Tarekat Nyamuk

Suasana dini hari di Masjid ini begitu syahdu. Kendati belasan orang terlihat sibuk khusyuk dengan amalannya masing – masing, tetapi tidak membuat Masjid ini menjadi bising atau rusak suasananya. Semuanya seolah menyatu dengan ritme alam pagi dini hari, bersama angin dinginnya, bersama sedikit tetesan gerimis halusnya, bersama keheningan agungnya.

 

Saya dan Gus-e memang punya kebiasaan untuk keliling berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhon. Dan sialnya, kadang kedatangan kami berdua yang jelas – jelas orang asing bagi para anggota jamaah masjid yang kami kunjungi, dianggap sebagai salah satu pertanda turunnya Laitul Qadr.

 

” Ini mesjid petilasan Pangeran Diponegoro mas. Yang selalu kami amati, setiap 10 hari terakhir bulan Ramadhon, di malam yang paling hening, selalu saja ada orang asing yang bukan penduduk sini, yang ikutan berjamaah. Mereka itu malaikat yang sedang diutus buat ikutan jamaah disini, sambil memberikan tanda-tanda Lailatul Qadr ” demikian kurang lebih pendapat salah satu tetua desa.

 

Padahal, andai mereka tahu, bahwa orang asing yang mereka sangka malaikat itu hanya seorang gembel sekelas saya, dan gondrong kenthir nggilani sekelas Gus-e, tentu orang – orang itu akan menyesal delapan setengah turunan !!

 

Tetapi dini hari itu saya menemukan sesuatu yang menakjubkan. Diantara temaram cahaya di dalam Masjid yang menaungi belasan jamaah tadi, dari pojok kanan belakang dekat dengan tiang, muncul sebuah cahaya tedja yang memancar begitu terang. Saya takjub karenanya. Kemudian celingak – celinguk melihat apakah para jamaah yang lain juga melihat apa yang saya lihat, dan ternyata mereka tidak melihatnya. Entah saya yang hebat atau mereka yang terlalu khusuk, yang jelas, karena penasarannya, saya langsung beranjak dari duduk bersila dan sambil masih menenteng tasbih saya segera menghampiri asal cahaya tedja itu.

 

Makin takjub saya begitu tahu ternyata cahaya itu berasal dari badan jasad kasar Gus-e yang terlihat duduk termenung dengan posisi aneh. Saya bilang posisi aneh karena Qur an yang ada di tangan kanannya dalam keadaan tertutup, sedangkan matanya malah menatap lekat ke ibu jari tangan kirinya. Dan yang saya kira cahaya tedja tadi, ternyata hanya nyala sebuah senter berbolam neon yang memang oleh Gus-e diarahkan ke atas, mengenai badannya, agar terlihat bercahaya, sialan !! Belum sempat saya bertanya, Gus-e sudah langsung memberi tanda agar saya diam dan perlahan-lahan disuruh mendekat.

 

Kekagetan berubah menjadi keheranan, karena di atas ibu jari tadi, saya melihat seekor nyamuk sedang hinggap, dan perlahan sedikit demi sedikit mulai menyedot darah yang ada di  ibu jari Gus-e. Seolah tahu kegatalan saya pengen memukul nyamuk itu, Gus-e dengan suara perlahan berkata : ” Menengo Ndhêng, ojo mbok ganggu, ben ngombe sak puase (diamlah kamu gêndhêng, jangan diganggu, biarkan minum sepuasnya)”

 

Beberapa menit kemudian, saat perut si nyamuk sudah mulai menggelembung, Gus-e dengan pelan menyentil si nyamuk, mengusirnya dari atas ibu jari, dan membiarkannya terbang perlahan. Karena tidak kuasa menahan rasa penasaran, saya langsung nyerocos ” Lho, kok sampeyan jarno (lho kok anda biarkan), nggak dibunuh aja nyamuknya Gus ? tanganmu gatal – gatal nanti. Dimana – mana nyamuk itu sumber penyakit. Apa jangan – jangan sampeyan sedang menjajal ilmu kebal jenis baru ya ? atau ilmu pesugihan baru, supaya nggak diomelin sama bini gara2 gak bisa ngasih duit belanja, bersembunyi di balik ajakan puasa ndawud bersama ?”

 

Dan jawaban yang saya dapat sungguh singkat, simpel, mengejutkan :

“Ndhêng, nyamuk minum darah kita itu fitrah. Jangan pernah merasa sombong sok jadi Khalifah fil Ard, kalo jadi pemimpin dimintain darah secupit saja protes. Menyalahkan nyamuk sama saja dengan menyalahkan penciptaan nyamuk oleh Gusti Alloh. Padahal si nyamuk hanya menjalankan takdirnya sebagai nyamuk, yang hanya bisa minum darah, bukan yang lain “

 

Terdiam, saya kemudian melanjutkan lagi ber i’tikaf sampai shubuh menjelang. Dan paginya, selesai kajian Dhuha, saya tertawa ngakak melihat banyak sekali bintik merah di bagian – bagian tubuh Gus-e yang terbuka. Dhikdhik-an, garuk sana garuk sini.

“Ndhêng, adus banyu anget yuk (mandi air hangat yuk) !!”

2 thoughts on “Tarekat Nyamuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s