Ale dan Sholat

Setelah menyelesaikan 4 Rakaat Sholat Dhuhur di Masjid di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu, tiba – tiba Ale yang selama sholat bukan menghadap ke kiblat tetapi malah menghadap ke kereta gantung, bertanya : ” Ayah, kok sholat sunahnya belum ?”

 

Wow, saya terkejut, senang dan sekaligus penasaran dengan pertanyaannya. Setelah meng-oke-kan permintaannya untuk sholat sunnah ba’diah, kemudian saya pun mulai bertanya sekaligus mengorek keterangan tentang apa saja yang Ale tahu tentang sholat.

 

Ternyata, di sekolahnya saat ini, Sekolah Alam Tangerang, Ale diajarkan untuk istiqomah menjaga waktu sholat Dhuha, sholat qobliyah Dhuhur ( sholat sunah sebelum sholat Dhuhur), dan sholat ba’diyah Dhuhur (sholat sunnah setelah sholat Dhuhur). Wah…ini sebuah kejutan yang menyenangkan bagi saya.

 

Sebelumnya, pernah juga suatu malam , saat saya ajak Ale sholat berjamaah, dia melakukan takbiratul ikhrom berulang – ulang di setiap awal rakaat. Ketika saya tanya kenapa dia melakukan hal itu, Ale menjawab bahwa dia hanya meniukan apa yang sudah dilakukan orang – orang saat sholat di waktu lebaran.

 

Dua hari yang lalu, Ale kembali melakukan “sholat aneh” saat berjamaah. Kali ini dia mengambil posisi duduk sepanjang sholat, dan hanya sesekali membungkuk rukuk serta sujud. Saat kembali saya tanya tentang alasannya melakukan sholat seperti itu, Ale menjawab bahwa dia melakukan sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya saat sholat bersama – sama di masjid Quba. Saat itu dia melihat seseorang melakukan sholat dengan posisi duduk sepnjang sholat.

 

Eksplorasi Ale tentang sholat sungguh menyejukkan saya. Sesejuk saat saya pertama kali mendengarkan hapalan bacaan sholatnya yang sungguh jauh melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Kendati pengucapannya belum begitu jelas (jangan berbicara tentanh fasih dulu), tetapi hapalannya bagus dan mengambil versi lengkapnya.

 

Contohnya, saat dia mengucap sami’aloohu liman hamidah, setelah itu dia tidak hanya sampai pada lafal Robbanaa (wa)lakal hamd, tetapi dilanjutkannya sampai mil ussamaawati wa mil ulardhi wamil umaasyikta min syaiin ba’du.

 

Tetapi dibalik kebanggaan dan keharuan saya, muncul sebuah kesedihan dan rasa trenyuh. Tidak bisa disangkal lagi, Ale belajar semua itu dari para gurunya di sekolah TK Robbani dan Sekolah Alam Tangerang. Lalu, dimana peran saya saat itu ? Saat Ale menghapal surah-surah di juz 30 ? Saat Ale menghapal dan belajar gerakan sholat ?  Saat Ale belajar huruf hijaiah ?

 

Ini adalah ladang amal Jariah, amal yang akan terus mengalirkan pahala kendati kita sudah mati. Saya rela ladang amal ini dimiliki oleh guru- guru Ale yang mengemban amanahnya dengan luar biasa, tetapi saya tidak rela jika saya sendiri tidak secara total ikut terlibat di dalamnya.

 

Mari Ale, kita jemput cahaya itu bersama…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s