Harga ayat itu gratis !!

Gus-e, teman saya, adalah orang yang pintar ber wushu lidah ( karena gerakan di wushu lebih fleksibel, indah, dan enak dilihat, saya mengganti kata : silat lidah menjadi wushu lidah, boleh kan ?) dalam mempertahankan argumennya. Dan kadang saya dipaksa untuk menebak – nebak maksud dan arah dari pembicaraannya, karena dia lebih suka menggunakan bahasa tersirat dibanding bahasa tersuratnya. Pokonya , dia ini pinter nge-les lah.

Contoh, saat saya membenarkan pengucapan kata bread yang dia baca brit, dia malah menyalahkan ketidakkonsistenan kosa kata bahasan inggris dalam pengucapannya. Dia bilang begini :” Sekarang room dibaca ruum, book dibaca buuk, soon dibaca suun, tapi kenapa door nggak dibaca duur ?”

Contoh lain, saat beberapa rekan saya mempermasalahkan tentang anggota dewan yang punya silsilah nasab (garis keturunan ) dengan trek record nggak bagus, dan sekarang sering tampil menjadi orang baik, Gus-e ini malah membela dengan argumen begini : ” Sekarang kamu tau nggak, têlèk pitik dijadikan pupuk kemudian diuraikan menjadi nutrisi yang diserap oleh tumbuhan jeruk, dan bersama air serta sinar matahari akhirnya diproses untuk pertumbuhan tanaman menjadi daun dan buah jeruk. Apakah sampeyan-sampeyan ini mau menghukumi najis buah jeruk ini karena mengandung unsur têlèk pitik ?” Nah lo……

Nah beberapa waktu lalu, gus-e mengunjungi saya dan menceramahi saya tentang ketidaksukaannya pada makin banyaknya penceramah, da’i, ustadz, yang pada saat diundang untuk memberikan ceramah selalu menerapkan tarif minimal honornya. Gus-e bilang, : “Ini sudah menyalahi aturan. Harusnya mereka ikhlas, murni niat berdakwah, tidak boleh menerapkan tarif . Jangan pernah menjual ayat – ayat. Bahkan mereka wajib menolak jika mereka dibayar atas ceramahnya. Harusnya si shohibul bait atau shohibul hajat, saat mengundang mereka dan memberi mereka honor, bukan untuk ceramah yang dilakukan, tapi diniyatkan untuk shodaqoh, atau memberi cuma – cuma. Jangan pernah menghargai ceramah, karena setiap manusia berhak mendapatkan ceramah gratis, free !!”

Dan di akhir uneg- unegnya tiba – tiba dia melontarkan pertanyaan ke saya :

“Jadi ndêng ( Gus-e sering memanggil saya dengen panggilan gêndhêng ), minggu depan maukah kamu menjadi penceramah di acara buka puasa di kantorku tanpa diberi imbalan honor  ?”

Waaaduh !!! Sejuta topan badai !! kutu busuk !! kecoa kering !!! sundel bolong !!

4 thoughts on “Harga ayat itu gratis !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s