Tiba – tiba

Tiba – tiba ada rasa rindu kepada kedua orang tua di Magelang, dan aku merasa harus pulang. Merelakan jarak berdiri angkuh diantara aku di satu sisi dengan Ranting kecil beserta beruang dan strawberry di sisi lainnya. Dan sore itu aku pergi ke timur berlari dari kejaran senja.

Tiba – tiba aku sudah ada dalam pelukan hangat ibunda di pagi hari berikutnya. Saat – saat dimana aku ingin memecahkan jam di greenwich untuk menghentikan waktu. Cengeng ? Tidak, karena disana aku temukan keagungan.

Tiba – tiba rumah besar yang hanya berisi dua orang enam puluhan itu menjadi hangat oleh pembicaraan, saling melepas rindu. Dan hari itu aku ingin menikmati kembali peranku sebagai seorang anak, hanya seorang anak, bukan sebagai suami, bukan sebagai ayah dua anak. Anak, Khittah makhluk yang harus mendengar dan taat terhadap kedua orang tuanya.

Tiba – tiba ada seorang bapak yang begitu terlihat senang mempunyai teman berbagi cerita tentang tarikh Nabi, tentang kehidupan para shohabat, tentang keutamaan memperpanjang ibadah pagi hingga matahari terbit, tentang keutamaan 4 rekaat qobliyah dan 4 rekaat ba’diyah dhuhur, dan tentang kepasrahan.

Tiba – tiba ada seorang ibu yang merasa senang karena bisa membuatkan segelas besar teh tjap tjangkir, dan menghidangkan tempe kemul dengan rasa alami karena matang dalam bungkus daun pisang. Sang ibu yang mempunyai cerita sendiri tentang kebun bunganya, tentang perkembangan jama’ah pengajian yang dipimpinnya, tentang perkumpulan para haji satu kloter, tentang mushola kecil di halaman belakang yang semakin sepi dari jamaah,  dan juga tentang perkumpulan berkala keluarga besar anak keturunan Umar Nurkholis.

Mereka menjadi penjaga setia adzan lima waktu, dan kemudian berdua meniti jalan setapak menuju mushola untuk menghidupkan dzikir, menyungkurkan syukur.

Tiba – tiba rumah itu menjadi rumah hidup tanpa mati. Aku mewarnainya dari maghrib hingga tengah malam lewat, saat keduanya terbangun, mengambil tongkat estafet dan melanjutkannya hingga sapa matahari mendatangi.

Tiba – tiba ada hilang di rasaku, ada pinta terpanjat. Untuk menyatukan separuh hati untuk Ranting Kecil, Beruang, dan Strawberry dengan separuh hati untuk Ibu dan bapak. Pinta kedua terpanjat, semoga kami berdua, aku dan Ranting Kecil, bisa melanjutkan apa yang telah mereka lakukan.

sementara, akan ku karang cerita, tentang mimpi jadi nyata, untuk asa kita berdua….(sementara, Float)

Magelang, 10-11 April 2010

8 thoughts on “Tiba – tiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s