Demi Masa Depan Para Penerus

Kejadiannya memang sudah sekitar 17 tahun yang lalu, tepatnya di sebuah KTT PBB tentang lingkungan hidup atau yang lebih dikenal dengan UN Earth Summit 1992. Tetapi saya selalu termotivasi untuk selalu membenarkan dan mencoba tindakan – tindakan kecil yang kalaupun tidak bisa dikategorikan memelihara lingkungan, setidaknya tidak menjadi hal yang merusak lingkungan.

Severn Suzuki namanya, waktu itu baru berusia 12 tahun. Seorang bocah yang dengan pidatonya mampu menyihir para peserta UN Earth Summit. Seorang anak kecil yang dalam forum itu menuntut hak nya untuk hidup di masa depan dengan lebih baik. Saya tidak tahu sekarang Severn masih hidup atau sudah tiada, dan sekarang sudah jadi apa. Tapi jika kita punya anak atau setidaknya berencana punya keturunan, tentu kita akan memikirkan nasib anak atau keturunan kita dalam menjalani kehidupannya di waktu nanti.

Dan saya punya Ale dan Dhiya, yang entah akan hidup sampai berapa lama. Setidaknya mereka berdua berhak akan udara yang bersih, air yang jernih, alam yang bersahabat, dan kualitas lingkungan yang sehat. Saya sepenuhnya menyadari bahwa saya (dulu) bisa hidup sehat karena para leluhur kita semua mampu menjaga alam dengan baik, setidaknya lebih baik dari apa yang kita semua lakukan sekarang.

Jadi, demi masa depan Ale dan Dhiya, saya rela melakukan hal – hal kecil, dan juga menghimbau ( kebiasaan memegang jabatan Account Representative, bawaannya menghimbau mulu…) pada anda semua untuk bersama – sama melakukan hal yang sama, yang kalaupun tidak bisa dikategorikan memelihara lingkungan, setidaknya tidak menjadi hal yang merusak lingkungan. Misalnya nih..

– mematikan tombol stand by komputer kita saat akan pulang

– mematikan semua tombol listrik, baik itu lampu, dispenser, printer maupun lainnya, yang ada di kantor kita saat jam pulang tiba

– menggunakan tangga menghindari pemakaian lift, jika hanya harus naik atau turun satu atau dua lantai

– menghemat pemakaian air dengan cara menjarangkan mandi sore

– tidak memakai parfum sprai

– memakai dua sisi kertas saat harus mencetak data – data pendukung yang bersifat tidak resmi dalam pekerjaan kita

– membawa tas sendiri saat berbelanja dan tidak meminta pencetakan struk belanja

dan sebagainya, dan sebagainya.

Jadi, demi masa depan Ale dan Dhiya, dan anak – anak lainnya, dan keturunan – keturunan kita nanti, mari kita mulai melakukan hal – hal kecil itu dari sekarang. Agar mereka tidak terbebani tarif listrik yang makin mahal, agar mereka mendapatkan porsi oksigen berkualitas  yang mencukupi, agar mereka bisa mencicipi segarnya air tanah.

3 thoughts on “Demi Masa Depan Para Penerus

  1. berhati2 dalam mengetik…minimalisir kesalahan dalam mengeprint..supaya tidak banyak kertas terbuang..

    *pesan buat diri sendiri yg teramat sangat ceroboh dan tidak teliti*

  2. Tadi siang, waktu belanja ke hypermarket deket kost, di bagian majalah ada majalah tentang lingkungan, lupa nama majalahnya pokoknya ada cinta cinta bumi gitu, covernya dibungkus kertas daur ulang jadi ga bisa ngintip dikit hehehe, ada kabar tetang Severn Suzuki. Tadi udah megang majalah itu, tapi dikembalikan ke raknya dan malah menuju ke rak minuman jus buah instan, beli 3 kotak 1 literan demi hadiahnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s