Yaaa bunayya…

*Hai Solih.

Akan selalu ada kata “belajar yang solih ya” dari mulutku untuk mengantarmu sekolah. Bukan pintar, tapi solih. Karena solih itu pintar yang adil. Solih itu pintar yang mempunyai nilai sosial. Solih itu pintar yang terarah.

**Hai Solih,

Mungkin aku akan lebih sering bilang “jadilah anak yang solih”, bukan sekedar anak yang baik. Karena solih itu baik yang sesuai kriteria baiknya Tuhan. Kadang baik buat kita, belum tentu baik buat orang lain. Solih itu baik yang memberikan manfaat kepada orang lain. Solih itu baik yang rohmatan lil ‘aalamiin.

***Hai Solih,

Mungkin aku lebih memilih kamu jadi anak solih daripada hanya anak rajin. Karena solih itu rajin yang istiqomah. Solih itu rajin yang konsisten. Solih itu rajin yang berkeyakinan.

****Hai Solih,

Kelak besar nanti, aku doakan kamu jadi orang yang solih, bukan orang yang kaya. Karena solih itu kaya yang membumi. Solih itu kaya yang amanah. Solih itu kaya yang berbagi. Solih itu kaya yang mengayomi.

*****Hai Solih

Aku akan selalu memanggilmu anak solih, bukan ganteng. Karena ganteng itu aku, bapakmu !

Advertisements

Sowan “Mbah Rowo”

Mengunjungi Rawa Pening adalah salah satu keinginan saya miliki sejak lama. Dan ternyata istri pun punya keinginan yang sama. Akhirnya, kami membuat rencana liburan ke Magelang, dengan paket tambahan mengunjungi objek wisata sekitar kota Ambarawa. Tujuan awal kami hanya Museum Kereta Api dan Rawa Pening. Sebenarnya masih ada bukit Telomoyo dan Komplek Candi Gedong Songo yang juga menarik untuk dikunjungi, tetapi mengingat waktu liburan kami tidak banyak (dan saya masih belum mahir menyetir), akhirnya dua objek terakhir kami simpan untuk waktu yang akan datang, insya Alloh.

Ambarawa mungkin berasal dari kata Amba (baca : Ombo, artinya luas) dan Rawa (baca :Rowo, artinya ya rawa), dan masyarakat sekitar jawa sering menyebut simpelnya :Mbah Rowo. Perjalanan Magelang-Ambarawa sebenarnya bisa saya (baca : ganteng) tempuh sekitar 1 jam saja, asalkan lancar. Tetapi, karena jalurnya melewati perbukitan, dan jalan yang kami lalui merupakan jalan propinsi yang menjadi jalan utama penghubung kota Semarang-Magelang-Yogyakarta, jadilah perjalanan kami menjadi 2 jam karena harus bersabar dengan antrian truk-truk besar yang banyak melalui jalan tersebut.

Objek wisata Museum Kereta Api Ambarawa saat ini dapat dikatakan sedang tidak aktif. Jadi, pengunjung bebas masuk tanpa dikenai tarif apapun (kecuali tarif parkir). Berbagai jenis lokomotif jaman dulu  bisa kita jumpai di sini. Termasuk koleksi dokumentasi foto-foto kereta jaman dulu. Sayang, tidak ada kereta uap maupun lori yang beroperasi saat itu, sehingga kami gagal menikmati naik kereta jadul mengelilingi alam ambarawa yang indah.

Rencananya komplek museum ini memang sedang di-non aktif-kan dulu, karena akan dipugar dan dibangun lebih baik, agar bisa menjadi wisata andalan Ambarawa pada khususnya, Jawa Tengah pada umumnya, dan tentu saja Indonesia (di dunia hanya ada 3 objek wisata sejenis, satu diantaranya ya yang di Ambarawa ini).

Selesai mengelilingi Museum Kereta Api, kemudian kami mengarahkan mobil kami ke Rawa Pening. Jalan menuju objek wisata ini sekarang sangat mudah. Dengan dibangunnya outer ring road yang melewati sisi timur kota Ambarawa, emmbuat perjalanan menjadi lancar dan pengendara disuguhi pemandangan yang sungguh indah. View dari jalan ini masih sangat terbuka, tidak banyak bangunan di sisi kiri kanan jalan. Pemandangan sawah yang menghampar luas, perbukitan “kaki-kaki” Gunung Merbabu, serta hamparan Rawa Pening yang sebagian besar tertutupi eceng gondok, menjadikan jalan ini lebih menarik.

Rawa Pening tepat ada disisi jalan outer ring road ini, sehingga menarik untuk dikunjungi. Disini, pun sudah dilengkapi dengan fasilitas area parkir yang luas, tempat sholat, arena bermain becak air, arena permainan ATV, penyewaan perahu motor mengelilingi rawa, dan dua warung makan apung. Warung makan apung ini menarik, karena untuk menuju ke tempat itu, kita harus naik rakit dulu. Letak warung ini benar-benar terapung, karena didirikan di atas drum drum yang diikat dan mengambang. Jadi, pada saat makan, kita secara otomatis akan ikut bergoyang goyang pelan, seperti layaknya makan di kapal di tengah laut. Buat yang belum terbiasa, mungkin ini akan sedikit mengganggu.

Ah, suatu saat nanti, saat Museum Kereta Apinya sudah jadi, saat Rawa Pening sudah tertata lebih rapi, dan saat waktu mengijinkan untuk mengeksplorasi Telomoyo dan Gedong Songo, saat itu semoga kami masih sehat dan diberi kesempatan sekali lagi untuk mendatanginya. Semoga.

Senyum Orang Tua Sepanjang Bibir, Senyum Anak Sepanjang Jalan

Melakukan perjalanan darat dengan mobil, dari Tangerang ke Magelang, kemudian ke Tangerang lagi, bisa jadi akan sangat melelahkan dan menjemukan. Itu terjadi jika anda memilih kawan seperjalanan yang salah, yang membosankan, suka mengeluh, dan tidak mensupport, terutama jika saat itu posisi anda adalah sebagai pembawa kendaraan (istilah kerennya : supir)

Tapi saya beruntung punya teman abadi seperjalanan bernama Bunda (bukan nama sebenarnya), Ale (nama jahilnya), dan Dhiya (nama lucunya). Mereka berkolaborasi untuk menciptakan suasana nikmat di mobil, sehingga perjalanan jauh pun bisa dinikmati dengan nyaman. Terhadang demo buruh di Cikampek, dan terjebak perbaikan jalan di dua kota, Brebes dan Pemalang pun tidak menjadi terasa menyiksa.

Bunda misalnya, dia kebagian supporting mengatur makan dan minum buat anak-anak dan driver. Dia juga kebagian turun dari mobil buat belanja dan pesan ini itu untuk keperluan perjalanan. Bahkan saya harus melanggar kode etik untuk tidak menerima suap karena suapan si bunda selama saya menyetir dalam perjalanan sungguh menggoda iman.

Dhiya alias Dhican alias Baby, tidak kalah lucu. Si bontot ini sering mengeluarkan joke-joke yang membuat kita tertawa semua. Berikut tiga diantarannya :

*) Dhican : ” Mie, mie apa yang bau ?”

All .“Enggak tau, emang mie apa ?”

Dhican : “Mie Kuaaaahhhhhhh”

Dhican menjawab sambil bilang “h”nya dipanjangin dan memenyongkan mulutnya ke kami semua

**) Dhican : “chibi, chibi apa ya bau ?”

All : “enggak tau, emang chibi apa ?”

Dhican : “chibi chibi chibi, hah hah hah hah !!

Jawabnya sambil niruin jawaban personil cherrybelle, tapi “hah”nya sekali lagi dimonyong2in ke kami hingga kebauan.

***) Dhican :“mobil, mobil apa yang manis ?

All : (setelah berpikir dan menebak dgn berbagai tebakan cerdas dan semua dianggap salah sama Dhican)“enggak tau, emang jawabannya mobil apaan ?”

Dhican : “mobil dikasih gula”

Jawab Dhican cuek

Ale juga tidak kalah. Ide konyol kadang sering keluar dari otaknya yang jahil karena kebanyakan konsumsi kartun Tom and Jerry sewaktu kecil. Saat menentukan menu makan siang, Ale memprotes keputusan kami (para ortu) yang akan makan sate tegal selepas keluar dari Tol Kanci, sedangkan anak-anak cukup dibelikan drive thru makanan cepat saji. Dan anak ini mengusulkan agar beli Sate Tegalnya juga harus Drive Thru biar adil !

Anak ini juga dikaruniai kelebihan dalam hal bersosialisasi dan cepat akrab dengan semua orang yang tidak dikenal sebelumnya.¬† Saat mampir makan di sebuah persinggahan misalnya, dengan pedenya dia langsung nyerocos ke si penjual : “Mbak, mbak, si mbak pasti belum kenal saya khan. Saya sering lho mampir beli disini. Pasti mbak belum pernah lihat saya. Saya kan orang Tangerang”

Satu lagi kejadian pada saat beli bensin, saat perjalanan Magelang-Tangerang memasuki kota Kebumen. Si petugas penjual seperti biasanya akan berkata :“dimulai dari nol yaaa…”. Nah kebetulan si penjual ingin berakrab-akraban dengan Ale yang memang ramah. Iseng si petugas menanyakan dari mana kami berangkat :

Petugas : “dari mana dhek ?”

Ale : ” dari nol !!”