Citarik Rafting 2011

Saya tidak bisa menghindari untuk membanding-bandingkan antara pengalaman rafting saya yang pertama, yang ke dua, dan dengan yang ketiga ini. Dan bagi saya, pengalaman rafting di sungai Citarik ini, bukan yang terbaik (pengalamannya lho ya, bukan penyedia jasanya, dan bukan Sungai Citariknya).

Berawal dari ajakan teman sekantor untuk rafting di Citarik, saya pun mengiyakan dan mulai menyusun skedul jalan – jalan bareng keluarga. Skenario awalnya adalah saya dan istri ikut rafting, sedangkan si beruang qutub dan lady strawberry ikut ke lokasi rafting dan lanjut menginap di Pelabuhan Ratu buat bermain sepuasnya dengan laut.

Sabtu pagi (8/1/2011) kami, rombongan 4 mobil, berangkat dari BSD menuju Citarik melalui tol Bintaro, lanjut tol Jagorawi, dan menuju arah Cibadak. Petualangan dimulai begitu dari Cibadak berbelok ke kanan menuju Cikidang, karena jalannya yang melintasi bukit dan berkelok-kelok, dengan sejumlah tikungan yang tajam. Ale si beruang qutub terkapar karena tidak kuat menahan rasa muntah.

Sampai di lokasi sekitar pukul 10, dan langsung persiapan, briefing sejenak, dan segera diangkut menuju starting point dengan mobil bak dengan medan jalanan berbatu dan menanjak. O la la…. Oh ya, kali ini kami memakai jasa Arus Liar untuk kegiatan rafting ini. Saya membandingkannya dengan Cherokee rafting di Sungai Cicatih yang menyediakan makan sebelum berafting, di Arus Liar Citarik ini tidak ada makan dulu, adanya hanya welcome drink. Di Sungai Elo Magelang malah tidak ada sama sekali welcome drink maupun makan apapun.

Kami, 18 peserta, dibagi dalam 4 perahu. Dan setelah mendapatkan instruksi standar tentang rafting, kami pun langsung memulai petualangan. Debit air saat itu memang sedang kecil, jadi perahu kami sering emnyangkut di batu, dan beberapa jeram terkenal yang pernah saya baca di internet dan juga media lainnya, hari itu tidak terlihat “kesangarannya”.

Sekitar satu jam perjalanan, setengah perjalanan, kami istirahat. Di tempat itu kami hanya disediakan air putih saja. Maaf jika saya membandingkan dengan Cherokee rafting di sungai Cicatih yang menyediakan air teh hangat dan sejumlah cemilan. Sedangkan di sungai Elo Magelang, di tempat istirahat kami tidak mendapatkan apa – apa. Mungkin karena waktu di Sungai Elo, saya datangnya dadakan tanpa konfirmasi dulu, dan langsung minta rafting.

Setidaknya, kami dihibur oleh dua anak lucu yang bergaya seru setiap sebuah kamera berusaha untuk mengabadikannya

Perjalanan sesi 2 dimulai

Perjalanan di lanjut, dan memang sepanjang perjalanan, bagi saya, tidak ada jeram yang menantang. Semuanya datar standar. Mungkin karena debit airnya yang sedang kurang ideal, jadi saya gagal merasakan jeram grade 3 nya sungai ini. Mungkin yang istimewa adalah, jika dulu saat mengarungi sungai Cicatih saya satu perahu dengan seorang wanita, kali ini di Citarik, saya juga satu perahu dengan wanita itu, yang sudah menjadi istri saya 🙂

Di finish point, kami mendapatkan hidangan berupa kelapa muda (yang ternyata begitu di tangan saya, berubah jadi kelapa tua), dan kami kembali diangkut menuju homebase arus liar untuk bilas, ganti pakaian, dan menikmati hidangan makan besar. Sekedar membandingkan, waktu di Cherokee rafting Cicatih, disamping mendapatkan kelapa muda, dan makan besar, kami juga bisa menikmati jasa pijat gratis. Satu lagi, tempat bilasnya ada di finish point, jadi kami tidak tersiksa oleh rasa dingin ( bisa bilas dulu sebelum menikmati kelapa muda, pijat gratis dan makan besar). Di Elo Rafting Magelang, kami mendapatkan makan besar standar.

Kesimpulan, dari ketiga pengalaman saya mengikuti rafting ( Sungai Cicatih, Sungai Elo, dan Sungai Citarik), soal medan sungainya, sepanjang debit airnya normal, Citarik dan arus liarnya adalah yang terbaik. Tetapi dari segi pelayanan, service, dan fasilitas yang di dapat, Cherooke Rafting di sungai Cicatih adalah yang terbaik.

 

Apapun itu, bagi saya, yang terpenting adalah kebersamaan yang tercipta dengan rekan – rekan satu kantor dalam perjalanan kali ini. Thx so much buat semua rekan – rekan, smoga kita semua masih diberi kesempatan untuk mencoba kebersamaan ini di waktu yang lain.

 

*Pelabuhan Ratu*

Selesai rafting, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan ratu. Ini adalah kali ke dua bagi saya dan istri mengunjungi objek wisata pantai selatan tersebut. Kalau dulu kami menginap di hotel Cleopatra, kali ini kami mencoba hotel dan bungalownya Bunga Ayu.

Bungalow yang kami sewa mempunyai dua kamar. Satu kamar bisa diisi 5 orang (satu bed besar buat berdua, dan tiga single bed), dan satu kamar lagi bisa diisi dua orang ( dengan satu bed besaruntuk dua orang).

Wisata di Pelabuhan Ratu memang terkenal sepi, jadi harga penginapan pun tergolong miring jika dibanding dengan objek wisata di tempat lain. Tetapi disamping harganya miring, fasilitas pun juga terkesan seadanya. Di bungalow yang kami sewa ini tidak ada sabun, pasta, sampo dan sikat gigi sesuai standar. Jadi, harus siap2 bawa sendiri.

Ada keuntungan kami memakai bungalow ini, karena kami punya akses langsung menuju pantai. Viewnya pun  lumayan, menghadap ke dermaga nelayan dan mercusuar di sebelah timur.

Apapun itu, bagi saya, yang penting ini bisa membuat si kecil Beruang Qutub dan Lady Strawberry bahagia, puas bermain dengan pasir dan pantainya.

6 thoughts on “Citarik Rafting 2011

  1. iya, kurang seru… beda waktu pertama kali kesini mungkin karena debit airnya lagi tinggi ya…
    kemaren ga mampir ke Ujung Genteng???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s