Ayah

Engkau, yang mengasah empat anak panah dengan ilmu, mengecatnya dengan kejujuran, dan merendam mata panahnya dengan cairan jiwa cinta terhadap alam, sehingga engkau kini bangga akan ketangguhan keempat anak panahmu.

Engkau yang merentangkan busur kesabaran, dan kemudian melesatkan keempat anak panahmu, melesat menembus selimut waktu dengan sesekali melenguh bergesekan dengan arah mata angin yang berbalik. Pada kedalaman hatimu aku tahu engkau mempunyai harapan tersendiri terhadap keempat anak panahmu. Kendati begitu, engkau selalu berkata : ” Lepas, bebaslah nak, bebaskan dirimu, dan melesatlah kemanapun engkau suka, lalui jalan manapun yang engkau mau, untuk menuju cahaya !”

Engkau , yang kini mulai merapuh bersama zaman. Memutih seiring datang dan berjalannya abad perak. Kini selalu duduk dan berdoa, dengan sesekali tersenyum saat kembali membentangkan kenangan dan mendapatkan kabar tentang keempat anak panahmu.

Apa kabarmu hari ini ?

Semoga limpahan Rahmat keberkahan, nikmat iman, serta ketentraman selalu menyertaimu beserta busur panahmu. Busur panah yang menjadi satu-satunya pendamping setia. Seperti halnya rahmat keberkahan, nikmat iman, dan ketenteraman yang selalu engkau doakan untuk keempat anak panahmu. Amiiin…

Lihatlah kami, anak – anak panahmu, hari ini. Kami semua sedang menuju cahaya seperti pintamu.

Walk to Remember

teruntuk

63 tahun sang pemanah

14 Agustus 1946 – 14 Agustus 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s