Writing Tresno Jalaran Saka Kulina

Bulan Desember 2010 saya awali dengan mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pajak bekerja sama dengan Balai Pustaka. Berlokasi di Hotel Twin Plaza Jakarta, acara ini juga sebagai ajang pertemuan 46 orang penulis yang tergabung dalam sebuah buku berjudul Berkah Modernisasi, Berbagi Kisah dan Harapan.

 

Menyenangkan rasanya bisa bertemu teman satu profesi yang sebelumnya hanya saya kenal dari tulisannya, tetapi kini bisa berkumpul bersama dalam satu ruangan. Mungkin karena ini baru pertemuan pertama, jadi masih saling canggung untuk saling berinteraksi satu sama lain.

Di hari pertama, acara dihadiri oleh Direktur Utama Balai Pustaka yang juga mantan orang pentingnya harian Republika, Zaim Uchrowi namanya. Sedangkan inti acara pelatihan dipandu oleh Ibu Nanik Susanti, juga dari Harian Republika.

 

Eksplorasi ide, spontanitas penulisan, dan penggabungan gagasan dari puluhan orang menjadi menarik karenanya. Suatu saat, kami diminta untuk membuat satu kalimat secara lisan yang diteruskan oleh peserta yang lain dan saling sambung menyambung hingga membentuk sebuah cerita. Di saat lain, tiba – tiba kami diminta keluar dari ruangan untuk melakukan pengamatan di luar, mencari ide, dan menuangkan hasil pengamatan atau idenya tersebut dalam bentuk tulisan spontan.

Ada satu hal yang sampai sekarang masih mengganjal, dan saya menyesal tidak mengungkapkannya di acara Workshop tersebut. Saat itu, seorang peserta dari Kalimantan mengungkapkan pengamatannya terhadap pohon mangga yang terlihat dari atas Hotel, dan ternyata tumbuh di pekarangan rumah seorang anggota TNI.

 

Ibu pemandu penulisan, mencoba meluaskan cakupan “hanya sebuah pohon mangga” yang kebetulan tumbuh di pekarangan anggota TNI itu untuk dikembangkan dengan penceritaan anggota TNI yang identik dengan kekerasan. Mungkin memang ibu pemandu tidak ada maksud lain selain hanya mengajarkan agar ide itu tidak dibatasi dan bisa dikembangkan secara liar kemana saja.

 

Tetapi bukan itu poin yang saya bahas. Saya justru menyoroti satu kalimat : ” Aparat TNI identik dengan kekerasan”. Saya akan membahas tentang Nilai Positif Sebuah Tulisan, bukan membahas benar atau tidaknya anggota TNI diidentikkan dengan kekerasan.

 

Seperti kita semua tahu, akhir – akhir ini negeri ini jika ditimbang, makin lama kok makin berat muatan negatifnya ya. Mulai dalam kehidupan nyata yang saling bermusuhan, saling intrik, saling mencurigai, dan saling tidak mempercayai. Sampai bahkan dalam berita tulis pun, para penulis berita identik banyak mengulas sisi – sisi negatif sebuah perkara dan bahkan terkesan sengaja mengundang dukungan komentar negatif.

 

Tanpa kita sadari, muatan negatif dari setiap kejadian, setiap tulisan, dan setiap kata2 itu kemudian ikut membentuk pribadi yang negatif juga. Orang jadi mempunyai kecenderungan bersikap apatis, berburuk sangka, selalu berpikir kesalahan tanpa memberikan solusi yang memberikan jalan keluar.

 

Saya termasuk yang mempercayai, sekecil apapun kita berbuat atau berpikir positif, akan mempengaruhi daya alam semesta yang ada di sekitar kita. Seperti kita melempar sebuah kerikil kecil dalam sebuah kolam. Kerikil itu akan menciptakan gelombang berdiameter kecil di sekitar tempatnya tenggelam, tetapi kemudian diameter gelombang itu akan semakin membesar seiring semakin jauhnya cakupan efek gelombang itu.

 

Kembali ke kalimat : ” TNI identik dengan kekerasan” tadi, saya berpendapat kalimat ini , atau ide ini, atau pikiran ini, bermuatan negatif. Mungkin akan jadi lebih baik jika memang akan mengembangkan ide untuk membahas lebih lanjut tentang anggota TNI, bahas sajalah kehebatan mereka dalam membantu evakuasi pengungsian bencara merapi, ulas saja keheroan mereka dalam menembus medan sulit Mentawai guna menyalurkan bantuan, ceritakan saja kegigihan mereka dalam merelokasi dan membangun ulang tempat tinggal korban banjir di Wasior. Saya rasa , itu lebih positif.

 

Memang, ada kalanya tulisan dituntut untuk jujur, mengungkapkan fakta yang ada. Jika memang kejadian itu bermuatan hal negatif, maka harus diungkap dengan sebenarnya ( negatif). Hal ini terutama bisa kita dapatkan dalam penulisan naskah berita. Tetapi saat ini, kami sedang dalam suasana sebuah pelatihan menulis, dimana tidak ada fakta yang mengharuskan kami menulis tentang sebuah kenyataan negatif

 

Jadi, mari penuhi dunia ini dengan segala hal yang bernilai positif : berpikir positif, berkata positif, berkarya positif, dan bertindak positif.

*)thx buat direktorat Kitsda atas apresiasi dalam bentuk mengikutsertakan para penulis di buku berkah dalam sebuah workshop kepenulisan bersama Balai Pustaka. Ini sungguh apresiasi yang istimewa buat kami yang tadinya menulis hanya untuk menyumbangkan cerita dan berbagi nilai positif tanpa mengharapkan balasan apapun.

3 thoughts on “Writing Tresno Jalaran Saka Kulina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s