Riya

Gus-e tersungkur, nyungsep di kasur, dan kemudian menutup kepalanya dengan bantal.Saya yang sudah terbiasa dengan tabiat biyayak-an nya pun pura – pura cuek sambil nerusin membaca bukunya Agustinus Wibowo. Sambil membuka halaman berikutnya, setengah tidak niat, saya melontarkan kata tanya yang benar – benar basi :

” ada apa lagi sekarang Gus ?”

“Wajahku keliatan nggak ndeng ?”

Terkekeh saya ” yo nggak lah, lha wong sampeyan tutupi pake bantal, emang kenapa dengan wajah sampeyan Gus ?”

Tiba – tiba gus-e bangkit dari kruntelannya dengan tidak sengaja kakinya menendang botol aqua ukuran sedang yang untungnya tadi sudah sempat saya tutup.

” Aku uiiisin (malu) tenan , ndeng……uiisinn !”

Dan seperti biasa, karena saya sudah hapal dengan tabiatnya yang tanpa ditanya pasti akan segera cerita, atau mungkin juga Gus-e yang hapal akan tabiat saya yang suka pura- pura cuek, tapi sebenarnya selalu menyimak, akhirnya Gus-e pun bercerita..

“Dua minggu lalu, aku tiba – tiba disuruh ngimamin di sebuah masjid yang orang-orangnya kabarnya suka takabur tapi sebenarnya goblok, suka pamer tapi sebenarnya rendah. Satu orang yang hapal surat Ad Dhuha saja sudah dielu-elukan, dianggap hebat.”

“Nah hari itu, sholat maghrib, aku keluar dari pakem. Boasanya aku sering pake surat At takatsur di rakaat pertama buat ngingetin sudah bijakkah kita dalam menyikapi harta2 kita semua setelah seharian bekerja, dan surat Al Asr buat ngingetin umur pendek kita semua. Tapi kali itu, aku malah pake ayat2 panjang dari surat yang susah – susah”

” Nah lo, terus ?”

” Ternyata Gusti Alloh langsung nyentil aku, ndeng. Sombongku di sholat ternyata kebawa sampai di rumah. Malam itu aku tidak lagi bisa mendengarkan pendapat istri dan masukan dari anak – anak, aku jadi keras kepala dan menang sendiri. Paginya setelah tahajud baru aku nyadar kalo ternyata aku salah. Sombongku kebablasan dari sholat maghrib sampai fajar shodiq “

Saya tertawa ” Yo rasakno (rasakan) sendiri lah Gus…”

“Sik to, aku belum selesai cerita ” Gus-e menyela

“Hari kedua, saat aku kembali diundang sama masjid yang sama yang ternyata menyukai bacaanku, aku bertekat, aku akan bertaruh sama gusti Alloh, bahwa aku akan tetap baca surat dan ayat yang panjang – panjang tapi bener – bener tidak pake Riya (sombong), melainkan untuk melanggengkan hafalan Qur an ku, bener2 lillaahi ta’ala, biar gusti Alloh seneng. “

Saya manggut – manggut sambil mungut dua gandos (kue pancong) terakhir begitu melihat mata Gus-e sudah mulai plirak plirik ke kue itu.

“Di sholat kali ini, aku baca ayat – ayat tentang anjuran bertahajud dan keutamaannya. aku bener2 baca dengan tartil dan tulus tanpa sombong, lillaahi ta’ala. “

” Lha malemnya, sampai sekarang, tiba2 aku diubah oleh gusti Alloh sebagai makhluk pemalas yang susah sekali bangun malam untuk mendirikan Tahajjud, selalu ada saja penghalangnya. Wis to, tobat aku…..”

Saya ngakak dengan nada nyukurin apa yang sudah menimpa Gus-e walopun sebenarnya saya juga punya masalah yang sama tapi dalam hal sholat Dhuha.

“Ternyata ndeng, usut punya usut, walopun aku tidak Riya, tapi diantara jamaahku itu ada yang membatin bahwa aku ini sok, sok keminter, sok baca ayat panjang – panjang”

” Jadi ndeng, ternyata, disamping kita tidak boleh sombong, kita juga harus menjaga sikap supaya orang lain tidak menganggap kita sombong, wis to susah tenan “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s