Sees Both Sides of Every Story

Pernah dalam sebuah kumpulan orang – orang yang belum pernah saya kenal (muka) sebelumnya, tiba – tiba datang seorang ibu-ibu yang bertanya : “Adek ini yang nulis xxxxxx xxxxxxxx (sensor) ya ?”. Belum hilang kekagetan saya, si ibu kemudian melanjutkan menyebutkan beberapa hal tentang diri saya yang diketahui oleh si ibu. Total dalam acara itu, ada 3 orang yang tidak saya kenal tetapi mereka mengenal saya jauh diluar perkiraan saya.

 

Wow, awalnya ada rasa bangga bahwa saya dikenal juga oleh orang lain yang belum pernah bertemu muka. Bahkan dia tahu beberapa hal tentang diri saya.

 

Kejadian serupa – seseorang mengenal diri saya lebih dari ekspetasi saya tentang pengetahuan orang itu tentang diri saya- pernah terjadi juga saat saudara jauh dari istri saya, pas ketemuan tiba – tiba menanyakan tentang adik saya yang tinggal di Cibinong, bulik saya yang tinggal di Cimanggis, kakak yang nyasar dan nggak mau kembali di Seattle, hingga hal -hal lain yang benar-benar di luar dugaan.

 

Rasa bangga hati itu kemudian berubah menjadi rasa mengagumi orang yang mampu mengenal saya lebih dari apa yang saya perkirakan. Itu artinya, orang tersebut setidaknya punya keinginan untuk mempunyai hubungan yang akrab dengan diri kita. Bisa juga diartikan, orang tersebut sudah berbaik hati untuk mempelajari, atau mengenal lebih jauh tentang diri kita.

 

Rasa kagum kemudian bermetamorfosa menjadi rasa bersalah, atas ketidangmengenalan saya terhadap orang – orang itu. Beberapa orang “asing” tadi telah mengajarkan secara tidak langsung pada saya tentang bagaimana membuat orang menjadi senang.

 

Sejak itu, saya menjadi tertarik untuk mempelajari, mencari tahu tentang seseorang yang akan saya temui, yang belum pernah saya kenal (muka) sebelumnya. Itu tentu akan menyenangkannya. Perkara kemudian dia jadi bangga hingga timbul ujub, itu urusan dia.

 

dan satu dua contoh di atas, kembali menyadarkan saya, bahwa saya secara tidak sadar sesekali suka memandang suatu hal dari dua sisi yang berbeda. Kejadian di atas, saat seharusnya saya tersanjung karena dikenali oleh orang yang tidak kita kenal; saya justru berbalik menjadi malu dan merasa bersalah karena tidak mengenal balik dirinya dengan baik.

 

Lain waktu, saat teman -teman sekantor merasa kecewa dengan bonus akhir tahun yang hanya 200% sedangkan rekan kantor lain mendapatkan 375%; saya justru memandangnya bahwa 200% itu memang standarnya dan saya harus ikut gembira karena rekan2 kantor lain mendapat 375%.

 

Saat orang lain menikmati kopi panas untuk mengusir hawa dingin musim hujan; saya justru menikmati udara dingin musim hujan sebagai pelengkap dalam frase :” puncak rasa kopi panas akan didapatkan saat dinikmati dalam udara dingin musim hujan”. Jadi, udara dingin bukan musuh kopi, tetapi justru jadi kawannya kopi.

 

Saat teman lain yang sudah berbaik hati melayani klien kemudian mengamini doa yang diucapkan klien, semoga kelak menjadi pemimpin di kantornya; saya justru dengan lunak membuat jawaban yang membuat klien saya terhenyak “maaf saya tidak akan mengamininya, karena menurut saya jabatan itu amanah”

 

Dan saya jadi teringat dengan tulisan dalam gelas saya yang bergambar timbangan Libra, yang mengatakan bahwa pemilik bintang ini : Fair minded, sees both sides of every story

4 thoughts on “Sees Both Sides of Every Story

  1. alhamdulillah ijo🙂

    xxxxxx xxxxxxxx itu kalo diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi #*!&*!!~̓Ệ盵垫ِҵỆِ3嫀ꐎ!!

    hehehe :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s