Ramadhan 1431 H (2010)

Ini ramadhan yang menyenangkan dan penuh warna. Dimulai dengan permulaan Ramadhan yang berbarengan dengan sakit panas 41derajatnya Ale dan Dhiya saat kami berada di Magelang, dan bertemunya kami dengan keluarga Seattle yang sudah sejak 2007 lalu meninggalkan Indonesia.

Ramadhan kali ini Ale sudah mulai belajar untuk berpuasa, setidaknya untuk setengah hari. Kegiatan ini mendapat dorongan dari sekolah alamnya yang juga menerapkan larangan membawa makanan dan minuman selama kegiatan belajar dari pukul 7.30pagi  hingga 12.30 siang. Hanya saja, namanya juga anak kecil, apalagi baru saja dalam tahap pemulihan akibat sakit panasnya, dalam beberapa hari Ale sempat tergoda untuk membatalkan puasanya sebelum jam berbuka tiba.

Seperti saat dia menyalahkan si penjual petasan di depan rumah eyang saat kami tegur atas borosnya uang jajan yang kami berikan kepadanya, kali ini pun Ale juga menyalahkan pihak lain atas gagalnya puasanya di beberapa hari itu : ” Habis dedek Dhiya tuh, makan keju di depan kakak, jadinya kakak khan kepengen !” . Yah namanya juga anak kecil.

Ramadhan kali ini juga mencatat suksesnya kami sekeluarga kecil, untuk pertama kalinya, bisa sholat berjamaah secara lengkap di rumah kami. Saya katakan pertama kali, karena di sholat2 sebelumnya, si kecil Dhiya selalu tidak ikut. Nah di sholat kali ini, Dhican tertarik untuk ikut dan cukup antusias saat kami gelarkan sajadah lucunya. Rakaat pertama berjalan lancar, semua tenang. Giliran rekaat kedua dan seterusnya, Dhican sudah keluar dari barisan, mengambil mobil2an yang ada di dekatnya, menaikinya, kemudan menabrak2 kami secara bergiliran, dan sukses mengacaukan sholat kakaknya dan membuat si kakak tertawa.

Ada lagi warna pembelajaran tentang makna Lailatul Qadr dalam ramadhan kali ini, tapi ini terlalu pribadi untuk dibagi🙂 . Ada pemahaman2 baru terhadap ciptaan2NYA, ada Malaysia yang menggoda, dan ada juga keajaiban2 pikiran yang mungkin oleh sebagian dari kita lebih akrab kita sebut : kebetulan.

Ceritanya gini, ehm ehm ( ngambil minum, membetulkan letak duduk, sambil meng-ignore teman yang dengan tidak sopannya malam2 jam 00.30an ngajak chat, sebelum kemudian meletakkan kembali jari2nya di keyboard). Suatu saat, saya yang berbudi halus dan baik hati ini, merasa tidak tega begitu melihat menu takjil di musholla kantor setiap harinya hanya berbentuk segelas air teh manis hangat dan 3-4 butir kurma. Kemudian saya pun berencana untuk membelikan salah satu dari dua pilihan makanan ringan, gorengan atau bolu tape. Setelah melalui beberapa pertimbangan (terutama pertimbangan likuiditas kas yang ada di saku), akhirnya saya memilih membelikan gorengan, dan segera memberikannya ke penjaga musholla.

Ajaibnya, saat waktu berbuka tiba, menu takjilnya disamping menghadirkan teh manis hangat dan gorengan, muncul juga disitu bolu tape yang dibawa oleh salah satu member buka bersama. Dan hal ini terulang saat saya memberikan uang ke CS kantor buat beli buah untuk tambahan menu takjil buka puasa berikutnya. Saat itu saya bilang beli buah apa saja yang penting enak, boleh semangka, boleh melon, atau boleh juga jeruk medan yang manis. Dalam hati saya mengharapkan jeruk medan yang manislah yang akan dibeli. Nyatanya…….si CS benar- benar membeli…………semangka !!

Tapi cerita tidak berhenti disitu, karena hari berikutnya, tiba2 muncul menu buah yang saya inginkan tadi, persis sesuai dengan tiga kriteria yang ada yaitu JERUK, jenisnya MEDAN, dan rasanya MANIS !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s