Wara’ : Salak, Telur, dan Sandal

Anda tentu setuju : di saat banyak orang tua memakaikan sepatu pada anaknya cukup dengan langsung memegang kaki si anak kemudian memasukkannya ke dalam sepatu, maka saat ada orang tua yang membersihkan dahulu dalamnya sepatu untuk memastikan tidak ada kerikil atau tanah yang tertinggal di dalamnya, kemudian membersihkan telapak kaki si anak, baru setelah itu memakaikan sepatunya; saya akan memberikan nilai plus pada orang yang kedua ini.

Anda tentu juga setuju jika saya menaruh respek pada seorang tua yang memastikan bahwa jalanan di depannya tidak ada batu atau benda berbahaya lainnya, saat berdua bersama anaknya menunggu angkutan kota datang melintas. Itu juga berlaku untuk seorang supir yang memberi kesempatan jalan kepada seorang penyeberang jalan sambil menyalakan lampu hazardnya memberikan tanda agar kendaraan di belakangnya berhati-hati dan ikut memberikan jalan kepada si penyeberang jalan. Atau pada seseorang yang segera mematikan mesin motornya saat tiba di lingkungan Masjid saat menghadiri sholat fardhu lima waktu berjamaah.

Tidak ada aturan tertulis atas semua itu. Ini tentang moral, tentang etika, bukan aturan. Ini tentang kualitas kasih sayang bukan kuantitas. Ini tentang bagaimana memberi nilai lebih bukan pembiasaan hal biasa. Ini tentang bagaimana menghargai lebih pada seseorang atau pihak yang anda sayangi.

Kita tahu buah salak tumbuhnya di bawah, tepat di atas tanah, diantara gerumbulan duri-duri dan pupuk kandang yang mengelilinginya. Mengupasnya, dengan sedikit basah diantara kulit dan buahnya adalah hal yang wajar. Tetapi mensucikannya dengan air, buah salak yang sudah terkupas tadi, untuk memastikan buah tersebut terbebas dari najis, adalah sesuatu yang mempunyai nilai lebih.

Kita juga tahu bahwa telur ayam keluar dari pantat ayam, sebuah tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran ayam. Telur itu umumnya bercampur dengan kotoran tentu saja. Pada saat peternak menjualnya, umumnya hanya cukup mengelap telur tadi ala kadarnya. Makanya sering kita jumpai, sebagian telur yang terjual di pasaran masih terlekati oleh kotoran itu, walaupun kering. Jadi, mencuci dan mensucikan telur tersebut sebelum memecahkannya untuk dimasak jelas sesuatu yang mempunyai nilai lebih.

Sebuah keluarga membiasakan memakai sandal bersih di dalam rumah. Sandal atau alas kaki itu dipakai khusus pada saat anggota keluarga di rumah akan menunaikan sholat. Jadi, setelah mengambil wudhu dari kamar mandi, langsung memakai sandal itu hingga dilepas saat akan menginjak sajadah. Ini dimaksudkan untuk menghindarkan kaki dari menginjak najis yang ada di lantai yang dilewatinya. Najis bisa dari mana saja. Bisa dari kotoran cicak, bekas telapak kaki anak kecil yang bersuci kurang sempurna setelah pipis di kamar mandi, bekas kaki kucing yang berlari dari luar rumah dan masuk ke dalam, atau mungkin bekas basah kaki kecoa yang baru muncul dari comberan masuk ke rumah melalui lubang-lubang kecil yang ada.

Ini bukan was was, ini juga bukan tentang hal yang berlebihan, tetapi bagaimana bersikap hati-hati, bagaimana bersikap wara’, bagaimana memberi nilai lebih pada suatu hal. Sama seperti Imam Ghazali yang menganjurkan memijit dan mengurut (maaf) kemaluan dari ujung dua biji hingga ke pucuk dzakar setelah kencing, untuk memastikan tuntasnya semua air kencing keluar tanpa ada lagi tersisa di dalamnya.

Karena Kanjeng Nabi sudah dari dulu memperingatkan kita akan bahayanya orang yang tidak memperhatikan kesucian badan, pakaian dan tempatnya saat beribadah.

One thought on “Wara’ : Salak, Telur, dan Sandal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s