Gunung dan Pak Wamen

Nabi Muhammad punya kenangan indah dengan Jabal Nur, dan Nabi Musa “menemukan” Tuhannya di gunung Tursina.

Saya jelas tidak akan membandingkan pak Widjajono Partowidagdo dengan dua nabi itu, atau dengan ulama manapun. Tapi sungguh saya tidak terima jika statemen yang mengatakan “Pak wamen ini suka naik gunung untuk mendekatkan diri pada Tuhannya”, dibantah dan bahkan dilecehken.

Bagi yang belum pernah naik gunung, atau pernah naik tetapi tidak mendapatkan pelajaran apapun dari alam, mungkin tidak akan bisa memahami betapa luar biasanya proses “pejalanan spiritual” anda saat berinteraksi langsung dengan ayat-ayat NYA.

Saya menemukan aplikasi tayamum pada saat naik gunung, saya mempraktekkan bersuci dengan benda pengganti air juga pada saat naik gunung. Saya menemukan solidaritas tinggi juga pada saat naik gunung. Saya menemukan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan pada saat naik gunung. Saya mendapatkan arti tasbih menjadi lebih membahana di hati saat sholat diantara pemandangn luar biasa ayat-ayat NYA.

Saya menemukan keheningan yang agung juga pada saat naik gunung. Saya, selaku manusia, seperti halnya anda dan kita semua,  yang ditunjuk Alloh  menjadi Khalifah fil Ard, mengenal dengan mata jenis2 hewan dan tumbuh-tumbuhan baru yang hanya hidup di iklim pegunungan. Saya menemukan kepasrahan yang dalam saat berada dalam dekapan hutan belantara gunung NYA. Dan bahkan saya pernah tergetar bibir dan dadanya saat melafalkan ayat-ayat tentang Gunung saat sholat dalam dekapan suhu dingin di dalam tenda, di sebuah gunung.

Saya menemukan cara pandang baru terhadap masalah, terhadap arti keluarga, terhadap arti isteri, terhadap arti anak, dan bahkan terhadap sedikit arti kehidupan, saat saya menjauhkan diri dari rutinitas dengan mendaki gunung. Saya mengalami arti jual beli (al bai’, dengan melakukan tukar menukar barang, -saat itu kami menukar beras dengan ikan- bukan barang dengan uang, juga di gunung. Saya mendapatkan pengalaman dan pembelajaran perubahan cuaca super ekstrim juga di gunung. Dan yang pasti, saya menemukan kedekatan yang sangat saat beribadah dimana saya dan langit terlihat begitu dekat tanpa hijab.

“lau angzalnaa haadzal qur aana ‘alaa jabalil laroaitahuu khoosyi’am mutasoddi’am min khosyatillaah, wa tilkal amtsaalu nadribuhaa linnaasi la’allahum yatafakkaruun…”

2 thoughts on “Gunung dan Pak Wamen

  1. lho, bukannya tendanya sudah dijual ?
    beli baru lagi kah ?
    hayuk, segera direalisasikan, setidaknya sebelum dirimu mendirikan “tenda biru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s