One Last Cry

Segila – gilanya saya, senakal- nakalnya saya, ternyata saya paling tidak tahan untuk tidak menangis saat mendengar adzan. Terutama dua buah adzan yang sangat berkesan sampai sekarang.

Pertama, saat saya sendiri yang mengumandangkan adzan tersebut, melalui celah kaca lubang udara yang melingkupi Ale yang baru saja lahir, menembus ke telinga kanan si kecil. Adzan saya tidak keras, syahdu, indah tapi bergetar. Tidak kuasa saya menahan air mata saat mengumandangkan adzan ke telinga manusia kecil tidak berdosa itu. Saat takbir pertama saya lafadzkan, air mata sudah langsung deras menetes, membuat beberapa orang asing yang tidak saya kenal di ruangan itu ikut berkaca-kaca melihatnya.

Kedua, saat saya mendengar adzan dari Ismail, kasi saya, siang tadi, saat dia berdiri sendiri di dalam liang lahat untuk menguburkan anaknya yang baru saja lahir sudah dalam keadaan meninggal.

Menangis saya. Menangis karena membayangkan jika suatu saat nanti saya harus menguburkan anak sendiri. Membayangkan juga bahwa saya cepat atau lambat pasti akan menghuni ruangan sempit berdinding tanah itu. Sebenarnya bukan kematian yang saya tangisi, karena saya ( berusaha) meyakini bahwa kematian adalah perpindahan menuju keadaan yang lebih baik. Tetapi perpisahan dengan orang – orang tercinta untuk jangka waktu yang tidak saya ketahui yang membuat saya menangis

2 thoughts on “One Last Cry

  1. jadi inget saya jg pernah meletakkan jenasah di liang lahat 2 kali, pertama jenasah bayi umur seminggu, anaknya ibu kos(pas di stan), yang kedua jenasah bapak saya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s