Wednesday with Morrie

Pertama kali datang ke kantor, orang ini langsung membuat kuliah singkat dan membahas tentang penyebab naiknya harga tanah dan bangunan di Indonesia jika dibandingkan dengan Jepang, berlanjut hingga bahasan tentang sholat berjamaah.

SS namanya. Seorang dokter spesialis bedah sarat pengalaman yang dimasa tuanya ini, usia di atas 70 tahun, lebih banyak melakukan kegiatan sosial bergabung dengan yayasan Tsu Chi Indonesia. Setiap datang ke kantor ini kami berdua selalu terlibat dalam diskusi menyenangkan tentang pajak, ekonomi, kedokteran, hingga nilai – nilai kehidupan. Beberapa kali diantaranya sang dokter pernah membawa istri dan anak wanitanya untuk diperkenalkan ke saya.

Setiap pertemuan dengannya, yang kemudian berlanjut ke diskusi ringan,  saya selalu teringat dengan bukunya Mitch Albom yang berjudul Tuesday With Morrie. Buku yang saya dapatkan gratis dari Peewee -atasan saya dulu- ini bercerita tentang seorang profesor atau dosen bernama Morrie yang sudah divonis tidak mempunyai waktu lama untuk hidup. Dan Morrie lebih memilih untuk menikmati hidup yang tersisa dengan melakukan serangkaian catatan – catatan perjalanan menuju kematiannya.

Nah sang Dokter ini juga mirip seperti itu, dia begitu senang mencari tahu dan memberi tahu tentang apa makna hidup dan bagaimana mengaplikasikan nilai – nilai kehidupan diantara sesama manusia. Akhir – akhir ini beliau lebih sering terlibat serius dalam aksi sosial pengobatan gratis keliling Indonesia, dari Aceh, batam, sumatera, jawa, kalimantan, hingga makassar.

Kembali aroma Morrie itu makin terasa saat hari ini, Rabu, sang Dokter mendatangi saya lagi dan mengajak berdiskusi kembali, memberikan kuliah interaktif kembali. Kali ini dia menceritakan tentang teman – teman seangkatannya yang satu demi satu mulai meninggalkannya menghadap Sang Pencipta. Menurutnya, rahasia kenapa dia masih sehat dan lebih baik dibanding teman – temannya, adalah karena dia masih tetap ingin bekerja dan terus mencari kegiatan untuk mengisi hidupnya, agar otak tetap tidak berhenti bekerja. Kemudian bahasan menyambung ke bahasan tentang otak.

Otak manusia, menurutnya, maksimal baru bisa dimanfaatkan baru 1% dari total kemampuan yang seharusnya, yang sudah disediakan oleh Sang Pencipta Otak. Bahkan Einstein, maskot kejeniusan tertinggi manusia, diperkirakan baru memanfaatkan otaknya antara 1.5 hingga 2% dari kemampuan maksimalnya sebuah otak. Yang membatasi pengembangan dan pemaksimalan sebuah otak itu adalah waktu. Waktu yang hanya tersedia 24 jam sehari, 365 hari setahun, dan dibatasi oleh kematian. Waktu membuat manusia tidak mampu mengembangkan secara maksimal kemampuan otaknya. Kemudian bahasan meloncat ke definisi perbuatan baik

Apa itu perbuatan baik ? batasan minimal perbuatan baik setidaknya ada tiga :

1. perbuatanyang tidak merugikan dan tidak menyakitkan diri sendiri

2. perbuatan yang tidak merugikan dan tidak menyakiti orang lain dan makhluk lain

3. perbuatan yang tidak merugikan dan tidak menyakiti lingkungan.

kemudian bahasan selanjutnya tentang slogan work hard , play hard.

Sang dokter mengubah slogan itu menjadi tink hard, work smart, enjoy. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan rasa senang. Rasa senang dibagi menjadi tiga,

1. Rasa senang dengan hal negatif. contoh : menggunakan narkoba untuk kesenangan

2. Rasa senang dengan hal positif, contoh : senang mendapatkan pujian

3. Rasa senang karena senang dengan begitu saja, senang karena Tuhan menciptakan kesempatan.

Kemudian sang dokter kembali ke permasalahan tentang usia, dimana dalam hal ini dia selalu berusaha untuk terus dan terus aktif dalam berbagai kegiatan yang melibatkan otaknya untuk terus bekerja. Dia meyakini, kontrol tubuh manusia ini seluruhnya dilakukan oleh otak. Jadi, jika tidak ingin sakit, menderita, atau mati muda, berilah otak anda kesempatan untuk terus dan terus bekerja. Sampai kemudian pada sebuah kesempatan interaktif, saya bertanya pada sang dokter.

” Apakah Anda takut dengan kematian ?”

Sang dokter terkejut mendapatkan pertanyaan tidak terduga itu, jelas terlihat dari roman mukanya yang sudah mengeriput. Tiga detik kemudian baru beliau menjawab :

” bukan masalah takut atau tidak takut akan mati, young man. Mati itu adalah hal yang pasti. Kita semua sudah ada di waiting list untuk itu. Saya pikir ini adalah masalah siap atau tidak siapkah kita mati. Ini ranahnya sudah berbeda. Mati itu sudah memasuki ranah kepercayaan “

kemudian sang dokter membalikkan pertanyaan tersebut ” Kalo pak beruang sendiri bagaimana, kenapa tiba – tiba muncul pertanyaan seperti itu ?  Sekarang usia pak beruang ini berapa sih  ?”

” tiga puluh dua “

” sudah siap mati ?”

” rasa penasaran saya terhadap kematian dan kejadian sesudahnya melebihi pertimbangan saya tentang siap atau tidak siap saya menghadapi kematian itu sendiri “

Untuk kedua kalinya Sang Dokter tertegun.

2 thoughts on “Wednesday with Morrie

  1. Pingback: Saturday with Morrie « KILL NOTHING BUT TIME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s