(Mungkin) Tetangga Kiri

Seorang wanita tua warga keturunan. Mungkin memang mempunyai kelainan sosial sejak dulu, mungkin juga tidak. Sejak kematian ibunya yang sudah sangat renta, wanita yang tidak bersuami dan tidak beranak ini tinggal sendirian di rumah kontrakan yang diklaim sebagai miliknya itu.

Usianya mungkin 60 tahunan, mungkin kurang, mungkin juga lebih. Raut mukanya banyak kerut yang mungkin memang menandakan usia tuanya, atau mungkin karena banyaknya pikiran yang memenuhi kepalanya. Semua serba sebuah” kemungkinan” dan tidak terkonfirmasi karena wanita ini memang menolak saat kami ajak bersosialisasi.

Sering saat malam dia terbangun, kemudian terlihat terlibat pembicaraan dengan nada tinggi, entah dengan siapa. Atau tiba-tiba memukul-mukul tembok dengan palu entah sedang memasang sesuatu atau entah apa, yang jelas itu sungguh mengganggu karena dilakukan pada jam dua pagi. Terkadang menyetel musik mandarin keras – keras dengan lagu yang itu – itu saja, dan sekali lagi, ini dilakukannya diwaktu orang sedang terlelap tidur, jam dimana bahkan pocong dan malingpun mungkin merasa terusik.

Saat keluarganya tiba, kami selaku tetangga terdekatnya mendatanginya. Bukan untuk mengadu maupun protes, tapi kami niatkan mengunjungi untuk memberitahukan kepada keluarga tersebut agar lebih sering mendatangi, menemani, maupun mengajaknya berkomunikasi agar si wanita tidak merasa kesepian, dan setidaknya mengurangi kadar stressing yang menyerangnya.

Mungkin ini kabar gembira, atau mungkin juga suatu saat nanti kami akan merasa kehilangan, tapi keluarga itu memberi jawaban bahwa wanita ini akan dipindahkan di sebuah rumah kontrakan yang lain yang letaknya relatif tidak jauh dari sanak familynya. Kami bersimpati, dan bergembira untuk dia. Dan mungkin juga bergembira untuk kami sendiri.

Advertisements

(Mungkin) Tetangga Kanan

Mungkin mereka orang kaya. Mungkin juga kaya tapi nanggung. Rumahnya tingkat, punya tiga mobil, sayang garasinya hanya muat dua mobil. Satu mobil lagi diparkir di tanah fasum yang sudah dimatikan, dipavingblock, dan dibuatkan kanopi di atasnya. Mungkin ini sudah seijin para tetangganya, mungkin juga belum. Dan kami bersimpati atas pemahamannya tentang hak milik.

Mobil ketiga itu dipakai oleh anak pertamanya yang baru saja lulus SMU. Anak ini meninggal sekitar seminggu yang lalu dalam sebuah kecelakaan tunggal saat menaiki motor ninjanya. Para tetangga kemudian menghibur keluarganya, memandikan jenasahnya, mengkafani, menyolati, menguburkan, dan membacakan doa-doa selama tujuh malam.

Dan mobilnya masih tiga.

Media

Saya hadir saat di sebuah ceramah yang juga diliput oleh media, Gus-e berkata :

“Pakai Jilbab itu tidak wajib. Yang diwajibkan oleh Quran itu menutup aurat. Aurat laki-laki ada batasannya, aurat wanita juga ada batasannya. Mau nutupnya pakai kerudung, mau pake jilbab, mau pake sarung, mau pake kardus, mau pake daun, mau pake karung goni, mau pake karung gandum segitiga biru, atau pake logam biar kayak transformer, itu terserah. Yang penting BENTUK auratnya tidak keliatan !”

Sehari kemudian, koran harian “RAKYAT NJEPLAK” pun mengulas ceramah itu dengan judul dan nukilan yang bombastis yang membuat saya dan Gus-e tertawa ngakak saat membacanya.

“GUS-E : Pakai Jilbab itu tidak wajib !”

Ina Mencari Cinta

Nama panggilannya Ina. Sejak usia belasan, gadis itu sudah menjadi idola para jejaka yang ada di kampung itu. Berwajah cantik, bentuk tubuh ideal, ramah, dan tahu benar bagaimana beretika membawa diri. Status ayahnya, Pak Maja yang kaya raya makin melengkapi keberuntungan takdir hidupnya. Wajar jika tidak hanya lelaki yang menyukainya, para wanita pun akan sangat menyayangi dan merasa nyaman saat bersama Ina. Tidak sedikit yang bahkan merasa bangga saat orang melihat dirinya sedang berjalan bersama Ina

Ina sekarang sudah tumbuh dewasa. Namanya makin moncer tidak hanya di kampungnya saja, tetapi bahkan se-Kecamatan. Banyak lelaki yang menyukainya karena Ina juga punya banyak alasan untuk disukai. Lelaki penggila nafsu akan tergoda melihat kecantikannya, lelaki pemuja harta akan menghijau matanya melihat harta keluarganya, lelaki religius akan terpana melihat kesholehan tindak tanduknya, lelaki penggemar pangkat akan terpesona dengan keahliannya, lelaki pengejar ilmu akan tertarik dengan kepintarannya. Ina mempunyai dunia yang nyaris sempurna.

Tapi Pak Maja adalah bukan orang seperti kebanyakan.  Tidak seperti kebanyakan orang kaya di daerah itu yang gemar mengoleksi mobil, mengoleksi rumah, atau bahkan mengoleksi wanita. Harta Pak Maja sebagain besar diwujudkan dalam bentuk perikanan, perkebunan, persawahan, dan hasil alam lainnya.

Pak Maja adalah seorang hartawan yang dermawan dan arif dalam pemikiran. Sudah banyak pemuda dari berbagai daerah yang datang untuk melamar Ina, dia tolak secara halus, setelah para pelamar tersebut gagal dalam memenuhi standar fit and proper test yang Pak Maja ciptakan. Fit and proper test itu sendiri sebenarnya hanya dalam bentuk wawancara. Tapi dengan sekali wawancara tersebut, Pak Maja sudah bisa mengetahui seberapa serius dan pada tingkatan mana para pelamar itu bisa diandalkan untuk menjadi calon menantunya. Ina sebagai anak yang taat pada orang tuanya, percaya dan menyerahkan sepenuhnya proses seleksi calon suami itu kepada ayahnya yang arif.

Singkat kata, setelah Rizal dan Surya yang konglomerat, Rama yang musikus, dan Ranto yang aparat, semuanya tereliminasi, kini Pak Maja tinggal menyisakan dua kandidat calon suami Ina. Dua orang itu adalah Bowo dan Joko yang sama – sama mempunyai latar belakang sebagai pengusaha.

Keduanya kini terlihat duduk kaku di depan Pak Maja, Ina, dan keluarganya. Bowo terlihat lebih bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang bercampur aduk dibalik setelan baju safari dan celana berwarna putih. Garis wajahnya yang keras dan badannya yang tegap nampak jelas cukup menolongnya. Sedangkan Joko yang hari itu memakai setelan kotak-kotak terlihat grogi dan agak kaku kendati tidak dipungkiri dia punya keistimewaan memiliki wajah yang lugu yang mudah menarik simpati orang.

Setelah berbasa basi ala timur, Pak Maja tidak mau bertele- tele. Dia langsung memberikan waktu kepada kedua calon menantunya itu untuk memaparkan apa yang akan dia lakukan jika Ina dikemudian hari resmi menjadi istrinya. Bowo yang mendapat giliran pertama berdehem dan menarik nafas guna menekan rasa yang membuncah di dalam hatinya serta memanfaatkan waktu itu untuk mendapatkan titik ketenangan sebelum kemudian mulai menata suaranya agar terdengar berwibawa dengan harapan dapat mempengaruhi lawan bicaranya.

“Begini Pak Maja, Joko, dik Ina, serta para hadirin sekalian. Saya punya konsep untuk membahagiakan dik Ina lahir batin. Saya akan selalu menafkahinya, selalu membiayai kelanjutan pendidikannya, memenuhi kebutuhan kesehatannya, mendukungnya usahanya,  melindunginya, dan lebih menyejahterakannya. Dan ini saya lakukan dengan setulus hati, bukan untuk pencitraan saja” Kata Bowo dengan semangat sambil melirik tajam ke Joko pesaingnya.

Pak Maja terlihat manggut – manggut, dan kemudian berpaling ke Joko, sang kontestan selanjutnya. “Silahkan mas Joko, bagaimana visi misi mu ?” tanya Pak Maja sambil tersenyum. Dalam tradisi masyarakat Jawa, panggilan “Mas” yang dilakukan oleh orang tua, itu dianggap sebagai penghormatan.

“Terima kasih Pak Maja, Bowo, dik Ina, dan hadirin sekalian. Saya punya konsep yang tidak banyak berbeda dengan konsep yang sudah disampaikan oleh Bowo tadi. Saya hanya akan menambahkan bahwa agar konsep tadi tidak hanya di awang-awang, saya akan lebih sering meluangkan waktu bersama dik Ina, supaya saya bisa lebih cepat mengenal dan lebih cepat beradaptasi dengan dik Ina. Bahasa gaulnya, saya akan lebih sering blusukan ke hati dik Ina, memahaminya dan kemudian menawarkan solusi – solusi atas permasalahan – permasalahan yang dihadapi dik Ina. Dan saya akan melakukannya tanpa harus melanggar HAM ! Demikian, pak Maja. Terima kasih.” Joko mengakhiri pemaparannya dengan muka lugu yang bercampur tegang.

Pak Maja kembali manggut – manggut. Dan terlihat dia mulai berpikir, membiarkan ruangan menjadi hening. Waktu menjadi terasa seperti berhenti. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Pak Maja berdehem dan berdiri. Matanya mengedar memandang satu persatu para hadirin yang ada di ruangan itu, dan kemudian Pak Maja mengambil nafas berat.

“Mas Bowo, Mas Joko, Ina, serta hadirin sekalian yang sangat saya sayangi. Seperti kita tahu bersama, mas Bowo dan Mas Joko ini adalah dua orang yang sudah berhasil melewati tahap – tahap seleksi yang saya dan Ina lakukan, dan kami anggap layak untuk masuk “final”. Walaupun jujur saja, saya pribadi masih merasa belum cukup mengenal secara utuh siapa Mas Bowo siapa Mas Joko, siapa sebenarnya Mas Bowo, siapa “sebenarnya” Mas Joko, Apa agenda Mas Bowo, dan apa agenda Mas Joko, siapa pihak-pihak dibelakang Mas Bowo dan siapa pihak-pihak dibelakang Mas Joko.”

“Karena belum mengenalnya kami terhadap beberapa hal mengenai Mas Bowo ataupun Mas Joko, maka sepertinya saya kok masih merasa belum sreg kalau Anda berdua ini pada saat menyampaikan visi misi, lebih sering mengungkap semua pos – pos biaya tapi sama sekali tidak menyinggung pos penerimaan”

“Membahagiakan, menafkahi, membiayai pendidikan, memenuhi kesehatan, mendukung usaha, melindungi, itu semua kan pos – pos biaya, pos – pos pengeluaran. Lha Anda berdua itu dapet duit dari mana, itu kan juga harus dijelaskan. Anda dapet rejeki dari mana itu kan juga harus diumumkan. Mana sanggup Anda berdua membiayai semua yang dijanjikan tadi kalau tidak ada pendapatan”

“Ibarat bicara produksi, Anda berdua ini hanya membicarakan produk jadi, tanpa menjelaskan apa bahan bakunya, menjelaskan output tanpa menggambarkan apa inputnya”

“Ibarat kita membicarakan sebuah negara, Anda berdua bicara tentang program mensejahterakan masyarakat, pendidikan gratis, kesehatan gratis, memajukan ekonomi, meningkatkan kualitas hankam, tapi lupa mengulas tentang pajak selaku pos pendapatan yang membiayai lebih dari 70% APBN. “

70% LEBIH PENDANAAN NEGARA DIBIAYAI OLEH PAJAK lho mas-mas. Dan ini nggak main-main. Pajk terganggu, program kalian akan jadi program abal-abal. Anda lupa membahas bagaimana cara ekstensifikasi dan intensifikasi pajak, bagaimana menumbuhkan kesadaran membayar pajak pada masyarakat, bagaimana memperbaiki sistem perpajakan yang transparan dan akuntabel, bagaimana meningkatkan kualitas aparat pajak, bagaimana menerapkan reward and punishment yang membangun kinerja, bagaimana menaikkan tax ratio, dan bagaimana melindungi entitas pajak dari politisasi, kriminalisasi, dan intervensi pihak lain”

 “Itu yang pertama. Nah yang ke dua, Cinta itu tentang ikhlas. Dan ikhlas itu tentang siapa yang menerima dan bukan tentang siapa yang memberi. Kalau anda berdua cinta sama Ina, maka tidak ada lagi bahasan tentang kalian, tetapi yang ada adalah bahasan tentang Ina.”

“Artinya, bagi salah satu dari Anda yang tidak terpilih oleh kami, tidak boleh kecewa. Harus legowo. Harus menerima, bahwa Ina akan lebih bahagia jika tidak dengan Anda. Ina akan berjaya jika bukan dengan Anda. Dan Anda harus mendukungnya, karena sekali lagi, ini tentang Ina bukan tentang Anda”

“Sebaliknya, bagi yang terpilih sebagai pasangan Ina, Anda harus punya komitmen. Komitmen tentang bagaimana membawa Ina menjadi Ina yang lebih baik dari Ina yang sekarang. Komitmen atas semua visi – misi yang sudah dijanjikan. Komitmen bukan tentang kekuasaan Anda, tapi tentang kebahagiaan Ina. Komitmen bahwa Bowo tidak ada, Joko tidak ada, yang ada hanya Ina.”

“Itu saja dulu, nah silahkan Anda berdua pulang kembali, dan silahkan datang lagi dengan membawa konsep yang lebih lengkap. Insya Alloh tanggal 9 Juli nanti kami akan tentukan siapa diantara Mas Bowo atau Mas Joko yang akan kami pilih untuk mendampingi Ina”

Konsinyering Buku Berkah 3 – Berbagi Ilmu tentang Tulisan Investigasi

Ini adalah kali ke tiga saya mendapatkan keberuntungan untuk mengikuti pelatihan menulis dengan gratis. Diselengggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP), acara ini mengambil lokasi di Hotel Salak The Heritage Bogor, dan berlangsung selama tiga hari dari hari Senin (12/5) sampai hari Rabu (14/5). Acara ini merupakan bentuk apresiasi bagi para pegawai yang memberikan kontribusi tulisannya dalam sebuah buku dengan tema penggalian potensi pajak.

Pada pelatihan pertama yang diselenggarakan di Hotel Twin Plaza beberapa tahun lalu, kami mendapatkan banyak ilmu dasar -dasar kepenulisan dari beberapa nara sumber yang didatangkan dari Republika dan Forum Lingkar Pena. Sedangkan pada pelatihan kedua di hotel Le Grande, kami mendapatkan tambahan ilmu dari pasangan suami istri Isa Alamsyah – Asma Nadia, serta ilmu menulis artikel serta kolom yang baik dari Ibu Laela S Chudori dari Tempo.

Nah di pelatihan ke tiga ini, sepertinya kmi diberikan tema tentang bagaimana membuat tulisan dengan mengolah data dan membuat ulasan investigasi. Kami mendapatkan kesempatan untuk bertemu Adi Wahyudi dari Katadata yang mewakili Meta Darmasaputra, yang berbagi cerita dan pengalaman tentang bagaimana mereka membuat sebuah ulasan yang berkelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian seorang narasumber dari Tempo juga membagi pengetahuannya tentang isi sebuah media massa, baik itu dari sisi struktur organisasi dan pembagian kewenangannya sampai prosesnya sebuah tulisan dari diterima redaksi hingga siap tayang untuk dikonsumsi masyarakat. Dari internal DJP sendiri, ada Candra Budi yang membagikan kiat-kiatnya dalam membuat tulisan agar bisa dimuat di mdia masa.

resize_IMG_3171 Resize_IMG_3175 Resize_IMG_3179 Resize_IMG_3305

Acara pelatihan kali ini memang terkesan lebih “seadanya” jika dibandingkan dengan dua pelatihan sebelumnya. Bagi saya itu bukan sebuah masalah besar. Karena hal terbesar yang menjadi motivasi saya setiap memberikan kontribusi tulisan ke DJP adalah ilmu pelatihan menulis itu sendiri, kesempatan untuk berbagi pengalaman melalui tulisan, serta kesempatan bisa bertemu dengan teman – teman baru satu profesi dari berbagai daerah di Indonesia.

IMG_3360

Family Camp ke-3, Blok Danau Mandalawangi Cibodas

SABTU (17/05). Kembali, selalu ada alasan untuk bermalas – malasan dan membatalkan agenda camping keluarga edisi pertama tahun 2014 ini. Pertama, kondisi musim hujan yang sepertinya belum mau berhenti. Kedua, kasur angin kami sedang bocor dan tidak bisa digunakan dengan daya guna maksimal untuk tidur anak-anak. Ketiga, jumlah peserta yang konon kabarnya turun drastis dibanding dengan edisi Desember tahun lalu.

Tapi selalu ada alasan juga bagi kami untuk kembali meneriakkan : “ SHOW MUST GO ON !”. Karena anak – anak sudah menantikan acara ini dari jauh hari, karena Ale punya mainan baru yang sudah dari lama direncanakan bakal dia uji cobakan di medan offroad Cibodas, dan yang pasti karena kami begitu butuh pasokan udara segar guna membangunkan sel-sel kami yang sepertinya sebagian diantaranya sudah mulai kurang produktif.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami berangkat dari Tangerang lebih pagi. Setelah sholat Shubuh, kami segera memasukkan segala macam perlengkapan yang sudah kami siapkan malam sebelumnya, ke dalam mobil. Alhamdulillah jalanan masih lancar. Jam 8.30an kami sudah sampai di KFC sekitar Mega Mendung, dan berhenti untuk sarapan pagi. Jam 9 pagi jalur one way ke puncak mulai dibuka. Itu artinya jalan kami menuju lokasi semakin dilancarkan.

Sekitar jam 10 kami sudah sampai di lokasi dan langsung menemui pak Indra dan pak Firanto selaku koordinator acara kali ini. Peserta tercatat tidak sebanyak edisi camping sebelumnya. Ada sekitar sepuluhan tenda saja. Mungkin memang tidak seramai sebelumnya, tapi ini malah membuat kami menjadi bisa saling berkenalan lebih dekat, karena setidaknya ada sekitar empat keluarga baru yang bergabung dalam komunitas camping ini.

Setelah itu, kami langsung membereskan barang bawaan dan mengeluarkan sejumlah peralatan yang siap digunakan untuk beraktifitas (biasanya bunda langsung menyiapkan menu makan siang, saya menyiapkan kasur udara dan kemudian tidur di atasnya, dan anak-anak langsung berganti pakaian siap basah buat bermain air). Dan kami beruntung karena cuaca cukup cerah bersahabat bahkan cenderung panas untuk sekedar tinggal di dalam tenda.

1797502_10202257341580532_367554601017259458_n

Saya dan keluarga, dan mungkin sebagian besar peserta camping memang paling menyukai lokasi blok Danau ini. Lokasinya tidak jauh dari sungai utama, dan sangat dekat dengan aliran sungai sekunder yang ukurannya relatif lebih kecil dengan aliran air yang jernih dan tidak begitu deras sehingga sangat pas buat bermain air bagi anak – anak. Disamping itu blok ini dekat dengan fasilitas 8 buah kamar mandi yang cukup bersih dan layak. Untuk berjalan ke danau dan menyewa perahu pun dapat dicapai dengan berjalan kaki beberapa meter saja. Viewnya juga menjanjikan, jika cuaca cerah di arah selatan akan terlihat puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang mempesona, di sebelah barat ada Danau Mandalawangi yang memanjang hingga arah utara, sedangkan di selatan ada sungai utama dengan alirannya yang jernih serta dihiasi bebatuan besar.

Para peserta camping yang mungkin malas atau tidak bisa memasak tidak perlu khawatir, karena tidak jauh dari lokasi camping terdapat banyak warung – warung kecil yang menjual aneka ragam makanan, pakaian, souvenir, tanaman, hingga makanan kecil buat oleh-oleh.

10388656_10202236797866952_5984971285192108991_n

Selesai sholat dhuhur dan ‘ashr berjama’ah, masing – masing keluarga kemudian kembali ke tenda untuk makan siang bersama keluarganya. Karena jarak antar tenda cukup dekat, jadi kami bisa makan sambil berinteraksi, bahkan sambil saling berbagi. Keakraban antara orang tua, anak, dan guru yang seperti inilah yang mungkin tidak mudah ditemukan di sekolah yang lain. Kendati ada beberapa peserta camping yang bukan berasal dari komunitas Sekolah Alam Tangerang, tetapi hal itu tidak mengurangi keakraban yang terbentuk. Bahkan hal ini menjadi nilai tambah bagi acara ini, karena kemudian komunikasi dan saling kenal ini menjadi wadah saling bertukar informasi, berita, pengalaman serta meluaskan jaringan silaturrahim tentu saja.

10402495_10202243247788196_5842634088354396535_n

10313989_10202236797906953_4223215551216705370_n

Acara kemudian dilanjutkan dengan bermain perahu bersama di Danau Mandalawangi. Awalnya ini diniatkan untuk perlombaan antar keluarga, tetapi mengingat tidak semua keluarga tahu dan bisa cara mendayung dengan benar, akhirnya ya cukup buat aktifitas kebersamaan saja. Tapi seru lho !

10307382_10202243247828197_2603775061969900763_n 1522257_10201420999392500_1041747980_n

Sore hingga maghrib hujan gerimis datang menyapa. Sebagian besar peserta camping memilih untuk kembali ke tenda masing – masing dan melakukan aktifitasnya di dalam tenda. Acara api unggun sambil bakar jagung yang sedianya akan dilakukan di malam itu jadi sedikit tertunda. Malam sekitar pukul delapan cuaca kembali membaik. Api unggun mulai dinyalakan, jagung siap dibakar, sayang beberapa peserta tidak dapat mengikuti acara itu, mungkin karena capek setelah seharian menempuh perjalanan dan beraktifitas, atau mungkin juga karena kedinginan dan memilih tidur cepat. Ada beberapa peserta camping yang baru saja tiba, ikut juga bergabung dalam acara malam itu.

10382161_10202226576451423_2300970888982320793_n

10390143_10202236797946954_4868072611131502967_n

10338231_10203016633470322_6395656991246842748_n

Minggu (18/05). Pagi datang, adzan shubuh berkumandang, dan kami melakukan sholat shubuh berjamaah, dilanjutkan dengan kultum yang dibawakan oleh Pak Andri selaku owner dari Sekolah Alam Tangerang. Kemudian pagi itu kami membuat kegiatan dadakan untuk mencoba trekking ke air terjun cibeureum. Ini tentu mengejutkan bagi saya pribadi. Pertama, mungkin sudah tidak terhitung saya mendaki Gunung Gede ini, tapi terakhir kali saya ke air terjun Cibeureum ini mungkin sudah sepuluh tahun yang lalu, jadi ini akan menjadi hal yang menyenangkan. Kedua, saya meragukan fisik bunda, Ale, dan Dhican. Mungkin bunda dan Ale jika dipaksakan mungkin akan mampu menempuh jalur trekking itu, tapi jelas saya sangat meragukan kemampuan Dhican yang baru berusia 5 tahunan. Jadi, dari awal saya sudah harus mempersiapkan diri untuk menggendong Dhican dan (mungkin) Ale sekaligus apabila diperlukan. Ketiga, pacet ! Saya termasuk yang “gilo” sama makhluk yang satu ini. Pendakian terakhir di gunung ini, satu teman saya dihinggapi pacet di lengan tangannya dan baru ketahuan pas buka baju di pos reservasi bawah. Jadi, saya harus rajin-rajin untuk mengingatkan mereka agar tidak berlama-lama istirahat di tempat yang lembab

Tapi semua itu hanya cukup menjadi kekawatiran saja. Bunda, Ale, dan Dhican sukses mencapai air terjun Cibeureum dengan kondisi sangat baik. Sepanjang perjalanan memang tidak henti-hentinya saya ingatkan untuk selalu menjaga langkah dan pijakan kakinya agar jangan sampai terkilir. Sekali terkilir, maka perjalanan akan menjadi tidak lagi menyenangkan hingga pulang nanti (terutama tentu saja tidak menyenangkan buat saya yang kemungkinan bakalan jadi penanggung beban karena harus gendong mereka  hahahaha).

Awal trekking memang selalu melelahkan. Disamping kondisi medannya yang mendaki, kondisi tubuh juga belum sepenuhnya menyesuaikan. Ibarat mobil, mesinnya harus dipanasin dulu baru kemudian bisa berjalan dengan baik. Sepanjang perjalanan kami dihadapkan pada tangga batu yang mendaki dengan sesekali diselingi oleh jalanan mendatar atau bahkan sedikit menurun (yang biasanya oleh para pendaki dikenal sebagai “bonus”). Mendekati pos panyancangan, jalanan sudah cukup baik dibuat oleh pihak Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP), dengan dibuatkannya jembatan yang terbuat dari cor semen dan besi sebagai pagar pegangan.

1920184_10202232152190813_5221978839421371234_n

10411347_10202249845673139_4858920033128909935_n

Sampai di pos Panyancangan, kaki berasa pengen banget belok ke kiri ke arah air panas, kandang badak, dan kemudian ke puncak gede/pangrango aja, hahahaha. Apa daya, tiga makhluk lainnya memaksa saya untuk mengambil jalur kanan, yaitu jalur menuju air terjun Cibeureum. Ya sudahlah, akhirnya kami pun menikmati alam Curug Cubeureum sambil melepas lelah trekking yang memakan waktu sekitar satu jam-an itu.

10341627_10202239602257060_8478439773578765028_n

10269541_10202239602297061_907119550407580599_n 10300274_10202249845633138_3817577046018776891_n

10370832_10202239602337062_5722420309756532533_n 10303376_10202249845593137_4403981122671982618_n

Family Camp kali ini jelas menjadi camping yang paling berkesan. Saya senang sekali mendapatkan surprise kuatnya bunda, Ale, dan Dhican melakukan trekking naik turun tanpa hambatan yang berarti. Hati jadi hangat. Sehangat pisang goreng yang kami nikmati bersama sepulang trekking, di warung pas di depan pintu utama jalur pendakian Cibodas. Maknyussss !

Sampai di tenda, kami mulai melanjutkan packing yang dari pagi sudah kami cicil. Sengaja kami mengulur waktu hingga jam 2 siang, karena untuk menghindari berlama – lama di jalan akibat sistem buka tutup jalur arah puncak (jalur satu arah turun ke Bogor / Jakarta biasanya dibuka antara jam3-4an sore).

———————————————————————-

Catatan :

Harga Tiket Masuk Daerah Cibodas (Tiket Pemda di Gapura Besar) : Rp.3.000,00/ orang dan Rp. 5.000,00/mobil

Harga Sewa Tenda Kapasitas 6-8 orang : Rp. 250.000,00

Harga Sewa Tenda Kapasitas 3-4 Orang : Rp. 60.00,00

Harga Masuk dan Menginap di Camping Ground = Rp. 20.000,00 / orang

Harga Sewa Perahu = Rp. 20.000,00 / per perahu

Harga Tiket Masuk ke Air Terjun Cibeureum = Rp. 3.500,00 / orang

Harga Pisang Goreng : Rp. 1000, 00 / buah

Harga Diri Ini : ……………….

* Harga sewa tenda sudah termasuk free matras dan sleeping bag

* Sebagian photo yang diupload adalah hasil karya rekan – rekan peserta camping yang sedang saya mintakan ijinnya untuk dibagikan disini.

2nd Family Camp – Blok Komodo, Mandalawangi Camping Ground

Ada banyak alasan bagi saya untuk menolak ajakan camping di akhir tahun ini (28-29 Des 2014). Pertama, biasanya tiap akhir tahun, iklim di Indonesia punya kecenderungan menganut madzhab hujan, tiap akhir tahun frekuensi hujan dan angin selalu meningkat. Kedua, kondisi para anggota tim sedang tidak fit, saya dan Ale baru masa pemulihan dari sakit, Dhican masih menyisakan batuk berdahaknya, dan bunda malah sedang mulai gejala flu. Ketiga, pemilihan lokasi camping yang menurut kami kurang nyaman jika dibanding lokasi camping sebelumnya. Keempat, kami mengidap penyakit ODS, Old Date Syndrome (singkatannya maksain), penyakit tanggal tua, alias kesulitan likuiditas tiap akhir bulan. Hahahaha…

Tetapi ada banyak pula alasan bagi kami untuk menganggukkan kepala tanda menyetujui ajakan camping kali ini. Pertama, Ale dan Dhican sedang dalam masa liburan, dan saya cukup sedih tidak bisa menemani liburan mereka karena harus tetap masuk kerja dan jatah cuti tinggal sedikit, jadi kegiatan camping ini kami dedikasikan untuk mereka berdua. Kedua, bunda akhir – akhir ini merasa begitu banyak tekanan dalam pekerjaan, jadi kegiatan ini bisa dijadikan penyeimbang, pengurang stress. Ketiga, kerinduan saya terhadap alam dan udara segar sudah hampir sampai ubun – ubun, anggap saja ini sebagai obat rindu karena sudah lama sekali saya tidak menjejakkan kaki di puncak sebuah gunung.

Then, show must go on ! Sabtu pagi (28/12/2013) pukul 6 pagi kami berangkat menuju Cibodas. Sempat terjebak sedikit macet, akhirnya kami sampai di lokasi sekitar jam 10.30. Beruntung tenda sudah didirikan oleh pihak pengelola camping ground Mandalawangi. Jadi,kami tinggal masuk – masukin barang dan bergabung dengan rekan – rekan yang lain (umumnya para orang tua yang anaknya sekolah di Sekolah Alam Tangerang). Ale yang sempat mabuk perjalanan untuk sementara beristirahat di tenda, sementara Dhican sudah berganti pakaian siap basah begitu melihat aliran sungai yang jernih di samping tendanya.

554519_10201417574226873_408863055_n

Siang dan sore hari pertama ini kami lewatkan dengan berinteraksi dan berkenalan antar peserta camping,main di sungai, dan memasak bersama. Lokasi Blok Komodo yang tidak begitu luas dengan kontur yang tidak rata membuat tenda – tenda kami agak terpisah – pisah jaraknya. Sehingga koordinasi dan interaksi antar peserta menjadi kurang menyatu. Maka tidak heran begitu malamnya diadakan acara api unggun dan membakar jagung, peserta yang berpartisipasi tidak begitu banyak. Bahkan beberapa diantaranya ada yang membuat api unggun sendiri.

download

download1

download2

download3

Minggu pagi (29/12/2013) kami buka dengan kegiatan berkano bersama di danau Mandalawangi. Jika dilihat dari blok Komodo, letak Danau Mandalawangi ada di atasnya, dan bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan jarak sekitar 50 meteran. Ale yang kondisinya sudah membaik, berkano bersama empat temannya. Sedangkan saya, bunda, dan Dhican memilih kano yang lain. Hari ini sungguh cerah sehingga kami bisa menikmati pemandangan puncak Gunung Gede dan puncak Gunung Pangrango dengan sangat jelas. Dan itu sungguh makin membuat kerinduan saya untuk menjejakkan kaki di puncak-puncaknya makin besar, sodara – sodara !!

1535696_10201440291994803_1846233907_n

1522257_10201420999392500_1041747980_n

Selepas bermain kano, kemudian Ale dan Dhican bergabung dengan beberapa teman lainnya bermain air di sungai. Sedangan saya dan bunda menyiapkan makanan buat mereka, sambil mulai membereskan peralatan karena sedianya kami akan pulang dari camping ground ini jam 11 dan melanjutkan perjalanan ke Taman Bunga Nusantara.

Overall, kami menikmati kegiatan camping kali ini, serta bersyukur atas karunia cuaca yang sungguh cerah dan bersahabat. Jangan ditanya kesan Ale dan Dhican, karena begitu ditawarkan kepada mereka, apakah mereka mau mengikuti camping seperti ini lagi di enam bulan ke depan ? Maka tanpa ragu mereka serempak menjawab : “Maaauuuuu !”

Harga – Harga

Tiket masuk gerbang Wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (3 0rang + 1 mobil ), Rp. 17.000,00

Tiket masuk dan menginap / camping satu hari satu malam di Camping Ground Mandalawangi, Rp. 20.000,00 / orang

Sewa tenda Citarum (kapasitas 6-8 orang), Rp. 250.000,00

Sewa perahu kano Rp. 20.000/ perahu

Lain – Lain

– Harga sewa tenda sudah termasuk free 4 matras dan 4 sleeping bag

– Sebaiknya berangkat sebelum shubuh untuk menghindari ketidaknyamanan dalam perjalanan karena macet. Sholat shubuh bisa dilakukan di rest area atau masjid dipinggir jalan. Mandi pagi bisa dilakukan di tempat camping.

– Yang nggak bisa masak jangan kawatir, tidak jauh dari lokasi, ada banyak warung makan

– Para peserta camping edisi kali ini range usianya lumayan lebar, dari seorang bayi mungil yang baru berusia beberapa bulan sampai seorang ibu tua yang mungkin usianya sekitar 60-an tahun.

Makna Sebuah Titipan – WS Rendra

sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Allah

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

 

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

 

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan

bahwa itu adalah derita.

 

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

 

kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,

dan bukan kekasih.

 

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Rafting Cicatih 2013

Tanggal 14 September 2013 lalu instansi kami mengadakan Internal Corporate Value (ICV). Ini semecam pengenalan dan pendalaman tentang nilai – nilai yang selama ini menjadi acuan kinerja instansi kami. Tujuannya tentu saja agar setiap individu yang ada di instansi kembali diingatkan untuk selalu fokus pada goal yang sudah ditetapkan, dengan mengaplikasikan nilai-nilai tadi dalam pekerjaan.

Kegiatan ICV kali ini memilih tema Rafting dan outbound, sebagai sarana memperkuat teamwork. Lokasi yang dipilih adalah sekitar Sungai Cicatih Sukabumi. Rencana, seluruh pegawai akan dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok untuk mereka yang mempunyai nyali bermain rafting mengarungi sungai Cicatih, dan satu kelompok lagi untuk mereka yang tidak berani atau berhalangan bermain rafting. Seabgai gantinya,kelompok yang tidak bermain rafting diberikan game-game seru yang intinya menekankan pada kemampuan berinovasi dan menjalin teamwork yang kuat.

Rombongan berangkat darl kantor tanggal 14 September 2013, pagi jam 5 selesai sholat shubuh. Saya dan empat teman lainnya di hari sebelumnya (Jumat sore sepulang dari kerja) sudah berangkat duluan karena merasa agenda yang dibuat oleh kantor terlalu melelahkan. Setidaknya dengan berangkat duluan, kami berlima punya waktu istirahat yang lebih dan  bisa menjelajahi lokasi dengan lebih leluasa, apalagi salah satu dari kami adalah seorang photographer yang memang kerjaannya hunting objek – objek baru yang menarik. So,karena saya tidak ikut rombongan kantor, jadi yang saya tulis berikutnya adalah perjalanan kami berlima saja sampai kami bertemu rombongan kantor di esok harinya.

Kami berempat tiba di lokasipenginapan yang disediakan oleh pengelola rafting (Riam Jeram) jam 9 malam. Letak penginapan ini sendiri sekitar 4 kilo dari jalan besar. Kami harus memasuki jalanan berbatu dengan kontur perbukitan. Lumayan buat menghidupkan mata dari rasa kantuk. Disitu kami disediakan satu rumah panggung dua lantai yang mungkin muat untuk kapasitas 10 orang. Dan kami menggunakan satu lantai atas untuk tidur berlima. Namanya “temporary bujangan”, tentu saja kami berhaha hihi dulu sebelum akhirnya benar – benar tertidur jam 3 pagi dini hari.

cicatih1

Paginya, sambil menunggu rombongan kantor datang,kami habiskan waktu untuk sarapan pagi,mandi, dan keliling lokasi yang kebetulan cukup indah dengan panorama sungai, sawah, perbukitan, dan langit biru. Ingat penyebutan kalimat di atas, sarapan pagi kami sebutkan terlebih dahulu dari mandi karena bagi kami sarapan jelas lebih penting dari mandi. hahaha.

Okey, acara para lelaki bujangan selesai, saatnya bergabung dengan para rombongan kantor. Dari lokasi penginapan (yang juga sekaligus finish point) kami menyewa angkot seharga Rp. 60.000,00 menuju lokasi meeting point. Tidak menunggu lama, segera kami yang mengikuti rafting diangkut dengan beberapa angkutan kota menuju starting point. Sedangkan kelompok yang memilih ikut fun game, menunggu angkutan – angkutan kota itu kembali, untuk mengangkut mereka ke lokasi finish point, tempat dilaksanakannya fun game.

Jarak antara meeting point dengan starting point lumayan jauh dengan jalanan yang tidak begitu nyaman. Di starting point, seperti biasa, sebelum memulai kegiatan rafting para peserta diberikan beberapa pengarahan tentang bagaimana cara mendayung, mengemudikan perahu karet, menyelamatkan diri, dan sebagainya.

Sungai Cicatih saat itu dalam kondisi berdebit air di bawah standar. Saya sendiri sebelumnya pernah mencoba sungai ini beberapa tahun yang lalu, dengan debit yang lebih besar. Beberapa jeramnya masih sayan hafal sehingga tidak ada yang ‘mengejutkan’ atau hal yang baru dalam rafting kali ini. Malahan, perahu karet kami lebih sering nyangkut di batu. Tapi beruntung instrukturnya lumayan komunikatif, sehingga saya justry baayk mendapatkan tambahan pengetahuan tentang bagaimana strategi  atau cara menghadapi jeram- jeram yang berbeda type-nya.

cicatih 2

cicatih 3

cicatih 4

cicatih 5

cicatih 6

Sekitar 2,5 jam jarak dua belas kiloan kami tempuh. Sampai di finish point kami segera membilas badan dengan air bersih, dan berganti seragam ICV, kemudian bergabung bersama teman – teman yang tadi memilih mengikuti fun game, untuk makan siang, dan mengikuti sesi pemaparan nilai – nilai instansi. Mr Pee Wee, selaku CEO kantor kami memberikan paparan dengan cukup menarik karena memasukkan beberapa game dalam sesi materi.

cicatih 7

Pukul 15,30an acara selesai,rombongan dari kantor kembali diangkut menuju meeting point dengan angkutan kota. Sedangkan kami berlima setelah membereskan semua barang dan administrasi, segera pulang menyusul.

Wara’ : Salak, Telur, dan Sandal

Anda tentu setuju : di saat banyak orang tua memakaikan sepatu pada anaknya cukup dengan langsung memegang kaki si anak kemudian memasukkannya ke dalam sepatu, maka saat ada orang tua yang membersihkan dahulu dalamnya sepatu untuk memastikan tidak ada kerikil atau tanah yang tertinggal di dalamnya, kemudian membersihkan telapak kaki si anak, baru setelah itu memakaikan sepatunya; saya akan memberikan nilai plus pada orang yang kedua ini.

Anda tentu juga setuju jika saya menaruh respek pada seorang tua yang memastikan bahwa jalanan di depannya tidak ada batu atau benda berbahaya lainnya, saat berdua bersama anaknya menunggu angkutan kota datang melintas. Itu juga berlaku untuk seorang supir yang memberi kesempatan jalan kepada seorang penyeberang jalan sambil menyalakan lampu hazardnya memberikan tanda agar kendaraan di belakangnya berhati-hati dan ikut memberikan jalan kepada si penyeberang jalan. Atau pada seseorang yang segera mematikan mesin motornya saat tiba di lingkungan Masjid saat menghadiri sholat fardhu lima waktu berjamaah.

Tidak ada aturan tertulis atas semua itu. Ini tentang moral, tentang etika, bukan aturan. Ini tentang kualitas kasih sayang bukan kuantitas. Ini tentang bagaimana memberi nilai lebih bukan pembiasaan hal biasa. Ini tentang bagaimana menghargai lebih pada seseorang atau pihak yang anda sayangi.

Kita tahu buah salak tumbuhnya di bawah, tepat di atas tanah, diantara gerumbulan duri-duri dan pupuk kandang yang mengelilinginya. Mengupasnya, dengan sedikit basah diantara kulit dan buahnya adalah hal yang wajar. Tetapi mensucikannya dengan air, buah salak yang sudah terkupas tadi, untuk memastikan buah tersebut terbebas dari najis, adalah sesuatu yang mempunyai nilai lebih.

Kita juga tahu bahwa telur ayam keluar dari pantat ayam, sebuah tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran ayam. Telur itu umumnya bercampur dengan kotoran tentu saja. Pada saat peternak menjualnya, umumnya hanya cukup mengelap telur tadi ala kadarnya. Makanya sering kita jumpai, sebagian telur yang terjual di pasaran masih terlekati oleh kotoran itu, walaupun kering. Jadi, mencuci dan mensucikan telur tersebut sebelum memecahkannya untuk dimasak jelas sesuatu yang mempunyai nilai lebih.

Sebuah keluarga membiasakan memakai sandal bersih di dalam rumah. Sandal atau alas kaki itu dipakai khusus pada saat anggota keluarga di rumah akan menunaikan sholat. Jadi, setelah mengambil wudhu dari kamar mandi, langsung memakai sandal itu hingga dilepas saat akan menginjak sajadah. Ini dimaksudkan untuk menghindarkan kaki dari menginjak najis yang ada di lantai yang dilewatinya. Najis bisa dari mana saja. Bisa dari kotoran cicak, bekas telapak kaki anak kecil yang bersuci kurang sempurna setelah pipis di kamar mandi, bekas kaki kucing yang berlari dari luar rumah dan masuk ke dalam, atau mungkin bekas basah kaki kecoa yang baru muncul dari comberan masuk ke rumah melalui lubang-lubang kecil yang ada.

Ini bukan was was, ini juga bukan tentang hal yang berlebihan, tetapi bagaimana bersikap hati-hati, bagaimana bersikap wara’, bagaimana memberi nilai lebih pada suatu hal. Sama seperti Imam Ghazali yang menganjurkan memijit dan mengurut (maaf) kemaluan dari ujung dua biji hingga ke pucuk dzakar setelah kencing, untuk memastikan tuntasnya semua air kencing keluar tanpa ada lagi tersisa di dalamnya.

Karena Kanjeng Nabi sudah dari dulu memperingatkan kita akan bahayanya orang yang tidak memperhatikan kesucian badan, pakaian dan tempatnya saat beribadah.