Taksi

Saya kehilangan HP yang di dalam sarung HPnya terdapat dua kartu ATM, sebuah SIM A, dan beberapa kartu lainnya. Sejak dulu saya memang tidak punya (dan anti) dompet, jadi semua kartu dan pengenal ada dalam sarung HP tersebut. Jadi, sekalinya hilang ya memang jadi agak kelabakan. Tapi ya sudahlah, toh itu tetap tidak mengubah prinsip saya untuk tidak mempunyai dompet.

Kembali ke cerita kehilangan tadi, awal kejadiannya adalah pada saat mengoperasikan sebuah layanan peta di HP di dalam sebuah taksi menuju Pasar Senen. Nah pas lagi pegang HP, Dhican tiba – tiba minta duduknya dipangku, dan secara tidak sengaja HP yang saya letakkan di atas paha saya pun jatuh di bawah jok kursi belakang taksi E yang saya tumpangi. Karena untuk mengambilnya saya terhalang tubuh Dhican,akhirnya saya berpikir untuk mengambilnya nanti saya pas mau turun. Tapi kembali,penyakit pikun saya datang tidak di saat yang tepat, pas turun saya lupa mengambil kembali HP yang jatuh di bawah jok belakang kursi taksi itu, dan baru sadar setelah beberapa menit kemudian, di saat si taksi sudah tidak lagi ada di tempat.

Mungkin saya termasuk orang yang lambat dalam bereaksi, karena baru menelepon pihak call centernya taksi E tadi setelah dua minggu dari kejadian, atau sepulang dari liburan. Tapi saya acung jempol dan salut dengan reaksi cepat pihak taksi E ini, karena sehari setelah saya telepon, mereka langsung menelepon balik mengabarkan tentang perkembangan kasus ini, bahwa nama supir,nomor polisi, dan nomor taksinya sudah ditemukan, tinggal menunggu perkembangan berikutnya.

Hari berikutnya kembali mereka mengabarkan bahwa semua kartu dan sarung HP ada dan siap untuk dikembalikan. Sarung HP ? Ya, hanya sarungnya, karena HPnya tidak ada. Menurut pengakuan si supir, dia hanya menemukan sarung HP beserta kartu-kartunya, tetapi sudah dalam keadaan terbuka dan tidak ada HPnya, itupun ditemukannya di TKP (pasar senen), dan di bawah mobil (bukan di bawah jok belakang ).

Ada kejonggolan eh kejanggalan disini. Pertama,saya yakin betul bahwa jatuhnya di dalam taksi E, bukan di luar taksi. Kedua, jika memang supirnya menemukan di TKP, kenapa tidak langsung dikembalikan ke saya ? karena toh saya masih ada di situ (sambil bawa barang bawaan seabreg plus tiga anak kecil). Ketiga, agak aneh kalau misalnya kita berandai-andai bahwa HP itu jatuh di luar mobil, dan si pengambilnya hanya mencopot HP dari sarungnya kemudian membiarkan sarungnya plus sejumlah kartu ATM dan SIM A tergeletak begitu saja. Kenapa tidak dibawa sekalian saja satu sarung HP beserta isinya, bukankah itu lebih praktis ?

Tapi ya sudahlah, toh kejadian ini awalnya memang kesalahan saya, dan saya tidak punya bukti kuat untuk menunjuk hidung siapa yang mengambil keuntungan dengan kejadian ini. Malamnya, semua kartu beserta sarung HPnya diantar langsung oleh si supir taksi E ke rumah saya. Overall, saya cukup puas dengan reaksi cepat yang dilakukan oleh pihak Taksi E ini dalam menanggapi keluhan atau pelaporan barang tertinggal. Bayangkan, hanya dalam dua hari sejak melapor, barang yang tertinggal bisa kembali (walaupun tidak lengkap), “hebat” bukan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s