Duka Abu Hurairah

Layaknya abu hurairah yang begitu menyayangi kucing dan begitu ahli dalam merawi hadits dengan sanat dan matan yang shohih, demikian pulalah saya dan keluarga.  Bukan kesamaan tentang kemampuan penguasaan hadits, tapi tentang kedekatan dengan binatang yang dinamakan kucing.

Sejak kecil saya sudah sangat dekat dengan kucing, hingga mempunyai puluhan kucing yang hidup dan mati silih berganti. Ada si manis yang minta selalu tidur bersama. Ada boys yang setia mengantar ibu ke masjid untuk mengikuti kuliah shubuh dan menunggunya hingga kuliah berakhir, lalu menyertainya pulang ( padahal jarak rumah ke masjid lebih dari 500 meteran), ada Krull1 yang pintar buang pipis di closet jongkok, ada krull2 yang sampai sekarang, jika saya melakukan suitan khas, akan langsung berlari mendatangi sejauh apapun dia berada saat itu.

Herannya, tiap ada kucing nyasar, kucing dibuang, kucing tanpa pemilik, mereka selalu mendatangi rumah kami. Seperti ada aura tertentu dari si pemilik rumah untuk diminati oleh para kucing – kucing itu ( tssaaahh ).  Diantara puluhan bau ayam goreng, ikan asin, masakan daging, yang tercium dari tetangga – tetangga kami, si kucing justru lebih memilih bau semur jengkol dari rumah kami ( yang ini mengada – ada, karena sampai sekarang saya belum pernah makan jengkol, asli sodara – sodara !! ). Bahkan dalam proses kelahiran anak kami pun sempat memunculkan kejadian ajaib yang melibatkan kucing.

Saat menjelang kelahiran Ale, kami baru saja menempati rumah kontrakan baru. Datang tiba – tiba seekor anak kucing kecil belekan, kurus, berkuping caplang. Karena tebalnya belek itu akhirnya dia tidak bisa melihat dan jatuh ke got. Saya dan istri segera menolong dan merawatnya hingga membaik. Dua hari kemudian, dengan kondisi membaik si kucing kembali berjalan keluar rumah dan masuk got lagi, dan kami tolong lagi. Tapi kali ini kami tidak mampu memperpanjang nyawanya. Dia terlanjur mati kedinginan dan kami kuburkan di depan rumah.

Tepat sehari setelah kematian si kucing, Ale lahir. Saat prosesi kelahirannya pun, seekor kucing terlihat mengamati, berdiri di atas tembok, dari balik jendela kamar rumah sakit. Dan beberapa hari kemudian kucing yang kami kuburkan tepat di depan rumah lenyap tanpa bekas sedikitpun.

Kejadian sejenis sepertinya kembali terulang. Sejak malam kemarin kami mendengar suara anak kucing kecil yang seolah mencari teman atau eprlindungan. Istri saat ini sudah hamil tua dan mendekati hari lahir. Paginya, si kucing kecil tau2 sudah ada di depan pintu, dan karena kasihan saya pun memberinya sisa makanan kami.

Seperti biasa, pagi itu saya memanaskan mesin motor dan bersiap mengantar istri dan Ale. Begitu motor saya gas perlahan ke depan, terasa ada benda yang terlindas, dan rupanya si kucing kecil tadi. Dia rupanya mencari kehangatan di bawah roda motor yang sedang saya panaskan. Oh, kasian sekali keadaannya, matanya keluar sebelah dengan tubuh mengejang.

Selesai mengantar istri dan anak, saya langsung bergegas pulang dan menemukan si bloody cat sudah tergeletak kaku mati bersimbah darah yang terus keluar dari matanya. Saya pun menguburkannya hari itu juga. Saya rasa, Abu Hurairah tidak punya catatan pernah membunuh kucing.

4 thoughts on “Duka Abu Hurairah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s