Sampaikan Walau Satu Ayat

Serombongan komunitas Muslim yang gemar mengajak untuk melakukan amal sholeh, yang berdiri di depan pagar rumah Gus-e, tidak bisa berbuat berbuat banyak saat Gus-e menjawab slaam mereka dan setengah memaksa mengajak mereka masuk ke rumahnya.

Sepertinya rombongan tadi bakal menyesal karena tersesat atau salah rumah. Saya bilang tersesat, karena rumah Gus-e sebenarnya tidak layak dikunjungi. Rumahnya itu kumuh, berantakan, barang nggak karuan, dan sebagian besar isinya hanya berupa buku – buku dan kitab hasil nyantrinya yang entah pesantrennya dimana.

” Saya ndak mau kualat karena dicap tidak me-raja-kan tamu”. Dan sebelum sempat menguasai keadaan, para tetamu tadi sudah langsung disuguhi semangka, minum, dan sejumlah makanan kecil lainnya.

” Sampeyan pernah dengar cerita tentang Paimo yang dari Pesantrennya dikasih tahu sama gurunya tentang buah berwarna kuning berbentuk lonjong memanjang dan disukai monyet , namanya gedhang ( pisang ) ? Nah si Paimo ini dengan gagahnya menyebarkan ” satu ayat ” itu ke semua wilayah Jwa. Begitu dia masuk tanah Pasundan, dia diketawain, dianggap gila, sesat, karena dalam bahasa Sunda, gedhang artinya adalah pepaya “

” Orang terante biasa menyebut monyet atau kera dengan sebutan Yankis. Sampeyan tentu bisa bayangkan, jika orang Ternate tersebut pergi ke New York dan melihat monyet kemudian teriak Yankis. Tentu bakal terjadi pemukulan masal ke sodara kita orang Ternate tersebut, karena penduduk new York sering juga kita kenal dengan sebutan Yankee.”

” Paimo dan orang Ternate tadi rupanya terjebak dalam semangat untuk melaksanakan ” Sampaikan Walau satu ayat”, tanpa mempelajari dengan benar dulu, mendalami, kemudian memahami, dan baru mengamalkan. Bagaimana jadinya kalo Paimo hanya kenal satu ayat yang berbunyi ” Fawailul Lil Musholliiinn” dan kemudian mengajarkan ke semua orang. Bisa2 ndak bakalan ada lagi orang Islam yang mau sholat “

Dan kecerewetan Gus-e diakhiri dengan rubuhnya salah satu lemari yang penuh dengan lusinan kitab2 yang biasa dipelajari oleh anak -anak macam, Mabadi, Jurumiyah, Safinnatun najah, Safinnatus sholah, Fathul Mu’in, Fathul Qorib, ‘imriti, Wasoya, dan sebangsanya.

Bisa ditebak, setiap ada kegiatan lagi, rombongan itu tidak lagi singgah di rumah Gus-e. Bukan karena nggak suka diceramahi, tapi lebih karena sayang nyawa. Bisa jadi sekarang giliran yang rubuh adalah lemari yang berisi kitab2 buluknya yang tebal – tebal itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s