Drop Bugs

” Mbak, saya mo ngegabungin NPWP, punya istri digabung dengan NPWP Suami “

” Oh, bapak bikin permohonan penghapusan NPWP istri dulu, baru kemudian bisa digabungin dengan NPWP suami “

” Kalo suratnya seperti ini aja, minta penggabungan, nggak bisa diterima ya mbak ? “

” Bukan nggak diterima pak, tapi bapak bikin surat penghapusannya dulu “

” Bukannya permohonan penggabungan itu artinya sama dengan secara otomatis menghapus NPWP si istri mbak ?” si bapak mulai berkeras

” Iya pak, tapi prosedurnya harus buat surat permohonan penghapusan dulu “ jawab si mbak sambil menahan diri

” Wah, rumit amat, saya nggak terima, katanya ngurus pajak mudah. Pokoknya saya akan bawa masalah ini dan saya tulis di surat pembaca majalah National Geography, Trubus, Donal bebek, dan Tabloid Bola !!”

Mbak -mbak tadi terlihat memucat dan panik, sementara beberapa petugas loket di sampingnya terlihat senyam senyum dan beberapa diantaranya tertawa cekikikan

——————————————————————-

Percakapan di atas adalah petikan dari kisah nyata di kantor ini. Bapak di atas tak lain adalah saya sendiri, dan mbak – mbak dalam kisah tadi adalah dua mahasiswi D3 sebuah universitas swasta yang kebetulan sedang PKL untuk mencari data guna penyusunan tugas akhir, dan kebetulan oleh kantor ini ditempatkan di loket pengurusan NPWP.

Bukan hal baru memang, Kantor Pajak mempekerjakan orang yang statusnya bukan PNS untuk membantu berbagai tugas yang memang tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan tenaga stok pegawai yang ada. Contoh pekerjaan itu adalah : mengeset dan mengirimkan SPT Tahunan ke puluhan ribu Wajib Pajak dalam waktu kurang dari tiga bulan; dan mencetak serta mengecap SPPT PBB yang jumlahnya juga puluhan ribu.

Dengan berbagai kerjaan massal tersebut, para pegawai di KPP Pratama masih lagi harus menerima kenyataan untuk mendapatkan tambahan pekerjaan – pekerjaan baru yang muncul karena adanya kebijakan baru dari Kantor Pusat DJP. Contoh nyata : Pemilahan dan pengiriman SPT Tahunan 2008 yang diterima dari wajib Pajak ke kantor pajak tempat Wajib Pajak – Wajib Pajak tersebut terdaftar.

Khusus untuk cara penerimaan SPT Tahunan 2008, ternyata sangat riskan menimbulkan efek tambahan pekerjaan berantai dan menyimpan bom waktu untuk kinerja internal DJP.  Lihat saja, sistem Drop Box, yang membebaskan Wajib Pajak untuk menyerahkan SPT dimana saja, dalam amplop tertutup, tanpa dilakukan pengecekan kelengkapan. Dari sini saja sudah terlihat bahwa seksi pelayanan dan AR akan mendapatkan pekerjaan untuk meneliti dan memilah mana SPT lengkap dan mana SPT Tidak lengkap. SPTTL kemudian dibuatkan surat permintaan kelengkapan dan harus ditanggapi WP dalam waktu sebulan. Dan jumlah yang tidak lengkap ternyata ribuan, sodara – sodara !!

Belum lagi soal SPT yang berstatus LB. Contoh : A menyampaikan SPT Tahunan di Aceh, sedangkan A ini terdaftar di KPP Jayapura. Status SPT nya Lebih Bayar. Setelah diterima di Aceh, SPT LB kemudian akan dikirim ke Jayapura. Proses ini memakan waktu tidak sebentar, belum lagi kalo ternyata SPT LB tersebut nyasar atau hilang di perjalanan. Hal ini jadi rumit karena SPT LB tersebut hanya diterima secara manual, belum tercatat dan belum terekam dalam sistem penerimaan elektronik DJP.

Memang di mata masyarakat, DJP luar biasa berubah. Pujian demi pujian muncul dari berbagai pihak, media, pemantau , dan masyarakat itu sendiri. Mereka menilai kinerja instansi ini jauh lebih baik, familiar, ramah, dan tidak lagi tercium konotasi KKN. Kepercayaan masyarakat inilah yang sepertinya sedang dijadikan sasaran tembak oleh DJP.

kupinx_brandnewdjp5001

Tapi yang terjadi di internal sebuah KPP Pratama sungguh menyedihkan. Saya bahkan menaruh simpati tersendiri untuk rekan – rekan yang bekerja di seksi pelayanan yang harus jungkir balik mengerjakan pekerjaan yang muncul akibat program sunset policy, pendaftaran NPWP yang lipat 4 atau bahkan 10 kali dari hari – hari biasanya, kebijakan baru tentang penerimaaan SPT Tahunan, dan seterusnya dan seterusnya.

Dan tiap kali permasalahan seperti ini dikeluhkan ke atas, jawaban jauh dari memuaskanlah yang selalu diterima.

” Itu resiko jabatan”. Ya kalo boleh milih sih, tentu tidak ada pegawai yang mau ditempatkan di seksi pelayanan.

” Take home pay kalian kan sudah besar, jadi jangan mengeluh dong.” Ingat, saat penandatanganan kode etik serta diberitahunya berapa jumlah take home pay, para pegawai ini hanya diberi penjelasan tentang pekerjaan2 yang ada dalam daftar SOP ( Standard Operating Procedure). Dan ternyata, dalam kenyataannya, banyak sekali tambahan pekerjaan yang tiba – tiba muncul gara – gara ada kebijakan baru. Dan pekerjaaan2 itu tidak ada tercantum dalam SOP secara eksplisit. Artinya banyak pekerjaan tambahan , tetapi tidak ada tambahan reward.

Terlalu berbelit ya, gampangnya gini aja deh. Sebaiknya, selain mampu memberi tampilan yang memuaskan atas wajah pelayanan yang diberikan ke pihak internal, DJP jkuga jangan lupa untuk memikirkan kesejahteraan dan kenyamanan para pegawainya dalam bekerja dong !! Berikan reward, tambahan tunjangan, bonus, buat seksi – seksi atau pegawai yang mendapatkan beban kinerja tambahan seperti terurai di atas.

* Gambar ilustrasi di atas adalah sebuah sket buatan Febria lazuardi ( http://kupinxvektor.blogspot.com). Saya sudah mendapatkan ijin untuk memasang ilustradi di atas.

5 thoughts on “Drop Bugs

  1. kwe dadiyo kasi pelayanan we mas……
    pasti bakal berubah drastis!

    gara2 drop box,kasiku yg dulunya suka bercengkrama ama anakbuahnya, sekarang lebih banyak mengurung diri diam seribu bahasa dan saya hanya bisa mnebak apa yg ada di kepala ibu kasiku itu…..dan berdoa mudah2han tidak mengalami apa yg dialami caleg tak berbudi yg gagal itu….
    (lebay mode on)

  2. sudah bisa lapor SPT dimana-mana dengan adanya fasilitas drop box, ternyata ada temen yang tanya : bisa lapor SPT tahunan secara online lewat internet ndak?

    agak kesel pertama denger, udah dikasih kemudahan minta yang lebih mudah lagi, tapi kalo betul hal itu bisa dilakukan, tentu akan bisa mengurangi volume kerjaan orang pelayanan, dan paperless tentunya ya? smoga tahun depan ini bisa terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s