Hening Tasbih Semesta

Tidak berlebihan, saya melakukan perjalanan ini hanya dengan dua tujuan : Mengisi paru – paru saya dengan udara bersih sebanyak – banyaknya, dan kembali mendengarkan Tasbih alam dalam keheningan Akbar yang sudah hampir tiga tahunan tidak lagi saya dengarkan.

Tujuan pertama 98 % tercapai. Sungguh menyedihkan karena 2% penyebab kegagalan ini adalah asap rokok dari rekan seperjalanan, yang baru saya kenal. Bahkan di tempat yang sesungguhnya kita bisa menikmati kebebasan dari ribuan jenis oktan polusi udara, melupakan kerusakan bumi, dan kesibukan pembodohan yang bernama kemajuan ekonomi, ternyata kita tetap saja tidak bisa lari sepenuhnya dari asap rokok. Saya merindukan 3 rekan seperjalanan saya dulu yang tidak merokok.

Tujuan kedua tercapai 90%. Mungkin karena saya kurang pandai mencari waktu menyendiri diantara rerimbunan keheningan pepohonan, hembusan angin, selubung kabut dan bebatuan, yang semuanya bertasbih. Saya merindukan mendengarkan keheningan mereka. Mungkin juga karena terlalu banyaknya manusia yang melakukan pendakian di hari yang sama, sehinga saya tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk menikmati keheningan itu.

Oke, lupakan segala statemen yang menyatakan bahwa naik gunung adalah aktivitas yang berbahaya karena bagi saya naik motor di belantaranya lalu lintas kota Tangerang justru lebih menakutkan dan lebih memberikan ancaman. Lupakan juga pendapat bahwa naik gunung dekat dengan rasa sakit, karena polusi asap kendaraan dan industri yang terhirup setiap detiknya di suasana kota bagi saya jauh lebih memberikan rasa sakit yang permanen. Lihat saya, sudah 12 hari tidak migrain, dan ini luar biasa !!

gede11

Saya sedang tidak dalam kondisi mencari pelegitimasian diri atas apa yang saya lakukan. Karena dengan kesungguhan, saya akan berkata kepada anda semua bahwa saya menemukan banyak sekali manfaat dan perbaikan dari apa yang saya lakukan ini, naik gunung.

Dalam diam dan hening ditemani dingin malam, saya bisa kembali merenungkan dan merindukan sosok Ranting kecil yang sudah menemani saya selama hampir 6 tahun ini. Sosok yang dulu begitu ingin saya berikan berbagai persembahan kebanggaan, namun atas kesalahan sendiri, saya terbias dari fokus itu. Saya merenungkannya, ya saya mencintainya, masih seperti dulu.

Sosok Beruang Qutub kemudian muncul, anak yang selama ini ternyata baru saya sadari, hanya sebagai objek kesenangan dan kerinduan bagi saya. Dan saya melupakan bahwa dia adalah amanat. Masa depannya adalah segalanya. Saya terkoreksi dan seperti mendapat energi baru untuk mempertaruhkan segalanya untuk masa depan Sang Beruang.

Lady Strawberry yang masih lemah tapi punya sorot mata yang menantang. Dara kecil 3 bulan yang jelas begitu mengingatkan saya akan tanggung jawab besar menanti ke depan. Mengingatkan saya untuk selalu berserah diri dan banyak berdoa atas waktu yang akan dijalaninya di dunia, dan semoga tetap ter-ridhoi hingga akhirat.

Kemudian, saya paling menyukai menjadi kecil saat merebahkan diri di tanah lapang itu dan memandangkan mata  ke bentangan kubah dunia yang  bernama langit. Sambil melafalkan dalam hati beberapa ayat Qur an tentang alam yang saya tahu, hingga perlahan muncul sebuah perasaan yang tidak terkatakan yang memenuhi rongga dada.

gede20

Alhamdulillah atas sekali lagi ijin NYA, sehingga  saya bisa melakukan sebuah perjalanan lagi, berinteraksi dengan alam lagi, menghilangkan dahaga terhadap kesempatan menghirup udara bersih sepuas – puasnya.

view puncak

*) Mohon maaf buat rekan – rekan seperjalanan. Di pendakian kemarin, saya sedang ingin menjadi orang yang berbeda, selfish, tidak peduli, jauh berbeda dengan pendakian – pendakian sebelumnya.

**) Ini kali pertama saya menjejakkan kaki di ujung barat suryakencana untuk menikmati sunset. Sekian kali ke Surya Kencana, saya hanya beredar dari sisi timur hingga sisi tengah,  sisi jalan menuju puncak.

***) pic dibikin oleh rekan seperjalanan, eko subiyanto dan memed

****) Hening Tasbih Semesta adalah sebuah nama yang awalnya akan saya berikan pada anak saya yang ke dua.

*****) sengaja saya posting tanggal 12 Mei, bertepatan dengan hari meninggalnya Rob Hall dan rombongan, serta Scott Fischer dan rombongan di Everest dalam sebuah ekspedisi pendakian Everest, 12 Mei 1996.

5 thoughts on “Hening Tasbih Semesta

  1. nggak yakin kalo itu candid her…
    pasti fotografernya di paksa ngandid…
    hehehe

    HIDUP NAEK GUNUNG!!!

    berarti besok kalo naek gunung bareng pak khol, mesti jauh jauh kalo mau merokok..😀

  2. SULARTO. yo wis, percoyo aku…..

    IYAN. sabtu-minggu, kerjaan nggak padat bos…:)

    HERI. candid si kholid yang gantengselangid

    FLOW. dari bawah sebelum naik gunung, rokokmu sudah aku razia, fri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s