Ar Rizq (2)

Sejak gelandangan, pengemis, dan anak jalanan diusir dari belantara Jakarta, tiba – tiba Tangerang menjadi penuh dengan golongan itu di setiap sudut dan setiap perempatan lampu merah. Jumlah golongan peminta – minta juga makin bertambah di trotoar menuju Masjid Raya Al A’dzom di setiap hari Jum’at siang.

Ada beberapa orang yang bersimpati kemudian memberikan barang seratus, dua ratus, atau seribu rupiah untuk satu atau beberapa diantara dari mereka. Tetapi sampai sekarang saya masih belum tergerak untuk melakukan hal yang sama.

Bukan karena pelit, medit, sok imut, atau sombong, tetapi saya mempunyai pembanding yang shahih yang membuat para pengemis itu di mata awam saya sangat tidak berhak untuk menerima santunan.

Pembanding yang saya maksud itu adalah seorang nenek tua renta dengan tubuh kecil kering dan membungkuk, yang kemana-mana selalu setia mendorong gerobaknya dan mengumpulkan barang – barang berkas yang dibuang oleh warga di setiap tong sampah di depan rumah masing – masing. Saya merasa, pengemis – pengemis itu, yang jelas jauh lebih muda ( apalagi beberapa diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan masih terlihat cukup kuat untuk sekedar bekerja atau minimal berkarya) harusnya bisa melakukan hal yang lebih dibanding sang nenek.

Dan (kembali) mata awam saya juga melihat bahwa Alloh pun mungkin juga lebih sayang pada si nenek dibanding dengan pengemis-pengemis itu. Jika satu pengemis rata-rata mendapatkan seratus atau lima ratus atau paling bannyak seribu dari seorang dermawan (atau khilafwan ?) , maka si nenek ini mendapatkan pendapatan jauh lebih besar dalam satu kali kesempatan.

Warga banyak yang bersimpati, dengan menyimpan barang – barang bekas yang mereka punya dan tidak membuangnya ke tempat sampah, dengan tujuan untuk diberikan langsung kepada si nenek. Tidak hanya itu, kadang ada yang bersimpati langsung memberikan sejumlah uang dari mulai pecahan lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, hingga lima puluh atau bahkan seratus ribuan. Dan setiap pemberian itu selalu dibalas dengan bacaan surah al fatihah dari mulut si nenek. Luar biasa bukan ?

Alloh memberi penghargaan lebih kepada mereka yang bekerja dan berbuat lebih, dengan cara yang indah. Jadi, sepertinya kita tidak perlu risau bahwa kerjaan kita tidak dihargai oleh atasan, teman, ataupun pihak lain. Karena Alloh punya cara sendiri untuk melakukan penilaian.

” Ayah, ada nenek-nenek itu lagi di depan rumah tuh !” terdengar teriakan Ale lantang

Maaf sodara – sodara, saya mau “memburu”  Al Fatihah dulu ya………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s