Si Pengusaha Kecil

Ditariknya kembali serabut yang melekat di kulit kelapa itu sampai dirasa cukup rata dengan bagian lainnya. Kemudian dipasangnya paku – paku kecil di beberapa bagian pinggir kulit kelapa itu, dilanjutkan dengan melilitkan benang dari paku yang satu ke paku yang lain hingga saling bertautan. Setelah itu, dia tancapkan lidi yang sebelumnya sudah di raut tajam pada salah satu ujungnya, dan ditempel bendera dari kertas di ujung lainnya. Jadilah perahu dari kulit kelapa yang siap dijual kepadateman-temannya.

Jualannya tidak hanya perahu dari kulit kelapa. Lain waktu dia juga menjual pesawat dari kertas bikinannya sendiri. Semua itu melengkapi bisnis utamanya berupa jajanan makanan kecil dan permen yang biasa dititipkan di warung ibunya. Usianya 9 tahun saat itu.

33 tahun kemudian…

Ale seorang remaja 14 tahunan, terlihat semangat membantu ibunya melipat kardus-kardus kecil sedemikian rupa hingga menjelma menjadi tempat yang siap menampung empat buah dimsum, satu buah garpu, dan satu plastik kecil saus sebagai pelengkap. Setelah itu, setiap packing akan ditempeli stiker label merk jualannya.

Pagi ini Ale akan berjualan dimsum di gedung kantor ayahnya. Kendati masih bermasalah dengan pilihan kata dan cara mengungkapkan dalam kalimat verbal yang lazim, pergaulannya yang luwes dan lintas usia membuat Ale cepat diterima di lingkungan baru, termasuk di gedung kantor tempat ayahnya bekerja. Puluhan orang dan ruangan telah dia kenal dengan baik, sehingga tidak salah jika dia berharap jualannya kali ini bakal laku terjual.

Ale, secara pribadi,  memang sedang memasuki tahapan usia yang mulai mengenal materi, kekayaan, penghasilan, dan biaya. Keterlibatannya dalam sekolah Surau Merantau (sekolah setingkat SMP) bagaikan air menemukan kolamnya, botol bertemu tutupnya. Kemandirian dan insting dalam mencukupi kebutuhannya sendiri terlihat mulai bertunas. Tak kurang, dari mulai membuat usaha telur gulung, berjualan susu kacang, jualan roti, jualan buah potong, menjadi sales bagi teman-teman sekolahnya yang mempunyai barang hasil produknya sendiri, barang dagangan beberapa UMK yang berjualan di sekolahnya, hingga membuka jasa cuci motor pernah dilakukan Ale.

Saat mencoba menjadi pengusaha telur gulung, Ale merugi. Telurnya tidak bisa digulung, karena pengaturan komposisi bahan-bahannya yang salah. Akhirnya pembeli pun tidak didapat, sementara dia terlanjur sudah mempekerjakan seorang asisten yang dijanjikan akan diberinya upah sekian rupiah.

Saat berjualan susu kacang, terdapat cerita menarik. Hari itu susu kacang jualan Ale masih tersisa lima bungkus. Hari menjelang sore. Jika kelima bungkus susu kacang itu tidak terjual, Ale akan merugi. Lingkungan sekolah dan Masjid Quba sudah dia datangi, jadi Ale harus mencari lokasi jualan yang lain. Tiba-tiba terlintas akal untuk mendatangi ustad Agus, imam tetap Masjid Quba, dengan tujuan silaturrohim. Setelah diterima oleh sang Ustad dan ngobrol panjang, Ale pun menceritakan kisah usaha jualannya hari itu. Gayung bersambut, Sang Ustad pun tergerak untuk memborong sisa lima bungkus susu kacang yang dibawanya.

Saat memilih usaha cuci motor, Ale tidak mengeluh untuk mengayuh sepeda dari sekolah menuju rumahnya yang berjarak sekitar 5 km, untuk mengambil alat-alat cuci motor milik ayahnya seperti ember, sabun cuci motor, spoon, dan kanebo. Saya membayangkan anak remaja itu mengayuh sepeda di tengah terik matahari, sambil tangan kiri memegang ember berisi barang-barang dan tangan kanan memegang stang sepeda untuk kestabilan laju sepeda. Dan itu menempuh jarak 5 kilometer, bolak -balik jadi 10 kilometer.

Sebenarnya berjualan bukan hal baru bagi Ale. Saya masih ingat, saat usianya masih anak-anak, Ale berjualan batu cincin di sekolahnya. Batu-batu itu didapatkan dari berbagai sumber. Ada yang beli jadi, ada yang beli batu mentah kemudian dibawanya ke tukang pembuat cincin, ada juga sisa batu mentah yang dia kumpulkan secara gratis dari tetangga omnya yang pengusaha batu cincin.

Pernah juga Ale berjualan tutup ban motor (pentil). Nakalnya, barang dagangannya disamping didapatkan melalui cara membeli ke penjual, juga diperoleh dengan cara mencuri dari sejumlah ban motor yang diparkir di seputaran sekolah, kampung, maupun sekitar masjid. Itu dulu, insya Allah sekarang Ale sudah insyaf. Sudah tahu mana benar mana salah. Mana halal mana haram. Mana boleh mana tidak boleh. Mana bernilai keberkahan mana bermuatan mudharat.

Banyak hal yang begitu memenuhi benaknya saat ini. Ale ingin menjadi pengusaha muslim yang sukses, punya usaha otobis layaknya Haji Haryanto, dan bisa membeli tanah dimana-mana, termasuk di kawasan Anyer, Serang, Banten. Kawasan yang dikenalnya melalui ayahnya yang pernah mengajaknya ke sebuah lokasi tanah ladang/perkebunan di salah satu bukit yang berbatasan langsung dengan kawasan wisata Anyer.

Sang ayah, lelaki yang 33 tahun lalu membuat  perahu dari kulit kelapa, hanya bisa mendoakan yang terbaik, membagi pengalaman, serta mendorong dan mengarahkan semangat positifnya agar tujuannya dapat dicapai dengan baik.

Advertisements