Save Our Nature

Hari Minggu lalu (10/01) saya bertemu dengan orang – orang hebat. Berawal dari ajakan dewan guru sekolahnya Ale untuk Soft Opening sekolah alam pertama yang ada di kota Tangerang, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk mencoba datang dan sekedar rasa ingin tahu.

Ternyata acaranya tidak hanya Soft Opening sekolah alam, tetapi juga pendirian bank sampah dan posko lingkungan hidup. Acara ini diprakarsai oleh IA ITB ( Ikatan Alumni ITB ), diikuti oleh para wali murid, para alumni ITB, beberapa warga Taman Royal 2, pejabat diknas, dan pejabat lingkungan  hidup dengan mengambil tempat di Rumah Makan Pesona Laut. Yang menyenangkan, dalam acara yang sangat sederhana dan hanya diikuti oleh sekitar lima puluhan orang itu, ternyata mendatangkan tokoh – tokoh hebat ( menurut saya ).

Diawali dengan sambutan pemilik Rumah Makan Pesona Laut, Sudarto. Saya sungguh tidak menyangka bahwa pemilik rumah makan yang sudah mempunyai 8 cabang di berbagai daerah ini ( yang paling terkenal dan sering kita lihat adalah Rumah Makan Pesona Laut yang ada di daerah Subang / Pantura ), adalah seorang JawaMuslim. Beliau kemudian menceritakan tentang kepedulian rumah makannya untuk selalu menanam pohon – pohonan di setiap cabangnya. Salah satu kata – kata yang menarik menurut saya adalah saat Pak Sudarto mengatakan bahwa : “mungkin karena saya satu gelombang pikiran dengan ibu harini dan pak slamet, akhirnya saya ketemu juga dengan mereka berdua “. Wow, apakah itu berarti saya juga satu gelombang pikir juga dengan mereka ?

Tokoh hebat berikutnya adalah Eyang Harini Bambang, seorang wanita tua berusia hampir 79 tahun yang selama ini dikenal dunia sebagai wanita yang begitu peduli dengan lingkungan hidup. Prestasinya juga luar biasa, mulai dari pemenang Konservasi alam dan lingkungan tahun 2000 yang diselneggarakan oleh Departemen Pertanian dan Kehutanan, penerima penghargaan Kalpataru tahun 2001 , hingga menjadi wanita pilihan ( Women of The Year ) Metro TV tahun 2003.

Sang Eyang disini bercerita banyak tentang jenis – jenis sampah ( Organik, Non Organik, dan B3 ), tentang lamanya masing – masing jenis sampah bisa dihancurkan oleh alam, tentang cara pembuatan pupuk ( alami, dengan aktivator, dan dengan bantuan cacing khusus ), hingga cerita tentang kegiatan – kegiatannya selama ini. Orangnya sederhana, simpel, dan ramah. Eyang Harini hari itu benar – benar menjadi sosok yang inspiratif bagi para cucu- cucunya ( mengingat usia kami yang rata – rata sekitar 30 tahunan). Tidak lupa, beliau selalu menekankan kata – kata : reduce, reuse, recycle.

Tokoh hebat berikutnya yang muncul melakukan presentasi adalah Pak Slamet Riyadi. Bapak ini adalah pengumpul sampah – sampah rumah tangga yang kemudian menjadikannya barang – barang produksi yang layak jual. Bapak ini banyak berperan dalam memperpanjang usia sebuah sampah, artinya sampah yang seharusnya terbuang dan menjadi polutan bisa diubahnya menjadi sebuah barang yang lebih berguna.

Beliau juga membanggakan usahanya ini yang disaat krisi ekonomi melanda, masih bisa menghasilkan keuntungan 400-500%. Bagaimana tidak, bukankah semua bahan baku beliau dapatkan dengan gratis ? Sementara proses produksipun tidak memakan banyak biaya.

Senang rasanya bisa kenal dengan mereka semua, dan mendengarkan cerita – demi cerita yang begitu inspiring. Selesai acara, kami kemudian dipersilahkan untuk berjalan berkeliling di sekitar Rumah makan Pesona Laut untuk melihat hasil karya anak – anak sekolah alam, hasil karya industri sampahnya pak slamet, serta lokasi sekolah alam yang tepat di belakang rumah makan Pesona Laut ini.

Saya terinspirasi untuk membawa pak Slamet ( dan mungkin juga dengan eyang Harini ) ke DKM kantor, memperkenalkan dengan mereka, dan memberikan kesempatan mereka berdua mempresentasikan karya – karya mereka dihadapan para karyawan kantor tempat saya bekerja.

Oh ya, pak Slamet sempat terharu dan hampir menangis dalam acara tersebut saat mengatakan : ” selama saya terjun di bidang sampah ini dari tahun 1998, dan melakukan banyak sekali penyuluhan serta pengajaran, belum pernah saya diundang oleh sebuah perkumpulan dari agama saya sendiri, Islam. Selama ini saya sering diundang oleh pihak pemerintah, paling sering oleh beberapa Vihara , atau bahkan oleh sebuah dewan gereja dan persatuan umat Hindu. Jujur, ini kali pertama saya mendapatkan undangan dari komunitas umat Muslim, saya benar – benar terharu ”

kika :

Andre ( anggota IA ITB, penggagas sekolah alam di kota Tangerang )

Slamet Riyadi ( Tokoh pendaur ulang sampah yang sukses )

Harini Bambang Wahono ( Tokoh Lingkungan Hidup, penerima Kalpataru 2001 dan Woman of The Year 2003 versi Metro TV )

Beruang Qutub ( Tokoh perusak lingkungan yang kurang terkenal )

4 thoughts on “Save Our Nature

  1. keren..

    di kampung sebelah di bantul ada juga bank sampah, waktu metro tv bikin apa itu kontes-kontes video, eagle award kalau ngga salah, bank sampah yang itu juga ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s