. Raut mukanya banyak kerut yang mungkin memang menandakan usia tuanya, atau mungkin karena banyaknya pikiran yang memenuhi kepalanya. Semua serba sebuah” kemungkinan” dan tidak terkonfirmasi karena wanita ini memang menolak saat kami ajak bersosialisasi.

Sering saat malam dia terbangun, kemudian terlihat terlibat pembicaraan dengan nada tinggi, entah dengan siapa. Atau tiba-tiba memukul-mukul tembok dengan palu entah sedang memasang sesuatu atau entah apa, yang jelas itu sungguh mengganggu karena dilakukan pada jam dua pagi. Terkadang menyetel musik mandarin keras – keras dengan lagu yang itu – itu saja, dan sekali lagi, ini dilakukannya diwaktu orang sedang terlelap tidur, jam dimana bahkan pocong dan malingpun mungkin merasa terusik.

Saat keluarganya tiba, kami selaku tetangga terdekatnya mendatanginya. Bukan untuk mengadu maupun protes, tapi kami niatkan mengunjungi untuk memberitahukan kepada keluarga tersebut agar lebih sering mendatangi, menemani, maupun mengajaknya berkomunikasi agar si wanita tidak merasa kesepian, dan setidaknya mengurangi kadar stressing yang menyerangnya.

Mungkin ini kabar gembira, atau mungkin juga suatu saat nanti kami akan merasa kehilangan, tapi keluarga itu memberi jawaban bahwa wanita ini akan dipindahkan di sebuah rumah kontrakan yang lain yang letaknya relatif tidak jauh dari sanak familynya. Kami bersimpati, dan bergembira untuk dia. Dan mungkin juga bergembira untuk kami sendiri.

(Mungkin) Tetangga Kanan

Mungkin mereka orang kaya. Mungkin juga kaya tapi nanggung. Rumahnya tingkat, punya tiga mobil, sayang garasinya hanya muat dua mobil. Satu mobil lagi diparkir di tanah fasum yang sudah dimatikan, dipavingblock, dan dibuatkan kanopi di atasnya. Mungkin ini sudah seijin para tetangganya, mungkin juga belum. Dan kami bersimpati atas pemahamannya tentang hak milik.

Mobil ketiga itu dipakai oleh anak pertamanya yang baru saja lulus SMU. Anak ini meninggal sekitar seminggu yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal saat menaiki motor ninjanya. Para tetangga kemudian menghibur keluarganya, memandikan jenasahnya, mengkafani, menyolati, menguburkan, dan membacakan doa-doa selama tujuh malam.

Dan mobilnya masih tiga.