ABAS (I love This Game)

Saya termasuk terlambat mengenal dan menyukai jenis olah raga yang satu ini, menjadi ABAS (Anak Basket), yaitu saat menjelang akhir – akhir masa sekolah di SMA. Itu terjadi setelah saya melihat rekan – rekan satu sekolah yang begitu bagus dan kompak dalam bermain di lapangan, plus dampak dari begitu hebatnya pemberitaan tentang kompetisi NBA (National Basketball Association) waktu itu.

 

Bintang idola saya di NBA waktu itu adalah David Robinson (San Antonio Spurs) dan John Stockton (Utah Jazz). Michael Jordan mungkin masih jadi yang terbaik jaman itu (dan mungkin sepanjang jaman, mengalahkan Kareem Abdul Jabar, Wilt Chamberlaine, Dr J, Magic Johnson, maupun bintang basket masa sekarang, Kobe Bryan).

 

Kembali ke cerita awal. Baru setelah masuk ke bangku kuliah, saya mulai sering meluangkan waktu untuk bermain bersama. Baik itu di lapangan komplek dekat kost, maupun di gedung olah raga kampus tempat saya kuliah. Untuk menutupi postur tubuh yang kurang mendukung untuk ukuran pemain basket, saya berlatih memperkuat otot kaki dan akurasi tembakan, sehingga saya mempunyai lompatan yang cukup tinggi dan gampang menemukan sudut titik ideal untuk melepaskan tembakan. Hasilnya, tidak buruk, saya masuk dalam “Timnas”nya jurusan akuntansi angkatan saya.

 

Cerita tentang kejayaan dan kesenangan dalam bermain basket mengalami jeda sejak saya lulus kuliah dan kemudian mulai bekerja. Mungkin bisa dihitung dengan jari tangan, jumlah hari dalam setahun saya memegang bola basket dan memainkannya dalam sebuah pertandingan.

 

Nah, seminggu yang lalu, saya menemukan teman yang juga menyukai bermain basket, yang juga sudah lama “off” dari permainan ini. Kami berdua kemudian meluangkan waktu tiap pagi sebelum masuk kantor, untuk melakukan olah raga bersama. Lumayan bikin rindu terobati, dan cinta pada olah raga ini datang kembali.

 

Kini, kami berdua, ditambah beberapa teman kantor yang sesekali nimbrung, sedang mencoba untuk rutin seminggu dua kali memainkan permainan bola merah temuan James Naischmith ini. Kendati sempat bermasalah di awal – awal (badan pegal-pegal, kaki kram, dan tembakan 90% gagal, bahkan sekedar lay up pun lebih sering gagal), tapi rasanya perlahan saya mulai menemukan sentuhan “magic” saya pada bola basket.

Selamat datang cinta lama yang bersemi kembali….

2 thoughts on “ABAS (I love This Game)

  1. aku malah rajin maen basketnya pas SMP-SMA, kebetulan rumah deket lapangan basket, tiap pagi dan sore slalu saja ada anak2 yg maen, jd suka ikutan dan pas waktu itu lagi rame2nya NBA. Tapi makin kesini makin jarang main, terakhir maen basket di Timezone, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s