Dua Milis

Akun mail saya di yahoo sekarang ini dipenuhi oleh mail – mail dari dua grup milis yang saya ikuti : milis para pecinta buku dan milis para pendaki gunung. Keduanya menyenangkan dan banyak menambah pengetahuan. Dengan catatan, saya harus rajin meng-update akses ke milisnya setiap hari untuk menghindari tumpukan unread mail yang mungkin terjadi.

Bersama milis para pecinta buku, saya jadi tahu banyak tentang buku – buku bagus, buku – buku baru, buku-buku yang sedang dicari, serta berbagai sinopsis atau ulasan tentang isi sebuah buku. Jika beruntung, saya bahkan bisa mendapatkan diskon saat membeli buku via internet (online).

Nah kalo bersama milis pendaki gunung, saya jadi banyak tahu tentang info terbaru seputar pendakian – pendakian di berbagai gunung di belahan bumi pertiwi ini. Infonya bisa berupa macam – macam : tentang berbagai jalur yang bisa ditempuh dalam mendaki suatu gunung, tentang harga – harga peralatan naik gunung, tentang perubahan aturan administratif dalam suatu taman nasional, tentang jadwal mendaki bersama, dan sebagainya.

Tapi ada pembeda dari dua milis ini. Yaitu dalam dialog interaktif yang terjadi dalam milis. Suatu saat, ada anggota baru dalam milis dan melemparkan salam kenal. Di milis pecinta buku, sambutannya tidak begitu hangat, harus menunggu dua atau tiga hari baru ada yang menjawab, itupun tidak banyak. Paling hanya lima hingga delapan orang saja. Nah di milis pendaki gunung, sambutannya jauh lebih hangat. Begitu ada satu orang baru datang dan melemparkan kata salam kenal, langsung disambut oleh puluhan anggota milis dengan hangat, akrab, dan ramai.

Begitu juga saat satu orang milis pecinta buku menanyakan suatu informasi, tentang isi cerita sebuah buku misalnya, atau tanya referensi buku yang patut dibeli. Jawaban yang mengiringinya tidak begitu banyak dan (sekali lagi) perlu waktu yang lumayan lama untuk menunggu jawaban – jawaban itu datang.

Bandingkan dengan milis pendaki gunung, begitu satu orang bertanya tentang jalur pendakian suatu gunung, atau satu orang mengusulkan pelaksanaan suatu even, atau satu orang mengajak naik sebuah gunung bersama, maka antusias jawaban pun mengalir dengan deras dan mungkin karena sebagian besar sudah saling akrab jadi sesekali disertai candaan – candaan menarik khas pendaki.

Jujur dalam hal ini saya lebih menyukai milis para pendaki. Dan kalau hal ini kemudian kita bawa ke kehidupan atau peristiwa sehari – hari, rasanya saya jadi ingin selalu lebih sering berinteraksi dengan orang – orang gunung itu.

Di kantor saya (dan saya yakin hal ini bisa terjadi di kantor manapun), seorang pegawai bisa saja tidak saling bertegur sapa dengan pegawai lainnya awalaupun keduanya bekerja di gedung yang sama. Mungkin karena belum saling mengenal, mungkin karena beda seksi, mungkin karena pekerjaannya tidak begitu saling berkaitan. Sehingga saat keduanya terjebak dalam satu lift, keduanya hanya berdiaman sambil sesekali memandang angka penunjuk jumlah lantai, atau paling banter hanya saling tersenyum tipis kemudian melanjutkan diamnya.

Nah hal ini dapat dikatakan tidak mungkin terjadi di alam pegunungan. Saat kita melakukan pendakian sebuah gunung, saat kita bertemu dengan pendaki lain yang sama sekali belum kita kenal siapa namanya, dari mana asalnya, apa agamanya, apa status sosialnya, semua seolah bukan menjadi masalah atau halangan untuk saling tersenyum dan saling sapa. Tidak jarang bahkan saling menyemangati atau saling mencandai.

Dan saya begitu merindukan suasana keakraban itu terjadi juga di dunia perkantoran, di dunia pekerjaan saya, di lingkungan sosial tempat saya tinggal, di mall- mall, di pusat – pusat keramaian, di fasilitas – fasilitas umum, dan dimanapun kita semua berada.

*) dua gambar di atas diambil belum seijin dari pemiliknya, hanya berdasarkan googling saja. Mohon maaf jika tidak berkenan

5 thoughts on “Dua Milis

  1. John Grisham!!!

    Mungkin karena pecinta buku lebih bisa survive😛, baik-baik saja sendirian asal bersama buku. Beda kan kalo para pendaki, repot juga kan kalo sendirian naik gunung. Nggak bisa dibandingin juga sih, situasinya beda yaaa…

    Aku pernah langsung heboh dengan ibu yang baru pertama kali aku temui di suatu acara bedah buku, hanya karena buku yang sama yang kami baca. Mungkin aku-nya juga yang sok akrab😛

    Sering juga aku terlibat pembicaraan menyenangkan dengan orang-orang yang baru aku temui di pameran buku (dengan asumsi mereka pecinta buku, terbukti mereka mengunjungi pameran buku)

    *pembela pecinta buku*

  2. jeng, aku pecinta buku dan pecinta alam. dan aku pernah punya banyak pengalaman di “dua dunia” itu.

    so, mungkin, aku punya sedikit keuntungan untuk bisa memandangnya from both side.🙂

    *pembela anak – anak yang lucu*

  3. sepertinya di kantorku ini jg msh ada orang-orang yg belum ku kenal, cm tau wajahnya dan tau kalo kami itu sekantor😀 ya itu, abis sehari-hari disekap di ruang server sih *membela diri sendiri*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s