Smoke gets in your eyes (keslomot matane)

Saya sedang senang mengkait-kaitkan suatu hal kecil dengan tinjauan secara ekonomi awam. Kali ini saya akan menuliskan hal yang berhubungan dengan rokok. Soal hubungan rokok dengan kesehatan, saya yakin semua sudah memahaminya. Kadang seorang perokok akan bilang “perokok pasif kan lebih berbahaya”. Sadarkah dia bahwa disamping sebagai perokok aktif, dia pun ikut menjadi perokok pasif (menghisap kembali asap rokok yang sudah dikeluarkannya) juga ?.

Indonesia adalah surga bagi pengusaha rokok. Lihat saja, daftar 10 orang terkaya di indonesia, beberapa diantaranya didominasi oleh pengusaha rokok. Rokok menjadi konsumsi utama dari level pengemis hingga direktur utama sebuah bank. Agak lucu dan mungkin miris memang saat suatu ketika saya menemukan seorang lelaki tua, salah satu tangannya menadah mengemis dengan memelas, sementara tangan lainnya menjepit rokok yang masih menyala. Jadi, tidak salah dong jika saya membuat judul yang kurang lebih ingin menyentil bahwa mata negara kita ini sudah kesundut rokok, karena sudah saking akutnya keakraban rokok dengan kehidupan (bohong !! judul mah sengaja dibikin buat menarik perhatian, biar pada mau ngebaca !!)

Seorang wanita, jika dia menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai, sebuah program bantuan cash money dari pemerintah untuk masyarakat yang tergolong miskin) Rp. 300.000,00 sebulan, bisa jadi dia akan pulang dengan uang utuh, atau dengan sekeranjang belanjaan berupa bahan makanan pokok, sayur mayur, dan lain sebagainya untuk dikonsumsi satu keluarga. Beda dengan lelaki, andai seorang lelaki menerima BLT Rp.300.000,00, bisa jadi Rp.10.000,00 atau lebih diantaranya langsung dibelikan rokok, sisanya baru kemudian untuk anak istri. Itulah mengapa saya memilih pasangan hidup saya adalah seorang wanita, bukan lelaki !!

Suatu saat, saya ngobrol dengan teman saya yang berprofesi sebagai supir dengan penghasilan sekitar Rp.1.200.000,00 per bulan dan menghabiskan rata-rata sebungkus rokok per hari. Teman saya ini punya satu istri yang tidak bekerja dan dua anak yang masih kecil, seusia anak – anak sekolah dasar. Rambut anak-anaknya agak berwarna merah, bisa jadi karena efek sering terkena sinar matahari, tetapi juga tidak menutup kemungkinan karena kurang gizi. Yang jelas, rambut itu berkutu. Dan mereka begitu senang saat sesekali mendapatkan ibunya memasak daging, sesuatu yang mungkin jarang mereka dapatkan di kehidupan sehari-hari.

Obrolan saya dan teman tadi kemudian memasuki wilayah rokok. Saya terangkan kepada dia tentang hitung-hitungan kasar andai teman saya ini merokok sebungkus sehari, atau kurang lebih Rp.10.000,00 sehari. Itu artinya dalam sebulan dia menghabiskan tidak kurang dari Rp.300.000,00 untuk rokok, atau jika disetahunkan mencapai Rp.3.650.000,00 hanya untuk rokok.

Bayangkan andai Rp. 300.000,00 sebulan itu dialokasikan untuk membeli daging, atau membeli telur, atau membeli tambahan makanan bergizi, atau untuk buku pengetahuan bagi anak-anak, atau tambahan les pengetahuan bagi anak-anak, atau tabungan buat membeli baju lebaran buat anak istri, atau semalang-malangnya untuk membeli obat kutu rambut, tentu itu akan lebih bermanfaat. Saya berdiskusi dengan teman ini, tanpa bermaksud menggurui, saya mengingatkannya bahwa Rp. 1.200.000,00 sebulan yang dia dapatkan itu belum tentu haknya dia seorang. Bisa jadi sekian ratus ribu rupiah itu haknya istri, bisa jadi sekian ratus ribu rupiah lainnya itu hak dan rezeki anak-anaknya, hanya saja Alloh memberikannya melalui teman saya tadi selaku perantara. Alangkah egoisnya jika dia memakan hak istri dan anak-anaknya itu hanya untuk sebuah barang yang bernama rokok.

Kemudian saya bertanya tentang Qurban, pernahkan dia berkurban di hari raya qurban ? Jawabannya bisa ditebak, dia bilang belum pernah. Padahal kambing kurban sekarang ini ada di kisaran harga 1.5 juta. Harga 2.5 juta itu sudah sangat bagus. Bayangkan andai uang Rp.3.650.000,00 setahun yang dia habiskan untuk rokok itu direclass untuk membeli satu ekor kambing kurban, masih tersisa banyak !!

Jadi, kamu masih berpikir merokok lebih baik daripada berkurban ?!

One thought on “Smoke gets in your eyes (keslomot matane)

  1. Pernah aku sampekan jokes ke kedua kakakku yg merokok. Bahannya sih dari becandaan nya Ust Arifin Ilham, bahwa perokok itu ngga ada yg sholat subuh jamaah di masjid. Dua kakakku lgsg bereaksi berbeda.Yg satu lgsg ngaku malu “iya nih jd malu hehe hehe”.Yg satu lgsg berubah air muka nya jd kaku membatu seperti menahan emosi (atau malu).Tp alhamdulillah kedua nya kemudian berhenti merokok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s