Rahasia Kemin
November 3, 2009
TENTANG KEIKHLASAN
Namanya Minaryo, orang purwodadi beristri orang Surabaya, kendati tidak berpendidikan tinggi tetapi nekat mengadu nasib datang ke Tangerang untuk mencari rejeki hidup sebagai penjual ayam potong. Oleh teman – teman masyarakat kalangannya dia dipanggil kemin ( dalam bahasa Jawa kemin berarti anak babi hutan, panggilan2 seperti ini sudah terbiasa dalam di beberapa daerah ).
Tuhan memberikan jalan rizki yang baik bagi Minaryo alias kemin. Perlahan usahanya mulai berkembang membaik dan akhirnya dia bisa membeli rumah yang dulu dikontraknya.
Halangan kecil dan besar silih berganti menerpa usaha potong ayamnya, dari mulai isu kasus flu burung yang berkali – kali menimpa, hingga ditipu oleh teman dan pelanggannya dalam jumlah kehilangan hingga jutaan rupiah. Tapi Minaryo menjalaninya dengan ikhlas. Pernah dia membuang satu bak mobil ayam yang tidak laku gara – gara isu flu burung, dan dia tidak pernah menagih orang – orang yang meminjam uang padanya dan (pura – pura ) lupa akan pinjamannya. Ikhlas kuncinya.
Saat usahanya semakin besar, Minaryo berhasil mendirikan rumah potong ayam sendiri, bahkan sekarang Minaryo sudah mempunyai lebih dari dua tempat usaha pemotongan ayam, mengkaryakan saudara – saudara dari kampungnya, dan bahkan bisa membeli sebuah rumah yang jauh lebih besar di sebuah komplek hunian bagus.
Kesuksesan masih berpihak pada Minaryo. Saat dua tahun mulai mengenal agama dan menekuni ibadah, Minaryo mendapatkan hadiah undian pertama dari Depo Bangunan dengan nilai hadiah Rp.500 juta ( net 375 juta setelah dipotong pajak ). Dengan uang itu diasegera membeli tanah di samping rumahnya, menyumbang pembuatan masjid baru di kompleknya, dan mendaftar Haji untuk dia, istri, dan bapak mertua.
Jadi, ikhlas adalah rahasia hidupnya. Terakhir saya bertemu Minaryo adalah Sabtu lalu, saat saya menghadiri undangan Walimatus safar, mengantar kepergiannya untuk berhaji.
TENTANG RUMAH TUSUK SATE.
Rumah tempat Minaryo dulu tinggal, kemudian dikontrakkan kepada orang lain. Minaryo hanya meninggalinya selama kurang lebih dua tahunan sebelum kemudian menangguk sukses besar dan bisa pindah ke rumah yang lebih baik.
Pengontrak rumah itu adalah saya. Rumah yang beralamat di Puri Dewata Indah Blok AG.36 itu sebenarnya bukan tipe rumah ideal, karena letaknya yang agak “tusuk sate”. Dengan kondisi seperti itu, rumah jadi lebih cepat kotor, apalagi saya dan istri sama – sama bekerja dan tidak punya banyak waktu untuk melakukan perawatan rumah.
Pertimbangan saya mengontark rumah itu adalah karena rumah itu dekat dengan mertua, dekat dengan Masjid, dan murah. Sekarang, di dekat komplek itu, sudah ada sebuah Terminal besar dalam dan antar kota yang memudahkan kami saat kami akan bepergian, dan sebuah pasar tradisional yang memudahkan kami saat berbelanja kebutuhan sehari – hari.
Rumah AG .36 itu terdiri dari sebuah beranda depan, ruang tamu, sebuah kamar tidur besar, sebuah kamar tidur kecil, dapur, dan sebuah kamar mandi, dengan air PAM dan saluran telepon sudah terpasang. Karena kami keluarga kecil, kamar tidur kecil kami gunakan sebagai gudang. Sebenarnya kamar ini bisa dijadikan kamar pembantu dengan mensekat kamar ini dari dapur, karena rumah ini mempunyai dua pintu masuk.
Mitos tentang “rumah sukses” mulai terasa. Saat Februari 2007 saya dan istri mampu untuk membeli rumah sendiri dan mulai pindah serta menempati rumah baru itu di Juni 2007. Artinya, saya hanya menempati rumah kontrakan Minaryo kurang dari tiga tahun.
Penghuni berikutnya yang mengontrak rumah itupun mengalami nasib sama. Setelah dua tahun mengontrak, sang penghuni akhirnya bisa membeli sebuah rumah baru yang lebih luas dengan luas tanah sekitar 500 meter persegi.
Jadi, kalau dihitung - hitung, dari penghuni sebelum Minaryo, kemudian Minaryo sendiri, kemudian saya, hingga pengontrak terakhir, selalu tidak lebih dari tiga tahun tinggal di rumah tersebut dan langsung bisa mempunyai rumah sendiri.
FIFA 2010
November 3, 2009
Demam Piala Dunia 2010 sepertinya sudah mulai menggejala dan menjangkiti banyak orang. Tidak terkecuali Gus-e yang sudah sekian lama tidak ketahuan kabarnya itu. Sebagai penikmat olahraga semilyar umat itu, Gus-e tahu benar siapa saja yang layak dijagokan untuk menjadi juara di Piala Dunia 2010 nanti. ” Realistis saja, Spanyol, Brasil, dan Inggris tampil paling mengesankan di babak kualifikasi ” katanya
Nah, rupanya demam yang dialami Gus-e ini kebablasan. Dari yang tadinya hanya sebagai penonton setia televisi, kemudian berlanjut giat ikut Futsal disana sini, dan yang terakhir Gus-e mulai keranjingan game bola FIFA2010. Saking keranjingannya, hampir tiam malam dia rajin nelpon saya untuk diajaknya bermain bersama. Yang jadi masalah disini, Gus-e nelpon dan ngajak mainnya antara jam 2 pagi hingga shubuh, ini kan namanya gila.
Tapi saya tetap salut sama dia. Kendati untuk Piala dunia nanti dia menjagokan Spanyol dan Brasil sebagai juara, dengan Inggris sebagai kuda hitam, tapi untuk kesebelasan yang dipilihnya dalam game bola yang dimainkannya setiap malam, dia memilih tim Arab. Itu setidaknya yang saya tangkap sekilas dari susunan nama pemainnya yang berkonotasi arab semua. Pemain – pemainnya diambil dari dua kesebelasan terkenal, Fatahajjat dan Al Witr, dengan formasinya adalah 2-2-2-2-3.
————————————-At takatsur———————————
———————-Al Asry ——————–Al Lumazah——————
Al Fiil—————————————————————–Al Quraisy
———————-Al Ma’un——————Al Kautsar———————–
Al Kafirun——————————————————————An Nasr
————————Al Lahab———–Al ikhlas Falaq Annas————– –
Bahkan saat ketemu lawan tanding yang tangguh, Gus-e tidak segan – segan akan memainkan pemain – pemain andalannya seperti Yaasin, Al Mulk, Waqiah, dan An Nur.
buya
September 11, 2009
Indonesia is Dangerously ( Beautiful )
September 2, 2009
Saat kelas 1 SD saya dan teman – teman sepermainan gemar menyusuri sungai kluban yang ada di samping desa, hingga mencapai hulu sungai yang ada di kaki pegunungan kidul atau bukit menoreh, atau pegunungan kendheng.
Saat menginjak kelas 6 SD, kaki saya bahkan sudah dapat menjejak salah satu puncak bukit menoreh itu yang disebut puncak banyak angkrem. Dari atas puncak, kami disuguhi pemandangan gunung Sumbing di barat laut, duet Merapi-Merbabu di sisi timur, bukit Tidar di bagian utara, serta pemandangan pedesaan dan kota Purworejo dengan background laut selatan di bagian selatan pegunungan itu.
Kemudian, selama saya tumbuh di Magelang, saya mengenal banyak sekali objek wisata alam yang ada di daerah ini. Mulai dari Curug Silawe di wilayah kaliangkrik, Air terjun Sekar langit di Blabak, candi Mendut, candi Pawon, dan Candi Borobudur; Kopeng, Ketep Pass, hingga sampai pada taman buatan di tengah kota yang bernama Taman Kyai Langgeng. Semuanya indah luar biasa.
Waktu kuliah, sayajuga mulai mengenal wilayah lain tanah air di Jawa Barat dan sekitar jabodetabek. Indahnya pesona Taman Nasional Gede Pangrango, air terjun Cibeureum, perkebunan teh gunung mas, pantai Anyer, pantai Pangandaran, Pelabuhan Ratu, hingga pesona suasana pedesaan jalur rafting sungai cicatih.
Selepas kuliah, kegilaan saya untuk bepergian semakin menjadi – jadi. Saya rela menghabiskan waktu 1.5 tahun untuk berkeliling dari Surabaya menuju wilayah Indonesia bagian timur. Sampai saat ini tidak kurang dari 10 pulau di Indonesia pernah saya kunjungi. Mulai dari Jawa, Bali, Sulawesi, Buton, Ternate, Tidore, Halmahera, Bunaken, Kalimantan, hingga Lombok.
Mungkin belum ada setengah dari negeri ini yang sudah saya kunjungi, tetapi saya sudah dapat menyimpulkan bahwa negeri ini indah luar biasa !! Dengan kondisi letak geografis yang berpulau – pulau dengan dipisahkan oleh sejumlah pantai, selat, dan lautan, Indonesia jadi mempunyai banyak pantai – pantai indah, dan mempunyai beragam kebudayaan. Terpisahnya wilayah membuat para penduduknya mempunyai perbedaan dalam mengembangkan cara hidupnya, sehingga lahirlah banyak perbedaan budaya. Dan ini sungguh kekayaan yang luar biasa.
Belum lagi jika kita membicarakan tentang isi kekayaan alam lautan Indonesia. Sebuah riset dan hasil diskusi tingkat internasional yang diadakan di Manado emngatakan bahwa setiap tahunnya Indonesia kehilangan sekitar 50 trilyun rupiah akibat pencurian hasil – hasil laut Indonesia oleh kapal – kapal asing. Bayangkan, 50 trilyun !! Bandingkan saja dengan penerimaan pajak Indonesia yang di tahun 2008 mencapai lebih dari 550 Trilyun. Jika kehilangan potensi kelautan ini bisa dicegah, atau setidaknya diminimalisir, tentu akan ada pertambahan yang sangatat signifikan bagi pemasukan untuk menyuntik APBN.
Saya tidak tahu, setelah sekian lama merdeka, kenapa baru pada pemerintahan Abdurrahman Wahid Indonesia pertama kali membentuk departemen kelautan dan dipimpin oleh seorang menteri kelautan. Saya juga tidak tahu, dengan membandingkan jumlah daratan dan lautan, 75% wilayah Indonesia adalah lautan, tetapi kenapa APBN yang dianggarkan untuk sektor ini sungguh sangat miris sekali.
Jadi, atas ketidakseriusan atau ketidakfokusan masyarakat Indonesia dalam memeprhatikan potensi alam kelautan dan budayanya ini, jangan salahkan negeri tetangga yang tiba – tiba masuk dan main klaim atas berbagai potensi dan budaya yang ada di negeri kita ini. Bayangkan saja, berapa banyak dari kita yang memperhatikan atau bahkan mempelajari seni membatik ? kita baru merasa kebakaran jenggot begitu negri tetangga mengklaim batik itu budaya mereka. Kasus serupa juga menimpa kesenian Reog, Angklung, hingga yang terbaru Tari Pendet.
Belum lagi klaim terhadap wilayah. Berita terbaru menyebutkan bahwa ada pihak – pihak tertentu di negri tetangga yang mengklaim Pulau Jemur yang masih masuk wilayah kepulauan Riau, sebagai objek wiata mereka. Saya tanya balik kepada anda dan kita semua, pernahkah kita mendengar dan tahu ada nama Pulau Jemur, sebelumnya ? Saya yakin kebanyakan akan menjawab tidak. Kita baru bereaksi dan marah begitu ada sesuatu yang menjadi asset dan kekayaan kita diklaim oleh pihak asing. Padahal selama ini kita memberikan perhatian saja tidak.
Suatu saat nanti, saat dimana penerimaan Migas dan Pajak sudah mencapai batas maksimal dan Negara masih membuthkan tambahan dana, say yakin mereka akan melirik potensi alam kelautan dan budaya ini. Bayangkan andai pesisir semua pulau di Indonesia dijadiakn objek pariwisata, kemudian semua kebudayaan dipelihara dan syukur2 digabungkan dengan objek wisata pesisir tadi untuk dijadikan satu paket untuk mengundang wisatawan asing dan domestik, mungkin saya akan bialng bahwa saat itu adalah saat dimana tidak ada satu orang Indonesiapun yang miskin.
Itu baru dari pengembangan pesisir dan budayanya, belum lagi tentang kekayaan potensi kelautan kita. Baik itu berupa rumut laut, terumbu karang, hasil ikan, minyak bumi, biota laut, dan sebagainya. Jangan hanya main slogan : ” VISIT INDONESIA YEAR 2009″ sementara langakh konkrit perbaikan signifikannya tidak ada.
Sedikit usul untuk Pak Jero Wacik dan Departemennya, tolong kalau bisa, iklan – iklan paapun di Televisi atau media lainnya, yang menampilkan sebuah tempat wisata alam di Indonesia sebagai backgroundnya, mohon menuliskan keterangan berupa tulisan kecil nama objek wisata alam tersebut dan letak dari objek tersebut. Mungkin tidak sedikit orang Indonesia atau wisatawan manca yang saat melihat iklan tersebut di televisi, ingin mengunjungi tempat tersebut, tetapi karena ketidaktahuan mereka, akhirnya mereka mengurungkan niatnya.
**sejumlah photo di postingan ini diambil dari beberapa blog dan media, belum seijin pemiliknya.
Pagi yang Sempurna
August 15, 2009
Kamu tahu, puluhan gunung telah aku daki. Dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, hingga Sulawesi Utara dan bahkan Ternate dan Tidore. Kepada alam aku menemukan jawaban. Pagi yang sempurna adalah saat semburat lembayung merah fajar bersatu dengan ungu, sisa hitam, memadu menjadi sebuah lukisan agung di kanvas biru langit, bisa aku nikmati dari puncak ketinggian tanpa penghalang, ditemani dengan tegukan secangkir kopi hangat buatan teman seperjalanan.
Kamu juga tahu, puluhan ‘ulama dan guru pernah aku datangi. Dari Pandeglang, Bintaro, Ciseeng, tempuran, salaman, muntilan, hingga kalumpang, tanah tinggi, maliaro, bahkan soa siu. Dari mereka aku belajar dan mendapatkan tafsir. Pagi yang sempurna adalah, saat aku mampu menegakkan tahajud, wirid, dzikir, bertaqorrub hingga shubuh menjelang, dan disempurnakan dengan syahdu dhuha membarengi prosesi bertukarnya malaikat malam dengan malaikat pagi, bintang dengan matahari.
Tetapi sungguh kamu juga harus tahu. Bagiku, pagi yang sempurna adalah saat aku terbangun, membuka mata dari tidur, dan kamu masih ada di sisiku , menjadi istriku, memenuhi hari – hari ku bersama beruang kecil dan putri strawberry kita.
6 tahun kisah RajaWali dan Ranting Kecil
16 Agustus 2003 – 16 Agustus 2009
Ayah
August 14, 2009
Engkau, yang mengasah empat anak panah dengan ilmu, mengecatnya dengan kejujuran, dan merendam mata panahnya dengan cairan jiwa cinta terhadap alam, sehingga engkau kini bangga akan ketangguhan keempat anak panahmu.
Engkau yang merentangkan busur kesabaran, dan kemudian melesatkan keempat anak panahmu, melesat menembus selimut waktu dengan sesekali melenguh bergesekan dengan arah mata angin yang berbalik. Pada kedalaman hatimu aku tahu engkau mempunyai harapan tersendiri terhadap keempat anak panahmu. Kendati begitu, engkau selalu berkata : ” Lepas, bebaslah nak, bebaskan dirimu, dan melesatlah kemanapun engkau suka, lalui jalan manapun yang engkau mau, untuk menuju cahaya !”
Engkau , yang kini mulai merapuh bersama zaman. Memutih seiring datang dan berjalannya abad perak. Kini selalu duduk dan berdoa, dengan sesekali tersenyum saat kembali membentangkan kenangan dan mendapatkan kabar tentang keempat anak panahmu.
Apa kabarmu hari ini ?
Semoga limpahan Rahmat keberkahan, nikmat iman, serta ketentraman selalu menyertaimu beserta busur panahmu. Busur panah yang menjadi satu-satunya pendamping setia. Seperti halnya rahmat keberkahan, nikmat iman, dan ketenteraman yang selalu engkau doakan untuk keempat anak panahmu. Amiiin…
Lihatlah kami, anak – anak panahmu, hari ini. Kami semua sedang menuju cahaya seperti pintamu.
teruntuk
63 tahun sang pemanah
14 Agustus 1946 – 14 Agustus 2009
Wednesday with Morrie
August 5, 2009
Pertama kali datang ke kantor, orang ini langsung membuat kuliah singkat dan membahas tentang penyebab naiknya harga tanah dan bangunan di Indonesia jika dibandingkan dengan Jepang, berlanjut hingga bahasan tentang sholat berjamaah.
SS namanya. Seorang dokter spesialis bedah sarat pengalaman yang dimasa tuanya ini, usia di atas 70 tahun, lebih banyak melakukan kegiatan sosial bergabung dengan yayasan Tsu Chi Indonesia. Setiap datang ke kantor ini kami berdua selalu terlibat dalam diskusi menyenangkan tentang pajak, ekonomi, kedokteran, hingga nilai - nilai kehidupan. Beberapa kali diantaranya sang dokter pernah membawa istri dan anak wanitanya untuk diperkenalkan ke saya.
Setiap pertemuan dengannya, yang kemudian berlanjut ke diskusi ringan, saya selalu teringat dengan bukunya Mitch Albom yang berjudul Tuesday With Morrie. Buku yang saya dapatkan gratis dari Peewee -atasan saya dulu- ini bercerita tentang seorang profesor atau dosen bernama Morrie yang sudah divonis tidak mempunyai waktu lama untuk hidup. Dan Morrie lebih memilih untuk menikmati hidup yang tersisa dengan melakukan serangkaian catatan – catatan perjalanan menuju kematiannya.
Nah sang Dokter ini juga mirip seperti itu, dia begitu senang mencari tahu dan memberi tahu tentang apa makna hidup dan bagaimana mengaplikasikan nilai – nilai kehidupan diantara sesama manusia. Akhir – akhir ini beliau lebih sering terlibat serius dalam aksi sosial pengobatan gratis keliling Indonesia, dari Aceh, batam, sumatera, jawa, kalimantan, hingga makassar.
Kembali aroma Morrie itu makin terasa saat hari ini, Rabu, sang Dokter mendatangi saya lagi dan mengajak berdiskusi kembali, memberikan kuliah interaktif kembali. Kali ini dia menceritakan tentang teman – teman seangkatannya yang satu demi satu mulai meninggalkannya menghadap Sang Pencipta. Menurutnya, rahasia kenapa dia masih sehat dan lebih baik dibanding teman – temannya, adalah karena dia masih tetap ingin bekerja dan terus mencari kegiatan untuk mengisi hidupnya, agar otak tetap tidak berhenti bekerja. Kemudian bahasan menyambung ke bahasan tentang otak.
Otak manusia, menurutnya, maksimal baru bisa dimanfaatkan baru 1% dari total kemampuan yang seharusnya, yang sudah disediakan oleh Sang Pencipta Otak. Bahkan Einstein, maskot kejeniusan tertinggi manusia, diperkirakan baru memanfaatkan otaknya antara 1.5 hingga 2% dari kemampuan maksimalnya sebuah otak. Yang membatasi pengembangan dan pemaksimalan sebuah otak itu adalah waktu. Waktu yang hanya tersedia 24 jam sehari, 365 hari setahun, dan dibatasi oleh kematian. Waktu membuat manusia tidak mampu mengembangkan secara maksimal kemampuan otaknya. Kemudian bahasan meloncat ke definisi perbuatan baik
Apa itu perbuatan baik ? batasan minimal perbuatan baik setidaknya ada tiga :
1. perbuatanyang tidak merugikan dan tidak menyakitkan diri sendiri
2. perbuatan yang tidak merugikan dan tidak menyakiti orang lain dan makhluk lain
3. perbuatan yang tidak merugikan dan tidak menyakiti lingkungan.
kemudian bahasan selanjutnya tentang slogan work hard , play hard.
Sang dokter mengubah slogan itu menjadi tink hard, work smart, enjoy. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan rasa senang. Rasa senang dibagi menjadi tiga,
1. Rasa senang dengan hal negatif. contoh : menggunakan narkoba untuk kesenangan
2. Rasa senang dengan hal positif, contoh : senang mendapatkan pujian
3. Rasa senang karena senang dengan begitu saja, senang karena Tuhan menciptakan kesempatan.
Kemudian sang dokter kembali ke permasalahan tentang usia, dimana dalam hal ini dia selalu berusaha untuk terus dan terus aktif dalam berbagai kegiatan yang melibatkan otaknya untuk terus bekerja. Dia meyakini, kontrol tubuh manusia ini seluruhnya dilakukan oleh otak. Jadi, jika tidak ingin sakit, menderita, atau mati muda, berilah otak anda kesempatan untuk terus dan terus bekerja. Sampai kemudian pada sebuah kesempatan interaktif, saya bertanya pada sang dokter.
” Apakah Anda takut dengan kematian ?”
Sang dokter terkejut mendapatkan pertanyaan tidak terduga itu, jelas terlihat dari roman mukanya yang sudah mengeriput. Tiga detik kemudian baru beliau menjawab :
“ bukan masalah takut atau tidak takut akan mati, young man. Mati itu adalah hal yang pasti. Kita semua sudah ada di waiting list untuk itu. Saya pikir ini adalah masalah siap atau tidak siapkah kita mati. Ini ranahnya sudah berbeda. Mati itu sudah memasuki ranah kepercayaan “
kemudian sang dokter membalikkan pertanyaan tersebut ” Kalo pak beruang sendiri bagaimana, kenapa tiba – tiba muncul pertanyaan seperti itu ? Sekarang usia pak beruang ini berapa sih ?”
” tiga puluh dua “
” sudah siap mati ?”
” rasa penasaran saya terhadap kematian dan kejadian sesudahnya melebihi pertimbangan saya tentang siap atau tidak siap saya menghadapi kematian itu sendiri “
Untuk kedua kalinya Sang Dokter tertegun.
bridge
August 4, 2009
Hubungan antara menantu dan mertua sepertinya akan selalu menjadi kisah klasik takberkesudahan. Dari kisah hubungan indah antara Rasululloh dengan Sayyidina Ali Karromallohu wajha hingga kisah kecewanya Prabu Salya terhadap Duryudana. Dari cerita Ratu Elisabeth dengan Lady Diana, hingga cerita picisan sinetron mertua kaya bermenantu orang miskin.
Seperti halnya saat sang menantu memilih suami/istri ( anak mertua ), tentu perlu waktu bagi kedua belah pihak untuk mempertemukan dua pribadi yang berbeda, menyelaraskan ritme, hingga terbentuk suatu kesepahaman bersama. Dalam hal hubungan istri dan ibu, saya menjadi pihak yang mengenalkan, mempertemukan dan menyelaraskan keduanya. Menjadi jembatan antara dua pangkal yang tadinya berdiri sama kukuh.
Beruntung saya karena mendapatkan istri dan ibu di warna yang hampir mirip, semacam merah dan pink, hijau dan hijau muda, atau ungu dengan biru. Istri dan ibu adalah jenis kutub magnet yang berbeda ( ingat, kutub magnet yang sama menurut hukum fisika akan saling tolak menolak, sedangkan kutub magnet yang sama justru akan saling tarik menarik mendekat ). Jadi, saya cukup menjadi jembatan penerjemah pribadi istri kepada ibu, dan pribadi ibu kepada istri.
Contoh kecil, ibu adalah orang Jawa asli yang dalam setiap masakannya selalu menyertakan unsur rasa manis. Saya yang sudah terbiasa sedari kecil merasakan lezat masakannya tentu tidak mempunyai masalah terhadap hal itu. Sedangkan istri yang sudah sedari kecil terbiasa citarasa tanpa rasa manis, lebih menyukai rasa gurih, tentu harus beradaptasi dengan cita rasa masakan. Dengan sedikit pengantar dan penjelasan ke ibu, serta pengertian ke istri, keduanya bisa dipertemukan dengan indah. Saat saya dan istri pulang ke Magelang, ibu dengan senang hati membuatkan masakan tanpa rasa manis, atau tetap manis tapi dengan kadar yang berkurang.
Contoh lain, istri yang besar di lingkungan Jakarta, saat diajak pulang ke Magelang, tentu ingin sekali mengenal lebih jauh suasana Magelang sekitarnya, dari mulai tempat wisata alamnya, wisata budayanya, hingga wisata kulinernya. Jadi, saat pulang kampung yang hanya paling lama seminggu dalam setahun itu, istri ingin memanfaatkan waktu yang sangat sedikit itu untuk mengetahui semua tentang Magelang
Di sisi lain, orang tua saya, jelas sangat kangen terhadap anaknya yang hanya bisa ditemui langsung selama 7 hari dalam setahun. Tentu orang tua mempunyai harapan dan keinginan untuk lebih banyak bertatap muka melepas kangen serta berbagi cerita dan pengalaman. Anak yang dibesarkannya bertahun – tahun dengan susah payah, yang kini hanya bisa ditemuinya 7 hari dari 365 hari, ah..ingin sekali orang tua ikut merasakan kebahagiaaan, cerita, berbagi rasa, dan kebanggaan yang telah dicapai anak – anaknya.
So, peran saya di masalah ini adalah sebagai jembatan yang menyetujui keinginan istri untuk jalan – jalan seputar Magelang tapi cukup dua atau tiga hari dari satu minggu itu. Sisanya, waktu kami habiskan di rumah untuk memberi kesempatan orang tua membuatkan masakan kesukaan kami, mencurahkan kembali kasih sayangnya, dan kami imbangi dengan berbagi cerita dan pengalaman. Hasilnya ? Alhamdulillah sejauh ini baik – baik saja. Istri sangat memahami keinginan orang tua saya, sebaliknya orang tua pun mau memaklumi keinginan istri.
Tentang unggah ungguh tradisi kesopanan Jawa, serta sejumlah gegar budaya antara dua individu itu satu demi satu saya COBA pertemukan dengan indah, dengan saya berperan sebagai jembatan disitu. Dan, buah akhir paling indah yang dirasakan oleh saya sebagai jembatan adalah, bahwa saya merasa beruntung memiliki keduanya, ibu dan istri.
rumah magelang
Dunia Wayang
August 3, 2009
Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang rajin menyempatkan diri membaca blog saya saat ini. Tapi jika kepada mereka – mereka diberikan pertanyaan : ” berapa banyak tokoh dunia pewayangan yang anda kenal ?” bisa jadi sebagian besar dari mereka tidak dapat menyebutkan lebih dari 10.
Sejak kecil, ayah saya memang sering membelikan anak – anaknya buku bacaan, termasuk buku komik. Diantara komik – komik yang saya sukai, adalah komik wayang bikinan R.A. Kosasih. Dari buku - buku itulah saya mengenal satu demi satu tokoh wayang dari jaman Wayang Purwa, Arjuna Sasrabahu, Ramayana, Mahabarata, Baratayudha, hingga masa pasca perang Baratayuda dan kekuasaan Prabu Parikesit.
Dari ratusan tokoh wayang itu, saya menyukai Bisma Dewabarata. Tokoh yang demi menebus kesalahannya, rela untuk melepaskan kesempatan menjadi raja Hastina dan tidak menikah sepanjang hidupnya. Seorang resi sakti yang tidak tertandingi kesaktiannya dan selalu menempatkan rasa adil di atas segalanya. Hingga saat orang yang disakitinya datang menantangnya, Bisma Dewabrata rela untuk mengalah dan tidak melawan, hingga ajal menjemputnya.
Ada juga yang bernama Wisanggeni. Seorang pemuda yang tidak tahu tatakrama, berandalan, sakti luar biasa. Tetapi dibalik kenakalannya, dia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Sang Pencipta. Mungkin dalam bahasa Islamnya, wisanggeni ini mampu menyatu dalam ” Sajatining manunggal kawulo ing Gusti “. Raganya menyatu dengan raga Sang Pencipta. Dengan kemampuannya itu, dia sendirian mengobrak – abrik Swargaloka menyadarkan kekeliruan para dewa yang tidak berbuat adil atas diri dan keluarganya.
Kemudian ada Puntadewa atau Yudistira. Ini adalah Pandawa Pertama, saudara tertua dari pandawa lima. Sejak kecil Yudistira ini dikenal sebagai orang yang punya sopan santun tinggi, kalem, dan tidak pernah bohong satu kalipun. Sehinnga orang akan selalu percaya apa yang dikatakannya. Sekali – kalinya dia bohong adalah saat terpaksa menipu Resi Dorna di pertempuran Baratayudha sehingga sang Resi kehilangan semangat dan kalah.
Itu tiga tokoh terbaik yang saya sukai dari dunia pewayangan. Tokoh – tokoh lainnya tentu masih banyak seperti Bima atau Werkudara yang mempunyai 3 anak di 3 alam ( Antareja bisa jalan di bawah tanah, Gatotkaca bisa terbang, dan Antasena yang menguasai lautan ), Sri Kresna yang jelmaan dari dewa Wisnu, Gatotkaca sendiri, Hanoman, dan lain – lain.
So, adakah anda kenal mereka dan siapa tokoh favorit anda ?
Pirates of Mine
July 29, 2009
Setiap gerakannya adalah air, senyumannya adalah kesejukan, dan suaranya selalu menjadi hal yang paling kami tunggu. Dhican – singkatan dari Dhiya Cantik, panggilan untuk anak kedua kami, Dhiya Ulhaq Azkiya- adalah candu. Kami membiarkannya menjadi penguasa segala relung hari – hari.
Sama dengan Ale sang Beruang di usianya dulu, Dhican selalu membuat kami merindukan untuk selalu bersamanya. Takdirnya sebagai anak kecil yang sepertinya masih selalu dikelilingi oleh pesona dari Alloh, dan kodratnya sebagai wanita yang membuat kami tidak bosan – bosannya mendandaninya, menjadikan Dhican kecil layaknya ratu baru dari keluarga ini. Bersama Ale, Dhican menjadi para pembajak hati dan kehidupan kami.
Satu yang harus selalu kami ingat bahwa, Dhican dan juga Ale, sebenarnya bukan milik kami. Kami hanya menjadi dua penjaganya, yang diberi kepercayaan untuk menjadikan Ale dan Dhican lebih baik, berguna bagi sesama, dan kami harus memastikan bahwa titipan ini jika pada akhirnya diminta oleh Pemiliknya, tetap menjadi titipan yang berwarna bagus, berkualitas bagus, dan dapat menyenangkan Pemiliknya.
Hanya saja, darah manusia biasa yang mengalir di nadi kami, membuat kami sering terlena, mencoba ingin meng-hak-i titipan tadi, terseret bermasyuk dalam nuansa berlebihan untuk mendekap erat, memiliki dan tak mau melepaskan ke siapapun juga titipan tersebut. Ini khilaf.
Saat tersadar, kami harus mulai lagi untuk menata diri, menyadari bahwa titipan itu adalah titipan, dan harus rela jika suatu saat titipan – titipan tersebut harus kembali pada Pemiliknya.
Ale, Dhican, kami siap menjadi penjaga titipan terbaik di dunia.













