Lanjar dan Warih

Kisah tragis Lanjar yang bersama istrinya menabrak mobil carry, hingga istrinya terpental dan tertabrak mobil panther sampai meninggal, kemudian lanjar dipersalahkan dengan sebuah berita acara yang sama sekali tidak menyebutkan satupun kata ” mobil panther” gara-gara pemilik mobil panther itu adalah seorang polisi, hingga dikurungnya Lanjar dalam penjara yang membuat Warih sang anak satu – satunya yang masih bocah menjadi stress dan tidak mau sekolah, sungguh sebuah cerita yang memprihatinkan.

Dan saya tidak akan menambah masukan poin negatif dalam pikiran anda, makanya dalam tulisan ini pun saya tidak akan mengungkit tentang kasihannya nasib Lanjar, anehnya berita acara penahanan yang ajaib itu, hingga mental dan moral beberapa oknum kepolisian yang sepertinya masih perlu waktu untuk menuju wilayah reformis dan menerima modernisasi sebagai alat barter remunerasi.

Saya ingin menulis tentang dunia pendidikan, dunia sumber permasalahan bangsa ini. Saya percaya, di kurun waktu sekarang ini sudah semakin banyak pakar, pejabat, pemerintah, dan warga Indonesia yang menyadari bahwa hal terpenting yang membuat Indonesia tidak beranjak dari status ” negara berkembang” ( bahkan cenderung membungkuk menuju status negara miskin ) adalah hal dunia pendidikan.

Paparan gamblang secara awamnya, dengan Sumber Daya Alam yang super duper luar biasa di wilayah super duper strategis, dengan komposisi daratan dan lautan yang super duper ideal, kenapa Indonesia tidak bisa memanfaatkan hal – hal ini untuk kesejahteraan semua warganya secara merata ? Karena pendidikan.

Makanya saya senang saat dalam era keterbukaan ini saya bisa mengenal banyaknya pakar ekonomi yang pintar, pejabat pemerintah yang ber IQ lebih, hingga golongan ulama – ulama yang berkualitas. Perkara kemudian mereka saling gontok – gontokan, pukul – pukulan, bangsat – bangsatan di kursinya masing – masing, anggap saja itu adalah proses menuju tercapainya kesepakatan tentang mau dibawa dan diberi warna apa bangsa ini.

Ya, orang pintar, mulai banyak di negeri ini. Tugas utama mereka adalah mengajak orang sebangsanya untuk ikut-ikutan pintar secara berjamaah. Lalu, hubungannya dengan nasib Lanjar dan dhik Warih tadi ?

Simpel, saya hanya akan menyatakan rasa salut pada kepala sekolah dan para guru yang ada di sekolahnya Warih, yang bersedia mendatangi rumah Warih , dan memberi pelajaran di rumah Warih, demi tetap memberikan kesempatan hak belajar pada si anak. Maklum, sejak ditinggal mati ibunya, dan bapaknya dipenjara, Warih menjadi pemurung dan tidak mau sekolah.

Lewat tulisan ini saya memberi apresiasi kesalutan pada inisiatif pihak sekolah untuk membantu pendidikan Warih. Hal tentang peristiwa atau berita negatif, ternyata tetap menyisakan sisi pandang positifnya bukan ? Maka dari itu, mari kawan, positifkan negeri ini.

3 thoughts on “Lanjar dan Warih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s