Bromo : Calo, Kenangan, dan Keanggunan Abadi

Ini cerita tentang sebuah perjalanan yang secara tidak sengaja menyeret kami masuk dan terjebak dalam dunia percaloan. Diawali dengan sebuah kesepakatan dengan supir yang bernama Tikno yang mengantarkan kami dari Bandara Juanda ke Ampel Surabaya kemarin, akhirnya disetujui bahwa Tikno siap mengantar kami dari Surabaya menuju Bromo, menginap semalam, dan mengantar kami lagi menuju Batu.

Harga yang disepakati adalah Rp.1.500.000,- net, itu sudah termasuk ongkos sewa mobil, tol, bahan bakar, parkir, berikut inap dan makan sopir ditanggung sopir itu sendiri. Setelah membandingkan harga, jika dihitung dengan kondisi kami yang berjumlah anggota keluarga banyak, kami berpikir bahwa harga itu cukup bersaing.

FYI, kami terdiri dari 6 orang dewasa, 4 anak kecil, dan seabreg barang bawaan bak orang pindahan. Jadi, awalnya kami merencanakan untuk menyewa dua buah mobil. Dengan asumsi satu mobil per hari sewanya 300 ribu, dua hari 600 ribu, maka dua mobil dua hari sekitar Rp. 1.200.000,- dan itu belum termasuk biaya buat dua orang supir untuk dua hari. Akhirnya kami terima tawaran Tikno.

Dan yang kemudian terjadi adalah, di hari yang dijanjikan (Senin, 22/12), Tikno mengabarkan bahwa dia tidak bisa menyetir dan mengirim orang lain untuk mengantar kami dengan mobil yang berkapasitas lebih besar (Avansa putih diganti Grandmax). Awalnya kami tidak menganggap hal itu sebagai masalah sepanjang perjanjian yang sudah disepakati tidak diubah. Tapi ternyata Oki, supir yang dikirim oleh Tikno diberikan penjelasan yang berbeda. Akhirnya setelah clear permasalahan segitiga informasi ini, kami start dari Ampel Surabaya menuju Bromo sekitar jam 10.15 menit.

Sempat beberapa kali mampir untuk mengisi bahan bakar, makan siang, dan belanja makanan dan minuman ringan, akhirnya kami sampai di Bromo sekitar jam 16.00. Waktu itu kami sudah dihitung tiket high season,sehingga masing-masing satu orang (dewasa) kena charge Rp. 30.000,- dan mobil kena charge Rp. 11.000,-. Biasanya di loket pembayaran masuk ke kawasan wisata Bromo ini akan ada banyak orang yang menawarkan jasa penginapan maupun jasa tumpangan mobil hartop menuju dua atau empat lokasi yang berbeda.

Untuk penginapan, sebaiknya pesan dari jauh – jauh hari, agar kita punya banyak pilihan dan bisa menentukan dimana akan menginap. Atau kalau memang saat sampai di Bromo belum memesan penginapan, sebaiknya datangi langsung saja penginapan yang dituju dan kemudian tanya harganya langsung, jangan menerima tawaran dari orang-orang lain yang kebanyakan ternyata adalah calo. Tentu saja kita akan kena charge lebih tinggi untuk sebuah penginapan jika melalui calo tersebut.(Tips 1)

Demikian halnya dengan penawaran tumpangan mobil hartop. Anda kami sarankan sudah mengantungi nomor telepon salah satu pemilik hartop tersebut. Jika anda memesan lewat orang – orang yang berlalu lalang di sekitar penginapan maupun di sekitar lokasi wisata, maka anda akan dikenakan biaya Rp. 550.000 untuk satu buah Hartop yang mengantar anda dari penginapan ke Pananjakan, kemudian ke Padang pasir (tempat berhenti bagi yang mau naik ke Gunung Bromo), dan kemudian balik lagi ke penginapan. Atau Rp. 850.000,- untuk mengantar anda ke dari penginapan ke Pananjakan, Bromo, Bukit Teletubbies, dan Padang Savana. Tapi jika anda memesan langsung ke pemilik Hartop, anda cukup dikenakan Rp. 450.000,- untuk biaya antar dari Penginapan ke Pananjakan dan ke Gunung bromo (padang pasir). Lebih murah Rp. 100.000,- lumayan khan….(Tips 2)

Bagi saya Bromo adalah tempat yang penuh kenangan,tempat pertama kali mengenal istri saya. Saya sudah empat kali ke Bromo dengan menginap di empat penginapan yang berbeda. Berdasarkan pengalaman selama saya berkeliling Bromo, Hotel Cemara Indah dan Hotel Lava View Lodge adalah yang paling saya rekomendasikan, karena kedua tempat tersebut mempunyai view langsung ke Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru.

 Kembali ke cerita awal. Edisi kali ini kami menginap di Hotel Lava View Lodge. Setelah menurunkan barang Рbarang dari mobil, kami pun mulai menempati kamar masing Рmasing, kami pun dipersilahkan menikmati welcome drink berupa teh dan kopi panas. Minuman itu cocok untuk dipadukan dengan bakso yang dijual oleh beberapa penjual di sekitar lokasi hotel, plus sambil menikmati dinginnya udara dan view pegunungan yang awesome !

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

Oh ya, disinilah saya mendapat cerita dari Oki si supir bahwa ternyata dari harga Rp. 1.500.000,- sewa mobil yang kami bayarkan, menurut pengakuannya si Oki ini hanya mendapatkan Rp. 750.000,-. Jika langsung menghubungi Oki, kami cukup membayar Rp. 1.000.000,- saja untuk sewa mobil, bahan bakar, tol, dan parkir. Oke, walaupun sejak awal kenal sampai sekarang saya kurang bisa mempercayai Oki, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan poin pertama bahwa si Tikno yang mengirim Oki ini adalah calo, dan kedua bahwa biaya sewa mobil bisa ditekan andai kita kenal langsung dengan pemilik mobil rentalan. Jadi, jika anda berminat ke Bromo dari Juanda Surabaya, segera cari nomer telpon pemilik mobil rentalan langsung, jangan melalui calo. (Tips 3)

Kabut datang dengan cepat, menandakan gelap sebentar lagi berkuasa. Kami pun segera beristirahat, tidur, sambil menunggu dibangunkan oleh pemilik Hartop.

Sebelum berangkat menuju Pananjakan, sebaiknya anda berwudhu di penginapan dahulu, mengingat biasanya di Pananjakan akan penuh dengan para wisatawan dengan tempat wudhu dan sholat yang sangat terbatas. Jaga wudhu hingga waktu Shubuh menjelang, dan syukur-syukur anda membawa matras sekalian untuk menghindari antrian sholat di mushola di Pananjakan yang ukurannya sangat kecil. (Tips 4)

Sekitar jam 3 pagi kami berangkat dari penginapan menuju Pananjakan. Jalan dari penginapan turun menuju padang pasir sekarang sudah diaspal bagus tidak seperti dulu. Jalanan di padang pasir pun sudah diatur. Jarak pandang terbatas ke depan karena tertutup kabut bagi sopir Hartop bukanlah masalah besar. Sekitar setengah jam perjalanan kami terpaksa berhenti jauh dari view point pananjakan karena saking banyaknya Hartop yang sudah parkir di pinggir kiri kanan jalan, ditambah dengan motor ojek yang makin menambah crowded jalanan.

Motor ojek ini dulu belum ada. Mungkin mulai ada sejak jumlah Hartop makin banyak sehingga parkirnya harus berderet hinga makin jauh dari view point pananjakan sehingga para tukang ojek dadakan ini menangkap adanya peluang mengantarkan para penumpang hartop yang tidak beruntung mendapatkan parkir yang jauh dari view point. So, tips berikutnya, berangkatlah sepagi mungkin dari penginapan agar mendapatkan parkir yang paling dekat dengan view point pananjakan (Tips 5). Tapi jika anda terpaksa mendapatkan parkir hartop yang jauh dari view point pananjakan, jangan langsung naik ojek. Biasanya para tukang ojek ini menawarkan harga Rp. 50.000,- untuk mengantar anda sampai view point pananjakan. Nah anda cobalah jual mahal terus berjalan dan seolah tidak butuh ojek (pura-puralah kuat berjalan walaupun itu berat hahahaha), kemudian setelah sekian meter berjalan cobalah bernegosiasi harga.Para tukang ojek ini jumlahnya banyak, jadi sesama mereka ini saling bersaing. And then, terbukti trik saya ini berhasil, kami hanya dikenakan biaya Rp.10.000,- per orang (bukan per motor ya) untuk diantar ke view point Pananjakan (Tips 6).

Dan here it is. Sampailah kami di Pananjakan. Tempat terbaik untuk menikmati pemandangan Gunung Batok, Gunung Bromo, Gunung Semeru, Pegunungan Tengger, hingga lautan pasir dan selimut kabutnya, serta jika beruntung anda akan mendapatkan sunrise yang bagus. Jika anda ingin mendapatkan view yang agak leluasa, cobalah berjalan terus hingga ke ujung pemancar, disitu jumlah pengunjung atau wisatawan tidak sebanyak di tempat lainnya.

??????????????????????? ???????????????????????

?????????????????????????????????????????????? ??????????????????????? ???????????????????????

Setelah puas menikmati pemandangan dan suasana Pananjakan, kami menyempatkan untuk sekedar minum teh dan makan gorengan untuk menghangatkan tubuh dan sekaligus mengisi perut. Untuk souvenir berupa kaos atau t-shirt, sebaiknya jangan beli disini karena harga disini lebih mahal dibanding jika anda beli di bawah, di lautan pasir (Tips 7).

Perjalanan turun dari Pananjakan ke Padang pasir memang tidak semacet pada saat naiknya, karena kami memang sengaja memilih waktu agak sedikit siang untuk turun. Hartop sekarang hanya boleh mengantar pengunjung sampai di padang pasir, beberapa puluh meter dari Pura (tempat beribadah umat Hindu Tengger). Dari sini akan banyak orang yang menawarkan jasa mengantar dengan kuda hingga tangga Gunung Bromo pulang pergi, dengan harga Rp. 125.000,- per kuda. Artinya, anda akan diantar hingga mendekati tangga Gunung Bromo, kemudian ditunggu sampai selesai, dan diantar kembali ke tempat Hartop anda.

??????????????????????? ???????????????????????

Saran saya, tolak dulu tawaran naik kuda ini, kemudian mulailah anda berjalan menuju arah tangga Gunung Bromo. Untuk beberapa puluh meter ke depan medannya relatif landai kok, jadi bisa ditempuh dengan jalan santai. Pada saat anda jalan, para pemberi jasa kuda ini biasanya akan mengikuti anda terus sambil menawarkan harga sekali antar maupun bolak-balik yang makin lama harganya akan makin turun.

Ambillah harga sekali jalan (bukan bolak balik), kami disini bisa mendapatkan harga Rp.40.000 untuk sekali jalan. Nah nanti, jika selesai menikmati suasana puncak dan kawah Bromo, silahan mencari kuda lagi untuk mengantar perjalanan anda kembali ke hartop. Untuk perjalanan pulang ini kami bahkan dapat menawar hingga harga Rp. 25.000,-. Seperti tadi juga, berjalanlah beberapa puluh meter ke depan dan pura-pura tidak butuh tumpangan kuda. Jadi, total kami hanya membayar Rp. 65.000,- untuk pulang pergi naik kuda. Bandingkan dengan harga awal tadi yang seharga Rp. 125.000,-, bukankah kita bisa saving hinggaRp. 60.000,- ? Tentu jika ingin lebih hemat lagi, anda cukup mengikuti apa yang saya lakukan, menempuh jalan dari lokasi parkir hartop hingga puncak bromo dengan berjalan kaki. (Tips 8).

???????????????????????

???????????????????????

Dan kami pun mengambil sejumlah foto di lokasi ini dengan kalap. Soalnya indahnya itu lho cuy….

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

???????????????????????

Salut buat Ale, Dhican, Sisi, tiga anak kecil yang pantang menyerah menaiki 250 anak tangga menuju puncak Gunung Bromo. Setelah puas, kami pun kembali menuju hartop. Disini kami sudah diserbu oleh para penjual kaos dan souvenir. Kaos dijual cukup murah yaitu Rp. 50.000,- untuk tiga buah kaos atau Rp.100.000,- untuk 6 buah kaos. Jauh lebih murah dibanding harga kaos yang ditawarkan di Pananjakan tadi (Tips 9).

Kemudian kami kembali ke penginapan di Hotel Lava View Lodge. Oh ya, jangan lupa untuk mengatur waktu anda ya, karena biasanya waktu sarapan pagi dibatasi hanya sampai jam 09.00 atau hingga jam 10.00 saja, dan check out jam 11.00. So, jangan sampai anda melewatkan breakfast anda dan terlambat untuk check out.

Tepat jam 11.00 kami pun selesai membereskan semua peralatan dan kembali ke mobilnya Oki yang siap mengantarkan kami menuju Kota Batu, Malang.

Eh iya, ada baiknya jika anda meluangkan waktu lebih dari sehari di kawasan Wisata Bromo ini, karena disamping anda akan lebih terpuaskan, juga ada beberapa objek lain di sekitar Bromo ini. Yang paling bagus adalah air terjun Madakaripura yang indah sekali dan sayang untuk dilewatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s