Maafkan Kami yang Rabun

Seberapa kenalkah kita pada Kanjeng Nabi ?

Teman, jika itu saya tanyakan pada diri saya sendiri, ternyata saya jauh dari kata mengenal Kanjeng Nabi. Saya hanya mengenal sebatas apa yang diceritakan oleh para ustad di Masjid dan Musholla, sebatas syair – syair yang bercerita tentang Beliau, sebatas menokohkan tapi kemudian tidak melakukan apapun.

Teman, coba jika ada yang bertanya pada kita, Hasan dan Husain , keturunan Kanjeng nabi, itu kembar atau adik kakak ? Jawaban kita mungkin mengambang. Kalaupun benar, mungkin hanya karena tebakan kita jitu. Atau jika ditanya, Nabi kita itu hidupnya dengan cara berdagang, nah, barang apa saja yang beliau perdagangkan ? Maka, bisa jadi kita hanya terdiam seribu bahasa, sambil mengutuk dalam hati, iya ya, kenapa tidak dari dulu kita bertanya pada ustad-ustad dan para penceramah itu.

Syafii Antonio membagi ‘ketidakkenalan’ kita pada Kanjeng Nabi itu menjadi dua. Pertama disebutnya Rabun Jauh, dan yang ke dua disebutnya Rabun Dekat. Rabun jauh, terjadi karena para peneliti kaum barat melakukan penelitian dan mempelajari kehidupan Kanjeng Nabi dengan pendekatan yang salah, dan memang tujuan mempelajarinya untuk mencari kelemahan dan memberikan citra buruk Kanjeng nabi. Hal ini tidak terlepas dari siapa di balik pemberi dana bagi penelitian yang mereka lakukan. Jadi, bagi mereka, dan bagi sebagian orang barat, Kanjeng Nabi tidak lebih dari seseorang dengan kemampuan mempesona banyak orang, yang gila sex dengan menikahi banyak wanita, dan gemar berperang.

Rabun dekat, justru terjadi akibat kaum Islam sendiri yang menempatkan Kanjeng Nabi terlalu tinggi, mendekati Tuhan. Sehingga seolah-olah Kanjeng nabi itu sesuatu yang begitu tinggi dan susah untuk dicontoh. Tokohnya hanya ada di awan, terpatri, dan menjadi simbol agama saja. Padahal Kanjeng Nabi adalah manusia juga, yang membumi, yang bisa salah sehingga Allah tidak segan-segan langsung menegurnya, dan bisa dicontoh atau diteladani.

Saya pribadi berpendapat, kita terlalu menokohkan Kanjeng nabi ini sebagai tokoh agama, simbol agama, yang hanya selalu berhubungan dengan hal – hal yang berbau ibadah saja. Padahal tidak demikian. Kanjeng Nabi adalah simbol manusia yang multitalented, yang mampu memberikan contoh di segala bidang kehidupan.

Pertama, Kanjeng Nabi memberikan contoh dalam bidang kepemimpinan dan pengembangan diri, melalui kisah hidupnya yang sudah yatim piatu sejak kecil dan hidup sengsara tetapi bisa berkembang menjadi pemimpin dan pebisnis yang handal. Kedua, Kanjeng Nabi juga memberikan contoh bagaimana membentuk keluarga yang harmonis dengan kehidupan sehari-hari rumah tangganya yang sangat jauh dari konflik. Orang masih berpolemik tentang keputusan Kanjeng Nabi yang memperistri Aisyah yang saat itu disinyalir masih dibawah umur (setelah melalui berbagai kajian, sejumlah pihak kemudian sepakat bahwa hal ini kemudian terbantahkan ), tetapi lihatlah, Aisyah ternyata adalah seorang gadis yang mempunyai kemampuan daya ingat yang menakjubkan. Aisyah membantu kaum muslim untuk mengenal kehidupan Kanjeng Nabi yang mungkin bersifat pribadi, dan tidak layak disampaikan sendiri oleh Kanjeng Nabi ke khalayak umum. Aisyah adalah periwayat hadits ahad yang shohih dan tidak ada keraguan atasnya.

Ketiga, Kanjeng Nabi mampu memberikan contoh bagaimana dakwah terbaik dilakukan, terbukti dengan berkembang pesat ajaran Islam yang disampaikannya hingga diseluruh pelosok bumi ini. Tidak ada bantahan untuk hal ini. Keempat, Kanjeng Nabi memperlihatkan bagaimana peran dia dalam bidang sosial dan juga politik. Tidak ada kepentingan keluarga dan pribadi yang Beliau bawa di persoalan sosial dan politik ini.

Kelima, Kanjeng Nabi adalah pembelajar sejati dan guru peradaban. Bagaimana sebuah masyarakat Mekkah yang jahiliyah dalam jangka waktu kurang dari 13 tahun bisa diubah menjadi bangsa yang berbudaya dan berkarakter terpuji. Nabi mengajarkan belajar baru membuahkan hasil jika ada story telling, analogy & case study, body language, self reflection, focus & point basis dan affirmation & repetition (aku ngomong opo tho iki ?!!!). Keenam, dengan Al Quran, Kanjeng Nabi merombak habis tata hukum di negeri itu. Tentang hal ini, Kanjeng Nabi baru-baru ini mendapat pengakuan dari Supreme Court sebagai satu dari 18 Law Giver terbesar sepanjang sejarah bersama Hammurabi, Julius Caesar, Justinian dan Charlemagne. Sebuah penghargaan yang mungkin prestisius, tetapi bagi saya malah terkesan pelecehan karena Kanjeng nabi kelasnya hanya disamakan dengan tokoh-tokoh lainnya tadi.

Ketujuh, Kanjeng nabi pintar dalam strategi dan kepemimpinan militer. Beliau memimpin 9 perang besar, dan selalu mengajarkan bersikap adil, tidak mudah marah, mengapresiasi yang berprestasi, dan selalu menegaskan bahwa perang bukan untuk menumpas manusia, tetapi untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi kebenaran. Kedelapan, Kanjeng Nabi memberi pelajaran penting tentang bisnis dan kewirausahaan dalam perjalanan hidupnya. Usia 12 tahun beliau ikut dan belajar berdagang bersama pamannya (intership), kemudian Beliau mencoba membuka usaha dagang sendiri di usia masih belasan tahun (Business manager), setelah itu Kanjeng nabi sukses mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan modal orang-orang Makkah (Investment Manager). Di usia 25 seiring Beliau memperistri Khadijah, Beliau pun mengubah dirinya menjadi (Business Owner), dan belum menginjak usia 40, bBeliau sudah mencapai apa yang disebut sebagai Financial Freedom.

Sungguh indah skenario Allah. Begitu Kanjeng Nabi diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Kanjeng Nabi sudah tidak perlu memikirkan dunia, dan bahkan lebih sering membagi-bagikan hartanya hingga akhir usianya. Sehingga saat meninggalpun, Kanjeng Nabi sama sekali tidak meninggalkan harta sama sekali.

Temans, Kanjeng Nabi adalah tokoh multi dimensi, bukan hanya simbol agama, bukan hanaya layak dibicarakan dalam ibadah – ibadah dan pengajian, tetapi adalah cermin terbaik dalam segala waktu dan keadaan. Orang miskin bisa mencontoh bagaimana kehidupan Kanjeng Nabi disaat miskin, orang menengah bisa mencontoh bagaimana kesahajaan Kanjeng Nabi saat baru sukses merintis usaha, dan orang Kaya bisa mencontoh Kanjeng Nabi saat beliau sudah mencapai posisi Financial Freedom.

Saya ingin sekali mencontoh Kanjeng Nabi sejak saya terbangun dari tidur, hingga kita tertidur kembali. Nilai ibadah selalu mewarnai sekecil apapun bentuk peristiwa atau perbuatan yang dilakukannya. Janagn kita menjadi orang yang berteriak-teriak menentang Sekulerisme negara ini, sementara kita bahkan mengingat Allah dan Rasulnya pun hanya disaat kita Shalat lima waktu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s