Saturday with Morrie

Setelah dulu sering datang di tiap hari RABU dan kemudian lama menghilang, kini tiba – tiba Morrie datang di hari Sabtu. Dan Alloh yang mengatur pertemuan itu, karena sungguh bertepatan dengan saya masuk kantor untuk membantu rekan – rekan lainnya yang kebagian jadwal lembur di hari Sabtu. Tidak ada janjian pertemuan sebelumnya.

Morrie, seorang Dokter ahli bedah terkenal yang diusia 70-annya kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjadi relawan Yayasan Tzu Chi Indonesia karena berpendapat jika dia berhenti bekerja maka otak dan anggota tubuhnya akan perlahan – lahan mati.

Oh ya, sekedar flash back buat saya sendiri, dan sekedar memperkenalkan kembali, Morrie ini pertama kali saya kenal saat beliau datang ke kantor kemudian langsung dengan lantang mempertanyakan kenapa jumlah pajak yang harus dibayar dari tahun ke tahun selalu naik. Dari obrolan itu kemudian berlanjut ke dialog yang menarik, sampai kemudian kami berdua akrab, terutama setelah Morrie menceritakan bahwa dia bersama Yayasan Tzu Chi Indonesia baru saja pulang dari PESANTREN yang dipimpin oleh salah satu guru saya Habib Sagaf bin Mahdi, yaitu pesantren Al Ashriyyah Nurul iman, Ciseeng Bogor.

Saya berani mengklaim bahwa kami “akrab” karena kemudian secara berkala Morrie mengajak satu persatu anggota keluarganya ke kantor dan memperkenalkannya. Theresia istrinya pertama dikenalkan, kemudian menyusul putrinya yang berjilbab dan sedikit berlogat melayu. Dan tidak jarang saya terlibat pembicaraan dengan mereka sekeluarga dengan bahasan apa saja yang menarik untuk dibahas.

morrie di posisi tengah

Sabtu itu, Morrie datang dengan berbagai cerita yang tidak terbantahkan. Dia berkata bahwa seharusnya kita ini bersyukur mempunyai negeri yang luas dan kaya, yang jika ditempuh dengan pesawat dari pulau weh hingga papua bisa menghabiskan waktu kurang lebih 9 jam. Bayangkan, negeri mana yang mempunyai wilayah yang bisa ditempuh pesawat dalam 9 jam selain Indonesia ? Mungkin hanya China atau India (saya tidak yakin dengan Amerika Serikat). Bahkan jika dibanding kedua negara tersebut, Indonesia masih mempunyai keunggulan dengan kondisi lautnya yang luas, mempunyai banyak titik jangkau karena negaranya yang bersifat kepulauan, dan kaya akan biota laut karena beriklim tropis.

Kemudian sampai pada pertanyaan kenapa Indonesia tidak mampu menjadi negara yang besar ? Saya menjawab:  karena budaya perilaku sumber daya manusianya, dan Morrie menjawab “etika-lah” penyebabnya. Sesaat kemudian Morrie menceritakan pengalamannya dan saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya jawaban kami adalah sama, hanya penamaannya saja yang berbeda. Saya bilang budaya perilaku, dan Morrie lebih suka menyebutnya Etika.

Morrie pernah melihat seorang warga Jepang berjalan di bandara Soekarno Hatta sambil merokok.  Yang menariknya, setiap Japanis tadi akan membuang abu rokoknya, dia selalu menyediakan satu tangan lainnya sebagai penampung abu rokok itu. Demikian dilakukannya hingga kemudian dia menemukan tempat sampah, kemudian membuang abu yang sedari tadi dikumpulkan di telapak tangannya itu.

Konon di negara asalnya, memang berlaku aturan atau tata krama yang mengharuskan setiap orang Jepang melakukan hal itu, menjaga kebersihan. Tetapi ini dilakukannya di Bandara Soekarno Hatta, tidak di Jepang, dan tidak ada aturan yang membatasi tentang pembuangan abu rokok. Dan Japanis tadi tetap melakukannya, menampung abu rokok di telapak tangannya hingga menemukan tempat sampah. Ini yang dinamakan etika. Saya jadi teringat cerita teman saya yang sekarang tinggal di Jepang

Morrie dan saya sepakat, inilah yang menjadi kekurangan dari bangsa Indonesia dari level bawah hingga atas. Bukan hanya faktor pendidikan seperti sangkaan saya selama ini.

Kemudian saya pun membuat penilaian sendiri untuk mendukung pembenaran pendapat saya dan Morrie itu. Saat saya pulang kampung seminggu yang lalu, saya merasakan ada banyak hal yang hilang. Nuansa penghormatan orang muda terhadap yang tua sudah tidak seperti dulu lagi.

Apalagi jika kemudian saya membandingkan apa yang sudah diajarkan oleh orang tua saya ke saya, dengan apa yang sudah saya ajarkan ke Ale. Di usia Ale seperti sekarang ini, saya saat itu sudah mampu memegang sendok makan dengan benar, makan dengan tidak mengeluarkan suara, serta memposisikan sendok dalam keadaan tertelungkup saat selesai makan. Di usia Ale, saya sudah bisa sholat, membaca Qur an hingga sekian Juz, menghapal banyak surah, dan belajar banyak tatakrama kehidupan Islami.

Apa yang terjadi dengan Ale ? saya belum pernah mengajarkan bagaimana sempurnanya makan yang beradab. Saya belum bisa mengajarkan Ale sholat dengan baik. Saya belum banyak memberikan etika kehidupan Islami dan sopan santun yang baik pada Ale. Artinya, dengan satu sampel yaitu saya sendiri, telah terjadi penurunan pengajaran etika dari satu generasi ke generasi berikutnya. Telah terjadi penurunan kualitas etika dari bangsa ini.

Jika etika sudah benar, maka harusnya tidak ada lagi korupsi dan kolusi di negri ini. Malu, harga diri dan masa depan keluarga hanya dinilai sebesar milyaran rupiah.

Jika etika sudah benar, tidak ada lagi pembelaan terhadap kepentingan golongan dan perebutan kekuasaan dengan saling menjatuhkan. Karena semuanya sama – sama menyadari bahwa rakyat Indonesia sudah tidak bodoh. Intrik politik dan saling menjatuhkan hanya akan jadi sebuah tontonan aneh dan memalukan.

Jika etika sudah benar, tidak perlu lagi konflik antar suporter, antar agama, antar daerah,  dan antar partai politik. Karena semua akan saling bertenggang rasa, merasa semuanya adalah kawan hidup dan saling membutuhkan.

Mari ber-etika yang baik, dengan cara berpikir positif dan saling percaya. Morrie, terima kasih.

2 thoughts on “Saturday with Morrie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s